Dewi karya Yus R. Ismail Komidi Putar karya Gegge S. Mappangewa Pertarungan karya Benny Arnas Kacamata karya Noor H. Dee Debu-Debu Tuhan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Desember 2014

Kepala Saya Tertinggal di Monas

Cerpen Alizar Tanjung (Tribun Jabar, 4 Desember 2014)


(anekatempatwisata.com)

 Kepala saya tertinggal di Jakarta ketika saya berkunjung ke Monas. Kepala saya terlepas dengan sendirinya dari leher. Saya sedang asyik menjulurkan kepala di pagar Monas. Maklum orang kampung ke Monas, beraninya melihat-lihat dari balik pagar. Awalnya saya merasakan ada yang ganjil. Kepala saya berputar dengan sendirinya. Kepala itu memutar tiga ratus enam puluh derjat. Bermacam yang kepala saya lihat. Samping kiri dan kanan, sama saja, pohon-pohon yang memagar taman Monas. Juga orang-orang yang sama lugunya, memandang Monas dengan kepala menjulur. Anak-anak menaikkan kakinya ke pagar monas yang melintang. Seperti melihat capung-capung, anak-anak berteriak. Memandang ke belakang, anak-anak, orang-orang pacaran, para orang tua yang joging pagi. Saya lihat mereka asyik sekali bercengkrama, senyum, tertawa. Saya lihat gigi-gigi mereka yang putih, gusi mereka yang merah daging.

Sebenarnya saya tidak ada tujuan ke Jakarta, maksud saya menara Monas. Hanya saja waktu yang mengizinkan saya. Ya, tepatnya waktu. Sebab kalau tidak ada waktu yang mengizinkan tentu saja saya tidak akan sampai di Monas subuh-subuh hari. Sebab waktu yang membuat saya terdampar di stasiun Gambir jam tiga dini hari. Kenapa bisa? Ya, kenapa bisa? Pertanyaan ini juga menghuni kepala saya.

Saya sampai di Gambir, jurusan Purwokerto-Gambir pada jam tiga dini hari. Benar sekali. Jam tiga dini hari saya kebingungan. Sebenarnya menurut jadwal saya harusnya sampai jam empat pagi. Artinya saya cukup menunggu setengah jam sampai waktu subuh masuk.

Menurut aturannya perjalanan Purwokerto-Gambir, delapan jam dengan kereta. Saya berangkat dari stasiun Purwokerto jam sembilan malam lewat seperempat. Sebenarnya saya pun bukan asli Purwokerto. Ke Purwokerto pun hanya persoalan kekasih. Ah, kekasih, kekasih benar-benar membuat saya dimabuk cinta. Tujuan sebenarnya TIM (Taman Ismail Marzuki). Ya, saya diundang dalam penghargaan pemenang cerpen. Pekerjaan saya memang pengarang cerpen. Orang-orang bilang cerpenis. Biar saja orang-orang bilang cerpenis.

Saya sampai di Purwokerto karena tidak ingin waktu saya sia-sia ke pulau Jawa. Saya naik pesawat dari Bandara BIM Padang, Sumbar. Turun di Cingkareng. Mengambil jurusan mobil ke Purwokerto di Kalideres. Bertemu sang kekasih. Seminggu di Purwokerto, kembali ke Jakarta. Ya, di Jakarta-lah kejadian aneh itu bermula.

Sialnya saya itu pertama kali ke Jakarta. Maksud saya juga ke Purwokerto. Maklum kota-kota itu terlalu asing bagi saya yang tinggal di pedalaman Sumatera Barat. Dan sampai ke Jakarta-Purwokerto-Jakarta tak lebih sebagai keberanian cari mati. Cari mati! Saya lebih suka menamakannya demikian. Kepergian saya tak lebih sebagai bagian dari nekat saja.

Sampai di Jakarta. Ah, jam tiga dini hari saya berjalan menelusuri ke kanan. Berjalan dengan ransel di punggung. Dua puluh menit saya sampai di Monas. Saya tidak begitu tertarik berdiam, di dini hari yang masih kelam Monas tidak ubahnya hantu jahat. Saya teruskan jalan kaki memutar setengah lingkaran. Saya sampai pada pagar-pagar besi, pagar-pagar besi yang memanjang dan melingkar. Pagar besi yang kekar dan memiliki ketinggian tiga meter.

“Malam, kerja-malam-malam Pak,” kata saya menyapa kepada tiga orang yang sedang memasang keramik tempat duduk di depan pagar yang melingkar. Seorang sedang melicinkan semen dengan kuas. Seorang mengaduk semen. Seorang memasang keramik “Kenapa pasangnya malam-malam Pak?”

“Hidup Nak,” kata seorang yang sedang memasang keramik. Saya teruskan berkeliling pagar besi. Hujan rinai, turun. Pada pagar gerbang yang tingginya saya taksir empat meter, sebuah mobil traveling berhenti di depan pagar. Beberapa orang asyik bercengkrama. Dua orang saya lihat merokok sambil bersandar ke dinding gerbang. Saya tidak ingin ikut campur. Saya teruskan berjalan dan pada menjelang gerbang kedua, saya menemukan seorang meringkuk di bawah hujan rinai. Sedikit berteduh dengan kerobeng halte bus. Lelaki kurus itu meringkuk dengan kain sarung menutupi separuh badan. Ah, ini kota besar. Pada gerbang kedua, dua orang kembali saya temukan meringkuk di bawah rinai. Seorang di bawah pos satpam. Seorang merapat ke dinding gerbang masuk. Kota besar memang menyimpan banyak kisah.

Saya buka jam hp, masih jam empat dini hari. Sudah satu jam saya rupanya berjalan.

Saya lanjutkan berjalan mengelilingi pagar. Kemanakah pagar ini akan berakhir? Sampai pada gerbang ketiga, pintu gerbang telah dibuka. Seorang baru saja membuka gemboknya. Saya beranikan bertanya. “Maaf Pak, gedung apakah di dalam pagar tinggi ini?” Kata saya kepada seorang yang lebih mirip ustad. Entah karena pakaiannya.

“Ini masjid Istiqlal, saudara.”

“Oh Masjid Istiqlal ya Pak?”

Isya yang belum saya laksanakan sebelum berangkat dari Purwokerto saya tunaikan di masjid itu. Apa namanya? Oh ya, Masjid Istiqlal. Setengah jam sebelum subuh masuk. Selesai subuh saya kembali mengangkat ransel ke punggung. Bertemu pengemis di pintu keluar masjid. “Abang orang Padang?” katanya. Saya mengangguk. “kalau begitu kita sekampung.” “Darimana Anda tahu?” kata saya. “Dari cara Abang bersikap dan berbicara kepada tukang parkir sepatu di dalam,” katanya. “Abang, saya mohon pinjam uang lima ribu. Saya belum makan.”

Pinjam, ah, kemanakah akan ia balikkan? Mungkin ia membalikkan kepada Tuhan. Saya pinjamkan uang sepuluh ribu. Ya, saya pinjamkan. Saya pergi, berfoto, kembali memutar dan bertemu dengan Monas.

Pagi-pagi sekali saya menjulurkan kepala di Monas. Jam enam pagi. Dua orang asyik berpose dari kejauhan di belakang saya. Seorang perempuan muda berpose dengan sangat genitnya. Lidahnya menjulur. Tangan kanannya menyentuh pipinya. Seorang laki-laki memotret. Mereka bergantian saling memotret. Kemudian mengaktifkan tombol otomatif. Mereka berpose bersama. Itu saya saksikan ketika kepala saya memutar tiga ratus enam puluh derjat dengan sendirinya.

Orang-orang yang menyaksikan kepala saya berputar, hanya berkomentar, “Anda pemain akrobati ya?” “Oh, sangat mirip dengan yang di film-film.” “Maukah Anda mengajarkan bagaimana caranya kepada saya?” “Salup untuk Anda.” Salup, oh, benarkah orang-orang itu benar-benar salup. Atau hanya karena senang melihat ada sesuatu yang aneh saja. Saya abaikan orang-orang yang memuji kepala saya. Saya sendiri tidak memuji kepala saya. Melainkan, ya, melainkan merasakan aneh saja. Bagaimana mungkin kepala saya berputar.

Kepala saya itu lepas dari leher saya saat saya memutar kaki hendak meninggalkan Monas. “Tinggalkan saya di Monas,” kata kepala saya. “Anda silahkan pulang. Keluarga Anda sedang menunggu di Padang.”

“Maaf, Anda harus pulang bersama saya. Anda datang bersama saya dan pulang bersama saya,” kata saya menarik kepala itu dari pagar. Meletakkan kembali di leher saya. Saya rekatkan erat-erat di leher saya.

“Kalau Anda tidak meninggalkan saya, saya akan melepaskan mata saya,” kata kepala saya. Kepala saya melepaskan dua bola mata saya. Saya sungguh tidak percaya, bagaimana mungkin kepala saya melakukan hal itu. Mata saya itu masuk ke balik pagar. Turun naik bak bola pingpong. Dua bola mata kepala saya itu berdiam di pot bunga, di bawah lampu taman. Mata saya memandang kepala saya yang bolong.

“Kalau anda tidak juga melepaskan saya, saya akan melepaskan gigi-gigi saya. “Kepala saya melepaskan gigi-giginya. Gigi-gigi itu menari di atas halaman taman. Gigi-gigi itu melompat bagaikan liliput. Gigi-gigi itu berkumpul bersama bola mata. Saya tertegun di balik pagar. Apa yang dipikirkan oleh kepala saya.

“Mari kita pulang,” kata saya mengambil ransel yang bersandar ke pagar, meletakkannya ke punggung. Kepala saya memutar-mutar tidak beraturan.

“Kalau anda tidak melepaskan saya, saya akan melepaskan rambut-rambut saya.

“Anda ini gila!”

Kepala saya melepaskan rambutnya satu-satu. Rambut itu serupa kumpulan benang hitam yang putus-putus. Makin lama rambut di kepala saya makin habis. Ketika saya rasakan kepala saya dengan usapan telapak tangan kanan, saya rasakan kepala saya yang licin.

“Anda ini neko-neko saja,” kata saya. Kemudian kepala saya menyentak kuat. Dan saya tiba-tiba sudah melihat kepala saya berkumpul dengan mata, gigi-gigi, rambut saya. Dua bola mata saya kembali masuk ke lobang mata kepala saya. Gigi-gigi saya kembali tersusun miring di bagian bawah dan rapi di bagian atas. Rambut-rambut saya kembali terbang dengan perlahan dan menutupi kepala botak saya.

“Trimakasih,” kata kepala saya yang melihat saya terpaku dari balik pagar.

Saya pulang dari Monas membawa kaki, tangan, dada, punggung, leher tanpa kepala. Menyetop kopaja. Sebuah kopaja berhenti di depan saya. Saya duduk di bangku nomor dua dari depan. Saya tahu orang-orang sedang memperhatikan leher saya tanpa kepala.

“Kemana kepala Anda?” Kata kondektur.

“Kepala saya sedang mendirikan sejarah,” kata saya.

“Di mana?” Kata kondektur sambil meminta uang tiga ribu. Saya keluarkan uang limar ribu. Kondektur membalikkan dua ribu uang receh.

“Di Monas.” Kata saya.

“Kemana Anda membawa badan tanpa kepala?” Kata kondektur. Oh, betapa tampak kurusnya kondektur itu dengan kumisnya yang tipis. Matanya yang sipit. Giginya yang jarang-jarang dan kuning.

“Saya pertemuan penghargaan pemenang cerpen di TIM,” kata saya mengeluarkan surat undangan dari panitia penyelenggara lomba cerpen. Kondektur itu mangguk-mangguk.

“Anda seorang pengarang?” saya diam saja. “Anda turun di depan. Anda nanti berjalan ke kiri. Nanti Anda akan melihat tulisan TIM di gerbang pintu masuk,” kata kondektur sembari mengembalikan surat undangan saya. Kemudian saya turun dengan tubuh tanpa kepala.

Sesampai di tempat acara penerimaan penghargaan, saya katakan kepada panitia lomba, “Maaf saya datang tanpa membawa kepala saya. Kepala saya meminta izin tinggal di Monas,” kata saya ketika registrasi di meja panitia. Saya masuk melengggangkan tangan. Dalam pertemuan saya melihat badan-badan tanpa kepala.

“Kemana kepala Anda, Bung?” Kata saya kepada peserta yang hadir. Peserta yang hadir menoleh kepada saya.

“Kepala kami sedang mendirikan sejarah di Monas.” Lebih mirip bunyi paduan suara. Saya pulang ke Padang dengan tanpa kepala, membawa hadiah tropi, tabanas, antologi, dan tanda tanya. Tanda tanya kepala saya.***

Padang, Oktober 2011-2014


Sabtu, 01 November 2014

Nobar Kampung Pohuwayama

Cerpen Idrus Dama (1 November 2014)

(geoffreview.com)

Madrasahku bukan markas militer. Tapi setiap pagi, ujung rotan yang panjangnya sebahu, selalu saja menyambutku. Padahal kesalahan hanya sederhana, menonton televisi. Tidak lebih! Aku tidak paham, aturan mana hendak diterapkan si guru yang ditinggal mati istrinya itu.

Si guru sadis itu pak Hasyim namanya. Dialah pemegang cemeti rotan legendraris. Aku menjulukinya, si tuan takur dari timur. Aturannya aneh bin kacau. Sebelum santri masuk kelas, selalu saja ada Sweeping.

“Tantu dia kira ini torang pencuri, nanti mo sweeping” Keluhku.

Wajah lelaki tua itu mirip sekali dengan tentara masuk desa. Potongan rambutnya yang semi cepak membuatnya seperti baru selesai dari pelatihan militer.

“Cepat! yang menonton semalam, berpisah dari barisan!”Bentaknya mengagetkan seisi lapangan madrasah. “Ingat pesan Rasulullah, katakanlah kebenaran itu walaupun pahit” Pria tua itu memberi warning.

Tahukah kalian? Kata-kata suci yang baru saja terlontar itu sudah dihafal mati oleh santri. Saat apel, kata-kata itu bak roket yang meledak tepat di lubang gendang telinga. Seakan tak ada kalimat ampuh lainnya yang bisa mewakili pendidikan tentang kejujuran di madrasah ini.

Aku jadi tambah penasaran.

“Kinapa guru di sini boti pak Hasyim saja mama. Kan madrasah ini so mulai banyak santrinya?”

Ibu terdiam sejenak.

“Masalahnya bagini, madrasah ini jauh dari kotaan. Mana mau guru kesini. Apalagi kalau harus menyebrang laut” keluh ibu.

“Sungguh terlalu!” aku menanggapi dalam hati.

“Cepat! Mangaku saja!” Aku terbangun dari lamunan. Cerita ibu jadi terputus.

“Kalian lagi, sampai kapan sih kalian melanggar aturan madrasah ini?” katanya kesal “Kalian pindah ke pojok sana dan sisanya silahkan masuk ke kelas!” perintahnya dengan nada kesal. Amarah si guru berwajah tirus itu naik beberapa digit.

Santri nakal itu aku, Sakinah, Salman dan Boker. Kami berempat adalah aktor tak tergantikan di ajang menonton bareng di kampung. Kami dijuluki, hiu tomini. Kenakalan kami cukup banyak popular, tersiar bak jaringan tangan gurita. Tidak hanya soal menonton saja, menyembunyikan kaca mata pak Hasyim, sampai mengunci pria itu di dalam kamar mandi berjam-jam lamanya telah kami lakukan.

Entah mengapa, kebencian kami pada lelaki usia lapuk itu begitu dalam. Setiap kali menatapnya, seketika amarah mencapai ubun-ubun.

Seandainya bisa membela diri, pasti kuajak bertikai si guru itu.

“So suka molempar akan batu muka le tuan Takur ini!” Aku menggerutu, kepala spontan seperti ada jutaan kutu tumpah mengulek rambut hingga terasa gatal menggerogoti.

Nasib… madrasahku anti televisi

***

Pohuwayama adalah daerah pesisir Gorontalo. Daerah ini sulit menenukan titik cahaya selain lentera. Kalau pun ada cahaya bola lambu pijar, pasti itu di rumahnya juragan Sagela, pak Marwan. Seorang pengusaha pengasapan ikan tradisional Gorontalo. Dia adalah jutawan yang ada di kampung kami. Produksi Sagelanya mampu menembus pasar internasional. Herannya, negaraku bahkan tidak tahu persis dimana kampung ini. Namanya besar, tapi nyaris kehidupan penduduk di sini tidak terekspos. Bahkan kartu tanda penduduk saja ada yang tak tak memiliki, parah!

Pak Marwan memang orang kaya. Wajar jikalau rumahnya menjadi mercusur kebanggaan di kampung. Sehabis salat magrib, pasti orang bakal datang berduyun-duyun seperti jamaah haji menuju rumahnya. ngapain? Ya ikut acara nonton bareng, tradisi lama kampung yang hingga kini terjaga. Tidak kenal tua atau muda, bahkan anak-anak pun ikut nimbrung bersama di acara ritual “nobar” ini.

Menonton adalah hal baru bagi kami penduduk pesisir, terutama daerah Pohuyama. Bahkan, kebiasaan menonton ini mengalir bagai darah di setiap nadi, berlanjut hingga generasi selanjutnya.

Sayang, lelaki tinggi berbadan krempeng, Hasyim, paling anti soal menonton televisi.

Apa mungkin ia berusaha memutus mata rantai ritual menonton bareng? Ah aku tidak tahu persis. Yang jelas, setiap pagi, kakiku harus bengkak gara-gara ritual moderen ini. Sampai habis minyak kelapa untuk mengolesi kaki setiap malam.

Ibu pernah bercerita, di kampung ini dulu pernah ada perhelatan setiap malamnya.

“Dipoluwo televisi, gambusi u’paling rame to kambungu”

Ibu menggambarkan.

Gambus adalah hiburan paling populer sebelum televisi masuk di kampung ini. Jika gelap telah mendekap, tiap pasang muda-mudi berkumpul di tengah kampung. Duduk sejejajar di hamparan pasir pantai sambil mendengarkan lantunan Pandungi, syair khas daerah Gorontalo. Yang dalam perpektif sastrawan, pandungi adalah puisi lama yang memiliki intonasi yang sama di setiap akhir bait.

Syair yang dilantukan bisa beragam, sesuai pesanan yang hadir saat itu. Kalau temanya tentang bujang yang sedang dilanda asmara, maka syair yang dilantunkan pun berkisah tentang pelamaran dan perjodohan. Bahkan, merembes kepada kisah merampas istrinya orang.

Asali bo raja bau
Asali tola lo pana
Openu hiya lotawu
Wau barani mohama

Ibu mendendangkan sebisa mungkin.

Kalau diartikan kedalam bahasa melayu akan bermakna, “Meskipun ikan hanya raja Bau, asalkan ikan itu hasil memanah. Meskipun istrinya orang, aku pun berani merampasnya.”

Semelir angin laut merangkak, menepuk jendela rumah kami. Raungan anjing menambah kengerian malam. Bunyi daun kelapa saling bergesekan di halaman rumah, terdengar seperti orang menyapu halaman.

“Lalu mengapa pak Hasyim begitu benci dengan acara menonton?” aku penasaran. “Bukankah dengan menonton kita bisa dapatkan ilmu?” tanyaku pada ibu beruntun seperti pak polisi.

Ibu berdesis. Helaan nafasnya seperti menyimpan tragedi.

“Dulu pernah siswa berzina di dalam kelas”

Mendengar itu, seketika alis mata kananku meninggi. Sepertinya sensisif menerima signal negatif.

“Setelah diperiksa, kedua anak ini ikut menonon film porno di tengah malam. Dulu, jadwal nonton anak-anak diizinkan hanya dibatasi jam sepuluh. Setelah itu barulah dilanjutkan dengan film orang dewasa, ya porno itu!” ibu berusaha membahasakan dengan cara sederhana, versi anak-anak.

“Setelah menonton mereka pun melakukan hal yang sama di madrasah!”

“Oooooo, jadi gitu?” aku langsung ngeh mendengarnya.

Ibu menaik-turunkan dagunya, mengiyakan.

“Apa acara menonton porno masih ada sekarang?”

“Husss…!!” “tokk!” Tangan ibu mendarat tepat di kepalaku.

“Kamu mau menonton yang begitu juga?” Ancamnya, wajahnya garang, segalak mak lampir dalam film gunung merapi.

“Hehe..hehe.. tidak bo ada tanya!” Aku mengelak.

“Awas kalau kau menonton yang bagituan! Ibu hajar kamu!”

Aku menelan luda dan langsung mengingat kejadian ketika dikejar ibu sewaktu mencuri kelapa muda. Kencingnku sampai banjir di celana saat lari terbirit-birit.

“Trus, kenapa pak Hasyim tidak penutup saja kebiasaan menonton di kampung ini?”

“Ah malam sudah larut. Ambillah sarungmu. Matikan lampunya. Minyak tanah mahal. Nanti jatah untuk besok habis. Ibu akan lanjutkan cerita besok saja” keluh ibu sambil menurunkan kulambu, sehelai kain putih yang lubangnya mirip sutra, yang dililitkan di sebuah tempat tidur. Gunanya adalah untuk menghindari nyamuk.

Aku bersiap tidur. Tikar kugelar.

Kulihat ayah telah tertidur lelap. Tubuhnya terbungkus dan membungkuk. Ayah tidak seperti lelaki kampung. Dia memilih tidur, dibanding menonton film porno.

Ah! Ingatanku belum bisa kabur dari cerita ibu.

“Pak Hasyim, ternyata itu alasanmu melarangku menonton!”

***

Keterangan :

Pohuwayama : Nama asli Paguyaman dalam bahasa Gorontalo
Kinapa : Mengapa
Boti : Hanya
Mangaku : Akuilah
Molempar : Melempar
Pandungi : Pantun
Sagela : Ikan Asap rowa, kuliner khas Gorontalo.
Kulambu : Kain semalam tirai kain yang mengelilingi ranjang. Dipakai untuk mengindari nyamuk.


Minggu, 19 Oktober 2014

Pertarungan

Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 19 Otober 2014)


(southfront.org)
Pukul sepuluh malam Jumat kemarin, dering ponselku adalah alarm yang kuatur waktu menyalanya. Aku tahu bahwa kau tidak pernah peduli dengan nada dering yang kupakai sebab mengurus dua anak kita yang masih balita jauh lebih menyita perhatianmu. Ketika kukatakan bahwa aku akan menemui seorang kawan lama di utara kota, kau sedikit keberatan.

Kau sempat membawa-bawa kasus penodongan atau perampokan—yang berujung pada pembunuhan korbannya—yang kerap terjadi akhir-akhir ini sebagai dasar keberatanmu. Aku pun menanggapinya dengan tawa kecil. Ya ya ya, apa yang ingin perampok atau penodong atau pembunuh itu ambil dariku, Sayang. Kita bukan orang yang layak dirampok atau ditodong atau dibunuh. Lagi pula, imbuhku masih dengan berseloroh, kau tahu bukan kalau aku adalah preman yang kaubelokkan ke jalan lengang yang bernama Mengarang, jalan yang akhirnya kautitipi padaku karena kau ingin berkonsentrasi mengurus anak,jalan yang hingga kini telah mengantarku menjadi pengarang terpandang di kota kita. Kau sering sekali bilang kalau hidupku—hidup kita!—takdirnya memang di sastra. Ah, betapa beruntung dan bahagianya aku memilikimu.

Entah kau menyimak kata-kataku atau tidak, kau langsung menuju dapur dan kembali beberapa menit kemudian dengan dua botol-dot berisi susu formula cair.

Ah, kau pasti lelah sekali, istriku.

Aku tahu, mengurus dua anak bukanlah perkara mudah. Walaupun kadangkala aku merasa mengarangsangat melelahkan ketika ide takkunjung berhasil kutangkap, namun tentu sajaitu belum apa-apa dibandingkan dengan apa yang kaujabani. Ya, aku sempat beberapa kali berniat membantumu mengurus anak kita, bahkan pernah suatu hari aku mencoba mengambil alih anak-anak dengan menyilakanmu belanja ke pusat kota cukup lama, dan hasilnya adalah aku benar-benar kerepotan.

Ah, betapa beruntungnya aku memiliki istri yang begitu mencintaiku. Kau tak pernah mengutarakan rasa kesal, marah, atau perasaan tak bersahabat lainnya dengan banyak bicara apalagi tindakan emosional. Diam. Ya, diam. Begitulah kau mengutarakan ketaksepakatanmu. Aku menghapal tabiat itu ketika aku selalu memintamu “bersabar” saban kau menanyakan kapan kita akan meninggalkan rumah kontrakan dan memiliki rumah baru. Sekali lagi: hanya diam. Aku perlu menegaskan ini karena “diam”-mu tidak seperti “diam”-nya perempuan apalagi istri kebanyakan. Diammu tidak disertai mimik muka cemberut, jutek, kesal, ataumarah. Tidak!

Kau sempat membisu hampir tiga hari sebab aku tak mengabulkan keinginanmu menjual mobil pemberian orangtuaku demi membayar uang muka rumah baru. Kau harus tahu, Sayang: memilikimobil adalah prestise tersendiri bagi pengarang kondang sepertiku—terlepas apakah kita hanya makan nasi telur-kecap setiap harinya dan telah mengganti susu formula anak kita dengan merk yang paling murah harganya.

Ah, ekspresimu ketika tak bersetuju memang tak pernah berubah: bisu. Selalu begitu.

Seperti itu pula yang terjadi malam itu.

Termasuk ketika kutanyakan perihal makanan apa yang ingin kubawakan sepulang menemui Ilyas, begitu aku biasa menyapa teman lamaku itu. Ketika kutanyakan lagi untuk kedua kalinya, seperti merepet dalam volume yang sumir kaukatakan kalau sebaiknya aku tidak pulang kalau tidak membawa rumah baru.

Aku tahu kalau kau muak dengan sikap empat kakak perempuanmu yang terus membanggakan rumah yang dihadiahkan suami mereka,atau bisa-bisa saja kau bercanda … tapi jangan begitu, Sayang. Kedengarannya keterlaluan dan nyelekit. Aku juga sedang berusaha keras untuk menyumpal mulut mereka dengan rumah kita sendiri. Ah,harusnya aku memaklumi sikapmu sebab mungkin saja kau merasa muak dengan alasan-alasanku karena saban keluar malam—terutama dua pekan belakangan—aku selalu pulang di atas pukul dua belas, waktu ketika kau sudah terlelap di antara kedua anak kita yang khusyuk dengan botol dot susu formula yang isi nyatak lagi penuh.

Pagi ini, kau mengutarakan pertanyaan yang hampir saja mencabut jantungku dari tempatnya berdetak. Aku pun bercerita dengan jujur. Ya, perlu kukatakan dengan lengkap bahwa “aku bercerita dengan jujur—dengan jujur!” agar kau tahu kalau aku memangs uamimu yang baik, bukan laki-laki brengsek yang suka main perempuan seperti ketakutan yang tak pernah kauutarakan itu.

Kau menyimak ceritaku dengan saksama. Kadang mengerenyitkan dahi. Kadang membesarkan bolamata. Kadang mengangguk-angguk. Kadang hanya menatap tajam. Semua bahasa tubuh itu kautunjukkan tanpa suara.

Usai menyambut telepon dari Ilyas, kukatakan kepadamu bahwa aku akan segera pulang tak lama setelah menemuinya. Aku memang tak memerlukan jawabanmu. Tentu saja karena aku hapal bahasa tubuhmu kalau tak merestui tindakanku—bukan karena kerepotanmu mengurus dua anak kita yang berebutan balon berbentuk ikan. Kuambil kunci mobil dan melangkah keluar, menuju garasi di belakang rumah. Hebatnya, kau masih sempat mencangking Si Sulung yang berteriak memanggilku dan ingin memaksa ikut. Ah, sebenarnya aku merasa bersalah. Tapi sudahlah. Aku menyalakan mesin mobil sebelum memutar setir ke kiri dan membelokkannya ke jalan utama komplek.

Di kampus, aku dan Ilyas sangat dekat karena kami sama-sama tergabung di dalam tim nasyid, semacam grup vokal lagu-lagu islam(i), yang kami dirikan. Sejak berpisah sebelas tahun yang lalu, terlebih setelah kami menikah lima tahun yang lalu—bukan berarti kami naik pelaminan di tanggal dan bulan yang sama, kami tak pernah saling kontak. Bahkan, aku yakin, sebagaimana aku yang tak pernah ingat tanggal lahirnya, Ilyas juga tidak menyimpan nomor ponsel baruku. Sebenarnya kami bisa berbagi kabar lewat media sosial karena kami sama-sama berteman di Facebook, namun entah mengapa kami tak melakukannya. Memiliki keluarga benar-benar—bukan hanya menyita waktu ‘bernostalgia’ kami—menyibukkan atau mengasyikan atau melenakan. Ya, apalagi sejak memiliki anak, waktu bersama mereka acap membuatku ‘lupa diri’.

O ya istriku, aku akhirnya menemui Ilyas setelah menyetir lima belas menit dari rumah. Sebagai teman dekat yang lebih sepuluh tahun tak berjumpa, kami berpelukan erat untuk beberapa saat. Di mata kami, ada kerinduan dan kehangatan yang membara. Aku mengajak Ilyas naik ke mobil setelah ia mengatakan bahwa bus yang ditumpanginya sedang mogok dan si sopir sudah memberitahu penumpangnya bahwa perbaikan akan memakan waktu paling cepat dua jam. Aku mengajak Ilyas ke salah satu kafef avoritku yang buka sampai larut malam di pusat kota. Kami membincangi banyak hal.

Tentang keluarga, pekerjaan, pengalaman menarik, dan tentu saja masa lalu. Kami sangat bersemangat hingga membuat pelayan kafe beberapa kali menegur kami untuk mengurangi volume suara dan tawa yang meledak semaunya.

O ya Sayang, sebenarnya aku menawari Ilyas untuk mampir ke rumah kita, namun ia menolak. Aku baru tahu kalau dia baru saja bercerai beberapa bulan yang lalu. Dengan air muka sedih Ilyas mengutarakan alasan perpisahan mereka. Aku pun memakluminya.Ya, dapat kupahami bagaimana perasaan seorang melankolik seperti Ilyas bila melihat kau yang begitu menyayangiku dan dua anak kita yang lucu-lucu. Ah Sayangku, kalau istri Ilyas mau bersabar, mungkin saja Tuhan akan mengaruniai mereka seorang bayi pada tahun-tahun berikutnya, sebagaimana kita yang bersabar menimang buah hati di tahun kedua pernikahan.

Ah sudahlah, aku harap kau bisa mafhum perihal aku yang tak membawanya ke rumah.

O ya, kau tahu bukan, kalau malam itu aku pulang pukul setengah dua belas. Busnya baru selesai diperbaiki pukul sebelas. Namun bukan itu yang menyebabkanku tiba di rumah setengah jam berikutnya, melainkan karena aku berkelahi dengan seorang penjambret yang hendak merampas tas Ilyas. Alhamduilllah Ilyas dan tasnya selamat, tapi tangan kananku terluka karena menangkis pisau yang diarahkannya kepadaku. Ah,untung saja banyak orang yang datang hingga perampok itu keburu kabur.

Usai mengantar Ilyas ke bangku bus, aku langsung pulang. Kau tahu, itu artinya, aku nyetirngebut, Sayang.

Sesampainya di rumah, setelah membuka pintu dengan kunci serap yang bergantung di ujung dompetkunci mobil, sebagaimana biasa aku langsung menuju kamar. Di sana, kau dan dua anak kita sudah terlelap. Si Sulung sudah tidur dengan kaki kanan di atasperutmu dan botol dot yang sudah jatuh ke lantai, sementara Si Bungsu masihmengemut ujung kompeng dari botol dot yang tak ada lagi isinya … sementara kau,ya, kau masih terlelap dengan mulut yang setengah menganga.

Kau masih ingat, bukan, kalau aku mematikan lampu beberapa saat sebelum memelukmu dan membisikkan sesuatu yang meremangkan bulu kudukmu. Tanpa kata, kita pindah kekamar sebelah. Di sana, kita bertarung hebat dengan bersenjatakan gairah. Kitamengakhiri permainan satu jam berikutnya sebab Si Sulung sudah memanggil-manggilkita. Ia pasti merengek karena botol-dot susunya tak lagi berada dalam jangkauannya.

Kau tersenyum manis sekali malam itu. Manis sekali. Tentu saja bukan (hanya) karena pertarungan sengit yang memberi kemenangan kepada kita berdua, melainkan karena aku mengatakan bahwa esok kita akan membeli rumah baru di perumahan elit di dekat gerbang kota. Kau langsung memelukku dan kita bertarung lagi.

Istriku … jangan tersipu malu seperti itu.

Maafkanlah kalau ceritaku jadi ngelantur. Aku hanya ingin mengatakan bahwa, itulah berkah kalaukita berbuat baik pada orang lain. Ada-ada saja cara Tuhan menunjukkan jalan agar kita memiliki rumah sendiri. Kau tahu, Ilyas ternyata sudah menjadi kontraktor yang sukses di Jakarta, dan perumahan elit yang hangat diberitakan di koran-koran lokal itu ternyata adalah proyeknya. Entah karena trenyuh mendengar ceritaku sebagai seorang pengarang yang beristrikan seorang wanita rumahtangga, entah dia sedang berulangtahun (jujur, sedekat-dekatnya kami, aku tak pernah ingat tanggal lahirnya), entah dia memang hendak menunjukkan rasa persahabatannya yang begitu tulus, atau karena ia berasa berutang harta—atau juga nyawa (sepertinya ini yang paling mungkin), ia memberi kita salah saturumah di Blok D.

Nah, kau sudah tahu cerita yang sebenarnya, kan, Sayang? Ah, harusnya malam tadi kau bertanya tentang tangan kananku yang terluka.

Kau tersipu malu.

Ya, bagaimana mungkin malam tadi kau tak melihat perban di salah satu tangan suamimu. Kau benar-benar bersemangat kalau lampu sudah dipadamkan, Sayang.

Kau tersipu malu,lagi. Kau tentu sangat bangga memiliki suami sepertiku, bukan?

HAMPIR empat bulan kita menempati rumah ini. Namun cerita yang kusampaikan di hari terakhir kitatinggal di kontrakan itu selalu menerorku. Maafkan tentang dering ponsel, Ilyas, penjambret, hadiah rumah baru, dan mobil yang melaju di malam itu ….Maafkan aku telah menyalahgunakan kelihaian mengarangku.

Ilyas itu tak pernah ada. Apalagi hadiah rumah barunya. Pun dengan mobil kita yang hanya kulajukan sebentar sebelum kuparkirkan di bawah pohon mangga sebuah bedeng kos anak-anak sekolahan yang takkan peduli dengan apa yang kulakukan malam itu: menyetop ojek, menyelinap di antara rumpun irish yangrimbun, sepuluh meter dari ATM Bersama di salah satu tepi jalan utama yang lengang di utara kota. Setelah memaksa seorang laki-laki mengeruk isi tigakartu ATM-nya malam itu juga, aku nyaris berada dalam kemalangan bila saja pisau yang secara tiba-tiba ia keluarkan dari balik pinggangnya mengenai perut atau dadaku (tidak mengenai tangan kananku yang sekaligus melemparkan pistol rakitanku ke tanah). Korban ketiga itu benar-benar susah ditaklukkan. Untungsaja ini bukanlah kota yang ramai sehingga perkelahian kami tak menyedotperhatian. Hanya ada dua orang ABG laki-laki—yang sibuk dengan gadget dan headset di telinga—berjalan di trotoar seberang jalan dan sebuah bus antarpulau yang melaju kencang.

Itu adalah operasiku yang terakhir setelah kupikir uang simpanan untuk membelikanmu rumah mewah itusudah lebih dari cukup. Aku benar-benar ingin insaf dalam keadaan tenang,nyaman, dan damai—dan aku lupa kalau semua itu tidak bisa dibeli dengan caracuci tangan dari tiga kali pembunuhan yang kulakukan!

Sebentar lagi,setelah anak-anak terlelap di kamar mereka, aku akan mengajakmu meninggalkantempat tidur dan berbicara di ruang tengah. Kupikir kamis malam adalah waktuyang mustajab. Dan keyakinanku bertambah ketika menyadari bahwa kebohongan terakhirku dilakukan pada waktu yang sama, malam Jumat empat bulan yang lalu. Aku sudah berniat untuk jujur kepadamu,Istriku, Aku tak tahu, apakah aku akan mampu atau justru mengarang kebohongan yang baru. Ah persetan! Yang penting aku sudah meniatkan pengakuan ini, demi ketenanganku, juga ketenangan keluargaku!

Kuhela napasbeberapa kali. Sudah terangkai kalimat pembukaan di dalam kepalaku. Terimalah pengakuanku ini, Istriku, batinku. Baru saja kubuka pintu kamar, kulihat kau sudah berdiri di tepi ranjang dengan baju tidur yang empat kancing teratasnya—sengaja kau—lepas dari lubang pengaitnya.

Kau memberi kode agar aku mematikan lampu. Kita bertarung lagi. Bukan satu jam, tapi sampai pagi. Sepanjang pertarungan, aku tak berhenti berharap kalau-kalau pada salah satu halaman di dalam kitab suci—agama mana pun itu—tertera: membahagiakan istri di malam Jumat, bukan hanya menuai pahala karena mengamalkan sunah rasul, tapi juga kuasa membasuh dosa besar.

Dosa pembunuhan.(*)


Minggu, 07 September 2014

Meja Makan yang Menggigil

Cerpen Mashdar Zainal (Media Indonesia, 7 September 2014)


(fracturedparadigm.com)


LUBANG kunci di pintu kamarku seperti kamera yang merekam segalanya. Semenjak Ayah mengunciku di dalam kamar, mataku selalu menempel di lubang kunci itu. Menelisik ruang makan di balik pintu.

Dari lubang kunci itu, aku bisa mengintai sebuah meja makan berbentuk persegi panjang dengan hiasan taplak renda-renda yang begitu memesona. Meja makan yang selalu tampak menggigil. Meja makan itu memiliki empat kursi di masing-masing sisinya. Dan di salah satu kursi itulah, Ibu sering terduduk dengan tangan gemetar, memandangi aneka menu yang haram disentuh, tetapi telah terhidang di tengah meja.

Acap kali aku dan Ibu menonton bagaimana sup-sup dengan aroma rempah itu mengepulkan asap yang melambai-lambai menggelitik perut. Nasi dalam mangkuk besar pun mendadak berkeringat dan kemudian menjadi dingin.

Aneka puding dengan saus yang sangat legit sudah mulai didatangi semut-semut. Daging panggang yang kecokelatan pun mulai kehilangan aromanya. Dan kami hanya diam, menonton bagaimana makanan-makanan itu kelelahan merayu kami untuk menyantapnya.

“Mengapa kita tidak segera memulai makan malamnya?” aku benar-benar tak tahan menyaksikan aneka hidangan lezat itu mendingin sia-sia.

“Kita harus menunggu ayahmu dulu,” jawab Ibu.

“Tapi aku sudah tidak sabar, Bu, aku sudah sangat lapar.”

“Tunggulah sebentar lagi, ayahmu sedang dalam perjalanan pulang.”

“Mengapa kita harus selalu menunggu Ayah setiap kali mau makan malam?”

“Bukankah Ibu pernah bilang, ayahmu adalah kepala keluarga, jadi ia yang harus membuka makan malam kita. Tanpa ayahmu, makan malam ini bukanlah makan malam keluarga. Ibu harap kau paham.”

“Tapi aku sudah lapar sekali, Bu.”

“Ibu juga berharap kau diam!” suara Ibu sedikit meninggi.

Aku bungkam, menyimak bunyi keroncongan dari dalam perutku sendiri. Di sisi-sisi meja, piring, sendok, dan garpu menjadi hening. Ibu menatapku dengan tatapan meminta maaf.

“Bagaimana kalau kau bermain boneka dulu sambil menunggu ayahmu datang?” ujar Ibu kemudian.

Rasa lapar membuat tubuhku sedikit lemas, hingga aku tak kuasa membalas kata-kata Ibu. Aku memilih tertunduk, menyandarkan kening di bibir meja. Sedikit lama. Seperti tertidur. Kami sama-sama diam dan suara detak jarum jam tiba-tiba merajalela. Setelah bosan menundukkan kepala ke bibir meja dan pura-pura tidur, aku kembali menatap sup jamur yang tak lagi mengepulkan asap. Juga mangkuk nasi yang telah berkeringat. Ayah belum juga datang.

“Mengapa Ayah lama sekali,” aku tak tahan untuk tidak merengek lagi.

“Sebentar lagi ayahmu pasti datang.”

“Mengapa Ayah tidak bekerja di siang hari saja supaya kita bisa segera memulai makan malam.”

“Pekerjaan ayahmu memang harus dilakukan di malam hari, jadi ia harus bekerja di malam hari.”

“Aku benar-benar sudah lapar, perutku sudah berkeriuk-keriuk.”

Ibu terdiam sejenak, menatapku dengan tatapan iba, “Apa kau benar-benar sudah sangat lapar?”

Aku mengangguk ringan. Dan, anggukan itu membuat Ibu beranjak dari kursinya, meraih piringku dan mengisinya dengan beberapa sendok nasi. Ibu menuangkan sup jamur dan mengiris beberapa potong daging panggang.

“Apa kau mau bawang goreng?”

Aku menggeleng.

“Makanlah dulu, maaf Ibu sudah membentakmu tadi,” Ibu menuangkan air putih ke dalam gelas, dan aku mulai menyantap sepiring nasi itu dengan lahap. Ibu tersenyum menatapku, tetapi matanya tidak, dan tangannya masih saja gemetar.

“Mengapa Ibu tidak ikut makan?”

“Ibu akan menunggu ayahmu.”

“Apa Ibu belum lapar?”

“Ibu belum lapar.”

Nasi di dalam piringku tinggal beberapa suapan lagi ketika tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu depan. Ketukan yang bertubi-tubi.

“Mungkin itu ayahmu,” ibu berlari menyongsong ketukan di pintu depan.

Ayah berjalan begitu dingin menuju ruang makan sambil melepaskan jaketnya dan melemparkannya ke Ibu. Di depan meja makan Ayah terdiam menatapku. Tubuhnya seperti bongkahan batu yang tiba-tiba jatuh dari atap ruang makan, sedangkan matanya seperti sepasang senter yang membuat mataku sakit.

Secepat yang bisa kulihat, Ayah menggebrak meja kuat-kuat, membuat sup jamur dalam mangkuk berguncang dan sebagian kuahnya ruah ke atas meja. Aku ketakutan dan berhenti mengunyah.

“Apa yang sudah kukatakan padamu tentang makan malam keluarga?”

“Tak ada yang boleh menyentuh hidangan makan malam sebelum kau datang,” jawab Ibu dingin.

“Lantas mengapa kau tidak membiarkan dia menungguku?”

“Dia sudah kelaparan menunggumu, dan kau tak pulang-pulang, aku tak tega,” Ibu lirih membela.

“Sejak kapan kau berani membantahku,” Ayah menyeret taplak meja berenda itu dengan sangat kasar hingga semua makanan—termasuk makanan dalam piringku yang belum habis—terlempar berantakan. Piring-piring dan mangkuk berserak ke lantai dan patah-rekah menjadi beling. Aku mulai tergugu karena takut. Ibu ternganga menatap semuanya. Dan tubuh gemetarnya semakin nyata.

Ayah berjalan mendekatiku, dan mulai menyeretku mendekati nasi dan sup yang telah ruah bercampur jadi satu, “Sekarang kau makan itu, bukankah kau sudah sangat kelaparan?”

“Kau sudah gila!” Ibu berusaha merebutku dari tangan ayah, tetapi ibu malah mendapatkan tamparan di pelipisnya. Ibu tak menyerah, ia terus berusaha merengkuhku dari tangan Ayah, hingga Ayah mendorong Ibu kuat-kuat sampai Ibu terjengkang ke lantai. Ibu berguncang-guncang karena isakan, Ayah silih menyeretku menuju kamar dan mengunciku dari luar. Di ruang makan

Ayah kembali meneriaki Ibu, “Kalau kau sampai berani macam-macam, membukakan pintu atau memberinya makan tanpa sepengetahuanku, ia akan mendapatkan hukuman yang lebih dari ini.”

Sejak hari itulah aku kerap menempelkan mata di lubang kunci. Aku akan berlari menjauhi lubang kunci bila ayah datang, memasukkan batang kunci, membuka pintu, dan melemparkan sepiring nasi ke lantai, dan kemudian menguncinya kembali. Dari lubang kunci itu, aku masih sering melihat ayah meneriaki Ibu, menggebrak meja, atau menumpahkan makanan ke lantai. Ibu tak melawan, hanya gemetar. Setelah itu Ibu baru menuntaskan makan malamnya dengan tubuh berguncang, dengan pandangan lurus terarah ke lubang kunci.

Setiap kali tiba waktu makan, Ibu tak henti-henti membujuk Ayah supaya membukakan pintu kamarku, dan membiarkanku turut makan bersama. Tapi Ibu tak mendapatkan apa pun kecuali bentakan. Hingga suatu malam, sebelum Ayah pulang, Ibu menyiapkan hidangan makan malam lebih cepat daripada yang seharusnya. Wajah Ibu tampak sedikit berseri. Dan dari balik lubang kunci itu, Ibu memanggilku dan berbisik padaku.

“Tenanglah, Ibu akan segera mengeluarkanmu dari situ.”

Detak jarum jam di ruang makan terdengar sampai di kamarku. Dan, mataku masih terus menempel di lubang kunci itu. Dari balik lubang kunci itu, aku menyaksikan Ibu tersenyum aneh sambil melarutkan serbuk ke dalam gelas minum Ayah. Beberapa menit berikutnya, Ibu sudah berlari ke ruang depan.

Ayah datang. Suara ketukan sepatu Ayah semakin nyaring. Di meja makan itu Ayah melepaskan jaketnya dan menggantungnya di punggung kursi. Sementara Ibu mulai mengambilkan nasi dan sayur ke piring ayah. Malam itu, wajah Ibu memang lebih berseri. Sesekali ia melirik lubang kunci tempat mataku terkunci.

Ayah begitu lahap menyantap makan malamnya. Ibu tak ikut makan. Hanya menunggu sampai Ayah menghabiskan makan malamnya dan kemudian meneguk air putih dalam gelas minumnya, sampai habis.

“Airnya sedikit aneh, agak sepat,” komentar Ayah. Ibu tidak menyahut. Ibu silih mengambil piring dan memulai makan malamnya sendiri.

Dari lubang kunci itu, aku melihat Ibu memulai suapan pertama ke mulutnya. Ibu mengunyah makanannya dengan sangat tenang. Sementara Ayah mulai tertunduk-tunduk dan terbatuk-batuk sambil mencengkeram lehernya sendiri. Ibu masih terus melanjutkan makan malamnya dengan tenang. Sesekali ia tersenyum menatap Ayah yang tiba-tiba menyungkurkan kepala ke bibir meja. Sekilas, suasana menjadi hening. Dan meja makan itu tampak menggigil karena keheningan.

Ketika Ayah sudah tertidur pulas dan tidak berkutik lagi, Ibu beranjak merogoh saku celana Ayah dan mendapati sebuah kunci. Ibu melangkah anggun menuju kamarku. Aku menjauhkan mataku dari lubang kunci yang sudah terisi oleh batang kunci yang kemudian berputar. Daun pintu terempas ringan. Menyibak kamarku yang pengap. Aku melihat tubuh Ibu tak lagi gemetar.

“Ibu mau melanjutkan makan malam, sebaiknya kau ikut,” Ibu meraih tanganku dan menuntunku ke meja makan, dengan senyum yang begitu lumat.

“Apa Ayah tak akan marah?”

“Ayahmu tak akan marah.”

Malam itu kami menuntaskan makan malam yang paling damai. Tanpa teriakan Ayah. Tanpa gebrakan di meja makan.

Dan, tanpa makanan yang tercecer sia-sia. Sementara Ayah masih saja menundukkan kepala di bibir meja. Mungkin Ayah hanya pura-pura tidur. Persis seperti yang kulakukan ketika aku menahan lapar. (*)

Malang, 2014


Minggu, 11 Mei 2014

Kacamata

Cerpen Noor H. Dee (Koran Tempo, 11 Mei 2014)


(7-themes.com)


SEPULANG bekerja, lelaki itu menunggu kereta di stasiun yang sepi.

Seorang bocah, mungkin berusia 10 tahun, menghampiri lelaki itu dan menawarkan kacamata kepadanya.

Kacamatanya, Tuan, kata bocah itu. Harganya lima belas ribu.

Mata lelaki itu masih sehat dan baik-baik saja, tetapi ia tetap membeli kacamata itu. Kembaliannya untuk kamu saja, ujar lelaki itu.

Bocah itu pun pergi.

Kereta itu pun datang.

SESAMPAINYA di rumah, lelaki itu menyalakan TV dan merebahkan tubuhnya di sofa. Ia mengganti-ganti saluran TV. Tidak ada acara yang menarik malam itu. Ia mematikan TV-nya dan berjalan ke dapur. Mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas dan langsung menenggaknya. Tiba-tiba ia teringat akan kacamata yang tadi ia beli dari si bocah.

Ia berjalan ke kamarnya, mengambil kacamata itu dari dalam tasnya, mengenakannya, dan keanehan pun terjadi.

Ia melihat sebuah kamar yang bukan kamarnya. Kamar itu rapi, betul-betul rapi.

Aku berada di mana? Lelaki itu bertanya. Kamar siapakah ini?

Lelaki itu melepas kacamatanya dan ia segera kembali berada di dalam kamarnya. Aneh betul, ujarnya.

Lelaki itu menatap kacamatanya. Sebuah kacamata biasa dengan bingkai berwarna hitam. Karena penasaran, ia kembali mengenakan kacamata tersebut dan ia kembali berada di sebuah kamar yang bukan kamarnya.

Kamar siapakah ini? Lelaki itu kembali bertanya. Ia menatap seluruh isi ruangan. Seluruh ruangannya berwarna putih bersih. Tempat tidur, lemari baju, tempat sampah, meja, kursi, gorden jendela. Satu-satunya yang berwarna hitam adalah bingkai cermin yang menempel di tembok kamar. Ia mendekati cermin itu dan menatapnya. Di tubuh cermin itu ia melihat bukan dirinya, melainkan seorang wanita cantik berkacamata sedang tersenyum ke arahnya.

Lelaki itu terkejut. Ia segera melepas kacamata itu dan membuangnya ke lantai. Siapa dia?

Tubuh lelaki itu gemetar. Ia menatap ke bawah, ke arah kacamata itu, dalam waktu yang cukup lama. Ia mundur ke belakang perlahan, selangkah demi selangkah, dan segera naik ke atas tempat tidur. Ia menutup wajahnya dengan selimut. Samar-samar ia mendengar suara wanita memanggil-manggil namanya. Malam itu ia tidak bisa tidur sama sekali.

ESOK harinya ia tidak masuk kerja. Ia pergi ke stasiun itu lagi, mencari bocah penjual kacamata yang kemarin sore ia temui di sana.

Sampai sore, bocah penjual kacamata itu tidak muncul-muncul juga. Ia pun bertanya kepada petugas stasiun.

Penjual kacamata? Petugas itu bertanya heran. Apa kamu tidak membaca peraturan itu?

Lelaki itu menatap sebuah plang bertulisan, DILARANG BERJUALAN DI STASIUN.

Tapi kemarin bocah itu berjualan kacamata di stasiun ini, ujar lelaki itu. Aku masih ingat betul wajahnya.

Terserah kamu, ujar petugas itu. Aku sudah menjelaskan kepadamu bahwa tidak seorang pun dibolehkan berjualan di tempat ini. Petugas itu pun pergi.

KINI lelaki itu berada di dalam kamarnya, duduk di tepi tempat tidur, menatap kacamata yang masih berada di lantai kamar. Samar-samar ia kembali mendengar suara itu, suara wanita yang memanggil-manggil namanya. Suara itu betul-betul mengganggu dirinya.

Lelaki itu kemudian turun dari tempat tidur, mengambil kacamata itu, dan mengenakannya. Ia kembali berada di sebuah kamar yang bukan kamarnya. Sebuah kamar yang rapi, betul-betul rapi, yang seluruh ruangannya berwarna putih bersih.

Lelaki itu berjalan ke arah cermin. Di tubuh cermin itu, ia kembali melihat seorang wanita cantik berkacamata sedang tersenyum ke arahnya.

Siapa kamu? Lelaki itu bertanya.

Wanita itu tersenyum indah sekali.

Kemarilah, ujar wanita itu. Mendekatlah padaku.

Jawab saja siapa kamu, lelaki itu bertanya dengan suara lantang. Siapa kamu? Siapa kamu?

Wanita itu tertawa kecil. Aku akan memberikan namaku jika kamu mendekat ke arahku, ujar wanita itu. Ayolah, kemarilah, mendekatlah padaku.

Lelaki itu melepas kacamatanya dan membantingnya ke lantai. Ia mengambil palu dari dapur dan menghajar kacamata itu dengan beberapa pukulan. Kacamata itu pun hancur berkeping-keping. Tidak ada lagi ruangan yang rapi dan serba putih. Tidak ada lagi suara wanita yang memanggil-manggil namanya.

Lelaki itu tersenyum puas. Ia berdiri dan menatap cermin yang menempel di tembok kamarnya.

Kali ini ia tidak melihat siapa-siapa di cermin itu, termasuk dirinya.(*)
lakonhidup.wordpress.com

Minggu, 04 Mei 2014

Debu-Debu Tuhan

Cerpen Mashdar Zainal (Republika, 4 Mei 2014)

(h3sean.com)

“ITU SALJU, ya? ” gadis kecil itu bertanya pada ibunya.

Ibunya tidak menjawab dan malah ikut membayangkan bahwa debu-debu yang menuakan daun-daun dan memucatkan atap-atap itu adalah salju. Sang ibu seperti terhenyak dari lamunannya ketika disadarinya bahwa langit terlampau kelabu bahkan untuk ukuran langit bersalju. Reisya, gadis kecil itu, ataupun Lela, ibunya memang belum pernah melihat salju secara langsung, kecuali dari film-film kartun atau drama Korea yang ada di televisi.

“Itu debu-debu Tuhan,” balas Lela tiba- tiba, setelah beberapa lama.

“Debu-debu Tuhan?”

“Iya, debu-debu Tuhan.”

“Ibu bohong, katanya debu-debu itu datang dari gunung.”

“Kalau begitu mengapa kau bertanya, `itu salju, ya?’”

“Soalnya debunya memang mirip salju di film Barbie.”

“Tapi, tetap saja itu debu, dan bukan salju.”

“Apakah itu benar debu-debu Tuhan?”

“Iya, itu debu-debu Tuhan.”

“Mengapa debu-debu Tuhan datang dari gunung? Apa Tuhan berada di gunung?”

“Tuhan bisa berada di mana saja Dia mau. Lagi pula gunung milik Tuhan juga, kan?”

Keduanya terdiam, memicing, menatap langit yang mengucurkan debu-debu tipis. Sudah beberapa hari orang-orang tinggal di rumah yang bukan rumah mereka. Orang- orang tinggal di rumah yang sama. Sempit dan berdesak-desakkan seperti di tempat pelelangan ikan. Orang-orang begitu riuh dengan percakapan-percakapan, dengan keluhan-keluhan. Sementara, bayi-bayi begitu gaduh dengan rengekan-rengekan. Dan, perempuan itu memilih menunggu kedatangan suaminya, dengan duduk di teras paling tepi, dengan putrinya yang baru masuk SD, yang begitu suka bertanya macam-macam, seperti mesin penanya.

“Mengapa kita memakai ini?” Reisya bertanya lagi.

“Itu masker,” jawab ibunya datar.

“Masker?”

“Iya, supaya kita tidak sesak napas karena debu-debu itu,” timpal ibunya.

Gadis kecil itu terdiam sejenak dan berujar lagi, “Tapi, itu kan debu-debu Tuhan. Kata ibu, Tuhan menyayangi kita. Lalu mengapa debu-debu Tuhan bisa membuat kita sesak napas?”

Perempuan itu menoleh ke Reisya, putrinya yang menembakkan matanya tepat ke matanya, memohon jawaban. Mengapa anak- anak kecil selalu melontarkan pertanyaan- pertanyaan yang sulit lagi mencemaskan. Perempuan itu berpaling dan kembali menatap langit yang terlampau kelabu. Kepala cemasnya berusaha menemukan jawaban.

“Tuhan menyayangi kita, karena itu Dia menurunkan debu-debu-Nya yang bisa membuat kita sesak napas,” jawab Lela

“Debu-debu Tuhan juga mengotori rumah-rumah dan jalan-jalan, padahal, kata bu guru, Tuhan suka kebersihan. Ini benar- benar aneh,” kelit Reisya.

Perempuan itu tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, mengapa pula bocah-bocah kecil zaman sekarang pandai sekali berkomentar layaknya orang dewasa. Apa ia terlalu sering menonton Barbie dan Spongebob?

“Ya, itu tadi, karena Tuhan menyayangi kita,” perempuan itu menjawab juga, “Menyayangi tak berarti memanjakan atau selalu membuatmu senang. Kamu ingat waktu ibu menghukummu tinggal di rumah sendirian karena kamu tak mau pergi ke sekolah?”

Gadis kecil itu mengangguk.

“Itu artinya ibu ingin kamu belajar menjadi lebih baik. Jika ibu terus membiarkanmu malas pergi ke sekolah maka kamu akan ketinggalan pelajaran, kalau kamu ketinggalan pelajaran maka kamu akan rugi, dan kamu tidak akan naik kelas. Ibu tak mau kamu rugi, apalagi tidak naik kelas.
Makanya ibu melakukan itu dan itu karena ibu menyangimu.”

Gadis itu terlongok menatap ibunya sebentar dan kembali menekuni langit kelabu di kejauhan. “Jadi, Tuhan menghukum kita?” tanyanya kemudian.

“Tuhan hanya ingin kita belajar,” jawab ibunya singkat.

Mereka terdiam agak lama. Gadis kecil itu menggambar matahari cemberut di atas lantai teras yang diselimuti debu-debu tipis dengan jemari mungilnya.

“Mengapa kita harus pergi dari rumah dan tidur beramai-ramai di sini?” tiba-tiba gadis kecil itu bertanya lagi.

“Kampung kita tidak aman, makanya, untuk sementara waktu kita harus tinggal di sini,” jawab ibunya.

“Tapi, mengapa sekarang Ayah masih tinggal di rumah? Bukankah di rumah tidak aman?”

“Ayahmu harus memberi makan ternak dan menjaga rumah supaya tidak dimasuki pencuri.”

“Apa ayah akan kembali ke sini bersama kita?”

“Pasti.”

“Kapan?”

“Segera. Kalau semuanya sudah aman.”

“Kalau ayah tidak datang juga bagaimana?”

“Mmm… mungkin ibu harus menjemputnya.”

Gadis kecil itu terdiam dan mendadak murung. Ia menghapus gambar matahari cemberut di atas lantai yang berdebu itu dan menggantinya dengan gambar matahari menangis.

Sejatinya, perempuan itu begitu cemas menunggu suaminya kembali. Sudah sejak sehari yang lalu suaminya pamit pulang untuk menyelesaikan segala urusan rumah supaya lebih tenang saat ditinggal ke pengungsian. Namun, sampai sekarang suaminya belum juga kembali.

“Apa kamu janji tidak akan nakal kalau nanti kamu ibu tinggal sebentar balik ke rumah untuk menjemput ayahmu?” silih perempuan bertanya.

“Mengapa aku tidak boleh ikut?” gadis kecil itu balik bertanya dengan nada murung.

“Bukankah sudah ibu bilang, di rumah tidak aman. Kalau tidak untuk menjemput ayahmu, ibu juga tidak akan balik ke rumah.”

Gadis kecil itu tertunduk, kini ia menghapus gambar matahari menangis dan silih menggambar bintang, bintang yang menangis.

“Ibu hanya sebentar, ibu janji, sebelum langit gelap, ibu sudah kembali ke sini bersama ayahmu.”

Gadis kecil itu melongok ke ibunya dan mengangguk berat.

Setelah beberapa jenak, perempuan itu beranjak dari duduknya dan berbincang lirih dengan salah seorang tetangganya yang juga sama-sama cemas. Beberapa saat kemudian, setelah mengecup kening bocah kecil itu, perempuan itu pergi dengan payung hitam yang dimekarkan di atas kepala, dan perempuan itu pun berjalan menjauh dari rumah pengungsian. Bocah kecil itu terus mengawasi ibunya sampai sosok remang itu hilang ditelan remang yang lebih remang di kejauhan.

***

Selama ibunya pergi, gadis kecil itu hanya terduduk di lantai teras paling tepi. Ia terus menggambar apa saja di atas lantai yang diselimuti debu-debu tipis itu. Ia tak bisa memikirkan hal lain kecuali ayah dan ibunya yang harus berjalan melewati debu-debu yang terus mengucur seperti tak ada habisnya itu. Ia membayangkan tubuh ayah dan ibunya memutih berselimutkan debu- debu Tuhan itu.

Jelang petang, gadis kecil itu menjadi sedikit cemas karena ayah dan ibunya tak kunjung datang. Ketika petang merembang, gadis kecil itu mulai menangis. Ia terus berdiri di teras paling tepi dan terus menatap ke depan. Beberapa tetangga dan relawan sudah membujuknya untuk diam dan menunggu ibunya sambil bermain atau tidur-tiduran, tapi tidak berhasil. Gadis kecil itu terus tergugu di antara keriuhan orang-orang, di antara keluh-kesah, dan rengekan-rengekan balita. Seorang relawan menawarinya semangkuk mi instan, meski ia lapar, ia tetap tak menggubris. Ia masih saja berdiri di teras paling tepi dan terus menatap ke depan.

Di sisi lampu jalan yang pucat, debu- debu tipis masih tampak beterbangan dari ketinggian. Beberapa pohon terlihat merunduk seperti merajuk. Mendadak, gadis kecil itu membayangkan bahwa ayah dan ibunya sangat kelelahan karena debu-debu Tuhan itu terus menerus mengguyur mereka, mengguyur rumah-rumah, mengguyur jalan-jalan dan pohon-pohon. Gadis kecil itu membayangkan bahwa ayah dan ibunya sudah tertidur pulas berselimutkan debu- debu Tuhan dan melupakannya sendirian.

Gadis kecil itu menjadi semakin cemas dan ingin pulang menyusul ayah dan ibunya yang tak kunjung datang. Bukankah Tuhan selalu baik pada siapa pun? Apakah debu- debu Tuhan ini mau mengantarku pulang, pikirnya. Gadis itu menoleh ke sekelilingnya, orang-orang sudah pada tertidur, beberapa yang lain bergerumbul bermain catur, sisanya yang lain berbincang-bincang rendah di antara keremangan lampu. Tak seorang pun tampak memedulikannya.

Diam-diam, dengan isakan lirih, gadis kecil itu melangkahkan kakinya ke depan dan terus berjalan, berjalan dan terus ke depan, menembus debu-debu Tuhan.

Malang, 2014