Dewi karya Yus R. Ismail Komidi Putar karya Gegge S. Mappangewa Pertarungan karya Benny Arnas Kacamata karya Noor H. Dee Debu-Debu Tuhan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juli 2013

Stereotipikal Laskar Pelangi

Stereotipikal Laskar Pelangi

Oleh Benny Arnas (Lampung Post, Minggu, 28 Juli 2013)

gramedia.tumblr.com
SAYA merampungkan novel Jurai (GPU, Maret 2013) dalam sekali pembacaan. Guntur Alam berkisah dengan lancar. Gaya dan bahasa penceritaannya, walaupun tidak sekuat pada cerpen-cerpennya, masih berkarakter. Tanpa mengurangi kebahagiaan yang mengerubungi saya usai membacanya, saya merasa dejavu dengan motif ceritanya.
Entah bagaimana, bakda kesuksesan tetralogi Laskar Pelangi yang (katanya?) merupakan novelisasi kisah hidup penulisnya, saya selalu khawatir membaca novel-novel laris. Saya khawatir akan menemukan Laskar Pelangi dalam bahasa dan karakter yang berbeda. Kekhawatiran saya cukup beralasan. Saya kerap (untuk tidak mengatakan ?selalu?) menemukan motif cerita yang sama?kemiskinan, kesulitan mengakses pendidikan, kisah cinta sebagai plot sekunder, dan berakhir dengan kesuksesan?dalam beberapa novel laris setelah Laskar Pelangi.
Saya yakin, Laskar Pelangi bukan novel pertama yang mengolah/menjual motif/produk yang sama, tapi kesuksesannya di pasaran, mau tidak mau, diakui atau tidak, telah "menyulut" penulis lain untuk mengolah/menjual hal serupa. Baik dengan menovelisasi kisah hidup si penulis, tokoh terkenal, maupun karakter rekaan. Kecenderungan inilah yang ditemukan?sekadar menyebut beberapa judul -- pada trilogi Negeri 5 Menara (Ahmad Fuadi), 9 Summer 10 Autumn dan Ibuk (Iwan Setiawan), trilogi Sepatu Dahlan (Khrisna Pabichara), dan Anak Sejuta Bintang (Akmal Nasery Basral).
Pada novel-novel yang tampaknya bernasib baik di pasaran tersebut, kekhawatiran saya selalu terbukti. Kekhawatiran yang tidak semestinya terjadi (tentu saja karena ia sangat subjektif). Saya selalu gagal menutup telinga dari gelombang persuasif yang meneriakkan kelebihan novel-novel yang membuat perasaan kecewa, cemburu, dan bangga bersitabrak dalam pikiran: kecewa karena lagi-lagi saya menemukan motif ala Laskar Pelangi di sana, cemburu dengan keberhasilan karya-karya itu menggaet hati pembaca, dan bangga karena masih banyak orang yang membeli buku.
Adalah terlalu naif apabila saya tidak mampu mencungkil hikmah dari kenyataan itu: bahwa sebagian (besar) para pembaca (pembeli) buku Indonesia saat ini menyukai cerita yang seperti itu. Salah? Tentu saja tidak. Namun, saya bukan bagian mainstream pembaca seperti itu. Celakanya lagi, saya yakin selera bacaan saya tidak buruk.
Singkat risalah, saya ingin membaca buku (novel) yang menyuguhkan tema utama yang lain, yang tidak mainstream, yang tidak stereotipikal Laskar Pelangi tapi mendongak secara kualitas. Memang, novel-novel semacam itu masih bisa saya temui walaupun tidak banyak dan biasanya kurang laris, tapi yang selalu berhasil menggoda saya justru novel-novel mainstream. Ah, ini memang salah (selera) saya!
Ketika hendak membaca Jurai, saya berdoa semoga novel setebal 298 halaman itu mampu menyuguhkan sesuatu yang lain dari "para pendahulunya?. Tentu keinginan ini bukan semata karena saya dan Guntur Alam sama-sama lahir di Sumatera Selatan, melainkan karena cerpen-cerpennya di pelbagai surat kabar menyuguhkan kecerlangannya dalam menggarap tema yang tidak mainstream dengan bahasa yang berkarakter.
Jurai menjadikan tokoh Emak, seorang janda empat anak, sebagai pusara cerita. Mata dan perasaan Catuk, anak lelaki yang tengah duduk di kelas lima SD yang merupakan anak bungsu Emak, menjadi penceritanya. Emak berjuang menyekolahkan anak-anaknya agar mereka tidak meradang sepertinya; dikelabui sang suami sebab ia tak bisa membaca. Ini bukan perkara mudah karena Emak adalah seorang janda yang bekerja seorang diri sebagai tukang sadap karet sebelum kemudian menjadi penjual sayur antarkampung, memiliki penghasilan pas-pasan. Belum lagi adat (Muara Enim, Sumsel) kala itu yang menabukan anak perempuan sekolah tinggi (Dan Emak memiliki tiga anak perempuan!).
Lalu tiba-tiba déjà vu itu menghampiri saya:
(Selain Emak) Catuk adalah tokoh utama novel yang hidup berkekurangan, bersekolah dengan sepatu butut, menjalin cinta monyet dengan siswi dari SD lain yang bernama Dewi, hingga akhirnya Emak mampu ?memenangkan? pertarungan demi harga diri dan martabat keluarganya. O ya, Catuk memiliki beberapa teman dekat di sekolah, Catuk juga tumbuh dalam kultur Melayu yang kuat, dan ? o o, tiba-tiba saya kembali membuka halaman awal: Jurai dipersembahkan Guntur Alam untuk tiga kakak perempuannya yang ternyata memiliki kesamaan nama dengan ketiga kakak perempuan Catuk. Saya tidak suka dengan kebetulan. Oleh karena itu, saya pun memaknai kesamaan nama-nama itu bukan sebagai kebetulan. Implikasinya: saya meyakini bahwa, sebagian besar kisah dalam Jurai adalah novelisasi kisah hidup penulisnya. Catuk adalah Guntur Alam!
Gunung es kebahagiaan saya perlahan mencair. Tiba-tiba saya teringat Andrea Hirata. Teringat Laskar Pelangi

Judul                : Jurai, Kisah Anak-Anak Emak di Setapak Impian
Penulis             : Guntur Alam
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Terbit               : Maret 2013
Jml. Hlm.        : 306 halaman
ISBN                 : 978-979-22-9338-8

Kamis, 27 September 2012

Kegenitan Novel "Lontara Rindu"

Kegenitan Novel "Lontara Rindu"

Oleh Fitrawan Umar (makassarnolkm.com)

Sebagai seorang guru, penulis “Lontara Rindu” memang tepat menjadikan novelnya sebagai bahan pembelajaran, novel penggugah hati, pembentuk karakter, dan pengasah jiwa. Namun, dalam kritik kesusasteraan, perlu aspek lain dalam menilai karya S. Gegge Mappangewa, putra kelahiran Sidrap, Sulawesi Selatan ini.

Dalam kerangka mengangkat setting dan warna lokal, “Lontara Rindu” memang patut diapresiasi. Apresiasi dalam kerangka demikian menjadi penting. Sebab, dalam mengarungi arus kehidupan yang penuh paradoks serupa sekarang ini, peneguhan eksistensi begitu terasa dibutuhkan. Kebanggaan terhadap identitas diri dalam pembicaraan positif memang perlu mendapat tempat. Ihwal ini mengingat mental inferior telah menyebar, bersitegang dengan derasnya rasa kagum menjadi identitas lain di luar dari diri seseorang. Tabiatnya memang seperti demikian, ‘kacung’ kebudayaan akan tercocok-hidung bila berhadapan dengan identitas superior.

S. Gegge Mappangewa, sebagai penulis “Lontara Rindu”, memilih untuk tidak menjadi ‘kacung kebudayaan’ dengan mencoba untuk melangitkan sekaligus membumikan sesuatu yang tak lepas dari jati dirinya. Gegge hendak memperkenankan dan memperkenalkan identitas bugis, identitas kampung kelahirannya Sidrap, dan pula eksistensi Tolotang. Meski secara bersamaan, ia pula memberi tafsiran-tafsiran baru tentang rindu.

Nah, dua kalimat terakhir di atas yang hendak saya ketengahkan dalam tulisan ini. Untuk memudahkan, anggap saja identitas yang kita bicarakan mewakili ‘lokalitas’ dan tafsiran-tafsiran rindu mewakili ‘cerita’. Untuk sementara, kita kesampingkan pendapat para kritikus sastra bahwa lokalitas sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang setting dan warna-warna kedaerahan.

Antara ‘lokalitas’ dan ‘cerita’ dalam novel “Lontara Rindu” saling bersitegang, kedua-duanya tarik-menarik untuk menentukan di mana “Lontara Rindu” akan mendapat tempat. Meski terdapat anggapan ‘lokalitas’ dan ‘cerita’ tidak dapat dipisahkan, hemat saya, ada perbedaan di sana. Gegge hendak ‘menjual’ yang mana? Pertanyaan ini juga bisa menjawab mengapa “Lontara Rindu” telah menjadi Buku Best Seller di pasaran.

Tentang ‘lokalitas’, boleh jadi memang Gegge tidak ingin terjerumus dalam ‘kacung’ kebudayaan. Namun, sepertinya Gegge sedikit ragu untuk lepas dari ‘kacung’ pasar. Sekarang ini, sudah menjadi tren pasar, penulis-penulis novel kebut-kebutan untuk mengangkat hal-hal berbau kedaerahan. Novel serupa demikian cukup menjual –mungkin karena mengandung keunikan dan rasa penasaran para konsumen novel. Apatah lagi jika novel lahir dari sebuah sayembara bertingkat nasional, maka mengusung nuansa, warna, dan cita rasa lokal adalah sesuatu yang amat seksi. Ini masih sebatas kecurigaan.

Akan tetapi, kenarsisan dan kegenitan novel “Lontara Rindu” dalam menghamparkan unsur lokal juga sangat terasa. Hal ini ingin membantah dugaan awal dan kecurigaan di atas. Meski sekaligus di sinilah kelemahan dalam novel “Lontara Rindu”.

Kegenitan itu bisa diraba melalui teks-teks yang dipaksakan keberadaannya. Gegge dalam beberapa kasus amat kental berusaha ‘membugiskan’ sesuatu dalam novel ini. Misalkan, “Nisan-nisan di pekuburan kampung Bugis menggunakan ukiran batu gunung berbentuk lonjong jika jenazahnya laki-laki dan bentuk pipih jika jenazahnya perempuan” (hal: 163). Pernyataan ini bermaksud untuk menegaskan bahwa pemilik sah tradisi nisan tersebut adalah orang Bugis. Padahal, bukankah tradisi itu juga lumrah di kalangan suku lain selain Bugis? Pada halaman 221 juga terdapat pernyataan demikian, “Menurut kepercayaan orang Bugis, minyak tokek jika disentuhkan ke baju atau ke kulit lawan jenis, maka lawan jenis itu akan tergila-gila….” Padahal, bukankah kepercayaan itu juga ada di kalangan suku lain selain Bugis? Di sinilah kenarsisan dan kegenitan yang dimaksud dalam novel “Lontara Rindu”.

Tentang ‘cerita’, Gegge memang dalam banyak tulisannya selain “Lontara Rindu” terlihat amat lihai berimajinasi. Maka, wajarlah dari sisi penceritaan, “Lontara Rindu” sukses membuat pembaca terpana. Pencarian Vito akan ayah dan Vino terasa sangat mengalir, menarik, dan memaksa pembaca untuk tidak beranjak sebelum mengetahui akhir dari pencarian itu. Gegge berhasil menghadirkan suasana kerinduan Vito yang mampu merambat ke hati pembaca, dan turut berduka atas kerinduan itu. Pun, Gegge meramu sebuah pertemuan Vito dengan ayah dan Vino secara apik dan tak terduga. Akhir cerita yang amat dramatis.

Akan tetapi, sayang sekali beberapa logika penceritaan sedikit mengganggu pembaca. Perubahan karakter Vito yang amat drastis sepertinya sulit diterima. Vito yang pada awal-awal bab digambarkan periang, pandai mengarang cerita (cerewet), humoris, pemalas, secara tiba-tiba berubah total sejak menghukumi dirinya sendiri, dan termasuk berubah sebab kerinduan. Karakter Vito, pada awal-awal bab, amat sangat tidak mempengaruhi keutuhan cerita, melainkan hanya berupaya untuk menghadirkan kelucuan dalam novel ini. Tentu saja alasan itu mengorbankan banyak hal.

Penampilan-penampilan dialog “Lontara Rindu” juga seolah terpisah dari setting yang digambarkan dan karakter tokoh yang diceritakan. Dalam banyak hal, sulit rasanya dibayangkan mengapa ada perkataan-perkataan yang dikeluarkan oleh tokoh-tokoh yang mendiami setting di Pakka Salo, desa pebukitan, yang belum tersentuh listrik. Begitu pula, sulit rasanya dibayangkan mengapa ada perkataan-perkataan yang dikeluarkan oleh anak-anak SMP yang pengetahuannya masih sangat terbatas.

Kembali ke pertanyaan semula, Gegge hendak ‘menjual’ yang mana? ‘Lokalitas’ ataukah ‘cerita’? Untuk menjawab itu, sisi genuitas perlu dicermati. Benny Arnas, secara sederhana, menyebut genuitas adalah sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, di tempat lain. Hemat saya, Gegge berhasil mengeksplorasi eksistensiTolotang sehingga ‘lokalitas’ dan ‘cerita’ menjadi satu kesatuan yang unik.Tolotang adalah genuitas dari novel Gegge.

Meski (sekali lagi) kegenitan novel “Lontara Rindu” yang berkeringat untuk ‘membugiskan’ sesuatu cukup membuat novel ini terasa kurang sempurna. Meski (sekali lagi) terdapat logika cerita yang kurang bisa diterima. Meski demikian, novel ini amat mencerahkan, membuka wawasan dan kewaspadaan.

Yogyakarta, 2012

Judul: Lontara Rindu
Penulis: S. Gegge Mappangewa
Penerbit: Republika
Halaman:  viii + 342 Halaman
Cetakan: Pertama, 2012


Rabu, 14 Maret 2012

Sang Penerjemah

Resensi Wildan Nugraha  (Koran Tempo, Minggu, 29 Januari 2012)  

Kisah cinta dalam novel ini adalah jalan masuk menuju dialog spiritualisme.

Sammar seorang penerjemah berkebangsaan Sudan, Afrika Utara, di Universitas Aberdeen, Skotlandia. Dia bekerja menerjemahkan naskah Arab ke bahasa Inggris untuk Rae Isles, sarjana Barat yang mengkaji dunia Islam dan Timur Tengah. Dalam novel Sang Penerjemah, Leila Aboulela merepresentasikan Rae sebagai seorang ahli—pendapatnya tentang Timur Tengah ditunggu-tunggu media massa; dan bukunya, The Illusion of an Islamic Threat, mendapat respons positif. Beberapa kali Sammar merasa Rae mengajarkan hal-hal tentang Islam yang dia tidak tahu.

Tapi sudut pandang Rae dan Sammar yang muslimah taat itu berbeda terhadap teks agama (Al-Quran dan hadis Nabi). Perbedaan sudut pandang inilah yang membuat novel ini bergerak menjadi menarik. Bagi Sammar, pemahaman atas teks suci tidak bisa dipisahkan dari keterlibatan dengan subyek teks itu sendiri. Namun tidak demikian bagi Rae. “(Sarjana Barat) bisa saja mempelajari segala macam teks suci dan tetap menjaga jarak,” kata Yasmin, sekretaris Rae, tentang bosnya itu.

Sikap menjaga jarak dan obyektif tersebut merupakan ukuran “baik” sarjana Barat. Rae sendiri berkata kepada Sammar, “Aku percaya sebisaku, aku merasa berutang pada suatu tempat dan orang-orang yang punya makna mendalam bagiku, aku ingin tetap obyektif, menjaga jarak. Di tengah semua prasangka dan kemunafikan, aku ingin menjadi salah satu dari sedikit orang yang mengatakan apa yang benar dan masuk akal.”

Namun interaksi dan kedekatannya dengan Sammar membuat Rae harus membongkar keyakinannya itu. Kehadiran Sammar mengisi kekosongan spiritual Rae bisa dilihat sebagai bentuk perjumpaan antara Barat dan Timur, antara cinta dan iman. Rae akhirnya memilih memeluk Islam. Dia sadar bahwa setiap orang pada dasarnya mempunyai dimensi keagamaan, sesuatu yang menurut Sammar “sangat berat dan lembut” yang dimiliki Rae.

Ini, tentu saja, bukan novel dakwah Islam. Kisah dalam novel ini hanya dipakai penulisnya untuk menjelaskan lebih jauh tentang agama yang banyak disalahpahami di negara-negara Barat ini. Ada hal-hal spiritualisme yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. “Aku menyadari akhirnya, bahwa ini tidak ada hubungannya dengan berapa banyak yang telah kubaca atau berapa banyak fakta yang telah kupelajari tentang Islam. Pengetahuan itu penting, itu benar. Tapi iman, itu datang langsung dari Allah,” kata Rae.

Keputusan Rae yang duda untuk berpindah keyakinan tidak bisa dilepaskan dari hasratnya untuk bisa menikah dengan Sammar, yang janda beranak satu. Saat Sammar meninggalkannya, Rae merasa kehilangan keseimbangan: “Waktu kau pergi, kupikir ini bukan merupakan pendorong yang bisa membuatku menjadi mualaf, tidak akan bisa. Dan aku merasa sakit, pergi ke sana-kemari, kehilangan keseimbangan.”

Sang Penerjemah memang merupakan novel cinta, tapi tema ini oleh Aboulela—dengan halus dan puitis—tidak dilepaskan dari persoalan keimanan. J.M. Coetzee, Nobelis Sastra 2003, mengomentari novel ini: “Cerita tentang cinta dan iman yang menjadi kian menyentuh oleh penyampaiannya yang halus.”

Sebagai kisah cinta, Sang Penerjemah membelot dari beberapa konvensi narasi percintaan yang berkembang dalam sastra Barat—terutama mengingat novel ini ditulis dan terbit pertama kali dalam bahasa Inggris pada 1999. Dalam Sang Penerjemah, menurut kritikus John A. Stotesbury, “(Narasi) percintaan heteroseksual dipenuhi bukan lewat negosiasi dengan hasrat pasangan semata, melainkan dengan mengakomodasi keterlibatan yang kompleks di antara tiga pihak, yakni perempuan, laki-laki, dan Tuhan.”

Judul: Sang Penerjemah
Penulis: Leila Aboulela
Penerjemah: Rahmani Astuti
Cetakan: I, Oktober 2011
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 272 halaman
ISBN: 978-979-22-7586-5

Selasa, 07 Februari 2012

Memahami si Maya yang Seksi

Memahami si Maya yang Seksi

Resensi 
Muhammad Rasyid Ridho (Koran Jakarta, 7 Februari 2012)



Anda mungkin merasa janggal dengan judul tulisan saya ini, mungkin sebagian anda pun akan mengira bahwa saya akan membahas artis yang populer saat ini. Tapi, bukan itu yang saya maksud. Maya di sini adalah dunia maya, internet. Judul ini pun menyadur tulisan Arief Hidayatullah, si maya nan seksi. Yang tergabung dalam buku, Internet Menuju Cyber Village. 


Sebuah buku antologi bertemakan internet karya beberapa mahasiswa dan dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang yang tergabung dalam Journalistic Club. Dalam tulisan pembuka, Arif Hidayatullah memulai buku ini dengan beberapa riwayat internet sebelum menjadi seperti saat ini. 


Internet adalah interconnected-networking, yakni sistem global dari seluruh jaringan computer yang saling terhubung satu sama lain dengan menggunakan standar Internet Protocol Suite (TCP) untuk melayani miliaran pengguna di seluruh dunia. Dunia dijalin satu sama lain menjadi ruang yang tidak lebih besar dari layar berukuran 17 inchi. 


Kemudian dia mengatakan pula, bahwasanya internet sejarahnya lahirnya adalah dari rahim militer. Yang dimulai pada tahun 1969 ketika itu Departemen Pertahanan Amerika, U.S. Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) memutuskan untuk mengadakan riset bagaimana cara menghubungkan sejumlah computer sehingga membentuk jaringan organik. 


Bertahun terus berkembang, sampai pada tahun 1990, tahun di mana paling bersejarah ketika Tim Benners Lee menemukan program editor dan browser yang bisa menjelajah antara satu komputer dengan komputer lainnya, yang membentuk jaringan itu. 


Program itu disebut World Wide Web (WWW). Setelah menerangkan bagaimana sejarah internet, penulis dalam buku ini juga menuliskan tentang adidaya internet. Seperti Nurudin yang menuliskan fenomena twitter, facebook dan berbagai jejaring sosial lainnya. Yang mampu menjadi sarana kemenangan bagi masyarakat timur tengah, seperti Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, yang bergejolak menginginkan revolusi. 


Kemenangan revolusi mereka tak terlepas dari andil jejaring sosial yang mampu dijadikan sarana oleh masyarakat yang memperjuangkan revolusi waktu itu. Baik untuk koordinasi, maupun memprovokasi masyarakat lainnya agar juga menginginkan revolusi juga. Fenomena lain yaitu kekuatan youtube yang mampu mengorbitkan orang biasa jadi orang terkenal (artis). Bagaimana Justien Beiber meledakkan pasar industri musik dunia, karena dia meng-uploud, video ketika dia menyanyi di youtube. 


Contoh lain yang tak perlu jauh-jauh dari negeri barat, di Indonesia pun banyak artis-artis youtube, Sinta-Jojo dengan lip sinc keong racun, Bona Paputungan, Udin Sedunia, Briptu Norman Kamaru dan terbaru ustadz M Nur Maulana. Anehnya, tak hanya artis yang diproduksi youtube, tetapi juga ustadz. Mungkin, lebih tepatnya ustadztainment, ustadz yang lebih banyak nilai menghibur daripada pesan yang disampaikan. 


Selain itu, di chapter terakhir, Sugeng Winarno menulis tentang sisi lain dunia cyber. Suatu hal dalam internet yang sudah menjadi rahasia umum, cyberpo-rn adalah sisi lain yang utama dalam internet. Ini menjadi sisi negatif internet dari berbagai sisi positifnya, dan ini sangat mengkhwatirkan. Terbukti, survey yang pernah dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak (KPA) terhadap 4.500 siswa di 12 kota besar di Indonesia menunjukkan data bahwa 97 persen dari responden pelajar SMP dan SMA pernah mengakses situs por-no. Dan itu tak mengherankan bagaimana sudah tersebar banyak videovideo po-rno yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur. 


Mengerikan. Penulis lain, Ditalia juga sempat melakukan observasi di lapangan bagaimana facebook, menjadi sarana interaksi remaja-remaja di bawah umur melakukan s-ex bebas. Teknologi selalu memiliki dua sisi mata uang, kebaikan atau keburukan. Tak terkecuali internet, jika tidak kita gunakan untuk kebaikan maka potensi keburukannya akan menjadi dominasi. 


Buku ini sangat memberi pemahaman baru tentang perspektif baru internet, dan mencoba memberikan penyadaran dasar serta jauh ke depan bagi para pembacanya. Dari maya yang seksi, karena kita harus berhati-hati serta awas memakainya, agar tak tergenlicir pada keseksiannya fana. 



Judul : Internet Menuju Cyber Village
Penulis : Arief Hidayatullah, dkk.
Penerbit : Leutika Prio
Tahun Terbit : Juni, 2011
Tebal : 80 hal




Selasa, 20 Desember 2011

Semangat Hidup Berawal dari Keanehan

Semangat Hidup Berawal dari Keanehan

Ratno Fadillah
(Lampung Post, Minggu, 21 Agustus 2011)

SEBUAH kisah bisa lahir dari keganjilan. Tokoh-tokoh bisa saling bertemu tanpa perlu riwayat hubungan sosial yang panjang. Logika cerita bisa dibuat tanpa rumusan yang rumit. Begitulah prosa berjudul Madre ini dibangun. Ya, membaca Madre kita seperti dibisikkan bahwa terkadang semangat hidup itu berawal dari keanehan.

Kisah Madre berawal dari warisan yang diberikan kepada Tansen, seorang anak muda bohemian yang menerima sebuah adonan biang roti yang dinamakan Madre. Warisan ini ia terima tiba-tiba tanpa terlebih dahulu ia tahu siapa pemberinya. Awalnya ia tak percaya sama sekali, bahkan sempat menganggapnya sebagai lelucon terbesar dalam hidupnya, sehingga ia tidak memedulikan warisan yang sangat berharga itu. Namun, penjelasan Pak Hadi, orang yang menyimpan teguh warisan untuk Tansen itu, telah menyadarkan Tansen bahwa ini adalah takdir Tuhan yang harus diterimanya.

Sekejap hidup Tansen pun berubah. Ia harus meninggalkan kehidupannya yang senantiasa dianggapnya sebagai surga. Ia harus meninggalkan Bali. Ia harus kehilangan kebebasan hidup. Ia harus tinggal di Jakarta, kota yang sungguh tidak ia sukai. Dan tentunya kini ia harus menjalani bisnis yang telah diwariskan kedua orang tuanya.

Sebagai prosa, Madre begitu lugas, lincah, dan ringan. Membuat pembacanya senantiasa tak perlu berkerut kening untuk merangkai logika cerita dan menyelami karakter tokoh-tokohnya. Namun, bukan berarti prosa ini tidak memikat dan tidak menyihir. Bila kita menemukan gagasan dalam prosa ini, seluruh intrinsik yang tersaji dan dianggap ngegampangintersebut akan menjadi termaafkan.

Gagasan dalam prosa ini memang cukup besar. Madre ingin menyampaikan tentang bagaimana semestinya seorang anak muda menerima warisan kultural dari nenek moyangnya, meskipun warisan itu sama sekali asing dan enggak gue banget. Dengan Madre, anak muda terkini seolah diingatkan bahwa warisan kultural tidak selalu kuno, tidak kontekstual, dan tidak mempunyai masa depan. Warisan kultural harus diterima, dan ia akan menjadi berharga bila kita menyikapinya dengan jernih dan optimistis.

Selain itu, Madre juga hendak menyampaikan arti penting dari passion dalam pekerjaan seseorang. Passion yang tumbuh dalam diri seseorang akan membawa pada kecintaan seseorang terhadap pekerjaannya, dan ini adalah the power of natural spirit yang kelak akan membuat seseorang berhasil dalam kariernya. Berbagai kendala dan ujian yang terbentang di hadapan seseorang, tak akan membuatnya menyerah dan kecil hati. Karena ia bekerja bukan semata untuk penghasilan yang tinggi atau sebab materi lainnya, melainkan karena ia ingin terus menyinari lentera jiwanya.

Pemahaman arti penting passion ini dapat kita cermati dari tokoh Pak Hadi, yang hidupnya habis bergelut dengan adonan roti. Dengan bercermin kepada Pak Hadi, kita diberi pemahaman bahwa kekuatan passion yang ada di dalam diri seseorang akan memunculkan energi positif hingga mampu membentuk lingkungan kerja yang optimistis.

Selain tema yang diangkat tema yang tidak biasa, nilai-nilai inspirasi seperti yang disebutkan di atas adalah poin yang senantiasa memberi kesan mendalam bagi pembaca Madre. Bukan mustahil, novel pendek ini akan mampu menggerakkan pembacanya dalam menemukan jati diri.

Sungguh, meskipun novel ini hanya setebal 72 halaman, ia telah mampu menyajikan gagasan dan pesan penting untuk anak muda Indonesia hari ini. Dan barangkali karena penulis cenderung hanya ingin menyampaikan semangat inspiratif itu, penulis jadi abai untuk membangun jalinan kisah tokoh-tokoh dalam novelnya ini menjadi lebih sempurna. Hingga rasanya novel ini hanya menampilkan satu fragmen. Beberapa jalinan kisah masih berpotensi untuk dilanjutkan.

Seperti yang dituliskan Tansen dalam blogpribadinya dan belum sempat ia terbitkan:

"... Keluarga ini bernama Tansen de Bakker yang artinya Tansen si pembuat roti. Ya, sekarang nama saya bukan nama satu orang, melainkan enam. Dan seorang peri senantiasa berdiri di sebelah kami. Ia bernama...."

Tulisan tokoh utama dalam novel ini seperti menyiratkan bahwa novel ini belumlah selesai. Benar, peluang kisah Madre ini terajut lebih panjang sangatlah besar. Toko roti bernama Tansen de Bakker belum dituturkan kisahnya. Perjalanan Tansen bersama Mei dan kawan-kawan Pak Hadi yang jompo itu dalam membangun Tansen de Bakker tentu akan menjadi kisah yang menarik dan penuh kejutan.

Bagaimana dengan perubahan karakter yang dialami Tansen sendiri, dari seorang pemuda bohemian yang tak mengenal perencanaan dan tenggat waktu, menjadi seorang pebisnis muda yang harus disiplin, mampu membaca peluang bisnis, dan harus memperhitungkan risiko. Kisah ini juga tentu memiliki daya pikat yang patut disempurnakan.

Lalu, kisah manis yang senantiasa akan ditunggu dari novel Madre ini tentu adalah sensasi romantis yang mungkin terjadi antara Tansen dan Mei. Benarkah keduanya akan menjadi sepasang kekasih, atau justru hubungan keduanya hanya sebatas sebagai rekan bisnis. Entahlah.

Sungguh, jalinan kisah dalam novel pendek ini menuntut penyempurnaan. Dan pihak yang mampu menjawab semua itu tentu saja hanya penulisnya. Benarkah Madre adalah unfinished novel?

Judul : Madre
Penulis : Dewi "DEE" Lestari
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbit : Juli 2011
Tebal : XIV + 120 halaman