Dewi karya Yus R. Ismail Komidi Putar karya Gegge S. Mappangewa Pertarungan karya Benny Arnas Kacamata karya Noor H. Dee Debu-Debu Tuhan
Tampilkan postingan dengan label Alizar Tanjung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alizar Tanjung. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Desember 2014

Kepala Saya Tertinggal di Monas

Cerpen Alizar Tanjung (Tribun Jabar, 4 Desember 2014)


(anekatempatwisata.com)

 Kepala saya tertinggal di Jakarta ketika saya berkunjung ke Monas. Kepala saya terlepas dengan sendirinya dari leher. Saya sedang asyik menjulurkan kepala di pagar Monas. Maklum orang kampung ke Monas, beraninya melihat-lihat dari balik pagar. Awalnya saya merasakan ada yang ganjil. Kepala saya berputar dengan sendirinya. Kepala itu memutar tiga ratus enam puluh derjat. Bermacam yang kepala saya lihat. Samping kiri dan kanan, sama saja, pohon-pohon yang memagar taman Monas. Juga orang-orang yang sama lugunya, memandang Monas dengan kepala menjulur. Anak-anak menaikkan kakinya ke pagar monas yang melintang. Seperti melihat capung-capung, anak-anak berteriak. Memandang ke belakang, anak-anak, orang-orang pacaran, para orang tua yang joging pagi. Saya lihat mereka asyik sekali bercengkrama, senyum, tertawa. Saya lihat gigi-gigi mereka yang putih, gusi mereka yang merah daging.

Sebenarnya saya tidak ada tujuan ke Jakarta, maksud saya menara Monas. Hanya saja waktu yang mengizinkan saya. Ya, tepatnya waktu. Sebab kalau tidak ada waktu yang mengizinkan tentu saja saya tidak akan sampai di Monas subuh-subuh hari. Sebab waktu yang membuat saya terdampar di stasiun Gambir jam tiga dini hari. Kenapa bisa? Ya, kenapa bisa? Pertanyaan ini juga menghuni kepala saya.

Saya sampai di Gambir, jurusan Purwokerto-Gambir pada jam tiga dini hari. Benar sekali. Jam tiga dini hari saya kebingungan. Sebenarnya menurut jadwal saya harusnya sampai jam empat pagi. Artinya saya cukup menunggu setengah jam sampai waktu subuh masuk.

Menurut aturannya perjalanan Purwokerto-Gambir, delapan jam dengan kereta. Saya berangkat dari stasiun Purwokerto jam sembilan malam lewat seperempat. Sebenarnya saya pun bukan asli Purwokerto. Ke Purwokerto pun hanya persoalan kekasih. Ah, kekasih, kekasih benar-benar membuat saya dimabuk cinta. Tujuan sebenarnya TIM (Taman Ismail Marzuki). Ya, saya diundang dalam penghargaan pemenang cerpen. Pekerjaan saya memang pengarang cerpen. Orang-orang bilang cerpenis. Biar saja orang-orang bilang cerpenis.

Saya sampai di Purwokerto karena tidak ingin waktu saya sia-sia ke pulau Jawa. Saya naik pesawat dari Bandara BIM Padang, Sumbar. Turun di Cingkareng. Mengambil jurusan mobil ke Purwokerto di Kalideres. Bertemu sang kekasih. Seminggu di Purwokerto, kembali ke Jakarta. Ya, di Jakarta-lah kejadian aneh itu bermula.

Sialnya saya itu pertama kali ke Jakarta. Maksud saya juga ke Purwokerto. Maklum kota-kota itu terlalu asing bagi saya yang tinggal di pedalaman Sumatera Barat. Dan sampai ke Jakarta-Purwokerto-Jakarta tak lebih sebagai keberanian cari mati. Cari mati! Saya lebih suka menamakannya demikian. Kepergian saya tak lebih sebagai bagian dari nekat saja.

Sampai di Jakarta. Ah, jam tiga dini hari saya berjalan menelusuri ke kanan. Berjalan dengan ransel di punggung. Dua puluh menit saya sampai di Monas. Saya tidak begitu tertarik berdiam, di dini hari yang masih kelam Monas tidak ubahnya hantu jahat. Saya teruskan jalan kaki memutar setengah lingkaran. Saya sampai pada pagar-pagar besi, pagar-pagar besi yang memanjang dan melingkar. Pagar besi yang kekar dan memiliki ketinggian tiga meter.

“Malam, kerja-malam-malam Pak,” kata saya menyapa kepada tiga orang yang sedang memasang keramik tempat duduk di depan pagar yang melingkar. Seorang sedang melicinkan semen dengan kuas. Seorang mengaduk semen. Seorang memasang keramik “Kenapa pasangnya malam-malam Pak?”

“Hidup Nak,” kata seorang yang sedang memasang keramik. Saya teruskan berkeliling pagar besi. Hujan rinai, turun. Pada pagar gerbang yang tingginya saya taksir empat meter, sebuah mobil traveling berhenti di depan pagar. Beberapa orang asyik bercengkrama. Dua orang saya lihat merokok sambil bersandar ke dinding gerbang. Saya tidak ingin ikut campur. Saya teruskan berjalan dan pada menjelang gerbang kedua, saya menemukan seorang meringkuk di bawah hujan rinai. Sedikit berteduh dengan kerobeng halte bus. Lelaki kurus itu meringkuk dengan kain sarung menutupi separuh badan. Ah, ini kota besar. Pada gerbang kedua, dua orang kembali saya temukan meringkuk di bawah rinai. Seorang di bawah pos satpam. Seorang merapat ke dinding gerbang masuk. Kota besar memang menyimpan banyak kisah.

Saya buka jam hp, masih jam empat dini hari. Sudah satu jam saya rupanya berjalan.

Saya lanjutkan berjalan mengelilingi pagar. Kemanakah pagar ini akan berakhir? Sampai pada gerbang ketiga, pintu gerbang telah dibuka. Seorang baru saja membuka gemboknya. Saya beranikan bertanya. “Maaf Pak, gedung apakah di dalam pagar tinggi ini?” Kata saya kepada seorang yang lebih mirip ustad. Entah karena pakaiannya.

“Ini masjid Istiqlal, saudara.”

“Oh Masjid Istiqlal ya Pak?”

Isya yang belum saya laksanakan sebelum berangkat dari Purwokerto saya tunaikan di masjid itu. Apa namanya? Oh ya, Masjid Istiqlal. Setengah jam sebelum subuh masuk. Selesai subuh saya kembali mengangkat ransel ke punggung. Bertemu pengemis di pintu keluar masjid. “Abang orang Padang?” katanya. Saya mengangguk. “kalau begitu kita sekampung.” “Darimana Anda tahu?” kata saya. “Dari cara Abang bersikap dan berbicara kepada tukang parkir sepatu di dalam,” katanya. “Abang, saya mohon pinjam uang lima ribu. Saya belum makan.”

Pinjam, ah, kemanakah akan ia balikkan? Mungkin ia membalikkan kepada Tuhan. Saya pinjamkan uang sepuluh ribu. Ya, saya pinjamkan. Saya pergi, berfoto, kembali memutar dan bertemu dengan Monas.

Pagi-pagi sekali saya menjulurkan kepala di Monas. Jam enam pagi. Dua orang asyik berpose dari kejauhan di belakang saya. Seorang perempuan muda berpose dengan sangat genitnya. Lidahnya menjulur. Tangan kanannya menyentuh pipinya. Seorang laki-laki memotret. Mereka bergantian saling memotret. Kemudian mengaktifkan tombol otomatif. Mereka berpose bersama. Itu saya saksikan ketika kepala saya memutar tiga ratus enam puluh derjat dengan sendirinya.

Orang-orang yang menyaksikan kepala saya berputar, hanya berkomentar, “Anda pemain akrobati ya?” “Oh, sangat mirip dengan yang di film-film.” “Maukah Anda mengajarkan bagaimana caranya kepada saya?” “Salup untuk Anda.” Salup, oh, benarkah orang-orang itu benar-benar salup. Atau hanya karena senang melihat ada sesuatu yang aneh saja. Saya abaikan orang-orang yang memuji kepala saya. Saya sendiri tidak memuji kepala saya. Melainkan, ya, melainkan merasakan aneh saja. Bagaimana mungkin kepala saya berputar.

Kepala saya itu lepas dari leher saya saat saya memutar kaki hendak meninggalkan Monas. “Tinggalkan saya di Monas,” kata kepala saya. “Anda silahkan pulang. Keluarga Anda sedang menunggu di Padang.”

“Maaf, Anda harus pulang bersama saya. Anda datang bersama saya dan pulang bersama saya,” kata saya menarik kepala itu dari pagar. Meletakkan kembali di leher saya. Saya rekatkan erat-erat di leher saya.

“Kalau Anda tidak meninggalkan saya, saya akan melepaskan mata saya,” kata kepala saya. Kepala saya melepaskan dua bola mata saya. Saya sungguh tidak percaya, bagaimana mungkin kepala saya melakukan hal itu. Mata saya itu masuk ke balik pagar. Turun naik bak bola pingpong. Dua bola mata kepala saya itu berdiam di pot bunga, di bawah lampu taman. Mata saya memandang kepala saya yang bolong.

“Kalau anda tidak juga melepaskan saya, saya akan melepaskan gigi-gigi saya. “Kepala saya melepaskan gigi-giginya. Gigi-gigi itu menari di atas halaman taman. Gigi-gigi itu melompat bagaikan liliput. Gigi-gigi itu berkumpul bersama bola mata. Saya tertegun di balik pagar. Apa yang dipikirkan oleh kepala saya.

“Mari kita pulang,” kata saya mengambil ransel yang bersandar ke pagar, meletakkannya ke punggung. Kepala saya memutar-mutar tidak beraturan.

“Kalau anda tidak melepaskan saya, saya akan melepaskan rambut-rambut saya.

“Anda ini gila!”

Kepala saya melepaskan rambutnya satu-satu. Rambut itu serupa kumpulan benang hitam yang putus-putus. Makin lama rambut di kepala saya makin habis. Ketika saya rasakan kepala saya dengan usapan telapak tangan kanan, saya rasakan kepala saya yang licin.

“Anda ini neko-neko saja,” kata saya. Kemudian kepala saya menyentak kuat. Dan saya tiba-tiba sudah melihat kepala saya berkumpul dengan mata, gigi-gigi, rambut saya. Dua bola mata saya kembali masuk ke lobang mata kepala saya. Gigi-gigi saya kembali tersusun miring di bagian bawah dan rapi di bagian atas. Rambut-rambut saya kembali terbang dengan perlahan dan menutupi kepala botak saya.

“Trimakasih,” kata kepala saya yang melihat saya terpaku dari balik pagar.

Saya pulang dari Monas membawa kaki, tangan, dada, punggung, leher tanpa kepala. Menyetop kopaja. Sebuah kopaja berhenti di depan saya. Saya duduk di bangku nomor dua dari depan. Saya tahu orang-orang sedang memperhatikan leher saya tanpa kepala.

“Kemana kepala Anda?” Kata kondektur.

“Kepala saya sedang mendirikan sejarah,” kata saya.

“Di mana?” Kata kondektur sambil meminta uang tiga ribu. Saya keluarkan uang limar ribu. Kondektur membalikkan dua ribu uang receh.

“Di Monas.” Kata saya.

“Kemana Anda membawa badan tanpa kepala?” Kata kondektur. Oh, betapa tampak kurusnya kondektur itu dengan kumisnya yang tipis. Matanya yang sipit. Giginya yang jarang-jarang dan kuning.

“Saya pertemuan penghargaan pemenang cerpen di TIM,” kata saya mengeluarkan surat undangan dari panitia penyelenggara lomba cerpen. Kondektur itu mangguk-mangguk.

“Anda seorang pengarang?” saya diam saja. “Anda turun di depan. Anda nanti berjalan ke kiri. Nanti Anda akan melihat tulisan TIM di gerbang pintu masuk,” kata kondektur sembari mengembalikan surat undangan saya. Kemudian saya turun dengan tubuh tanpa kepala.

Sesampai di tempat acara penerimaan penghargaan, saya katakan kepada panitia lomba, “Maaf saya datang tanpa membawa kepala saya. Kepala saya meminta izin tinggal di Monas,” kata saya ketika registrasi di meja panitia. Saya masuk melengggangkan tangan. Dalam pertemuan saya melihat badan-badan tanpa kepala.

“Kemana kepala Anda, Bung?” Kata saya kepada peserta yang hadir. Peserta yang hadir menoleh kepada saya.

“Kepala kami sedang mendirikan sejarah di Monas.” Lebih mirip bunyi paduan suara. Saya pulang ke Padang dengan tanpa kepala, membawa hadiah tropi, tabanas, antologi, dan tanda tanya. Tanda tanya kepala saya.***

Padang, Oktober 2011-2014


Minggu, 02 Maret 2014

Satu Belahan Buluh Buat Satu Batang Tomat dan Sajak Lainnya

Sajak-sajak Alizar Tanjung

(fineartamerica.com)

SATU BELAHAN BULUH BUAT SATU BATANG TOMAT

buluh ini aku ambil dari tepian sungai yang mengalir
di tanahkuning, tepat matahari di tengah ubun, tepat murai
batu berkicau berkali-kali, aku ambil buluh yang beruyung
biar kuat dia diterpa angin, panas, hujan karangsadah.

buluh ini aku tebang dengan parang yang paling tajam,
parang yang telah meyakinkan matanya dengan luka
yang menganga di perut. ketajaman mata parang
membutuhkan sakit batu asahan yang tak pernah usai.

aku buat dia sepanjang 2 meter 10 sentimeter. aku potong
ujung yang merupakan kepala, aku potong pangkal
yang merupakan kaki, tak apa tak berujung tak apa
tak berpangkal, sebab dia akan aku tanam sendiri.

buluh ini aku tancapkan di satu batang tomat, tomat jelang
berbunga pertama, menampung angin, menampung panas,
menampung hujan, menampung kegelisahan harapan
orang yang menanam, menampung kehancuran dirinya.

perlahan dan pasti kulitnya mengkerut.
buah tomat berbuah ranum,.ditawar seharga 4000 rupiah
sebatang, menunggu 4 bulan, menunggu air kerongkongan
penanam yang tak kering di karangsadah ini.

(2013)

***

LADO SUNGAI PUA

berkunjung ke sungai pua, mengikuti garis kerikil, pasir, runduk
ujung daun yang melengkung ke batang tubuh, kuat jalaran
akar yang mengikat ke pangkal batang, serbuk benang sari
yang mengikat diri ke kepala putik, aku temukan lado orang
sungai pua.

lado orang sungai pua, ditanam di sebidang tanah di depan rumah.
diselingi bawang perai, seledri, lobak sawi. pupuknya tahi ayam.
racunnya air liur pagi hari. hujannya kumpulan embun merapi.
di satu kaki merapi, di satu ladang, di satu batang, di satu buah
lado merah sungai pua, aku temukan diriku, melengkung

memeluk jantung. diriku akar yang menjalar dalam biji lado
sungai pua, bunga yang mengendap di pangkal daun yang
mencintai batang, buah yang matang di meja makan dengan
tambahan irisan bawang perai, taburan garam, seledri sungai pua,
lezatnya.

(2013)

*lado (cabai)
** Sungai Pua (nama asli daerah Sungai Puar)

***

KAYU API DI GARIS TANGAN

Bah, aku si penghuni rumah:
di halaman rumah ini kau carah kayu, kau pasang mata baji,
marete itu memukul baji, pukulan pertama pukulan lunak
selunak jalan pikiranmu, pukulan kedua pukulan keras,
sekeras garis tanganmu, pukulan berikutnya pukulan entah,
entah pada pukulan berapa kayu ini keping. kayu keping
lepas sakit mata baji, kau susun kepingan itu serupa
menyusun kepingan dirimu yang entah ribu detik ke berapa
usiamu menjadi daging kayu ini.

tidak apa, aku masih penghuni rumah ini:
kayu ini kayu rimba, kayu bernama kayu paniang
hutan tanahkuning, lunak ke dalam keras keluar, lunaknya
telah kau uji di mata baji, kerasnya telah kau palu di kepala
marete, sempurna kayu ini kau keping sempurna garis
tanganmu memecah kayu, di hari pakan kayu api kau jual,
kau tukar dengan beras solok, kelapa pariaman, ikan padang,
kau tersenyum, kau masak nasi, kau hidangkan padaku,
makanlah.

(karangsadah, 2013)

***


Sabtu, 07 September 2013

Ilalang yang Engkau Petik dan sajak Lainnya

Sajak-sajak Alizar Tanjung (Indo Pos, 7 September 2013)


ILALANG YANG ENGKAU PETIK

sebatang ilalang engkau petik, engkau endus
lembut batangnya, kapuknya yang lembut itu
jatuhnya juga di telapak tanganmu yang halus,
engkau terbangkan ke udara yang dingin,
engkau tersenyum.

engkau bilang engkau datang dari tempat jauh,
rumah tanpa ilalang di halaman,
tanpa bunga kapuk yang melambai di udara
saat pagi begitu hambar dan senja pulang
ke malam begitu kosong.

"kini telah kumiliki ilalang," katamu.
"seperti engkau memiliki aku," senyummu.
hujan rintik dari langit, bunga kapukmu jatuh
ke tanah, aku hanya ingin katakan,
"telapak tanganku kasar." tapi, ah, sudahlah,
ayolah kita pulang, besok kita akan kembali
ke ladang ini memetik ilalang.

(rumahkayu, 2013)

***

STASIUN TUNGGU SIMPANG HARU

"siapa yang kau tunggu se sore ini," katamu,
rambutmu harum kenanga, semampai ke tumit,
kereta dari ujung sana mungkin tersesat
di suatu simpang rel. sebab itu  kerekel di sini
sepi, seperti perempuan yang sedari tadi
menangis di ujung ruang tunggu, aku tahu
dia perempuan yang terus menunggu kekasih
yang tak pulang-pulang, setelah dia melepas
dari gerbong utama di depan kita.

"aku menunggu kereta berikutnya," luguku,
keyakinanku sedalam keyakinan sambungan
rel satu dengan rel berikutnya di stasiun
simpang haru ini,
dingin di sini semakin menyentuh kulitku,
suara petugas yang nyinyir melodi di tengah
kesunyian, suaramu simfoni sepiku,
perempuan di koridor telah tertidur.
"kau sudah tahu di sini
tempat bertemu dan berpisah." harum kenanga itu
menyeruak, kau menggandeng manja tanganku,
kita pergi.

(rumahkayu, 2013)

***

BUNGA PADI

apakah namamu Halimah, Rukaya,
Zainab, Rahima, beritahukan kepadaku,
semekar bunga padi menantang matahari,
setelah matang dia runduk, dan engkau
tersipu malu-malu menghalau burung gereja
yang genit dalam lukisan.

air mata kebahagianmu tumpah, seekor
burung gereja berkicau, kupu-kupu kuning
terbang rendah, dan kau setenang daun
yang melambai, hatiku segelisah pusaran
di antara air sawah, bertanya-tanya
siapa namamu, siapa yang menjeratmu
dalam lukisan, ingin kubawa kau keluar,
kubawa kau pulang, kubawa kau ke sawah padi
di sana angin masih angin buritan.

(rumahkayu, 2013)

***

PAWANG YANG BAIK

aku pawang yang  baik yang menjaga ular sancaku,
kuajari dia menyimpan taring, biar pandai dia
menahan bisa, tak ada yang akan terluka, dan
aku akan tetap menjadi pawang yang digemari ular
sedusun, mulai dari ular sawah, ular semak belukar,
ular dalam dirimu.

hingga kau datang,  mengajari ularku secara rahasia,
mengeluarkan taring, mengeluarkan bisa,
dia sudah pandai mendesir melawan pawangnya,
kepala membentuk leher angsa, mata setajam hasrat
ular dalam dirimu.

aku bertarung dengan ularku sendiri, taring dan bisa
yang kau ajarkan buat membunuh tuannya,
bertemu taring dan bisa dalam dagingku, darahku
penawarnya, tak akan merusak bisa itu padaku,
padamu hasrat ular yang mematuk diri sendiri.

(rumahkayu, 2013)

***

SEHELAI BENANG PENJAHIT

apa pendapatmu tentang tubuhku yang sehelai,
tentang hasil karya yang dibentuk dari luka,
dimakan mata penjahit untuk menanggung duka
di tepi celanamu yang robek,
masuk lubang sempit keluar lubang sempit,
tubuhku yang membetulkan serabutan benang
celana tak terurus itu, tubuhku pula mengizinkan
dagingmu menodai benang celana.

ya, aku si pengembara dari kisah ke kisah
lubang mata penjahit, segala duka benang celana
telah aku saksikan pada tubuhku,
dari celah ke celah hanya rasa sakit.

(rumahkayu, 2013)

***

MANTRA RUMPUT TEKI

datanglah, datanglah, datanglah, dari langit, dari bumi,
dari akar dari pucuk, dari batang, dari jantungku, aku
anak si petani yang sabar bangun pagi hari, aku jadi
si petani yang sabar mengikuti liku dan tanjakan
jalan setapak baliakpuncak, datanglah dari telapak
kakiku yang bergaris panjang dan pendek, aku tunggu.

akhirnya kau datang juga dari semak belukar,
dari selah daun yang berhasil dicumbui tanah,
dari harum hutan yang menyisihkan harum kenanga,
melekat tubuhmu pada baju dan celanaku,
meninggalkan bau hutan rimba raya,
baumu yang menyisip pada setiap keringat dagingku.

(rumahkayu, 2013)