Dewi karya Yus R. Ismail Komidi Putar karya Gegge S. Mappangewa Pertarungan karya Benny Arnas Kacamata karya Noor H. Dee Debu-Debu Tuhan
Tampilkan postingan dengan label Media Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 September 2014

Meja Makan yang Menggigil

Cerpen Mashdar Zainal (Media Indonesia, 7 September 2014)


(fracturedparadigm.com)


LUBANG kunci di pintu kamarku seperti kamera yang merekam segalanya. Semenjak Ayah mengunciku di dalam kamar, mataku selalu menempel di lubang kunci itu. Menelisik ruang makan di balik pintu.

Dari lubang kunci itu, aku bisa mengintai sebuah meja makan berbentuk persegi panjang dengan hiasan taplak renda-renda yang begitu memesona. Meja makan yang selalu tampak menggigil. Meja makan itu memiliki empat kursi di masing-masing sisinya. Dan di salah satu kursi itulah, Ibu sering terduduk dengan tangan gemetar, memandangi aneka menu yang haram disentuh, tetapi telah terhidang di tengah meja.

Acap kali aku dan Ibu menonton bagaimana sup-sup dengan aroma rempah itu mengepulkan asap yang melambai-lambai menggelitik perut. Nasi dalam mangkuk besar pun mendadak berkeringat dan kemudian menjadi dingin.

Aneka puding dengan saus yang sangat legit sudah mulai didatangi semut-semut. Daging panggang yang kecokelatan pun mulai kehilangan aromanya. Dan kami hanya diam, menonton bagaimana makanan-makanan itu kelelahan merayu kami untuk menyantapnya.

“Mengapa kita tidak segera memulai makan malamnya?” aku benar-benar tak tahan menyaksikan aneka hidangan lezat itu mendingin sia-sia.

“Kita harus menunggu ayahmu dulu,” jawab Ibu.

“Tapi aku sudah tidak sabar, Bu, aku sudah sangat lapar.”

“Tunggulah sebentar lagi, ayahmu sedang dalam perjalanan pulang.”

“Mengapa kita harus selalu menunggu Ayah setiap kali mau makan malam?”

“Bukankah Ibu pernah bilang, ayahmu adalah kepala keluarga, jadi ia yang harus membuka makan malam kita. Tanpa ayahmu, makan malam ini bukanlah makan malam keluarga. Ibu harap kau paham.”

“Tapi aku sudah lapar sekali, Bu.”

“Ibu juga berharap kau diam!” suara Ibu sedikit meninggi.

Aku bungkam, menyimak bunyi keroncongan dari dalam perutku sendiri. Di sisi-sisi meja, piring, sendok, dan garpu menjadi hening. Ibu menatapku dengan tatapan meminta maaf.

“Bagaimana kalau kau bermain boneka dulu sambil menunggu ayahmu datang?” ujar Ibu kemudian.

Rasa lapar membuat tubuhku sedikit lemas, hingga aku tak kuasa membalas kata-kata Ibu. Aku memilih tertunduk, menyandarkan kening di bibir meja. Sedikit lama. Seperti tertidur. Kami sama-sama diam dan suara detak jarum jam tiba-tiba merajalela. Setelah bosan menundukkan kepala ke bibir meja dan pura-pura tidur, aku kembali menatap sup jamur yang tak lagi mengepulkan asap. Juga mangkuk nasi yang telah berkeringat. Ayah belum juga datang.

“Mengapa Ayah lama sekali,” aku tak tahan untuk tidak merengek lagi.

“Sebentar lagi ayahmu pasti datang.”

“Mengapa Ayah tidak bekerja di siang hari saja supaya kita bisa segera memulai makan malam.”

“Pekerjaan ayahmu memang harus dilakukan di malam hari, jadi ia harus bekerja di malam hari.”

“Aku benar-benar sudah lapar, perutku sudah berkeriuk-keriuk.”

Ibu terdiam sejenak, menatapku dengan tatapan iba, “Apa kau benar-benar sudah sangat lapar?”

Aku mengangguk ringan. Dan, anggukan itu membuat Ibu beranjak dari kursinya, meraih piringku dan mengisinya dengan beberapa sendok nasi. Ibu menuangkan sup jamur dan mengiris beberapa potong daging panggang.

“Apa kau mau bawang goreng?”

Aku menggeleng.

“Makanlah dulu, maaf Ibu sudah membentakmu tadi,” Ibu menuangkan air putih ke dalam gelas, dan aku mulai menyantap sepiring nasi itu dengan lahap. Ibu tersenyum menatapku, tetapi matanya tidak, dan tangannya masih saja gemetar.

“Mengapa Ibu tidak ikut makan?”

“Ibu akan menunggu ayahmu.”

“Apa Ibu belum lapar?”

“Ibu belum lapar.”

Nasi di dalam piringku tinggal beberapa suapan lagi ketika tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu depan. Ketukan yang bertubi-tubi.

“Mungkin itu ayahmu,” ibu berlari menyongsong ketukan di pintu depan.

Ayah berjalan begitu dingin menuju ruang makan sambil melepaskan jaketnya dan melemparkannya ke Ibu. Di depan meja makan Ayah terdiam menatapku. Tubuhnya seperti bongkahan batu yang tiba-tiba jatuh dari atap ruang makan, sedangkan matanya seperti sepasang senter yang membuat mataku sakit.

Secepat yang bisa kulihat, Ayah menggebrak meja kuat-kuat, membuat sup jamur dalam mangkuk berguncang dan sebagian kuahnya ruah ke atas meja. Aku ketakutan dan berhenti mengunyah.

“Apa yang sudah kukatakan padamu tentang makan malam keluarga?”

“Tak ada yang boleh menyentuh hidangan makan malam sebelum kau datang,” jawab Ibu dingin.

“Lantas mengapa kau tidak membiarkan dia menungguku?”

“Dia sudah kelaparan menunggumu, dan kau tak pulang-pulang, aku tak tega,” Ibu lirih membela.

“Sejak kapan kau berani membantahku,” Ayah menyeret taplak meja berenda itu dengan sangat kasar hingga semua makanan—termasuk makanan dalam piringku yang belum habis—terlempar berantakan. Piring-piring dan mangkuk berserak ke lantai dan patah-rekah menjadi beling. Aku mulai tergugu karena takut. Ibu ternganga menatap semuanya. Dan tubuh gemetarnya semakin nyata.

Ayah berjalan mendekatiku, dan mulai menyeretku mendekati nasi dan sup yang telah ruah bercampur jadi satu, “Sekarang kau makan itu, bukankah kau sudah sangat kelaparan?”

“Kau sudah gila!” Ibu berusaha merebutku dari tangan ayah, tetapi ibu malah mendapatkan tamparan di pelipisnya. Ibu tak menyerah, ia terus berusaha merengkuhku dari tangan Ayah, hingga Ayah mendorong Ibu kuat-kuat sampai Ibu terjengkang ke lantai. Ibu berguncang-guncang karena isakan, Ayah silih menyeretku menuju kamar dan mengunciku dari luar. Di ruang makan

Ayah kembali meneriaki Ibu, “Kalau kau sampai berani macam-macam, membukakan pintu atau memberinya makan tanpa sepengetahuanku, ia akan mendapatkan hukuman yang lebih dari ini.”

Sejak hari itulah aku kerap menempelkan mata di lubang kunci. Aku akan berlari menjauhi lubang kunci bila ayah datang, memasukkan batang kunci, membuka pintu, dan melemparkan sepiring nasi ke lantai, dan kemudian menguncinya kembali. Dari lubang kunci itu, aku masih sering melihat ayah meneriaki Ibu, menggebrak meja, atau menumpahkan makanan ke lantai. Ibu tak melawan, hanya gemetar. Setelah itu Ibu baru menuntaskan makan malamnya dengan tubuh berguncang, dengan pandangan lurus terarah ke lubang kunci.

Setiap kali tiba waktu makan, Ibu tak henti-henti membujuk Ayah supaya membukakan pintu kamarku, dan membiarkanku turut makan bersama. Tapi Ibu tak mendapatkan apa pun kecuali bentakan. Hingga suatu malam, sebelum Ayah pulang, Ibu menyiapkan hidangan makan malam lebih cepat daripada yang seharusnya. Wajah Ibu tampak sedikit berseri. Dan dari balik lubang kunci itu, Ibu memanggilku dan berbisik padaku.

“Tenanglah, Ibu akan segera mengeluarkanmu dari situ.”

Detak jarum jam di ruang makan terdengar sampai di kamarku. Dan, mataku masih terus menempel di lubang kunci itu. Dari balik lubang kunci itu, aku menyaksikan Ibu tersenyum aneh sambil melarutkan serbuk ke dalam gelas minum Ayah. Beberapa menit berikutnya, Ibu sudah berlari ke ruang depan.

Ayah datang. Suara ketukan sepatu Ayah semakin nyaring. Di meja makan itu Ayah melepaskan jaketnya dan menggantungnya di punggung kursi. Sementara Ibu mulai mengambilkan nasi dan sayur ke piring ayah. Malam itu, wajah Ibu memang lebih berseri. Sesekali ia melirik lubang kunci tempat mataku terkunci.

Ayah begitu lahap menyantap makan malamnya. Ibu tak ikut makan. Hanya menunggu sampai Ayah menghabiskan makan malamnya dan kemudian meneguk air putih dalam gelas minumnya, sampai habis.

“Airnya sedikit aneh, agak sepat,” komentar Ayah. Ibu tidak menyahut. Ibu silih mengambil piring dan memulai makan malamnya sendiri.

Dari lubang kunci itu, aku melihat Ibu memulai suapan pertama ke mulutnya. Ibu mengunyah makanannya dengan sangat tenang. Sementara Ayah mulai tertunduk-tunduk dan terbatuk-batuk sambil mencengkeram lehernya sendiri. Ibu masih terus melanjutkan makan malamnya dengan tenang. Sesekali ia tersenyum menatap Ayah yang tiba-tiba menyungkurkan kepala ke bibir meja. Sekilas, suasana menjadi hening. Dan meja makan itu tampak menggigil karena keheningan.

Ketika Ayah sudah tertidur pulas dan tidak berkutik lagi, Ibu beranjak merogoh saku celana Ayah dan mendapati sebuah kunci. Ibu melangkah anggun menuju kamarku. Aku menjauhkan mataku dari lubang kunci yang sudah terisi oleh batang kunci yang kemudian berputar. Daun pintu terempas ringan. Menyibak kamarku yang pengap. Aku melihat tubuh Ibu tak lagi gemetar.

“Ibu mau melanjutkan makan malam, sebaiknya kau ikut,” Ibu meraih tanganku dan menuntunku ke meja makan, dengan senyum yang begitu lumat.

“Apa Ayah tak akan marah?”

“Ayahmu tak akan marah.”

Malam itu kami menuntaskan makan malam yang paling damai. Tanpa teriakan Ayah. Tanpa gebrakan di meja makan.

Dan, tanpa makanan yang tercecer sia-sia. Sementara Ayah masih saja menundukkan kepala di bibir meja. Mungkin Ayah hanya pura-pura tidur. Persis seperti yang kulakukan ketika aku menahan lapar. (*)

Malang, 2014


Kamis, 14 Maret 2013

Syair Duka

Oleh Denny Prabawa (Media Indonesia, 14 Maret 2013)

Toraja karya MN Amri (budiharyawan.blogspot.co.id)

Hai…! Di manakah orang sekampung kita?[1]
Ayo, Berdirilah lalu kita menuangkan kesedihan kita!

Seperti sebuah seruan. Orang-orang masuk ke dalam lingkaranpa’badong[2] di tengah lantang. Saling mengait jari kelingking mengalirkan kedukaan yang maha. Tubuh-tubuh berbalut kain hitam itu bergerak, ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang sambil mengayunkan kedua tangan yang terkaitkan. Bergerimit suara merapal syair. Mengenang mendiang yang telah berpulang.  Ma’badong[3].
Satu bulan lalu, Helena Rambulangi tutup usia. Sebagai keturunan Tomanurung, menjadi kewajiban bagi keturunannya untuk merayakan kematian. Bukan masalah bagi keluarganya yang kaya raya. Sawah terhampar berhektar-hektar. Kerbau di kandang puluhan jumlahnya siap dikorbankan. Kematian. Sebuah akhir yang mula. Sebuah mula segala. Ke puya[4], di puya… negeri jiwa tempat para leluhur bersemayam. Ke sana puluhan tedong yang dikorbankan siap mengantarkan.
Aku tidak berada di sana, tapi tahu segalanya. Aku mendengar semuanya. Aku selalu membayangkan berada di sana. Berdiri di antara pa’badong. Menari dan menyanyikan syair kedukaan. Melarut dalam gerak dan suara sambil membayangkan dirimu yang terbujur kaku dalam erong[5]  berpahat kerbau itu. Erong yang kupahat sendiri dengan tanganku.
“Ajari aku syair itu, Indok! Ajari aku!” pintaku, merajuk kepadamu ketika untuk pertama kali kau mengajakku ke perayaan kematian sanak keluarga kita. “Aku ingin ma’badong!”
“Kau masih kecil, Nak,” katamu sambil mengelus kepalaku, “suatu saat nanti, kau akan menyanyikannya untuk Indok.”
“Aku mau Indok, aku mau menyanyi, aku mau menari. Aku mauma’badong.
Namun, setelah 360 hari selepas kematianmu, tak bisa aku melakukannya. Meski syair dan gerakan itu telah kuhapal luar kepala. Segalanya seperti sia-sia. Entahlah. Apakah harus kusyukuri takdir sebagai keturunan Tomanurung? Atau aku harus meratapinya?

Mari kita menguraikan kesedihan hati
Tidakkah engaku berduka?
Tidakkah kesedihan di hatimu?

Pa’badong terus bernyanyi dan menari. Semakin lama, lingkarannya kian membesar. Tubuh-tubuh berbalut kain hitam itu berjalan ke depan ke belakang sambil mengayunkan kedua tangan yang terkaitkan. Kesedihan mengepung langit di atas Rantepao.
Aku tidak berada di sana dan tak akan pernah berada di sana, tapi aku tahu segalanya. Aku mendengar semuanya. Aku selalu membayangkan berada di sana. Berdiri di antara pa’badong. Menari dan menyanyikan syair kedukaan. Melarut dalam gerak dan suara sambil membayangkan dirimu yang terbujur kaku dalam erong berpahat kerbau itu.
Seperti ketika aku masih berseragam putih biru. Kautuntun aku masuk ke dalam lingkaran pa’badong.
“Tapi aku tak hafal syairnya, Indok,” kataku tampak canggung.
“Dengarkan dan ikuti,” ujarmu sambil tersenyum.
Aku menautkan kelingkingku ke kelingkingmu. Lalu menajamkan telinga. Berusaha menangkap setiap kata yang terlafal dari mulut pa’badong. Seperti dengungan ribuan lebah. Bergerak sambil terus bergerak mengikuti irama. Maju. Mundur. Aku tersirap kata-kata. Tiba-tiba saja, bibirku sudah merapal syair-syair seolah aku telah menghafalnya sejak lama.
Namun, setelah 360 hari selepas kematianmu, aku hanya bisa duduk di depan erong-mu. Berbicara kepadamu, seolah-oleh nyawa masih bersemayam dalam tubuh kakumu. Mereka belum mau menganggapmu mati, sebelum aku merayakan pesta kematian untukmu. Pesta kematian bagi perempuan bergelar puang keturunan Tomanurung.
Padahal, semua kerbau dan babi milik kita sudah habis seluruhnya untuk merayakan pesta kematian Ambe’. Hanya tedong itu, tedong bonga pemberianmu, yang tersisa di dalam kandang kita.
Ah, mengapa begitu lekas kau menyusul Ambe’?

Sehabis ratapan memanggil ibunya;
Putuslah angin pada mulutnya;
Habislah jiwa pada badannya

Bagaikan suara lebah. Mendengung dan terus mendengung seolah memanggil sesiapa untuk masuk ke dalam lingkaran pa’badong di tengahlantang[6]. Lingkaran itu bagaikan semesta kesedihan yang menyedot siapa saja untuk larut dalam kenangan akan mendiang.
Aku tidak berada di sana dan tak akan mungkin berada di sana, tapi aku tahu segalanya. Aku mendengar semuanya. Aku selalu membayangkan berada di sana. Melafalkan kedukaan. Melarut dalam kesedihan yang maha seraya mengenang perjalanan hidupmu. Menapaki jejakmu pada lantai kayu dan anak tangga di tongkonan[7] kita.
“Menangislah, Nak, menangislah,” katamu, “jika itu bisa menghapus kesedihanmu. Nyanyikan saja dukamu.”
Indok, jangan tinggalkan aku,” mohonku ketika itu.
“Setiap orang pasti mati, Nak,” rintihmu, “di puya, di puya… negeri kita yang abadi.”
“Dengan apa aku mengantarmu ke puya? Tedong yang kita punya hanya tinggal seekor saja.”
“Menyanyilah, Nak,” pesanmu, “tarikan dukamu bersama pa’badong, pada tiap-tiap perayaan kematian. Syair-syair yang kaulafalkan akan mengantarkanku ke puya.”
Indok….”
“….”
Namun, setelah 360 hari selepas kematianmu, tak juga aku mampu memenuhi permintaanmu. Percuma. Nanyian dan tarian saja tidak akan mengantarkanmu ke surga. Begitu kata mereka. Tak ada puya tanpa tedong bonga bagi seorang puang Tomanurung. Seekor tedong bonga pemberianmu tak akan cukup membawamu ke puya. Masih perlukah aku ma’badong?

Bersama dengan asap bara api
Diikut-ikuti oleh awan
Ke selatan negeri tuhannya jiwa di negeri jiwa

Syair ratapan dilantunkan. Duka mengapung di atap bumi Rantepao. Orang-orang masih berdatangan. Sebagian memenuhi lantang. Sebagian turut bergabung dalam lingkaran bersama pa’badong, melantunkan syair ratapan. Menangisi keniscayaan kematian.
Aku tidak berada di sana dan tak akan mungkin berada di sana, tapi aku tahu segalanya. Aku mendengar semuanya. Aku selalu membayangkan berada di sana. Menyaksikan kerbau-kerbau itu diarak sebelum diikatkan pada menhir-menhir peninggalan masa silam sebelum di bawa ke tengah lapangan, siap untuk dikorbankan.
“Apakah kerbau-kerbau itu akan membawa Ambe’ ke puyaIndok?” tanyaku, saat menyaksikan puluhan kerbau yang kita pelihara dikorbankan untuk merayakan kematian Ambe’.
Kau tidak menjawab ketika itu. Hanya wajahmu menatap ke langit. Lalu jari telunjukmu menuntun pandanganku.
“Kerbau-kerbau itu, Indok!” ujarku, takjub menunjuk ke langit, “Mereka di sana, mereka di sana bersama Ambe’!”
Sebentar lagi. Ya, sebentar lagi… kerbau-kerbau itu akan mengantarkan Helena Rambulangi ke puya.
Namun, 360 hari selepas kematianmu, hanya seekor kerbau belang pemberianmu yang aku miliki. Apakah babi-babi pemberian sanak saudara kita cukup untuk mengantarmu ke puya?  Aku hanya anak muda yang tak punya pekerjaan kecuali memahat tau-tau dan kerajinan lain. Telah kubuatkan tau-tau terindah untukmu. Mereka pasti akan sulit membedakannya dengan dirimu.
Ah, rasanya sia-sia kubuat tau-tau itu. Ia tak akan mampu mengantarmu ke puya. Rasanya tak mungkin aku mendapatkan kerbau-kerbau itu. Apa boleh buat, pekerjaanku memahat hanya cukup untuk membuatku tak kelaparan. Dengan apa aku akan mengantarkanmu ke puya?

Ke selatan ujungnya langit
Ke selatan negeri tuhannya jiwa
Di sana negeri orang yang bersedih

Syair berkat telah dilantunkan. Keselamatan telah dimohonkan. Kerbau-kerbau digiring ke tengah lapangan, siap diadu sebelum dikorbankan. Orang-orang berkumpul melingkari arena menanti kerbau-kerbau itu saling beradu tanduk.
Aku tidak berada di sana dan tak akan mungkin berada di sana, tapi aku tahu segalanya. Aku megenang semuanya. Aku selalu membayangkan berada di sana. Mengenang kerbau belang kita yang jadi pemenang saat perayaan kematian Ambe’. Satu-satunya kerbau yang tersisa dalam kandang milik kita. Aku teringat pesanmu.
“Pelihara dia baik-baik,” wasiat Indok saat sakit tak lagi menemukan obatnya. “Kau lebih membutuhkanya daripada aku.”
“Lalu dengan apa Indok ke puya?” tanyaku memeram kesedihan.
“Dengan syairmu,” kata Indok memaksakan untuk tersenyum, “syair yang selalu kita nyanyikan bersama pada tiap-tiap ma’badong.”
“Tak ada puya tanpa tedong bonga, Indok.”
“Percayalah kepadaku.”
Kini, 360 hari selepas kematianmu, syair-syair itu mendengung-dengung terus di kepalaku. Tanpa kusadari, aku mulai menari sambil melafalkan syair kedukaan di hadapanmu. Sendiri. Ya, hanya seorang diri. Sambil membayangkan dirimu berada dalam erong tempat Helena Rambulangi disemayamkan. Mereka tak akan menyadarinya dan tak pernah akan menyadarinya.
Aku terus menari dan bernyanyi melantunkan kedukaan. Bergerak ke depan dan ke belakang sendirian. Hingga dari jendela kamar yang kubiarkan daunnya terbuka, ternampak dirimu di atas sebuah kerbau belang diiringi ratusan kerbau yang bergerak dan terus bergerak ke langit. Ke puya… dipuya… negeri para leluhur berdiam.


Pulokambing, 13/12/12


[1] Terjemahan syair-syair ini diambil dari makalah Badong Sebuah Tari dan Nyanyian Kedukaan di Tana Toraja yang disusun oleh Harliati, Mahasiswi FIB UI.
[2] Orang yang menari dan menyanyikan syair kedukaan
[3] Melakukan tarian dan menyanyikan syair kedukaan
[4] Surga
[5] Peti mati
[6] Rumah-rumah bambu yang didirikan saat upacara Rambu Solo’
[7] Rumah adat suku Toraja berbentuk seperti perahu, selalu menghadap ke arah utara

Minggu, 20 Januari 2013

Belajar Setia

Belajar Setia

Oleh Benny Arnas (Media Indonesia, 20 Januari 2013)

PADA kedatangan tak diundang dan tanpa pemberitahuan, pemuda 27 tahun itu sudah menyiapkan sebuah cerita untuk Mayang, perawan yang saban petang selalu menyendiri di simpang kabupaten. Kebiasaan yang sudah berumur 25 tahun.
Namun alih-alih mendengarkannya, perempuan itu bahkan tidak serta-merta bisa menerima kedatangan seorang tak dikenal. Pemuda itu berusaha tampak tenang, seolah sudah mengantisipasi semua kemungkinan. Ia katakan bahwa sudah hampir dua tahun ia mencari perempuan itu. Jadi, adalah konyol apabila ia harus kembali tanpa menuntaskan maksudnya.
Saya datang dari Binjai, sebuah dusun di Muarakelingi, katanya. Namun apalah arti sebuah tempat bagi kedatangan yang tiba-tiba. Mayang bergeming seperti tidak mendengar apa-apa. Bagi si pemuda, itu pertanda baik. Apalagi perempuan itu lalu membuka daun pintu lebih lebar dan menyilakannya masuk.
Ah, lampu-lampu di sepanjang jalan tujuannya mulai menyala.
Namun, baru saja ia duduk di kursi rotan tua dalam rumah papan itu, perempuan itu sudah mengejutkannya. “Namamu Musmulikaing,” begitu gumamnya. Intonasinya datar sehingga kalimat itu tak menjadi kalimat tanya. Dan, ia sepertinya memang tak memerlukan jawaban. Ia hanya menatap si pemuda tanpa selidik. “Aku tak pernah berpikir kalau kali ini mimpiku akan jadi kenyataan.” Lalu ia berlalu ke bilik belakang, menyeka tirai kerang yang sudah jarang dan renggang.
Pemuda itu diam. Matanya mengekor punggung si perempuan yang lenyap di balik bilik.
“Sudah puluhan tahun, ada suara yang selalu berdenging dalam mimpi-mimpiku. Seorang pemuda bernama Musmulikaing akan datang dalam waktu dekat.” Suara Mayang terdengar jelas dari balik bilik kayu itu. Sesekali bunyi sendok yang beradu dengan cangkir sayup mengetuk gendang telinga. “Namamu memang rada aneh tapi kedengarannya tak asing. Aku tak tahu kapan dan di mana namamu pernah kuakrabi. Ah biarlah, namanya juga mimpi, kadang tak bisa dinalar.” Perempuan itu sudah kembali menerobos tirai dengan secangkir teh hangat di tangan kirinya. “Tapi mimpi kali ini, bagaimanapun, rasanya ada yang lain.” Ia meletakkan cangkir teh itu di atas meja lalu duduk di kursi rotannya. “Minumlah. Tamu adalah raja. Apalagi tamu dari alam mimpi.” Ia tertawa kecil, seperti mengejek kata-katanya sendiri.
Pemuda itu cengengesan. Tangan kanannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Di zaman sekarang, mimpi yang benar-benar mengisyaratkan sebuah kejadian sudah langka. Mimpi tak lebih sebagai perpanjangan kehendak seseorang; apa-apa yang tidak atau belum mampu diraih di alam nyata, ia bawa ke dalam tidurnya. Mimpi yang begitu, yang disebut bunga tidur, mimpi yang tak berguna!”
“Lalu untuk apa seseorang dalam mimpi itu mendatangimu?” tanya pemuda itu setelah menyeruput teh.
Mayang menggeleng. “Tapi… bukannya, kau ingin bercerita?”
***
Syahdan, seorang laki-laki mengungkapkan rahasia terbesar dalam hidupnya.
Ketika masih muda, ia menjalin hubungan dengan seorang gadis. Pemuda itu ingin mempersembahkan kejutan kepada gadisnya dengan meminangnya tiba-tiba. Benar! Apa yang ia lakukan memang mengejutkan. Pinangannya ditolak. O, bagaimana ia lupa kalau seseorang yang lahir, tinggal, dan berdikari di Binjai, dusun rumah tinggi yang hidup dari menyadap karet dan menjaring ikan seluang di anak Sungai Musi, taklah mampu berdiri di atas anak tangga yang sama dengan gadis keturunan pesirah di Kayuara.
Tercorenglah keluarga besar sang pemuda. Betapa malunya. Sang gadis benar-benar kecewa dengan apa yang keluarganya perbuat. Ia memang menyesalkan tingkah kekasihnya yang tiba-tiba datang dengan 20 orang sanak kerabat, 12 nampan berisi bejek ketan hitam, 6 tandan pisang tanduk, dan sepikul beras dayang rindu. Namun, sungguh, semuanya menguap dan menjadi tak berarti bila dibandingkan dengan ketakterimaannya atas kepongahan keluarganya. Maka, lewat seorang pesuruh yang setia, ia mengirimkan sepucuk surat kepada si pemuda. Ternyata maksud tak selamanya selaras dengan kenyataan. Surat yang dilemparkan si pesuruh—sebagaimana amanah si gadis—lewat daun jendela kamar si pemuda, tertangkap pandang oleh ayah si pemuda.
Sebuah rencana pembalasan pun disiapkan. Sang ayah tak pernah menyampaikan surat itu kepada putranya. Bahkan, hingga putranya ia jodohkan dengan seorang perempuan yang masih berkerabat jauh satu tahun kemudian.
Ia tahu, putranya menerima begitu saja karena kecewa pada kekasihnya yang tiada kabar berita setelah pengusiran itu. Bagi si pemuda, peristiwa memalukan itu bagai menegaskan bahwa gadis itu sengaja menjauh darinya, melepas hubungan yang sudah sekian lama dikebat….


Istrinya, karena tak kuat menjadi pajangan yang hanya digauli di malam punai, akhirnya meradang berpanjangan. Sebenarnya, tiadalah si pemuda bermaksud demikian. Namun, alam bawah sadar bagai menuntunnya untuk melakukan hal-hal yang bukan tabiatnya. Mereka tak ubahnya dua orang asing yang dirumahkan. Tanpa sapa, canda, apalagi cerita mesra. Entah karena ajal yang sudah tiba atau rajaman kenelangsaan, sang istri meregang nyawa beberapa hari seusai melahirkan anak pertama; laki-laki.
Suaminya membesarkan putra semata wayangnya sendirian. Ia ingin membuktikan kepada ayahnya yang sudah renta bahwa cintanya kepada gadis Kayuara itu tak akan luruh hingga kapan pun, oleh apa pun. Awalnya sang ayah tak mengacuhkan. Namun, mendapati kenyataan bahwa putranya mampu hidup sendirian sembari membesarkan cucunya hingga bujang, adalah tamparan keras baginya. Ia trenyuh. Sungguh, sebenarnya ia benci pada ketaklukannya. Namun begitu, sejatinya ia lebih benci lagi pada keegoisannya yang berlumut dan baru terkikis setelah hampir seperempat abad kemudian—walaupun ia jua takkan lupa kesombongan keluarga si gadis.
Maka, pada suatu malam yang temaram, di ujung sakit tersebab usia yang berkarat, ia membuka rahasia itu. Tentang surat itu. Tentang pertemuan—di simpang kalangan dekat pohon merbau di Muarabeliti jelang terbenamnya matahari—yang tak pernah ia beritakan kepada putranya.
***
“Simpang Muarabeliti—ibu kota kabupaten?” Tiba-tiba perempuan itu menyela.
Pemuda itu mengangguk.
“Petang?” Pemuda itu mengangguk lagi.
“Jadi surat itu tak pernah dibacanya? Apakah laki-laki itu tahu bahwa, hingga saat ini, gadisnya masih melajang?”
Pemuda itu diam.
“… dan hidup sebatang kara karena keluarganya tak sudi punya anak pembangkang, tak sudi serumah dengan gadis yang mencintai pemuda tak sepadan.”
Tiba-tiba perempuan itu bangkit dari tempat duduknya. “Mengapa, mengapa ceritamu….”
“Ya, mungkin Ibu heran mengapa ceritaku sangat mirip dengan kisah hidup Ibu, bukan? Ibu pernah tinggal di Kayuara?”
“Jangan sok tahu!” Suara Mayang meninggi.
“Bukannya Ibu yang sok tahu?” Pemuda itu balas berseru. “Ibu sok tahu kalau gadis dalam ceritaku masih melajang hingga kini!”
Mayang tercenung seperti terhenyak. Lalu perlahan ia kembali duduk. “Ternyata penantianku adalah panggilan tanpa bunyi dan jawaban.” Suaranya terdengar lempang tanpa gairah. Matanya memerah.
“Penantian? Menantikan laki-laki dalam ceritaku?” Suara pemuda itu lirih, hampir tak terdengar.
Mayang tak menjawab. Hanya air matanya yang tiba-tiba meleleh.
“Menantikan Semibar?” Suara pemuda itu bagai tercekat.
“Dan kau adalah Musmulikaing.” Suara Mayang memarau. Ada senyum tipis, sangat tipis, menggurat di bibir perempuan itu. Ia menyeka air matanya dengan ujung baju katunnya.
“Bukan!” tukas pemuda itu cepat. “Aku….”
“Ya, bukan hanya itu!” potong Mayang tak kalah cepat. “Musmulikaing adalah buah perkawinan Semibar dengan Jeruma yang tak berumur lama.”
Mulut pemuda itu terkunci.
“Dan gadis Kayuara itu adalah Mayang Nilamsari binti Umar Hamid, kan?!”
Pemuda itu tiba-tiba merasa kerongkongannya menyempit.
Perempuan itu kini tersenyum, benar-benar tersenyum. “Terima kasih atas ceritamu. Ayahmu memang pujangga ulung. Untuk menjelaskan semua keganjilan masa silam kami, ia bahkan merasa perlu mengutusmu untuk bertandang dalam mimpi-mimpiku sebelum akhirnya hadir di hadapanku.”
Pemuda itu tersenyum, senyum yang lebih mirip seringaian.
“Aku tidak marah pada Semibar. Tak ada guna. Aku bahkan memaklumi perkawinan itu. Cinta yang tulus adalah tinta daun bilau yang menetes di kain kafan, nodanya takkan terkelupas apalagi terhapus oleh air hujan sekalipun. O ya, sampaikan pada ayahmu: ‘Ada salam dariku’.”
Pemuda itu bangkit dari tempat duduknya. Sebenarnya ia ingin menjelaskan kalau namanya bukan Musmulikaing. Tapi hal itu menjadi tidak penting lagi ketika mendapati kenyataan yang begitu menggetarkan: seorang perempuan rela melajang hingga usianya merayap separuh abad.
Pemuda itu mencium punggung tangan Mayang dengan takzim, seolah tengah mengucapkan selamat tinggal kepada ibu kandungnya, untuk membawa kabar gembira nan memilukan ke tepian anak Sungai Musi lalu menyampaikannya kepada Semibar.
Kepada ayahnya. (*)


Linggau, Agustus-Desember 2012