Dewi karya Yus R. Ismail Komidi Putar karya Gegge S. Mappangewa Pertarungan karya Benny Arnas Kacamata karya Noor H. Dee Debu-Debu Tuhan
Tampilkan postingan dengan label Emil Amir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Emil Amir. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2012

Ambe Masih Sakit

Cerpen Emil Amir (Kompas, 4 Maret 2012)

(kompasiana.com)


Di kampungku, Tana Toraja, aura kematian sering kali berembus seperti angin. Jika terlihat secarik kain putih melambai di halaman tongkonan, itu pertanda ada orang yang masih hidup meski sudah mati, ”to makula”. Di sini, kematian dirayakan dengan biaya yang tak sedikit.Inilah akibatnya.

Sudah hampir sepuluh tahun Ambe terbaring di dalam erong, seolah menanti upacara rambu solo yang tak kunjung dilaksanakan oleh sanak keluarga. Sebab, tak ada dana atau belum dan jauh dari mencukupi walau kami tengah mengupayakannya. Hingga hari ini.

Pagi tak lagi halimun. Kulihat Indo sedang sarapan dengan Ambe yang masih sakit, terbujur kaku di dalam peti mati itu. Nyawanya menjelma arwah, tapi tetap tinggal kendati tidak menyatu dengan jasad. Menderitakah ia menjadi bombo?

”Selamat pagi, Ambe. Aku mau berangkat.”

Cahaya matahari, yang bangkit menembus celah dinding di sumbung, menimpa tubuh Ambe yang susut dan pakaian kebesarannya tampak berdebu.

”Hati-hati, Anakku. Semoga dalle-mu hari ini berkah. Berkat dari langit.” Jawaban Indo seperti doa.

Sering kulihat rona wajahnya tak ada duka meski ia sudah lama berkabung. Mungkin karena itu hatinya tak lagi berkabut. Menjalani hari dengan bahagia walau keadaan seperti ini. Ia mengantar kepergianku sampai depan pintu. Aku tahu, ia selalu menaruh harap agar aku cepat dapat uang untuk upacara kematian Ambe. Letihkah Indo merawat Ambe?

Cuma tongkonan ini yang kami punya atau yang tersisa. Indo hanya istri kedua Ambe. Katanya, dulu banyak kerabat tidak setuju ketika mereka menikah dan kakak-kakak tiriku menerima dengan syarat menuntut pembagian harta sebagai ahli waris mendiang ibu mereka. Sekarang, Ambe tak memiliki harta peninggalan, bahkan buat perayaan kematiannya sendiri. Anak-anaknya terdahulu pun seperti tak peduli. Tinggallah aku dan Indo yang menanggung beban. Berat, entah sampai kapan kami mampu menahan.

Aku pulang membawa hasil yang lebih dari biasanya walau aku tidak menjadi guide. Lumayan. Ukir-ukiran aku hampir habis dan beberapa lembar tenunan Indo laku. Dibeli oleh turis asing dan lokal yang lalu lalang. Sebenarnya masih siang meski sudah menjelang sore. Dan, aku mendapatkan kejutan kecil.

Margaretha Sua datang berkunjung. Dari Makale ke Rantepao menempuh jarak yang tak jauh. Ia perempuan mamasa dan sudah jadi pegawai. Akhir-akhir ini aku jarang bertemu dengannya. Kami tidak sering bersama setelah ia pindah mengikuti orangtuanya. Kami duduk di kolong alang. Alih-alih melepas rindu, wajahnya malah mendung membawa kabar tak baik.

”Upta, dia ingin segera melamarku,” segan perempuan itu berucap. Bibirnya seperti bunga yang kusuka, tapi ia mengeluarkan sengat.

”Kau mau menerimanya?” Aku mengumpulkan perasaanku yang tadi berhamburan untuk mengatakan itu.

”Aku cuma dikasih waktu sedikit buat berpikir,” ujarnya pelan dan tergugu, barangkali isak.

”Etha, bilang saja kalau kita hanya bisa sampai di sini.” Aku terempas seperti udara sisa di hidungnya.

Margaretha Sua menatapku kisruh, ”Aku tidak mau jadi biarawati.”

Ia terlalu dirasuki cerita tantenya yang hidup selibat lantaran ditinggalkan kekasihnya yang tak mau menunggu. Upacara kematian bapaknya, kakek Margaretha Sua, tertunda lama. Kini perempuan di hadapanku takut berlomba dengan kematian neneknya.

”Maafkan aku.”

”Aku yang minta maaf.”

Margaretha Sua pergi, pelan-pelan mengabur dari penglihatanku ditelan tikungan jalan. Mungkin ia membawa luka atau lega? Ia seperti tidak setia.

Petang di ambang hari. Senja melumuri langit. Seketika bayangan gelap datang dari barat. Sementara aku tengah memandang di bukit utara itu yang dipenuhi tebing-tebing. Gunung-gunung batu yang di kakinya rimbun belukar rimba. Semak-semak raksasa yang tak habis untuk dikuak.

Mungkin Tuhan menjelma hutan hingga belantara itu dihuni arwah-arwah. Segala yang sudah mati hidup di sana seperti alam baka. Rindukah Ambe untuk ke sana sebagai tomembali puang? Bergabung dengan tau-tauyang asyik bertengger atau bernaung di pohon-pohon suaka ketika malam tiba bagai mengulang masa kanaknya. Seperti apakah kehidupan di puya?

Dan, sampai kapan aku harus menanggung? Tabunganku tidak akan genap sekeras apa pun aku berusaha. Maafkan aku, Ambe, bila aku mengeluh. Aku sedang patah hati, mungkin putus asa. Indo tidak bisa dibujuk.

”Adalah larangan melakukan rambu tuka, apalagi rampanan kappa, apabila rambu solo belum diselenggarakan. Ambemu masih sakit. Rohnya masih terkatung-katung di alam sana.” Kata Indo seolah memegang kukuh wasiat Ambe. Tapi, aku menerka ini kemauannya.

”Kenapa? Apakah itu menyalahi aluk?” Aku tak tahu apa aku sedang menggugat adat yang aku yakini sendiri.

”Itu sama saja kau meminta hakmu tanpa menunaikan kewajibanmu sebagai anak.” Indo seolah berkata, tunjukkan baktimu.

”Dulu Ambe pernah bilang padaku, hidup itu untuk mati. Dunia ini tempat persinggahan dan mati adalah pintu ke puya, di kehidupan yang sesungguhnya,” jelasku punya maksud

”Iya, itu betul. Lantas?” kejar Indo mencium niatku.

”Kata Ambe carilah bekal, dalle buat mati. Biar kelak tidak menyusahkan keturunanmu. Seharusnya Ambe juga begitu.” Aku tertunduk sebab lancang, ada sesal yang hinggap. Aku tak berani melihat Indo yang mungkin tengah membelalakkan mata, tak menyangka.

”Indo merasa tidak pernah kurang mengajarimu, Upta.” Ia memanggil namaku seakan aku bukan anaknya lagi. Dapat kudengar hela embusnya kecewa, ”Ambemu perlu kunci untuk membuka pintu ke puya, rambu solo. Perjalanan ke sana jauh sekali butuh kendaraan, tedong bonga, agar cepat sampai.”

”Beberapa babi dan seekor kerbau aku kira sudah cukup, Indo. Tedong bonga ratusan juta harganya. Kita mana sanggup.”

”Kau ini! Ambemu keturunan tana bulaan. Bukan orang sembarangan. Kalau cuma itu, sudah dari dulu Indo melakukan rambu solo. Tak perlu menunggu bertahun-tahun. Dengar, Upta. Ini bukan asal upacara, tapi martabat yang mesti dijunjung. Kau tahu itu! Ambemu akan tersesat karena ulahmu.” Suara Indo melangit seperti bulan yang pongah.

”Aku lebih bangga kau merantau ke Papua. Di sana kau bisa dapat uang banyak ketimbang di sini. Atau kau mau mati di sana, terserah.” Indo bicara terus sebab aku seperti patung, kepala batu. Indo kenal sekali tabiatku, kalau ada mau diam tapi rusuh.

”Kau tidak bakal ada di dunia ini kalau tak ada Ambemu yang meminta kau dilahirkan.” Indo berkata tega. Napasnya panas. Kubayangkan, dulu mungkin ia hendak menggugurkan dan menguburkanku di pohon nangka, tapi dicegah oleh Ambe. Keberadaanku kau tampik, benarkah kabar itu?

”Matahari siang dan bulan malam tidak pernah bertemu. Kalau sampai itu terjadi, itu artinya kiamat! Kau boleh menikah, tapi bukan di tongkonan ini dan tanpa restu dariku,” cetusnya mengancam. Indo menarik kakinya pergi ke sumbung, kebiasaannya sesenggukan di sana. Meratapi Ambe dan nasib. Atau masa lalu yang berusaha ia tutup dan simpan.

Malam benar-benar rindang. Beberapa kerabat dan tetangga datang. Kami main kartu sampai suntuk. Aku menyuguhkan kopi dan penganan seadanya. Mereka membawa ballo. Sunyi dingin meruap.

”Upta Liman, itu bukan sepenuhnya bebanmu dan keputusan ada di tangan kakak-kakakmu yang telah abai di perantauan,” ujar Tato Randa bijak. Ia pamanku dari pihak Indo dan teman Ambe sebagai pemangku adat.

”Seperti bukan orang Toraja saja mereka itu. Mabuk di kampung orang sampai lupa kampung sendiri,” imbuh Urru, teman seprofesiku yang sudah oleng. Entah berapa gelas tuak ia tenggak.

”Kewajibanmu cuma mengingatkan meski kau harus menanggung belasungkawa yang menunda kegembiraan di tongkonan ini,” lanjut Tato Randa. Menimbulkan tanya di benakku yang keruh. Adakah rahasia yang kalian taruh?

”Kecuali kalau Indomu rela memutus hubungan dengan membayar nilai salah yang tak seberapa,” celetuk Tante Ully tak dinyana. Tanteku ini perempuan tua yang agak lain pikirannya. Ia melenggang setelah mendapat isyarat diam dari yang hadir selain aku, pergi menemani Indo di kamar. Matanya bicara padaku.

Kami kembali melanjutkan berembuk, tapi aku tidak berminat lagi. Mereka membujuk.

”Kontaklah saudara-saudaramu itu untuk segera pulang. Urusan ini harus lekas dibereskan. Kami di sini sudah siap memberikan bantuan. Nanti kami ajukan proposal ke pemda buat diikutkan program pariwisata Natal dan Tahun Baru. Babi-babi dan kerbau akan kami sumbangkan. Kurangnya kalian usahakanlah.”

Ah, bantuan ini adalah utang moral. Bakal malu jika tidak bisa mengembalikan, ketika kelak di antara mereka ada yang meninggal. Setara atau lebih dan aib akan aku tanggung bila tak mampu. Masih sakralkah perayaan kematian ini? Mereka pamit.

”Indomu sulit berdamai dengan masa lalunya. Dulu ia berbuat dosa dan mencari selamat. Orang-orang kampung tak jadi mengusirnya. Ketahuilah dari silsilah,” bisik Tante Ully sebelum pulang. Selain kakak-kakak tiriku, yang aku tahu Ambe pernah menikah dengan janda kaya punya satu anak yang tak pernah kulihat dan tidak kutahu keberadaannya.

Ambe dari manakah aku mulai merunut? Kini aku berbaring lelap di sebelahmu. Hendak menerima jawab.

”Kenapa Ambe menikahi Indo?” tanyaku seakan rohnya masih bersemayam dalam tubuh.

”Karena aku mencintai Indomu.”

Lama kutatap Ambe. Kuperhatikan saksama.

”Apakah Indo mencintai Ambe?”


Sebab ia terlalu lansia buat jadi Ambe.

”Tanyakan itu pada Indomu.”

Ia seolah tersenyum serupa sunggingan orang yang tidak punya gigi. Aku terjaga.

Pagiku dibuka dengan kedatangan tamu. Ribut, suara Indo ramai di halaman ketika aku menuruni tangga. Lelaki itu lagaknya seperti turis lokal dengan badan tambun. Tubuh Indo bergetar, kusut dan berantakan, menghalanginya masuk.

”Aku punya hak atas rumah tongkonan ini, aku ahli warisnya!” tuntutnya tanpa melepas kacamata riben di wajahnya.

”Kamu siapa?” aku maju di muka Indo.

”Aku anak dulu dari Indoku. Istri pertama Ambemu. Tongkonan ini akan kujual. Pembelinya sudah ada. Sertifikatnya masih atas namaku, belum ada balik nama.” Jelasnya beruntun.

”Rantedoping, ahli waris sudah berpindah tangan sejak kau pergi dan tak ada kabar. Biar nanti adat yang menentukan.” Indo bersikeras.

”Siapa ahli warisnya, kau?”

”Bukan. Upta Liman, anakmu.”

Baru kulihat airmata Indo menetes. Lelaki itu menatapku nanap dan aku terlongo saat Indo hampir rebah pingsan. Kupeluk Indo yang begitu ringkih.


Toddopuli 2 STP 8


Catatan:
Ambe: ayah
Indo: ibu
Tongkonan: rumah adat orang Toraja
To makula: orang mati yang belum diupacarakan, masih dianggap sakit
Erong: peti mati
Rambu solo: upacara kematian khas Toraja
Bombo: roh yang menunggu upacara
Sumbung: bagian belakang rumah tempat menyimpan mayat
Dalle: rezeki
Alang: tempat menyimpan padi miniatur tongkonan
Rambu tuka: upacara kegembiraan
Rampanan kappa: pesta pernikahan
Aluk: adat
Tomembali puang: roh yang sudah diupacarakan berwujud setengah dewa
Tau-tau: boneka kayu, wujudnya menyerupai orang yang diupacarakan
Puya: surga
Ballo: tuak
Tana bulaan: kaum bangsawan tertinggi

Selasa, 20 Oktober 2009

Haji Bawakaraeng

Cerpen Emil Amir (Majalah Gong Edisi: 111/X/2009)

Seperti tawaf di Ka’bah, saat itu jamaah yang datang dari berbagai daerah, tengah khusyuk mengitari tugu beton yang pernah dibangun Belanda beberapa waktu silam, sambil mengumandangkan kalimat tauhid dengan tubuh bergoyang laksana ilalang yang menari ditiup angin. Ketika gerombolan itu datang menghujat.
“Syirik!”
“Bukan ajaran Islam.”
“Bubarkan!”

***

Aku selalu heran. Ibu sering melarangku pergi ke Malino untuk mengisi liburan semenjak masih SMA sampai sekarang, aku kuliah dan menjadi anak pencinta alam. Paling tidak ibu sering menghalang-halangi niatku dengan berbagai alasan. Padahal di sana aku punya warisan peninggalan ayah, berupa tempat penginapan yang dikelola orang lain. Makanya kerap kali aku berangkat diam-diam. Sepulang dari Malino, ibu pasti tahu dan langsung menghukum dengan cara mendiamkanku beberapa hari. Sejak itu aku tahu ibu tidak pernah ke sana.
Ketika ibu bertanya apa saja yang kulakukan setiap aku berkunjung ke sana, kulihat wajahnya harap-harap cemas seperti was-was yang tak semestinya. Bagai anak kecil yang ketahuan mencuri, kuceritakan semuanya termasuk pengalamanku mendaki puncak gunung Bawakaraeng dan kudapati di sana ada ritual haji. Ibu makin panik dan kian hari mengurung diri di dalam kamar. Saat kutanya kenapa? Ibu bungkam seribu bahasa seperti bertingkah yang tidak kumengerti. Tatkala kini berbaring lemah di rumah sakit, barulah ibu mau bercerita.
“Bunga, kamu punya seorang kakak.”

***

“Kapan kita naik haji, Daeng?” tanya Maniah yang sebenarnya tidak perlu Daeng Tata jawab sebab ia tahu istrinya itu hanya mengeluhkan nasib yang tak pernah bisa simpan uang.
“Sabarlah dulu, Anriku. Bila tiba waktunya, kita pasti akan ke tanah suci. Untuk itu kita jangan putus berdoa,” nasihatnya itu belum mampu meluluhkan hati Maniah yang punya mau.
“Percuma berdoa tanpa usaha, Daeng. Apa yang bisa diandalkan dari sepetak sawah warisan orangtuamu yang tak seberapa itu. Tak cukup bahkan untuk perut kita. Sayuran dan kadang padi yang kita tanam harganya selalu rendah, tidak pernah naik. Kita tinggal di hamparan gunung yang luas tapi milik kita tidak lebih dari secuil. Dan apa pula yang Daeng bisa lakukan selain bertani.”
Daeng Tata meredam amarah yang menghantam dada, berusaha maklum akan ucapan istrinya yang begitu tajam menusuk. Barangkali Maniah tidak sadar tengah menyinggungnya.
Dulu, orangtuanya memang punya banyak tanah. Namun tanah itu dijual murah karena didesak oleh usia mereka untuk naik ke tanah suci sebelum maut menjemput, dan beberapa tanah disita lantaran orangtuanya mengambil pinjaman untuk menambah upah naik haji, sebab uang hasil penjualan tanah belum juga cukup memenuhi ongkos. Juga buat selamatan sebelum dan sesudah naik haji. Harus dilunasi karena sudah menjadi kewajiban keluarga yang ditinggalkan untuk membereskan segala hajat yang tertunggak. Beberapa kali Daeng Tata didatangi di dalam mimpi, orangtuanya mengemis memintanya segera membayar utang mereka kepada yang bersangkutan yang memang sering menagih. Padahal sisa tanah yang mereka wariskan adalah biaya hidup Daeng Tata sehari-hari.
Waktu itu, tanah memang seperti tidak ada harganya sebab jarang yang mau beli. Apalagi terletak di daerah puncak. Namun sekarang di tanah itu sudah banyak berdiri Vila, tempat penginapan untuk para pelancong yang berwisata ke Malino yang terkenal dengan air terjun dan udaranya yang sejuk.
“Besok saya akan ke atas, Anri. Kamu mau ikut?” bujuknya agak mengalihkan pembicaraan agar perasaan istrinya sedikit lunak, lantaran malam ini lelaki itu membutuhkannya. Ia memegang bahu istrinya pelan yang sedang berbaring membelakanginya.
“Tidak. Saya tidak percaya lagi, Daeng. Saya capek berangan-angan. Saya tidak mau pahala yang sama dengan naik ke Mekkah di atas gunung Bawakaraeng itu. Apakah Daeng tidak tahu? Banyak yang bilang ibadah ke sana itu keliru.” Maniah menolak secara halus, menggeser pundaknya biar terlepas dari tangan suaminya yang membelai bahunya.
“Ah, tahu apa mereka itu? Mereka tidak tahu apa-apa. Hanya hendak memaksakan ajaran yang katanya murni!” ujarnya seperti mengumpat. Menghempaskan diri karena merasa gagal melelehkan kebekuan istrinya.
Sungguh Daeng Tata sangat sulit menakhlukkan tabiat istrinya yang keras hati ketika sedang merajuk. Perempuan yang ia nikahi mati-matian sebab ia punya saingan. Ia rela menghabiskan tanah warisannya yang tersisa buat memenuhi permintaan calon mertuanya yang banyak ulah itu, sebab ada orang lain yang juga hendak melamar. Kepada pemberi yang tertinggi, mereka melepas anak gadisnya.
“Daeng, bagaimana kalau saya ke Makassar mencari kerja?” Tiba-tiba Maniah mengajukan usul yang tentu saja mengejutkan Daeng Tata. I strinya membalikkan badan menatapnya. Berkat pelita minyak yang menyala redup, ia bisa melihat mata istrinya yang berbinar, ada semangat di dalamnya.
“Seperti waktu gadis dulu. Saya akan bekerja sebagai buruh pabrik dan bakal menabung,” lanjutnya penuh harap, demikian riang seperti mengejar impian.
“Anri, kau akan lama di sana nantinya. Dengan begitu kau tega meninggalkan saya sendirian di sini.”
“Tidak apa, demi masa depan kita. Kelak bila sudah cukup uang dan pengalaman saya akan mengajakmu serta. Kita buka usaha di sana.”
“Tidak. Saya tidak mengijinkanmu!”
“Daeng, tenang saja. Sesekali saya akan menjengukmu.”
Suaminya bungkam yang bukan hanya diam. Maniah juga sejenak membisu sekedar mencari jawaban yang diinginkannya. Namun air muka Daeng Tata tidak berubah, dan istrinya itu sudah mengerti bahwa ia tidak bakal mendapatkan restu untuk pergi. Sambil kembali membalikkan badan, ia tetap menceracau. Tak mau menyerah.
“Kakak-kakakku sudah haji semua. Adik lelakiku yang pedagang itu sudah berangkat. Saya saja yang melarat seperti ini,” suaranya lirih menyindir. Namun ia tidak memperoleh tanggapan selain sunyi.
“Besok, naiklah ke atas supaya diberi gelar Haji Bawakaraeng. Teruslah seperti itu, sampai kapan pun, Daeng tidak akan mampu naik haji.”
Maniah diambang putus asa, memadamkan lampu minyak. Tidak peduli lagi dengan suaminya yang malam itu berhasrat bikin anak. Boleh jadi istrinya itu sering uring-uringan lantaran belum melahirkan buah hati. Pernah Daeng Tata dan maniah mendatangi sanro untuk berobat setelah lama menunggu. Namun dukun itu menyurutkan harapan. Katanya, Daeng Tata punya mani yang terlalu panas hingga mematikan indung telur. Lain hari berujar, rahim Maniah telah dingin dan beku. Terakhir menyimpulkan, mereka tidak cocok.
Daeng Tata tidak bisa tidur, memandang nanar gelap yang mengerubungi.

***

Dan Sekarang aku berada di sini untuk menemuinya.
Di atas gunung Bawakaraeng, angin menampar tubuh ringkih Daeng Tata yang tak goyah, memandang jauh di bawah sana. Bagai di laut, langit merendah begitu dekat sebab puncak bukit itu menjulang seperti hendak menjangkau cakrawala dengan gumpalan mega-mega berarak-arak serupa ombak yang tak surut, bergulung-gulung dengan pekatnya. Tampak megah keemasan pada senja yang bangkit, pertanda malam akan memeluk hari. Dan setiap kali awan itu melintas, bayangannya tampak berkejaran di permukaan bumi.
Deru angin terus menerpanerpa. Hembusan itu bertiup kencang membuat celana kain dan baju lusuh serta sarung yang tersampir di pundaknya berkibar-kibar ke belakang. Kopiah hitam bertengger di kepalanya yang beruban pun telah pudar serupa dirinya yang digerogoti usia.
Lelaki tua itu masih menatap, barangkali nun pada hamparan kota Makassar yang merajalela, tanah daratan yang jauh dari sini dan hidup dengan gemerlap, kelap-kelip yang mengalahkan kedap-kedip bintang yang mulai bermunculan di langit yang sebentar lagi menghitam, seperti perempuan nakal yang main mata.
Aku sejak tadi mengamatinya dari jarak yang tak dekat. Agak ke bawah, di balik hutan yang dihuni halimun, kabut asap tipis nan dingin yang lalu lalang. Aku melangkah mendekatinya dengan kaki kuseret biar berisik supaya ia berpaling, tapi Daeng Tata tetap bergeming hingga aku berada sejajar dengannya. Dingin kian merasuk mungkin sampai tulang, ngilu yang membeku. Aku menggigil seperti digigit oleh dingin, membuat gigiku ingin bergemelutuk dan akan mengeluarkan uap es ketika aku berbicara dan bibirku kini menjadi kelu. Padahal badanku dibungkus jaket tebal bagai berbalut-balut. Aku seperti hendak meringkus diri pada kedua tanganku yang bersilang di atas dada.
Berbeda sekali dengan Daeng Tata yang santai saja menautkan kedua tangannya di belakang punggung karena sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini. Aku yakin telapak tangannya akan berkeringat dan kulitnya bakal meleleh lantaran peluh, tatkala nanti ia ke Makassar yang teriknya garang dengan niat mencari anaknya yang tak pernah menjenguknya beberapa tahun ini, semenjak pertengkaran yang aku pun tahu. Bagai menunaikan hajat ke tanah suci yang tak pernah terwujud karena uangnya tidak pernah cukup dan tiap tahun biayanya selalu naik.
Sungguh lelaki tua di sampingku ini seakan tidak bisa berpisah dari gunung Bawakaraeng yang ia jaga melebihi dari hidupnya. Ia menanam Mahoni dan jati serta pohon jenis lainnya di lereng bukit, dan di lokasi yang pohonnya terbabat di sekitar gunung. Bibitnya ia semai di pekarangan rumahnya. Sebab jasanya itu ia mendapatkan upah tiap bulan dari pemerintah Gowa yang tidak cukup buat makan berhari-hari. Lembaran uang itu ia tabung dalam kaleng biscuit entah berapa tahun, yang telah penuh. Namun jika dikumpulkan dan diikat dengan karet jumlahnya tak seberapa, tidak sebanding dengan jerih payahnya. Aku mengetahuinya sebab ia bermaksud menitipkan segepok uang itu beberapa hari yang lalu kepadaku buat Amiruddin, anaknya. Uang kuliah untuk temanku itu. Dulu memang anaknya adalah temanku tapi setelah aku tahu semuanya, dia bukan lagi temanku. Lebih dari itu. Aku bilang, Amiruddin memiliki usaha yang tidak tetap.
“Bunga, sampaikan salam saya pada Anakku yang masih keras hati. Bilang, saya sangat merindukannya,” ujarnya lembut nan tegas tanpa melepas pandang melihat kota Makassar yang berkilau gemilang serupa lampu senter yang benderang di tengah kegelapan, seperti kumpulan cahaya.
“Tata, tahu sendiri sikapnya yang tak mau dengar. Dan aku tidak bisa memaksa,” kataku setelah agak lama terdiam, lantaran aku sibuk menghalau dingin yang kian merayap pada hawa yang mulai senyap. Kulihat pelita di rumah penduduk di kaki dan di pinggang gunung sudah mulai berkeliaran bagai percikan sinar yang menyebar, bak kunang-kunang yang saling menjauh mencari tempat hinggap.
“Bujuk dia sampai mau. Katakan lagi padanya bahwa saya akan minta maaf, kalau perlu saya akan bersujud di kakinya. Akan kutinggalkan semua kebiasaan yang dimatanya adalah dosa. Hanya dia satu-satunya harapanku, Bunga. Harta warisan peninggalan almarhumah istriku yang ingin kususul di tanah suci. Dialah yang dapat mewujudkannya.” Kali ini ia menjenguk mukaku yang hampir beku, menatap asa begitu memelas.
“Iye, Tata, akan aku usahakan,” ucapku dengan gigi bergeretak. Kendati aku tidak tahu dimana Amiruddin sekarang. Namun aku yakin tidak susah untuk menemukannya. Sebab dia tidak kuliah lagi. Lebih memilih menyeru jalan agama ketimbang menuntut ilmu di fakultas yang katanya tidak dibawa ke akhirat.

***

“Aku belum menikah karena belum bisa melupakanmu. Dan aku akan terus menunggu sampai kamu mau, Maniah.” Sungai Jene Berang mengalir deras seperti meluap, menenggelamkan bongkahan batu kali yang terserak. Maniah bagai terseret oleh arusnya, telinganya berdengung mendengar ucapan Andi Baso. Pertemuan di tepi sungai di suatu pagi yang hendak beranjak, ketika Maniah usai membasuh diri dan membersihkan cucian.
“Saya sudah punya Daeng Tata!” jawab Maniah bergetar, agak terperangah. Meraba-raba kemauan hatinya.
“Itu bukan masalah jika kamu mau.”
Maniah menatap lelaki itu begitu lama seperti hendak menemukan keseriusan. Lelaki yang pernah ditolak sebab tak mampu memenuhi permintaan orangtuanya, sehingga Maniah mengubur cintanya dalam-dalam. Pertemuan itu rutin meski tidak setiap pagi dan kadang di tempat berbeda yang tidak diketahui orang lain, saat sepi. Sampai kesalahan itu diperbuat, yang membuat Daeng Tata senang karena tidak tahu.
“Kamu hamil, Maniah?”
Perempuan itu tidak mampu berterus terang karena didera dosa. Ia gelap mata. Andi Baso sangat sulit diabaikan. Bukan hanya karena ada hati, melainkan menjanjikan hidup layak dan nantinya bisa naik haji. Lelaki itu telah mapan. Kupingnya sudah terlalu panas mendengar segala gunjingan hina akan hidupnya yang tak kunjung membaik.
Maniah merasa tidak dipandang di tengah keluarga dan di setiap pesta yang dikunjunginya. Tidak diperbolehkan berjejer menyambut tamu di ruang depan karena belum haji. Cuma kerap mendapat tempat di dapur dan dianggap serupa asap yang mengepul lalu lenyap tak bersisa dan tak ada yang peduli. Hanya disuruh bantu-bantu memasak. Lantaran malu, ia tak tahan. Ketika kesempatan itu memberi peluang tak mungkin ia tampik kendati meninggalkan aib.
“Bayi itu anakku, Maniah.”
“Tidak Andi Baso. Daeng Tata sangat mengharapkannya. Saya akan menyusulmu nanti setelah saya melahirkan.”

***

Daeng Tata masih menatapku begitu teduh penuh pancaran kasih seperti menganggap aku adalah anaknya.
“Terima kasih, Bunga. Mari kita turun. Sepertinya kamu sudah tidak tahan dingin. Teman-temanmu juga sudah lama memanggil. Kamu tahu, Bunga? Kamu mirip istriku waktu muda.”
Aku tidak tersipu dengan gurauannya. Aku malah makin merasa bersalah. Ah, seandainya Daeng Tata tahu tentang rahasia yang kubawa, titipan pesan dari ibu yang mesti kusampaikan. Mengenai masa lalu yang tak ada hubungannya denganku. Aku hanya ingin mengatakan, istrimu belum mati dan Amiruddin bukan anakmu. Namun mulutku ini tak sampai hati mengutarakan maksud di setiap kesempatan berdua dengannya seperti tercekat di tenggerokan. Padahal besok aku sudah kembali ke Makassar.
Teman-temanku sudah membereskan segala peralatan camping tak terkecuali sisa-sisa berupa sampah. Memastikan tak ada yang ketinggalan, semuanya ada dalam ransel besar di pundak. Setelah berucap syukur, kami siap turun gunung. Di lembah Ramma, di rumah panggung Daeng Tata, kami akan istirahat. Barangkali sampai pagi meninggalkan hari. Semoga kesempatan terakhir itu tidak aku siasiakan untuk membuka mulut, atau tidak sama sekali.


Sinjai, 29 Oktober 2008


Catatan:

·         Gunung Bawakaraeng yang berarti Mulut Tuhan adalah tempat Syekh Yusuf berangkat ke Mekkah. Ulama sufi yang paling terkenal di seantero Sulawesi, dipercaya masyarakat bagai ditelan lalu hilang dan muncul di tanah suci. Dari sini awal mula ritual haji Bawakaraeng.
·         Daeng: Panggilan sayang untuk suami yang berarti kakak.
·         Anri: panggilan sayang untuk istri yang berarti adik.