Dewi karya Yus R. Ismail Komidi Putar karya Gegge S. Mappangewa Pertarungan karya Benny Arnas Kacamata karya Noor H. Dee Debu-Debu Tuhan
Tampilkan postingan dengan label 2005. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2005. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Desember 2015

Ulat-ulat pada Kematianku

Cerpen M. Irfan Hidayatullah (Republika, 07 Oktober 2005)

(youtube.com)

Lalu pagi itu terlewati. Lalu siang itu terlewati. Lalu malam itu terlewati. Lalu pagi lagi. Aku hanya bisa termanggu menunggui tubuhku. Dan aku tak seperti biasanya lagi. Aku tak dirundung lapar dan haus. Aku telah bebas. Aku bahkan tidak merasakan lagi nuansa mewah kamarku. Karpet tebal penutup lantai. Ranjang kayu jati. Spring bed keluaran terbaru. Bed cover bermotif bendera Juventus. AC pintar plus mutakhir. Poster-poster pemusik hip-hop metal. Komputer dengan segudang game. TV platron 25 inc. Lampu tidur yang bercaping. Dan kamar mandi yang harum terawat.

Perasaanku telah lain. Aku seperti hampa. Aku mungkin telah berpindah wujud dari segumpal darah, sejumput daging dan sebongkah tulang menjadi udara. Dan, aku tak merasakan sejuknya udara karena aku udara, tepatnya mewujud udara. AC di kamarku telah hanya sekadar benda yang tak punya arti apa-apa. Kehampaan ini bagai sebuah wilayah yang tanpa batas, seperti tanpa sekat, seperti suasana tengah laut, atau seperti di tengah gurun, atau bahkan seperti di langit yang setelah kusampai di sana ditinggalkan biru, lazuardi.

Namun, aku tak bisa bergerak. Aku hanya termangu melihat tubuhku tak bergerak. Namun, aku juga tidak tahu pada apa kini berada. Aku seolah menyatu dengan ruang, tak bertubuh. Dan, aku tak membayangkan ini sebelumnya. Bahkan, sepertinya memoriku hilang. Aku tak punya sejarah lagi. Satu yang kutahu adalah bahwa yang tergolek itu adalah tubuhku. Dan, tubuh di sampingnya adalah tubuh entah.

Kadang aku merasa ada pada tubuh asalku, kadang pada ranjang itu, kadang pada lampu tidur itu, kadang pada AC itu, atau kadang aku tak di mana-mana. Ini rumit, pikirku.

Telah ruhkah aku? Telah mayatkah tubuhku? Lalu kenapa aku masih di sini? Kenapa aku tak beranjak perpindah alam, ke dunia lain? Atau inikah dunia lain itu? Tak mungkin. Aku masih merasakan wujud dunia walau aku tak bisa menyetubuhinya. Aku tertegun, tepatnya merasa tertegun. Aku tak mempunyai gestur lagi saat ini. Yang kupunya hanyalah entah apa. Mungkin hakikat segala sesuatu.

Tiba-tiba tubuhku bergerak. Namun, gerakannya aneh sekali seperti gerakan mundur. Memutar ulang. Begitu cepat. Sepertinya ada wujud lain yang menekan tombol replay. Sampai pada satu titik peristiwa. Saat tubuhku baru masuk ke kamar itu.

“Naah. Inilah kamarku, Sayang.”
“Oh, ya? Bagus juga.”
“Kita santai saja. Semuaku sedang ngak ada.”
“Semuamu?”
“Ya, ibuku, ayahku, adikku, bahkan pembantuku.”
“Oh, lalu yang tadi?”
“Ya, itu memang pembantuku, tapi kuanggap tak ada. Dia takkan bicara apa-apa. Dia saksi bisu.”
“Tapi kamu harus hati-hati, Sayang.”
“Tenang saja. Ia telah kubungkam dengan uang. Dia manusia juga. Butuh segalanya.”
“Seperti kita?”
“Ya, seperti kita yang butuh kamar ini. Butuh kebebasan. Tempat saat hanya kita yang ada. Tak ada keluarga, teman, dan masyarakat yang selalu menghakimi dengan alasan dogma-dogma.”

“Kalau begitu, ayo….”
“Nanti dulu, Sayang. Kita akan lakukan semuanya dengan sempurna. Jangan tergesa-gesa. Kita nikmati semuanya dengan sebuah rasa yang terjaga. Detik-detik kita jangan sampai terbuang karena nafsu yang menggelora. Kita harus menikmatinya seperti aliran air di sebuah muara, tenang, tapi menuju sungai yang deras menuju lembah-lembah, bahkan jurang. Kita bukan sungai yang airnya tergesa.”

Aku tercekat melihat tubuhku yang segar-bugar itu tengah berbincang dengan seorang perempuan atau wanita atau, ah…. Aku betul-betul tak mampu mengingatnya. Atau putar ulang ini adalah proses ingatanku? Aku sepertinya disetting untuk objektif. Menjadi saksi atas diriku sendiri yang dengan penglihatanku yang tanpa mata ini menyaksikan tubuhku berbuat sesuatu. Aku subjek yang melihat aku objek.

Pemutaran ulang itu kemudian seperti dipercepat. Perbincanganpun berubah menjadi menggelikan. Nada menjadi lebih tinggi dan sambung menyambung. Aku tak mampu melihat setiap adegan dengan jelas. Tapi aku bisa simpulkan bahwa aku tubuh dan perempuan itu tengah melakukan sesuatu. Sesuatu yang menurut aku tubuh tadi ingin teralami dengan sangat lambat dengan detik-detiknya tak terlewat.

Namun, aku melihat justru pada sebuah proses yang sangat cepat. Pemercepatan itu telah membuatnya sangat cepat. Sesuatu pun terlakukan sudah. Sangat cepat dan cepat. Bahkan, seperti hanya sekejap. Aku bengong, betapa cepat peristiwa itu terjadi.
“Terima kasih, Sayang. Kau telah memberikan sesuatu yang berharga buatku. Aku takkan menyia-nyiakan itu. Aku janji.”

“Betulkah, kau berjanji?”
“Kau sepertinya diliputi ragu, Sayang?”
“Karena banyak kejadian–”
“A…a, kau terpengaruh senetron-sinetron itu rupanya, atau novel-novel itu?”
“Aku hanya takut kehilanganmu setelah aku menghilangkan diriku sendiri.” “Kita memang telah menyatu. Karena itu, kita tak bisa lagi saling berpisah.”
“Kamu romantis sekali, Sayang.”
“Itulah aku. Semua yang kumiliki hanya untukmu. Termasuk sifatku yang satu itu. Hanya untukmu. Apa, sih di dunia ini yang takkan kuberikan padamu setelah semuanya terjadi. Kita bahkan harus saling memberikan nyawa kita.”
“Ah, sudah, Sayang. Kau mulai berlebihan.”
“Sudah, kalau begitu. Kau nampak lelah. Kita tidur saja.”
“Aku pulang saja.”
“Tidak. Kau tidur saja di sini. Malam ini milik kita sepenuhnya.”
“Kadang sesuatu yang tak terduga bisa terjadi.”
“Aku sudah antisipasi. Aku sudah perhitungkan matang-matang.”
“Lalu bila tiba-tiba mereka datang?”
“Percayalah padaku semua telah kuatur.”
“Tapi Dia pun mengatur.”
“Kau….”
“Ada apa, Sayang?”
“Kau menakut-nakutiku.”
“Aku hanya menyebut Dia. Kau takut pada-Nya?”
“Ya, aku takut. Karena itu, kau jangan pergi. Temani aku agar aku tidak takut lagi pada-Nya. Kita berdua bisa menghadapi-Nya bersama, hmm…. Bagaimana?”

Tiba-tiba kejadian di kamar itu dipercepat lagi. Gerakan gerakan aku tubuh dan wanita itu jadi semacam bayangan yang berkelebat, cepat. Peristiwa-peristiwanya pun tidak hanya terjadi di atas ranjang itu, bahkan di bawah shower. Sekejap. Di bath tub. Sekejap. Di tolilet. Sekejap. Lalu terakhir kembali di (ke) ranjang. Sekejap. Setelah itu tak bergerak lagi tubuh-tubuh itu. Diselimuti atau bahkan ditutupi oleh bad cover dan selimut bermotif bendera Juventus itu. Tubuh mereka seperti dibenamkan pada ranjang itu atau disemayamkan.

Memoriku telah penuh. Aku jadi tahu masa laluku. Sehari semalam yang lalu. Namun, hanya itu yang kutahu. Sisanya hitam. Mungkin harus ada yang memutar ulangnya lagi. Dan, aku hanya saksi bagi diriku. Aku ternyata hanya mengenal nama, tidak peristiwa.

Entah ketukan yang keberapa kali, sejak malam tadi. Terdengar. Tergesa. Panggilan-panggilan berbisik, setengah teriak, lalu penuh teriak. Ketukan menjadi gedoran. Gedoran menjadi dorongan. Dorongan menjadi pembongkaran. Lalu jeritan. Histeris.

Mereka berempat. Ibuku, ayahku, adikku, dan pembantu kami itu. Mereka masuk sambil menutupi hidung mereka dengan baju-baju mereka. Bahkan adikku muntah di kamar mandi. Sedangkan aku heran. Ada bau apa gerangan? Mereka menghampiri aku tubuh, tubuhku yang terbenam sempurna di ranjang itu. Mereka membangunkanku. Tak berhasil. Mereka menggoyang-goyang tubuhku. Namun, keheranan terpancar pada mereka. Bukan tubuh yang mereka goyang, tapi benda lunak yang seperti terkelupas karena gesekan. Mereka saling pandang lalu seperti sepakat membuka selimut itu.

“Aaaaaaaa, Bagus anakku!”
“Ooooooh, Bagus anakku!”
“Haa? Kak Bagus? Ya, Allah!”
“Iiiiiii, Den Bagus?”

Histeris, heran, tak percaya, dan mual bercampur baur. Dan, aku hanya hening. Udara yang mungkin dingin. Tercekat oleh apa yang kulihat. Tiba-tiba aku berubah. Mulai bisa merasakan. Aku seperti membeku. Aku tak bertiup lagi. Raga gaibku yang entah apa wujudnya terpaku dan entah menancap di mana. Tubuhku tinggal wajahku, juga tubuhnya tinggal wajahnya. Wajah tercekat, tercekik, tersiksa, tak kuat, menjerit. Wajah tragedi. Sementara badanku dan badannya hampir tinggal tulang. Ulat-ulat yang gemuk dan penuh lendir kemerah-merahan tercampur darah memagut-magut setiap inci badan itu. Menuju wajah. Aku tak mampu mengekspresikan perasaanku, sementara mereka pingsan kecuali pembantuku. Ia terduduk sambil meraba saku celananya.

Minggu, 27 Desember 2015

Lelaki yang Menyisir Rindu

Cerpen Asma Nadia (Republika 30/01/2005) 

(http://www.meh.ro)

Ibu tua dalam kebaya, menangis tanpa suara. Matanya nanap menatap laut lepas. Pada ombak-ombak kecil berkejaran. Dulu sekali, dia dan tiga anaknya sering menghabiskan waktu di sana. Mereka berempat saja. Sebab suami, yang telah membawanya ke tanah serambi itu, telah berpulang ketika Din, anaknya yang paling kecil baru belajar jalan.

Berempat saja. Berlari di antara kaki-kaki ombak yang lincah menggulung. Bermain pasir, dan berlomba mengejar perahu nelayan yang menepi. Dari pinggir laut, mereka biasa menikmati rumah-rumah bagus yang terletak tak jauh dari tempat tinggal mereka. Rumah-rumah orang kaya, katanya. Sambil berkhayal, seperti apa rasanya tinggal di sana. "Kaki harus bersih," kata Yanti, anaknya yang paling tua dan terkenal rapi. "Pasti makan enak terus!" timpal Azhar, anaknya nomor dua yang berbadan besar.

Sementara Din, yang bungsu diam saja. Hanya matanya memandang lekat. Barangkali membandingkan bangunan kokoh itu dengan rumah mereka yang semi permanen. Ruangan satu kamar, yang sebagian besar masih berupa bilik. Sebagai ibu, telah dia beri segala yang bisa. Bekerja apa saja untuk menyekolahkan anak-anak, meski napasnya tak cukup membawa mereka ke perguruan tinggi. Hanya si bungsu saja yang kini bekerja di Banda, sempat menamatkan kuliahnya. Sementara anak-anak yang lain hanya tamatan SMA.

Begitu cepatnya waktu. Kedua matanya yang cekung masih merayapi senja yang turun diantara barisan pohon-pohon kelapa. Rasanya belum lama dia dan anak-anak bermain di sana. Melihat orang-orang memanjat batang kelapa, dan memetik buahnya yang bergerombol di pucuk. Ibu tua dalam kebaya mengapus air matanya. Ia tak mengerti kenapa kesedihan itu semakin kental dari tahun ke tahun. Mungkin usia, pikirnya. Mungkin juga kesendirian. Sejak anak-anak lulus SMA, dia mulai merasa kesepian. Seolah berlomba-lomba mereka meninggalkannya, meski dengan alasan yang bisa dimengerti, bekerja. Dan waktu yang berkelebat cepat, tiba-tiba sudah membawa mereka pada tahapan lain dalam kehidupan, menikah dan punya anak.

Harusnya dia bisa mengerti, dan bukan meratapi diri. Mungkin mereka sibuk. Perempuan itu masih menangis sesenggukan tanpa suara. Pipinya yang keriput, basah. Sudah dua hari raya, keluarga besar mereka tak berkumpul.

Anak-anak sudah tak mengingatnya lagi. Padahal hari ini, pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan merapikan rumah, lalu masak ala kadarnya. Ini hari jadinya. Dulu dia dan anak-anak selalu membuat syukuran sederhana untuk mengingat bertambahnya usia. Bukan upaya membawa gaya hidup Barat dalam kehidupan mereka. Tapi mereka jarang makan enak, dan makan enak itu jadi lebih berarti ketika disesuaikan dengan tanggal kelahiran anggota keluarga. Dengan cermat pula, perempuan berkebaya itu menyimpan uang sedikit demi sedikit, agar anak-anak bisa makan istimewa, beberapa kali dalam setahun. Dan hari ini hari jadinya. Perempuan tua dalam kebaya menutup jendela kayu. Berhenti berharap. Satu dua air mata masih menitik. Anak-anak sudah tak mengingatnya lagi!

Laki-laki itu menginjak pedal gas dalam-dalam, hingga mobilnya terasa terbang. Dia sudah terlambat. Seharusnya kemarin. Sesekali diliriknya jam di pergelangan tangan. Tak sabar ingin segera sampai. Dia ingin segera menemui Mak, meminta maaf atas keterlambatannya. Perasaan rindunya berbaur dengan rasa bersalah yang kental, membayangkan perempuan yang melahirkannya menunggu sia-sia. "Kakak tak bisa datang, Din. Abang pun masih repot dengan kerjaannya. Tak bisa ditinggalkan," suara Yanti di telepon kemarin, "sampaikan salam pada Mak."

Din hanya mengangguk. Sambil dalam hati menghitung, ini sudah dua tahun, Yanti yang tinggal di Medan tak pulang. Sementara Azhar beralasan panjang meski tak jelas, namun intinya sama. "Tak bisa, aku Din. Kau saja, ya?" Padahal Yanti dan Azhar pula yang memintanya menunda kunjungan itu. "Cuma sehari, Din. Kakak masih cari waktu bicara sama si Abang." "Kalau hari ini tak bisa. Besok pagi-pagi sekali kita jalanlah." Din mengembuskan napas kesal. Kalau tahu begitu, lebih baik kemarin dia berangkat sendiri. Apalagi semuanya sudah siap. Dia memang tak pintar bicara seperti kedua kakaknya. Tapi mimpi itu didekapnya sejak lama. Sejak dia sadar keinginan yang disimpan kuat-kuat di bilik hati Mak, meski perempuan berkebaya itu tak pernah mengucapkan.

Itu pula alasan Din belum mau menikah. Dia bisa melihat bagaimana kedua saudaranya serta merta terampas oleh rutinitas berkeluarga, dan pelan-pelan berkurang perhatian pada Mak.

"Anakku sakit, kalau dipaksa mana bisa istirahat di rumah Mak!" "Aduh, lagi tanggung bulan nih, Din."

Padahal tanggung bulan atau tidak, Mak mereka nyaris tak pernah meminta apa-pun. Cukup kedatangan tiga permata hatinya. Mata tuanya akan segera bercahaya.

"Istriku tak enak badan, kepalanya pening-pening terus. Sampaikan maafku pada Mak."

"Si Abang tak memberi izin, Din. Soalnya ada acara di gubernuran. Tak mungkin dia ke sana sendiri tanpa kakak, kan?"

Kasihan Mak, pasti rindu.

Din, laki-laki berusia tiga puluh tiga tahun itu, menekan pedal gas lebih dalam. Tekadnya kuat. Dia sudah harus melihat wajah Mak, saat matahari pertama terbit nanti.

Suara orang mengaji di surau baru berakhir ketika kijang tuanya berhenti. Lelaki itu menengok ke arah laut yang bergejolak tenang. Laut yang menyimpan sejarah masa kecil mereka. Laut yang membuktikan, betapa tegarnya Mak membesarkan ketiga anaknya. Tangan Din mengetuk pintu, bersama salam yang dibisikkannya. Suara sandal diseret dari dalam terdengar mendekat. Tak lama pintu terbuka, sesosok perempuan tua dalam balutan kebaya yang lusuh menatapnya beberapa kejap. Lalu memeluknya tanpa kata-kata.

"Mau kau ajak kemana Mak?"

Din tersenyum saja. Hati-hati dia menuntun langkah Mak ke mobil.

"Tak jauh. Mak tenang saja."

Perempuan berkebaya itu tak bertanya lagi. Wajahnya lurus menghadap ke depan. Tak ada yang tahu betapa hatinya melonjak karena kebanggaan yang terselip. Anaknya si Din, sudah jadi orang tampaknya. Sudah bisa pula membawa Mak-nya berkeliling naik mobil.

"Jangan cepat-cepat, Din."

Din tersenyum, disorongkannya wajah ke arah Mak. Dikecupnya lembut dahi yang penuh guratan usia itu.

"Tenang saja, Mak."

Din, anaknya yang paling muda memang berbeda. Mungkin karena dia belum berkeluarga. Dibandingkan yang lain, si Bungsu itu lebih perhatian. Malah sejak dua tahun ini, hanya Din saja yang setia mengunjunginya. "Kemarin kemana kau, Din? Mak menunggu sampai maghrib." Din memutar setirnya. Kendaraan bergerak pelan. Di sepanjang sisi jalan, laut berayun lembut. Dia sudah di sini sekarang, dekat dengan Mak. Tapi perasaan bersalah karena membiarkan Mak menunggu kemarin, masih mengganjal di hatinya. Rasanya seperti menjadi Amad Rhang Manyang, anak durhaka serupa Malin Kundang dalam mitos Aceh, yang sering diprotesnya. Ibu mengutuk anak rasanya kejam sekali. Sulit untuk membayangkan ibu-ibu Aceh setega itu. Tak mungkin.

"Kemarin tu Kak Yanti dan Bang Azhar...," Din memulai penjelasannya. Mak mengangguk-angguk mendengarkan. Mata Din beberapa kali beralih dari jalan di hadapannya. Mak-nya tak berubah. Perempuan Jawa yang telah lama hidup di tanah sebrang ini, masih tetap saja berkebaya. Ketika dia tanyakan kepada Mak, kenapa tetap mengenakan kain dan kebaya, padahal pakaian itu membuatnya tak leluasa bergerak. Perempuan tua itu hanya menjawab singkat.

"Beginilah ayahmu melihat Mak pertama kali, Din."

Din mengagumi Mak. Jerih payah dan kegigihan perempuan itu luar biasa dalam membesarkan ketiga anaknya. Bagi lelaki itu, keputusan Mak untuk tidak menikah lagi, seolah menjadi bukti totalitas pengabdian yang telah dipilihnya. Totalitas untuk bersama anak-anak. Sungguh menjadi ironi karena ketika anak-anaknya mampu membalas budi, totalitas serupa tak bisa mereka berikan.

Din melenguh dalam hati. Seharusnya dia bisa lebih sering bersama Mak. Harusnya. Tapi tenggat-tenggat dari kantor, lalu tugas-tugas keluar kota, menyisakan hanya sedikit waktu. Itupun terkadang sudah dibalut lelah dan pening. Padahal Mak semakin tua.

Tak berapa lama mobil berhenti. Mak turun dengan pandangan penuh tanya.

"Eh, kemana kau ajak Mak, Din?"

Rumah bercat putih itu berdiri di antara rumah-rumah lain yang lebih besar. Dulu mereka sering memandang rumah-rumah di kawasan elit ini, dengan kaki terendam air.

"Kau tak mengajak Mak melamar perempuan secara mendadak, kan?" Din menggeleng. Dituntunnya langkah Mak hingga berada tepat di depan pintu.

"Ini rumah Mak," bisiknya ke telinga perempuan itu.

Mak menatapnya dengan pandangan tak percaya. Lalu tersedu-sedu di dadanya.

Tidak. Mak tak boleh menangis. Sebab rumah ini dibelinya untuk membahagiakan wanita itu. Mak tak boleh lagi tinggal sendirian dalam rumah bilik satu kamar. Perempuan itu sudah melewati begitu banyak bilangan tahun di sana. Mak butuh tempat yang lebih sehat, tempat yang lebih nyaman, di mana dia bisa menunggu kedatangan mereka dengan lebih tenang.

"Din...."

Lelaki itu mengangguk. Mengajak perempuan itu berkeliling di dalamnya. Rumah bercat putih itu memiliki tiga kamar tidur.

"Supaya Yanti bisa membawa anak-anaknya menginap di sini, Mak."

"Ya... ya...." Mak mengangguk. Lidahnya kelu. Tak disangkanya Din yang selama ini tak banyak bicara membelikannya sebuah rumah.

"Nah, kamar yang satunya lagi buat Bang Azhar dan istrinya kalau datang."

Mak mengangguk lagi. Di wajahnya terselip rasa khawatir.

"Kau benar-benar punya uang untuk membeli ini, Din?" tanya Mak, setelah beberapa lama mereka hanya diam mengagumi rumah baru itu.

Din mengusap-usap punggung ibunya.

"Jangan sampai kau pakai uang orang," kata Mak lagi. "Mak tak perlu khawatir."

Dan dengan satu kalimat itu, Din kembali ke mobilnya.

Matahari mulai menyibak langit, saat Din menstarter kijangnya.

Mak memandangnya dari mulut rumah, melambaikan tangan. Din membalasnya dengan senyum lepas dan rindu yang belum selesai. Dia ingin semua tuntas hari ini, dan Mak bisa segera menempati rumah barunya.

Dia tak berencana meninggalkan Mak lama. Hanya beberapa jam ke kota untuk membeli perabot baru bagi Mak.

Penduduk asli desa nelayan itu, jika masih ada mungkin mengenal sosok laki-laki berumur tiga puluhan yang wajah kerasnya tampak keruh. Sementara kedua matanya menyimpan kabut. Dua hari sejak musibah itu, sosoknya muncul dari arah berlawanan dengan pengungsi. Dan lelaki itu tak beranjak meski lima hari telah berlalu, dan gempa-gempa lain masih kerap menggoyang bumi.

Tanpa alas kaki, sosoknya berjalan di wilayah nelayan yang telah rata dengan tanah. Rumah-rumah dan perahu tak tampak lagi. Begitupun deretan rumah-rumah bagus yang dulu dibangun beberapa kilometer dari pantai. Semuanya runtuh. Sekarang hanya batang-batang pohon kelapa yang menjulang, diantara serpihan tubuh-tubuh manusia yang mengambang di laut tenang, dan sebagian terserak di pantai. Kedua mata lelaki itu awas mencari-cari sesuatu. Ketika menemukan yang dicarinya, lelaki itu akan mulai bekerja. Setelah selesai dia akan bersimpuh, dengan kepala tertunduk khidmat, berdoa di atas pusara yang digalinya.

Setiap hari, tanpa bicara lelaki itu bekerja. Menguburkan setiap jenazah yang dilihatnya langsung dengan tangannya. Tidak seperti relawan lain yang mengangkut semua dengan kendaraan dan menguburkan secara massal. Uniknya lagi, lelaki itu hanya mencari jenazah perempuan. Tak peduli wajah-wajah itu kini tampak mirip karena kembung oleh gelombang dan mulai rusak karena waktu. Pun tak berhenti, meski matanya selalu saja gagal mengenali penggal kain yang dikenakan, sebab tak banyak yang masih melekat di badan jenazah.

Dia hanya tahu, dia tidak boleh berhenti. Sebab, satu dari mereka, mungkin saja perempuan berkebaya yang melepasnya di pintu rumah. Sungguh, dia tak berencana meninggalkan Mak lama. Hanya beberapa jam ke kota untuk membeli perabot baru. Tapi sesuatu menghalanginya untuk segera kembali. Gelombang besar yang tiba-tiba saja datang.***