Dewi karya Yus R. Ismail Komidi Putar karya Gegge S. Mappangewa Pertarungan karya Benny Arnas Kacamata karya Noor H. Dee Debu-Debu Tuhan
Tampilkan postingan dengan label FLP Sulsel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FLP Sulsel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Desember 2015

Komidi Putar

Cerpen Gegge S. Mapanggewa (Republika, 5 Juni 2011)

Carousel At The Carnival by Linda Mears
MATA mengantuk Ainun langsung terbelalak, tubuh Aimah yang tadi tidur di sampingnya, kini tak ada. Mendadak, jantungnya seperti lepas dari gantungannya. Seperti orang buta, meraba setiap jengkal tempat tidurnya. Dari sudut ke sudut.

“Aimah…. Mah…. Aimah, kamu di mana, Nak?” panggilnya sambil sesekali melongok ke kolong ranjang besinya. Aimah tak ada! Putrinya yang masih berumur tiga tahun itu, masih juga dipanggilnya berkali-kali. Tetap tiada!

Dia teringat perbincangan dengan suaminya tadi pagi.

“Bu, Aimah saya bawa, ya?”

“Jangan mimpi, Pa! Galang sudah kamu telantarkan.”

“Tapi dia kan cari uang.”

“Jadi, Bapak ingin punya anak karena mau menjadikannya binatang perahan? Anak kita masih terlalu kecil untuk dibebani tanggung jawab.”

Mata suaminya yang dari tadi menantangnya, kini tertunduk. Ainun pun merasa dirinya menang. Tapi kini…? Aimah yang baru saja dininabobokan, hilang. Dia yakin, pelakunya adalah suaminya sendiri. Dia keluar menembus malam yang pekat. Berjalan menuju lapangan desa yang kini ditempati pertunjukan komidi putar.

Telah hampir lima tahun, suaminya ikut keliling kampung sebagai pembalap tong edan. Penghasilannya lumayan. Di antara karyawan yang lain, suaminya yang paling tinggi gajinya, sepuluh persen dari seluruh penghasilan. Sedangkan karyawan lainnya yang bertugas di kincir, balon putar, kuda Ramayana, dan ombak asmara, semua hanya mendapat lima persen.

Apalagi, seluruh saweran dari penonton yang menyaksikan aktraksinya, masuk kantong pribadinya. Tapi, di antara karyawan lainnya juga, suaminya yang risiko kerjanya paling tinggi. Ainun pernah menonton pertunjukan suaminya, tapi dia hanya bertahan semenit. Detak jantungnya terpacu hebat, gendang telinganya terasa pecah mendengar deru motor yang sengaja dilepas knalpotnya, meraung, berputar, dan memanjati tong yang tingginya mencapai empat meter.

Dia pernah meminta suaminya berhenti bekerja, tapi mau makan apa? Toh, mati juga! Sebagai orang Bugis, suaminya punya prinsip, lebih baik mati berdarah daripada mati kelaparan. Aib! Dia pasrah saja, karena hidup memang harus diperjuangkan bahkan dipertaruhkan dengan kematian. Hingga suatu saat, suaminya datang mengeluh karena penggemar tong edan mulai berkurang. Gaji pun tak cukup lagi buat makan.

“Ya, dicukupin aja, Pak! Nanti saya yang atur. Apalagi Bapak kan makannya di komidi putar. Saya sih, asal bisa beli susu buat Galang.”

“Atau Galang saya bawa saja, cari uang bersama saya.”

“Cari uang?”

“Maksudku, Galang saya bawa saja. Pemilik komidi putar yang tanggung susu dan makanannya, bahkan pakaiannya.”

Belum diiyakan, suaminya sudah berdiri dan mengumpul pakaian Galang sendiri.

“Ibu nggak usah khawatir, kan ada saya?” kata suaminya, namun belum bisa menghapus cemasnya.

Lebih membuatnya heran, suaminya melarang dia ikut. Suaminya hanya berjanji, akan mengembalikan anaknya sekali sebulan. Saat itu, kebetulan komidi putar sedang pertunjukan di luar kampung. Seperti tertotok, dia mengiyakan saja. Barulah setelah dua hari kepergian suaminya, dia mulai menaruh curiga. Curiga untuk yang pertama kalinya. Selama ini dia memang selalu percaya kata hatinya, bahwa suaminya takkan menyeleweng.

“Suamimu laki-laki kan? Jangan mudah percaya, Ainun! Jangan-jangan dia mengambil anakmu karena dia punya istri simpanan selama ikut komidi putar.”

Tetangganya mulai ikut sumbang saran.

“Suamiku bukan lelaki seperti itu.”

“Ainun, lelaki semakin dipercaya semakin dia berpeluang memperdaya kita. Apa salahnya kamu mengunjunginya di kampung sebelah?”

Ainun pun berangkat. Berat langkahnya terangkat, tapi dia melangkah juga. Di antara keramaian pasar malam, sejenak dia berdiri mematung di dekat panggung tong edan yang sementara mengadakan pertunjukan. Awalnya dia enggan. Dia takut melihat aktraksi maut suaminya, yang terkadang berdiri di atas motor, lepas tangan, sambil mengendarai motornya mengelilingi tong. Benar-benar edan! Tanpa pikir panjang lagi, dia berlari menaiki tangga.

Di tak mengerti, mengapa anaknya bisa ada dalam tong yang di dalamnya sedang mempertunjukkan aktraksi edan? Bagaimana jika motor terjatuh dan menimpa tubuh anaknya yang sedang di lantai tong?

Ternyata Galang dibonceng bapaknya. Tak ada ketakutan sedikit pun di wajah putranya, bahkan sesekali melepas tangan kanannya dari pinggang bapaknya, untuk mengambil saweran yang diberikan pengunjung.

Tepuk tangan riuh, bergemuruh, saat Galang menerima saweran itu tanpa takut, bahkan masih sempat cium jauh untuk pengunjung yang memberinya saweran. Padahal, motor yang dikendarai bapaknya sedang meliuk-liuk, memanjat, dan mengelilingi tong yang berdiameter enam meter.

Batinnya mengutuk perlakuan suaminya yang ternyata menjadikan anaknya pengemis dengan cara lain. Tubuhnya seolah terserang lumpuh layuh. Persendiannya terasa tak kuat lagi. Gravitasinya hilang, dirasakan tubuhnya melambung, saat mata anaknya yang tertuju padanya, seolah tak mengenalnya. Ainun terjatuh. Pingsan. Orang-orang mengerumuninya. Saat siuman, suaminya berada di sampingnya.

“Begitu cara kamu menjaga Galang?” sinis dia.

Galang yang melihat ibunya sudah bisa diajak bicara, langsung mendekat dan memberinya kalimat yang semakin memerihkan hatinya.

“Bu, Galang suka di sini. Saya bisa beli mainan setiap malam,” ucap Galang sambil memperlihatkan mobil-mobilan plastiknya.

“Penonton selalu ingin pertunjukan baru, Bu! Apalagi Galang laki-laki, kelak dia yang akan menggantikan saya.”

“Memang di dunia ini cuma satu pekerjaan? Harusnya Galang disekolahkan!”

“Tapi Galang belum cukup umur kan, Bu?”

“Kalau anak seperti dia sudah bisa cari uang, bebas main tanpa batas di tengah pasar malam, mana mungkin ada minat untuk sekolah lagi?”

Suaminya terdiam, membenarkan kalimat istrinya. Setiap Galang ditanya mau sekolah di mana, jawabnya pasti mau sekolah di lapangan. Galang bahkan tak mau pulang ke rumah. Juga tak mau sekolah. Padahal, usianya sudah memantaskan dia masuk TK. Dia lebih senang hidup di komidi putar, keliling kampung. Setelah Galang dirampas masa depannya, kini Aimah yang jadi sasaran.

***

Tiba di arena pasar malam, langkah Ainun bergegas menuju tong edan yang mulai mempertunjukkan aktraksi mautnya. Deru mesin motor yang memekakkan telinga, seolah tak didengarnya. Malam ini dia harus mengambil putrinya pulang, bukan karena Aimah anak wanita dan tak cocok ikut aktraksi tong edan, tapi karena dia tak ingin anaknya kehilangan masa depan.

“Aimah!” teriaknya dari bibir dinding tong edan yang sedang dipanjati motor.

“Ibu mengenal anak itu?” tanya seorang pengunjung padanya. “Dia baru dilatih. Dulu Galang, kakaknya, juga begitu. Masih takut! Tapi lama-kelamaan, akhirnya jago juga seperti bapaknya,” lanjutnya tanpa menyadari jika dia sedang berhadapan dengan ibu dari anak yang sedang dieksploitasi itu.

“Cukup, Pak! Cukup!” teriak Ainun seperti orang gila.

Dia yakin, telah terjadi sesuatu pada Aimah yang sedang dibonceng dengan tubuh yang diikatkan sarung, menyatu dengan tubuh bapaknya. Di belakang Aimah, Galang berdiri sambil berpegang di pundak bapaknya. Sesekali melambaikan tangan untuk pengunjung. Tentu saja dengan motor yang tetap pawai, melengket di dinding tong bagai reptil.

Galang melihat sosok ibunya berteriak-teriak memanggil Aimah di antara mesin motor yang menderu. Galang langsung membisiki bapaknya. Selintas dia melihat wajah suaminya seperti pencuri yang ketangkap basah dengan barang bukti di tangan. Mungkin merasa bersalah, dia menurunkan motornya ke dasar tong.

Ainun berlari menuruni panggung tong. Tapi saat tiba di pintu tong yang telah terbuka, dia mendapatkan suaminya, panik, mengguncang tubuh Aimah.

“Mengapa dengan Aimah, Pak?”

Suaminya tak pernah menyangka jika akan terjadi sesuatu pada diri Aimah. Tubuh kecil itu tetap kaku. Dingin. Ainun yang menyaksikannya ikut beku. Sayangnya, saat dia siuman, dia tak bisa membawa Aimah pulang. Allah telah duluan membawa Aimah pulang. (*)

Selasa, 09 Oktober 2012

Lontara Rindu

Genre: Novel
Judul: Lontara Rindu
Penulis: S. Gegge Mappangewa
Penerbit: Republika
Halaman: viii + 342 Halaman
Cetakan: Pertama, 2012



Vito dan Vino, dua saudara kembar yang terpaksa harus terpisah karena perceraian orang tuanya. Vito tinggal bersama ibunya, sedangkan Vino dibawa ayahnya. Hindu yang membuncah membuat Vito harus mencari ayahnya di Perrinyameng, Amparita, belasan kilometer dari kampungnya di daerah pergunungan.

Ayah Vito pergi ketika Vito masih kecil. Beda keyakinan membuat kakeknya tak bisa menerima ayahnya, sehingga ibunya dulu harus mengorbankan kehormatan keluarga, kabur dari rumah demi ayah Vito itu. Vito adalah anak yang terluka dan ketika memasuki usia SMP ia kerap bertanya mengapa sang ayah meninggalkannya?

Kamis, 27 September 2012

Kegenitan Novel "Lontara Rindu"

Kegenitan Novel "Lontara Rindu"

Oleh Fitrawan Umar (makassarnolkm.com)

Sebagai seorang guru, penulis “Lontara Rindu” memang tepat menjadikan novelnya sebagai bahan pembelajaran, novel penggugah hati, pembentuk karakter, dan pengasah jiwa. Namun, dalam kritik kesusasteraan, perlu aspek lain dalam menilai karya S. Gegge Mappangewa, putra kelahiran Sidrap, Sulawesi Selatan ini.

Dalam kerangka mengangkat setting dan warna lokal, “Lontara Rindu” memang patut diapresiasi. Apresiasi dalam kerangka demikian menjadi penting. Sebab, dalam mengarungi arus kehidupan yang penuh paradoks serupa sekarang ini, peneguhan eksistensi begitu terasa dibutuhkan. Kebanggaan terhadap identitas diri dalam pembicaraan positif memang perlu mendapat tempat. Ihwal ini mengingat mental inferior telah menyebar, bersitegang dengan derasnya rasa kagum menjadi identitas lain di luar dari diri seseorang. Tabiatnya memang seperti demikian, ‘kacung’ kebudayaan akan tercocok-hidung bila berhadapan dengan identitas superior.

S. Gegge Mappangewa, sebagai penulis “Lontara Rindu”, memilih untuk tidak menjadi ‘kacung kebudayaan’ dengan mencoba untuk melangitkan sekaligus membumikan sesuatu yang tak lepas dari jati dirinya. Gegge hendak memperkenankan dan memperkenalkan identitas bugis, identitas kampung kelahirannya Sidrap, dan pula eksistensi Tolotang. Meski secara bersamaan, ia pula memberi tafsiran-tafsiran baru tentang rindu.

Nah, dua kalimat terakhir di atas yang hendak saya ketengahkan dalam tulisan ini. Untuk memudahkan, anggap saja identitas yang kita bicarakan mewakili ‘lokalitas’ dan tafsiran-tafsiran rindu mewakili ‘cerita’. Untuk sementara, kita kesampingkan pendapat para kritikus sastra bahwa lokalitas sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang setting dan warna-warna kedaerahan.

Antara ‘lokalitas’ dan ‘cerita’ dalam novel “Lontara Rindu” saling bersitegang, kedua-duanya tarik-menarik untuk menentukan di mana “Lontara Rindu” akan mendapat tempat. Meski terdapat anggapan ‘lokalitas’ dan ‘cerita’ tidak dapat dipisahkan, hemat saya, ada perbedaan di sana. Gegge hendak ‘menjual’ yang mana? Pertanyaan ini juga bisa menjawab mengapa “Lontara Rindu” telah menjadi Buku Best Seller di pasaran.

Tentang ‘lokalitas’, boleh jadi memang Gegge tidak ingin terjerumus dalam ‘kacung’ kebudayaan. Namun, sepertinya Gegge sedikit ragu untuk lepas dari ‘kacung’ pasar. Sekarang ini, sudah menjadi tren pasar, penulis-penulis novel kebut-kebutan untuk mengangkat hal-hal berbau kedaerahan. Novel serupa demikian cukup menjual –mungkin karena mengandung keunikan dan rasa penasaran para konsumen novel. Apatah lagi jika novel lahir dari sebuah sayembara bertingkat nasional, maka mengusung nuansa, warna, dan cita rasa lokal adalah sesuatu yang amat seksi. Ini masih sebatas kecurigaan.

Akan tetapi, kenarsisan dan kegenitan novel “Lontara Rindu” dalam menghamparkan unsur lokal juga sangat terasa. Hal ini ingin membantah dugaan awal dan kecurigaan di atas. Meski sekaligus di sinilah kelemahan dalam novel “Lontara Rindu”.

Kegenitan itu bisa diraba melalui teks-teks yang dipaksakan keberadaannya. Gegge dalam beberapa kasus amat kental berusaha ‘membugiskan’ sesuatu dalam novel ini. Misalkan, “Nisan-nisan di pekuburan kampung Bugis menggunakan ukiran batu gunung berbentuk lonjong jika jenazahnya laki-laki dan bentuk pipih jika jenazahnya perempuan” (hal: 163). Pernyataan ini bermaksud untuk menegaskan bahwa pemilik sah tradisi nisan tersebut adalah orang Bugis. Padahal, bukankah tradisi itu juga lumrah di kalangan suku lain selain Bugis? Pada halaman 221 juga terdapat pernyataan demikian, “Menurut kepercayaan orang Bugis, minyak tokek jika disentuhkan ke baju atau ke kulit lawan jenis, maka lawan jenis itu akan tergila-gila….” Padahal, bukankah kepercayaan itu juga ada di kalangan suku lain selain Bugis? Di sinilah kenarsisan dan kegenitan yang dimaksud dalam novel “Lontara Rindu”.

Tentang ‘cerita’, Gegge memang dalam banyak tulisannya selain “Lontara Rindu” terlihat amat lihai berimajinasi. Maka, wajarlah dari sisi penceritaan, “Lontara Rindu” sukses membuat pembaca terpana. Pencarian Vito akan ayah dan Vino terasa sangat mengalir, menarik, dan memaksa pembaca untuk tidak beranjak sebelum mengetahui akhir dari pencarian itu. Gegge berhasil menghadirkan suasana kerinduan Vito yang mampu merambat ke hati pembaca, dan turut berduka atas kerinduan itu. Pun, Gegge meramu sebuah pertemuan Vito dengan ayah dan Vino secara apik dan tak terduga. Akhir cerita yang amat dramatis.

Akan tetapi, sayang sekali beberapa logika penceritaan sedikit mengganggu pembaca. Perubahan karakter Vito yang amat drastis sepertinya sulit diterima. Vito yang pada awal-awal bab digambarkan periang, pandai mengarang cerita (cerewet), humoris, pemalas, secara tiba-tiba berubah total sejak menghukumi dirinya sendiri, dan termasuk berubah sebab kerinduan. Karakter Vito, pada awal-awal bab, amat sangat tidak mempengaruhi keutuhan cerita, melainkan hanya berupaya untuk menghadirkan kelucuan dalam novel ini. Tentu saja alasan itu mengorbankan banyak hal.

Penampilan-penampilan dialog “Lontara Rindu” juga seolah terpisah dari setting yang digambarkan dan karakter tokoh yang diceritakan. Dalam banyak hal, sulit rasanya dibayangkan mengapa ada perkataan-perkataan yang dikeluarkan oleh tokoh-tokoh yang mendiami setting di Pakka Salo, desa pebukitan, yang belum tersentuh listrik. Begitu pula, sulit rasanya dibayangkan mengapa ada perkataan-perkataan yang dikeluarkan oleh anak-anak SMP yang pengetahuannya masih sangat terbatas.

Kembali ke pertanyaan semula, Gegge hendak ‘menjual’ yang mana? ‘Lokalitas’ ataukah ‘cerita’? Untuk menjawab itu, sisi genuitas perlu dicermati. Benny Arnas, secara sederhana, menyebut genuitas adalah sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, di tempat lain. Hemat saya, Gegge berhasil mengeksplorasi eksistensiTolotang sehingga ‘lokalitas’ dan ‘cerita’ menjadi satu kesatuan yang unik.Tolotang adalah genuitas dari novel Gegge.

Meski (sekali lagi) kegenitan novel “Lontara Rindu” yang berkeringat untuk ‘membugiskan’ sesuatu cukup membuat novel ini terasa kurang sempurna. Meski (sekali lagi) terdapat logika cerita yang kurang bisa diterima. Meski demikian, novel ini amat mencerahkan, membuka wawasan dan kewaspadaan.

Yogyakarta, 2012

Judul: Lontara Rindu
Penulis: S. Gegge Mappangewa
Penerbit: Republika
Halaman:  viii + 342 Halaman
Cetakan: Pertama, 2012