Dewi karya Yus R. Ismail Komidi Putar karya Gegge S. Mappangewa Pertarungan karya Benny Arnas Kacamata karya Noor H. Dee Debu-Debu Tuhan
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juni 2012

Dari Masjid ke Masjid di Hongkong

Dari Masjid ke Masjid di Hongkong

Oleh Rahmadiyanti Rusdi (Majalah Ummi, Juni 2012)


Koleksi Rahmadiyanti Rusdi



Belanja dan bermain di Disneyland mungkin jadi agenda utama wisatawan Indonesia yang berkunjung di Hong Kong. Namun bagi saya, masjid-masjid di Hong Kong lebih menarik untuk dijejaki.

Dari sebuah kartu lebaran
Berawal dari sebuah kartu lebaran yang dikirim oleh seorang sahabat pegiat FLP (Forum Lingkar Pena) Hong Kong bertahun lalu.  Sederhana saja gambar yang ada di kartu tersebut; sebuah masjid dengan kubah besar. Tapi karena masjid tersebut terletak di Hong Kong, negeri minoritas muslim, maka jadi begitu istimewa bagi saya—yang tak menyangka ada masjid sebesar itu di sana. Saya pun ber-azzam, bila suatu hari mendapat kesempatan berkunjung ke Hong Kong, saya akan datang ke masjid yang gambarnya tertera di kartu tersebut.
Kesempatan itu pun datang. Tabungan cukup, saya pun membeli tiket Jakarta-Macau-Hong Kong-Jakarta. Awalnya saya hanya berniat ke Masjid Kowloon, masjid yang ada di kartu lebaran tersebut. Namun siapa sangka, Hong Kong memiliki 5 masjid besar. Alhamdulillah, seharian saya bisa mengunjungi 4 dari 5 masjid tersebut, sambil mengunjungi objek-objek wisata terkenal di Hong Kong.

Masjid Ammar & Osman Ramju Sadick Islamic Centre
Pagi-pagi sekali, saya janjian dengan Chalim di depan Konsulat Jenderal RI di Wan Chai, Causeway Bay. Chalim adalah pekerja migran yang telah 8 tahun bekerja di Hong Kong. Saat itu Chalim cukup punya waktu luang karena sedang menunggu kontrak kerja baru.  Dengan Chalim lah saya menapaki satu demi satu masjid di Hong Kong.
Tujuan pertama kami adalah Masjid Ammar & Osman Ramju Sadick Islamic Centre. Dari jalan dekat Konjen RI kami naik trem menuju Oi Kwan Road, Wan Chai, lokasi masjid ini. Trem adalah angkutan publik yang paling saya suka selama di Hong Kong. Murah dan seperti tertarik ke masa lalu. Jauh dekat hanya 2,3 dolar (sekitar Rp2500).  Untuk anak-anak 1,2 dolar dan kalau Anda lansia cukup bayar 1 dolar saja. Kita dapat membayar dengan uang pas atau menggunakan octopus card.
Lima belas menit perjalanan, kami sampai. Seorang pria berkopiah putih dan berjanggut lebat menyambut kami dengan ramah. Saya minta izin untuk melihat-lihat. Sebuah poster besar dengan foto-foto masjid dari seluruh dunia menyapa saya tak jauh dari pintu masuk. Masjid Ammar & Osman Ramju Sadick Islamic Centre dibuka sejak tahun 1981. Daya tampungnya cukup besar, sekitar 700 jamaah. Karena masih pagi, suasana terasa sepi. Saya dan Chalim naik ke lantai dua, tempat shalat wanita. Bersih…. Lantai berkarpet hijau lumut membuat kaki saya terasa hangat. Rak-rak buku pendek terletak di sudut masjid. Juga meja-meja kecil untuk anak-anak mengaji. Suasana sunyi membuat saya tepekur sejenak, berucap hamdalah dan tasbih.
Setelah tiga puluh menit, saya dan Chalim beranjak. Kembali dengan trem, kami menuju kawasan Central. Di kawasan inilah terletak Jamiah Masjid, atau dikenal juga dengan Masjid Shelley Street. Namun sebelumnya kami ke Victoria Peak terlebih dahulu. Victoria Peak atau The Peak adalah objek wisata terkenal di Hong Kong. Bisa dibilang, tidak ada wisatawan yang tidak ke The Peak  saat berada di Hong Kong. Untuk mencapai The Peak, kita dapat naik bus atau trem khusus. Tentu, saya memilih naik trem. Tiket pp trem khusus ke The Peak sebesar 40 dolar. Dari The Peak, kita dapat melihat Hong Kong dari atas. Sangat menawan. Saya tak jemu memandang gedung-gedung jangkung Hong Kong di bawah sana dengan latar belakang bukit dan gunung.

Jamiah Masjid (Masjid Shelley Street)
Dari The Peak kami turun kembali ke kawasan Central. Di The Peak Tram, stasiun untuk naik trem ke The Peak, antrean orang sudah mengular. Bersyukur juga kami ke The Peak pagi-pagi, karena tak perlu antre. Saya dan Chalim bergegas menuju Jamiah Masjid, tujuan masjid kedua. Kali ini perjalanan tambah menarik, sebab untuk menuju masjid tertua di Hong Kong tersebut, kami melewati Mid Levels alias eskalator (tangga jalan) terpanjang di Hong Kong—menurut beberapa sumber bahkan merupakan eskalator terpanjang di dunia. Diapit gedung dan bangunan, panjang eskalator tersebut sekitar 800 meter. Bila kita naik eskalator ini dari titik awal hingga ujung, maka waktu yang diperlukan sekitar 25 menit.
Jamiah Masjid terletak di Shelley Street, tak jauh dari Mid Levels. Dibangun tahun 1849, masjid ini termasuk dalam daftar bangunan bersejarah di Hong Kong yang harus dilestarikan. Dengan cat berwarna hijau dan pohon-pohon besar di sekitarnya, saya langsung “nyeeesss” saat memasuki masjid ini. Adem. Beberapa pria berwajah Timur Tengah tersenyum. “Do you want to pray, Sis?” tanya salah satu dari mereka ramah. Saya mengangguk. Sudah masuk waktu zuhur. Pria tersebut kemudian menunjukkan tempat shalat untuk muslimah dan menyalakan kipas angin.
Cukup lama saya menikmati suasana sejuk di masjid ini selepas zuhur, sambil meringankan kaki. Saya mengamati sekitar masjid. Agak sulit mengambil gambar masjid ini secara keseluruhan, karena letaknya yang diapit gedung dan bangunan. Desain masjid ini memang terlihat “old”. Sebuah menara tak terlalu tinggi dengan kubah bulat, khas masjid Timur Tengah. Setelah jepret sana-sini, kami kembali beranjak. Tujuan berikutnya adalah Masjid Stanley, yang terletak agak di luar kota.

Masjid Stanley
Kami naik bus berukuran sedang dengan tarif 9 dolar. Waktu tempuh perjalanan dari kawasan Central ke Stanley di bagian tenggara hampir satu jam. Stanley adalah kawasan pantai di Pulau Hong Kong. Masjid ini terletak tak jauh dari Penjara Stanley. Memasuki jalan kecil Tung Tau Wan sekitar 30 meter, langsung terlihat bangunan berwarna kuning tua. Jalan yang menurun membuat masjid terlihat jelas dari atas. Di sekitarnya terdapat beberapa apartemen.
Dengan antusias saya setengah berlari menuju masjid. Masjid yang cantik dan unik. Saya dan Chalim kemudian duduk di pagar pendek dekat masjid. Bekal makan siang kami belum tersentuh sejak dari Jamiah Masjid. Masjid tampak sepi, mungkin karena telah lewat waktu shalat. Beberapa pria berkopiah dan wanita berhijab tampak di sekitar apartemen. Seorang pria berwajah Arab menunjuk pantai tak jauh dari masjid. “That’s a beach, Sis. It’s quite beautiful. Go there…” katanya.  Setelah merapikan bekas makan siang, kami pun beranjak ke pantai yang ditunjukkan oleh bapak tersebut. Betul, pantai tersebut cukup indah. Bersih dengan air laut yang bening.
Sekitar satu setengah jam berkeliling masjid dan menikmati suasana pantai, kami bergegas menuju halte bus. Hari semakin sore, dan masih ada satu masjid tujuan saya. Masjid yang ada di kartu pos kiriman teman saya. Masjid Kowloon….

Masjid dan Islamic Centre Kowloon
 Masjid Kowloon adalah satu-satunya masjid yang terletak di Semenanjung Kowloon. Tepatnya di Nathan Road. Ya, nama jalan ini juga sangat terkenal. Salah satu pusat keramaian—sangat ramai—di Hong Kong. Sekitar 300 meter berjalan dari stasiun MTR Tsim Tsa Shui, melewati pertokoan-pertokoan mewah, sampailah saya di masjid yang saya impikan untuk saya jejaki sejak bertahun lalu. Di sekitar masjid banyak pria berwajah Timur Tengah menawarkan kami untuk makan malam . “Halal, Sister, halal.” Saya hanya tersenyum. Untuk mencari makanan halal di sekitar Masjid Kowloon memang sangat mudah.
Senja makin turun, beberapa orang—seperti kami—juga bergegas ke masjid yang dibangun tahun 1896 itu. Magrib menjelang. Anak-anak kecil tampak bermain di tangga masjid. Tak lama azan bergema. Saya langsung menuju ruang shalat muslimah. Saya cukup kaget dengan ruang shalat muslimah yang kecil untuk ukuran masjid terbesar di Hong Kong dengan kapasitas 2.000 jamaah. Tapi, syukur tentu lebih harus panjatkan.
Selesai shalat magrib berjamaah, saya mencari angle untuk memotret masjid ini. Tapi… cukup sulit mencari angle yang pas. Dari beberapa foto di internet, untuk mengambil gambar masjid terlihat secara keseluruhan sepertinya memang harus dari atas. Mungkin dari gedung tinggi di sekitarnya atau dari sudut lain. Karena menjelang malam, saya hanya dapat mengambil gambar dari seberang jalan. Beberapa jepretan mengakhiri perjalanan saya menjejak masjid-masjid di Hong Kong. Sebenarnya ada satu lagi masjid yang cukup besar, yakni Masjid Chai Wan yang terletak di Cape Collision, Chai Wan. Sayang, waktu tak memungkinkan saya berkunjung ke masjid yang juga satu lokasi dengan pekuburan muslim tersebut. Mungkin suatu hari nanti, insya Allah…. 

Alamat masjid-masjid di Hong Kong:
  • Masjid Ammar & Osman Ramju Sadick Islamic Centre: 40 Oi Kwan Road, Wan Chai, Hong Kong.
  •  Jamiah Masjid (Shelley Street Mosque): 30 Shelley Street, Central, Hong Kong.
  • Kowloon Mosque and Islamic Centre: 105 Nathan Road, TST (Tsim Sha Tsui), Kowloon.
  • Masjid Stanley:  Tung Tau Wan Road, Stanley Prison, Stanley, Hong Kong



Selasa, 24 Januari 2012

Sri Lanka

Sri Lanka

Oleh Rahmadiyanti Rusdi (Majalah Ummi, edisi spesial 2012)

Koleksi Rahmadiyanti Rusdi

Alam yang cantik, penduduk yang ramah dan hangat, peraturan merokok yang sangat ketat, dan konon, ada riwayat menyebutkan bahwa Adam dan Hawa diturunkan dari surga ke sebuah gunung yang terletak di negeri ini. Perpaduan yang menarik.

Senyum di Mana-mana
Tiket pesawat yang lumayan murah! Itu yang membuat saya dan seorang teman melakukan perjalanan ke negeri Ceylon atau Serendip, atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama SRI LANKA. Bahkan kami pun baru browsing tentang Sri Lanka dan memesan penginapan beberapa hari sebelum keberangkatan, meski tiket sudah di tangan sekian bulan sebelumnya. Banyak teman yang berkomentar kami cukup nekat untuk traveling ke Sri Lanka. ”Bukannya di sana masih perang?”, ”Nggak takut sama Macan Tamil?”, “Memangnya ada yang dilihat di sana?”, begitu beberapa komentar iseng. Ternyata, bukan sekadar alam yang cukup indah dan menarik, keramahan orang Sri Lanka juga begitu membekas di hati kami.
Keramahan tersebut sebenarnya sudah terdeteksi saat saya mengirim e-mail ke pengelola sebuah guest house di Kandy, salah satu kota yang akan kami kunjungi. Bukan sekadar balasan yang ramah, tiba-tiba dia menelepon langsung, bukan dari Sri Lanka tapi dari Perancis! Karena dia mengaku sedang ada urusan di sana. Dengan sangat welcome, Malik, pria Muslim berusia 50 tahun tersebut mengucapkan selamat datang dan minta maaf saat kami di sana dia masih ada di Perancis. Namun dia sudah berpesan kepada pelayan di guest housenya untuk melayani kami sebaik-baiknya selama kami mengunjungi Kandy. Padahal kami hanya menginap semalam di Kandy.
Keramahan berikutnya menyapa saat baru sekian meter kami keluar dari pintu pesawat di Bandara Internasional Bandaranaike. Beberapa tentara yang menyandang senapan nampak berjaga-jaga, tapi tetap melempar senyum kepada para penumpang. Meski pada tahun 2002 pemerintah dan Gerakan Pembebasan Macan Tamil (LTTE/Liberation Tiger Tamil Eelam) menandatangani gencatan senjata setelah 20 tahun perang sipil, kehadiran tentara di berbagai sudut jalan dan banyaknya security check point sepertinya menandakan kehati-hatian pemerintah terhadap kondisi keamanan Sri Lanka.
Selain tentara, poster-poster besar dan billboard bergambar wajah pria berkumis tersenyum lebar menyambut kami di sekitar bandara, juga di berbagai sudut jalan. Mahinda Rajapaksa, pria berkumis tersebut adalah presiden Sri Lanka, yang pada Januari 2010 lalu kembali terpilih sebagai presiden Sri Lanka dengan perolehan suara 57,8%. Sempat terjadi friksi antara Rajapaksa dan Jenderal Sarath Fonseka, kandidat presiden yang kalah dalam pemilihan. Fonseka dituduh mengumpulkan tokoh-tokoh militer desersi untuk melakukan kudeta kepada Rajapaksa.
Selanjutnya di imigrasi kami kami mendapat ”keramahan” lain. Uang 25 dolar yang sudah kami siapkan untuk visa on arrival (VOA) tak terpakai. Petugas imigrasi sambil tersenyum mengecap paspor tanpa meminta kami membayar VOA. Entah, kami juga sedikit bingung—meski senang, karena dari informasi yang kami cari, warga Indonesia masih dikenakan VOA untuk berkunjung ke Sri Lanka. Beberapa waktu lalu seorang teman yang berkunjung ke Sri Lanka juga melenggang masuk tanpa dikenakan VOA. Jadi, sepertinya informasi tentang VOA bagi warga Indonesia yang hendak ke Sri Lanka harus di-update. Sama seperti negara Asia Tenggara lainnya (kecuali Laos dan Kamboja), warga Indonesia bebas mengunjungi Sri Lanka selama 30 hari, tanpa VOA.

Islam dan Buddha
Berbicara tentang negeri pulau yang berbentuk seperti mangga ini, maka kita berbicara tentang negeri yang sedang membangun. Ekonominya mulai menggeliat. Begitu juga pariwisatanya. Saat merancang itinerary selama lima hari di sana, kami mendapat banyak pilihan tempat untuk dikunjungi. Ternyata, Sri Lanka memiliki banyak tempat menarik. Lengkap! Dari pantai-pantai hingga pegunungan dengan hutan dan taman nasional. Ada peninggalan kerajaan Buddhist di Anuradhapura dan Pollonaruwa. Pegunungan indah di Naruwa Eliya (Sri Lanka adalah penghasil teh nomor satu di dunia!), botanical garden dan lembah sejuk di Kandy, pantai indah di Galle,Unawatuna, dan Mirissa. Jejak-jejak peninggalan kolonial Portugis, Inggris, dan Belanda di Colombo dan Galle, hingga taman nasional di Yala, Uda Walawe, Bundala, Lahugala, dan masih banyak lagi.
Namun karena waktu yang singkat, saya dan teman hanya dapat berkunjung ke Kandy, Sigiriya, dan Colombo. Dua tempat, Kandy dan Sigiriya, adalah kota yang terdaftar dalam UNESCO World Heritage City. Dalam traveling, saya memang senang mengunjungi tempat yang termasuk daftar Warisan Dunia-nya UNESCO.
            Kandy adalah kota yang terletak di bagian tengah Sri Lanka. Suasana kota ini mengingatkan saya pada kota Bogor. Udaranya sejuk, karena Kandy terletak di daerah perbukitan. Di kota inilah terletak The Temple the of Tooth, alias Kuil Gigi Buddha, yang menjadi salah satu tujuan utama para turis. Gigi Buddha? Alkisah, saat wafat, Buddha Sidharta Gautama dikremasi di Kusinara, India, tapi seorang murid Buddha yang bernama Khema menyelamatkan salah satu gigi Buddha. Khema kemudian menyerahkan gigi tersebut kepada Raja Brahmadette. Dari situ berkembang kepercayaan bahwa siapa yang dapat memiliki gigi tersebut, akan menjadi penguasa di wilayahnya. Gigi tersebut pun berpindah dari satu penguasa ke penguasa lain, hingga akhirnya Kandy menjadi tempat terakhir ”sang gigi”.
            The Temple of the Tooth terletak berdampingan dengan Danau Kandy yang sejuk.  Sayangnya ada peraturan tidak boleh menggunakan alas kaki dan penutup kepala bila ingin memasuki kuil tersebut. Dan jilbab dianggap sebagai penutup kepala, sehingga kami harus menanggalkan jilbab bila ingin masuk ke dalam kuil. Hah? Nehi la yauww! Kami pun hanya berkeliling di sekitar kuil dan danau. Hampir setiap orang yang kami temui tersenyum, bahkan menyapa kami lebih dulu. Kami melihat keramahan tersebut bukan sekadar karena kami pengunjung dari negara lain, tapi karena orang-orang Sri Lanka memang berkarakter hangat.
            Hampir 70% penduduk Sri Lanka beragama Buddha, 15% Hindu, dan Kristen serta Islam masing-masing 8%. Namun, hampir di setiap sudut kota Kandy kami menemukan banyak sekali muslim dan muslimah. Tentu kami mengenali dari busana yang dikenakan dan sapaan ”Assalamu’alaikum” dari mereka. Ternyata, Kandy adalah kota dengan komunitas Muslim terbesar di Sri Lanka. Meski tetap, penganut Buddha lebih banyak. Di Kandy juga kami merasakan aura kehangatan antar penganut agama yang berbeda. Ketika kami melewati sebuah kuil cantik dan ingin masuk ke dalam tapi agak ragu, seorang ibu yang akan beribadah di kuil tersebut dengan ramah mnyuruh kami masuk untuk melihat. Di dalam seorang laki-laki tua yang nampaknya pendeta menghampiri dan bertanya dari mana kami berasal. Ketika kami menyebut Indonesia, laki-laki tersebut langsung berkata bahwa ia pernah datang ke Indonesia. Kemudian kami berbincang, dan dari perbincangan tersebut dia menyebutkan bahwa penganut Buddha sangat menghormati kaum Muslim. Dan memang, jarang sekali terdengar konflik antara kaum Muslim dengan penganut agama lain di Sri Lanka.     
Dari Kandy kami ke Sigiriya Rock, sebuah gunung batu. Cukup dahsyat memang situs ini. Menurut sejarah, situs ini dibangun oleh Raja Kassapa I pada tahun 477-495 Masehi. Berlokasi di wilaya Matale, Sigiriya Rock adalah salah satu dari tujuh World Heritage Site yang ada di Sri Lanka. Untuk sampai ke atas, kami harus menapak ratusan tangga, bahkan ribuan bila ingin sampai ke puncak batu yang berupa taman cantik. Di sekeliling Sigiriya Rock terdapat taman-taman dan pemandian, yang pernah digunakan oleh keluarga raja. 
Kota kunjungan kami berikutnya adalah Colombo, kota terbesar di Sri Lanka. Kondisinya mirip seperti Jakarta, dengan iklim yang agak panas. Kami hanya seharian di sini, menginap semalam tapi subuh harus kembali ke Indonesia. Jadilah kami manfaatkan untuk keliling. Ke Masjid jami Al-Alfar, yang arsitekturnya cukup unik, dengan warna merah putih. Mengingatkan pada bangunan gereja di Rusia. Kami juga sempat berkunjung ke sebuah pantai di pusat kota, yang banyak sekali pasangan bercengekerama di tengah hari panas. Haduh! Beberapa waktu lalu saya baca di koran, polisi Sri Lanka melakukan razia terhadap pasangan-pasangan yang bercengkerama di pantai. Bagus lah, biar pada tobat, hehe.
Ada satu situs yang tak kalah menarik, yaitu Adam’s Peak. Sebuah riwayat global menyebutkan bahwa setelah ”terusir” dari surga, Nabi Adam as diturunkan di sebuah gunung bernama Baudza si Semenanjung Serendip alias Sri Lanka. Adam’s Peak terletak di wilayah Ratnapura, wilayah pegunungan di tengah Sri Lanka. Sayang, kami tak sempat mengunjungi situs tersebut.

Hotel Mengenyangkan
Biasanya ketika traveling ke negara minoritas Muslim, salah satu kendala adalah makanan halal. Nah, di Sri Lanka tak perlu risau kesulitan mendapat makanan halal. Sebab, sebagian besar pengusaha restoran dan warung makan adalah Muslim. Di Kandy, Sigiriya, dan Colombo, kami begitu mudah mendapati warung atau restoran halal. Informasi ini kami dapatkan dari Uncle Mansoor dan keluarganya. Dia adalah paman Ihsan, seorang remaja yang diutus oleh brother Pious, teman dari teman, untuk menemani kami selama di Sri Lanka. Ini sebuah keramahan lain yang benar-benar tak bisa kami lupakan. Sebab, hingga sampai di Sri Lanka, kami sama sekali tak mendapat konfirmasi yang jelas. Sebelumnya saya memang sempat mengirim email kepada brother Pious, bertanya tentang tempat-tempat yang layak dikunjungi di Sri Lanka. Hanya sekali brother membalas e-mail meminta jadwal penerbangan kita. Tiba-tiba saja saat turun dari bus di terminal Katuyanake, tak jauh dari bandara, Ihsan menghampiri dan berkata bahwa ia diminta kakaknya untuk menjemput kami. Tidak hanya menjemput, selama 4 hari Ihsan menemani kami. Di akhir traveling, remaja berusia 19 tahun yang sangat fasih berbahasa Inggris tersebut mengaku bahwa menemani kami ke mana-mana (meski kami menolak karena merasa tak enak), sebab tak banyak muslimah yang melakukan backpacking seperti kami, sehingga dia dan kakaknya khwatir kepada kami, hahaha.
Oh ya, entah mengapa, restoran dan warung-warung makan di Sri Lanka disebut hotel. Awalnya kami sempat heran, kok banyak sekali hotel tapi tak terlihat seperti hotel. Di mana kamar-kamarnya? Ternyata memang begitu sebutan tempat makan di sana.

No Smoking!
Jangan coba-coba membawa rokok ke Sri Lanka! Bila negara-negara lain masih membolehkan, dari 100 hingga 500 batang per penumpang pesawat, maka Sri Lanka benar-benar melarang, tak boleh satu batang rokok pun! Dari informasi di buku panduan di pesawat, hanya ada dua negara yang melarang membawa masuk rokok, yaitu Singapura dan Sri Lanka.
Saya membuktikan sendiri betapa aturan ketat merokok benar-benar diterapkan dan ditaati oleh masyarakat Sri Lanka. Di bus-bus umum tak ada satu orang pun yang berani merokok. Bandingkan dengan di Indonesia. Meski aturan larangan merokok di angkutan umum sudah ada, tapi pelaksanaannya memble sekali. Dalam perjalanan dari Katuyanake ke Kandy dan Kandy ke Colombo misalnya, udara yang saya hirup benar-benar bebas rokok. Padahal bus yang saya tumpangi hanya bus ekonomi biasa, yang ongkosnya hanya 60 rupee (sekitar Rp8000,-) dengan jarak seperti Jakarta-Bandung. Apakah tak ada perokok di Sri Lanka? Tentu ada. Dalam perjalanan Katuyanake-Kandy misalnya, di tengah perjalanan bus berhenti, dan sopir serta beberapa penumpang laki-laki keluar. Agak menjauh dari bus, mereka kemudian mengeluarkan bungkusan rokok, dan ya... merokok. Setelah selesai (hanya sekitar 10 menit) semua naik kembali ke bus. Wah, salut juga. Larangan merokok di tempat-tempat umum pun begitu taat diterapkan. Ketika kami tanya Ihsan, mengapa mereka begitu taat, Ihsan hanya menjawab simpel, ”Because it’s not allowed, Sister.”

Serendipity
Ada satu kata dalam bahasa Inggris yang sampai sekarang sulit diterjemahkan dalam bahasa manapun, yaitu ”serendipity”. Kata ini masuk dalam jajaran top ten english words yang susah diterjemahkan. Makna sederhananya adalah”sebuah kebetulan”. Menemukan atau menjumpai sesuatu secara kebetulan ketika tengah mengincar yang lain. Dan ternyata, sesuatu yang dijumpai secara kebetulan tersebut seringkali lebih berharga daripada target sebelumnya. Nah, disinyalir kata serendipity berasal dari ”serendip”, sebuah istilah dalam bahasa Sansekerta (Sanskrit), ”swarna dhweep” atau ”swarna dwipa” yang berarti golden land (pulau emas). Istilah serendip pertama kali digunakan oleh pedagang Arab untuk menyebut Pulau Sri Lanka (Ceylon). Mereka bak menemukan mutiara di lautan. Bak menemukan pulau emas di tengah samudra, ketika menyinggahi Sri Lanka pertama kali.
Sepertinya itu yang kami alami dalam traveling ke Sri Lanka, ”hanya kebetulan” membeli tiket, tapi kami menemukan keramahan, kehangatan, dan juga alam yang cantik di Sri Lanka. [Dee]


Terima kasih buat Mas Heru informasi tentang kata ”serendipity” 

Sabtu, 24 Desember 2011

Jayapura, Kota Indah dan Unik yang "Memabukkan"

Jayapura, Kota Indah dan Unik yang "Memabukkan"

Oleh Rahmadiyanti Rusdi (Majalah Ummi, 2011)


Koleksi Rahmadianti Rusdi

Setelah transit dua kali, di Makassar dan Biak, serta menempuh perjalanan selama lebih dari tujuh jam, akhirnya menapak juga saya di ibukota provinsi paling timur Indonesia, Jayapura. Sebuah perjalanan yang begitu excited bagi saya, bahkan dibanding perjalanan-perjalanan ke daerah lain, luar negeri sekalipun. Sewaktu masih SD saya pernah membaca sebuah novelet di sebuah majalah wanita. Setting novelet tersebut di Papua (dulu masih Irian Jaya), dan sangat berkesan buat saya. Sejak itu saya bermimpi suatu hari kelak dapat mengunjungi Papua. Lebih dari dua puluh tahun kemudian, mimpi tersebut terwujud.

Balada Buah Pinang
“Dilarang Makan Buah Pinang!”. Tulisan tersebut menyambut saya saat tiba di Bandar Udara Sentani, kota Jayapura. Terpasang di dinding dan pilar berbagai sisi dan penjuru. Heran sekaligus tersenyum-senyum saya membacanya. Biasanya kan tulisan yang sering dipasang di tempat publik adalah “Dilarang Merokok”, lha kok jadi buah pinang? Kemudian saya perhatikan di lantai dan dinding bawah bandara banyak bercak-bercak merah, yang meski terlihat berusaha dibersihkan, tapi masih meninggalkan noda. Ow, sepertinya ini alasan pelarangan tersebut. Masih banyak warga Papua yang memiliki kebiasaan mengunyah buah pinang, seperti kebiasaan mengunyah sirih di Jawa. Sayangnya mereka sembarangan meludah kunyahan buah pinangnya, sehingga harus ada pelarangan. Sampai ada perda (peraturan daerah) lho yang mengatur soal “ludah” buah pinang ini. Wah!
Sambil menunggu bagasi, saya memperhatikan kondisi bandara. Sangat minimalis, maksudnya serba minimal kondisinya, hehe. Tak begitu besar dan sedikit kusam. Tak ada ban berjalan untuk bagasi. Koper dan tas diletakkan saja bertumpuk dan kita harus berebut menemukan bagasi milik kita. Agak miris juga, sebab ini adalah bandara di ibukota provinsi. Tapi rasa miris tersebut mengalahkan rasa excited saya.
Keluar dari bandara, beberapa rekan FLP (Forum Lingkar Pena) Papua telah menunggu saya. Alhamdulillah, saya dapat mengunjungi Papua karena undangan dari mereka, yang masya Allah… begitu semangat menyebar dakwah bil qalam di Papua. Mbak Henny, ketua FLP Papua, rutin mengontak saya dan menyatakan keinginannya  mendirikan FLP di Papua. Namun baru terwujud setelah 6 tahun mempersiapkan diri!

Mabuk
“Lho, lho… kok ngepot, dia mau nabrak mobil kita!” saya sedikit terpekik. Saat itu baru setengah jam kami keluar dari bandara, menuju hotel tempat saya menginap. Sebuah motor tampak berjalan zig-zag dan sedikit ngebut. Mbak Henny hanya tertawa. “Tenang, Mbak,” katanya, “Di sini biasa motor seperti itu. Kecelakaan paling banyak yang terjadi di sini, ya kecelakaan motor. Bahkan sering juga mereka masuk danau,” sambungnya sambil menunjuk Danau Sentani yang persis berada di pinggir jalan raya menuju kota.
Hah?! Saya sukses menggeleng-geleng. Mau tahu kenapa pengendara motor tersebut berjalan ngepot? M-a-b-u-k. Ya, kebiasaan mabuk adalah hal biasa bagi sebagian masyarakat Papua, terutama yang tinggal di perkotaan. Minum-minum, kemudian mengendarai motor. Lha, nggak heran jee, mereka sesukanya saja ngebut, menyalip, dan… nyemplung ke danau dengan sukses.
Selain pemandangan unik yang “memabukkan”, perjalanan dari Sentani menuju kota Jayapura sangat indah. Danau Sentani yang membujur dan diapit kiri-kanan bukit hijau begitu menenangkan. “Jangan berharap melihat penduduk memakai koteka di Jayapura sini, ya, Mbak,” seloroh Mbak Henny, keturunan Jawa tapi lahir dan besar di Papua. Kota Jayapura memang sudah modern. Tak sulit menemukan restoran fastfood dan makanan seperti KFC dan Dunkin Donuts. Kalau mau melihat penduduk berkoteka maka kita harus ke daerah pedalaman seperti Asmat misalnya.


Menyelinap di MacArthur
Teluk Youtefa dan Situs Tugu MacArthur bisa dibilang sebagai dua tempat yang wajib dikunjungi di Jayapura Terletak di Ifar Gunung, kurang lebih 40 menit perjalanan dari kota Jayapura, Tugu MacArthur adalah lokasi di mana pasukan sekutu Amerika di bawah pimpinan Jenderal MacArthur mendarat pertama kali di bumi Cendrawasih. Alkisah, pada 7 Desember 1941 Jepang memulai Perang Pasifik dengan menyerang Pearl Harbour di Hawaii. Pasukan Amerika melakukan perlawanan meski di bawah tekanan Jepang. Pada Maret 1942 Presiden Franklin D. Roosevelt memerintahkan MacArthur dan keluarganya menuju Australia. Untuk memutuskan jalur laut Australia, Jepang berusaha mengurung Irian, tapi gagal dan dapat dihentikan  pasukan Australia. Pasukan sekutu kemudian mengambil alih pertahanan dan memulai operasi militer yang panjang untuk mengusir Jepang dari Irian. Pada Februari 1943 Sekutu menang kendali atas Irian bagian tenggara. Mereka kemudian bergerak di sepanjang pantai utara Irian dan akhirnya membuat pertahanan di Jayapura.
Saat kami tiba di situs Tugu MacArthur, gerbang tugu belum dibuka. Ketika mencoba mengecek, tidak ada satu pun penjaga. Wah, padahal saya penasaran dengan tugu ini. Salah satu rekan mencoba mencari tahu, tapi dia malah menemukan celah di antara gerbang yang bisa dilalui, meski harus memepet ke dinding. Nakal sih, tapi masak kami harus balik tanpa sempat masuk ke situs? Jadilah satu persatu kami masuk dengan mengempiskan perut, hehe, karena celah tersebut benar-benar hanya cukup untuk satu orang berdiri miring. Dan… berhasil!
Pemandangan danau Sentani dengan bukit-bukit hijau benar-benar memikat dilihat dari Tugu MacArthur. Letak tugu yang cukup tinggi membuat mata saya benar-benar dimanjakan. Hamparan langit biru berpadu dengan awan putih. Sesekali terlihat pesawat take off dari Bandar Udara Sentani yang posisinya memang terlihat jelas dari tugu. Hmm, pantas MasArthur memilih tempat tersebut sebagai markas, karena dia dengan mudah dapat mendeteksi pergerakan musuh (baca: pasukan Jepang). Saat ini pun wilayah tersebut menjadi kompleks militer.
Dari Tugu MacArthur saya dan teman-teman bergerak menuju daerah Megapura Skyline. Dari lokasi ini kita dapat melihat Teluk Youtefa yang merupakan salah satu wilayah konservasi yang ada di kota Jayapura. Seperti halnya situs MacArthur, melihat Teluk Youtefa dari atas sangat memikat. Rasanya tak lepas mata memandang teluk dengan dua pulau kecil di sekitarnya, yakni pulau Tobati dan Engros.

Teluk, Bukit, Pantai, Sama Cantiknya
Dari Teluk Youtefa kami langsung meluncur ke kota Jayapura. Namun sebelum sampai di kota Jayapura, kami singgah di Polimak.Bukit yang dipenuhi pemancar berbagai stasiun televisi ini adalah tempat yang sangat strategis untuk memoto Jayapura dari atas. Kota Jayapura dengan Teluk Humbold terlihat begitu ganteng (bosan ah cantik melulu :D). Atap-atap rumah yang terbuat dari seng sesekali menyilaukan mata. Di bagian pinggir bukit ada rangka-rangka besi, yang ternyata merupakan plang besar bertuliskan “Jayapura”, yang hanya dapat kita lihat dari kota Jayapura. Teman-teman dengan berani menyusuri batang-batang besi. Saya? Haduh, masih harus pulang ke Jakarta dengan badan lengkap, hehe.
Setelah puas berfoto dan minum es kelapa, saya dan teman-teman beranjak menuju kota Jayapura. Tujuan utama adalah pantai, yang lebih dikenal dengan Pantai Dok 2. Setelah shalat di masjid yang cukup besar di markas tentara, kami menuju pantai. Sore menjelang dan cukup banyak pengunjung yang mandi atau sekadar duduk-duduk di tepi pantai yang cukup rapi dengan konblok. Airnya begitu bening. Sayangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan masih memprihatinkan. Sampah berserakan di sekitar pantai. Padahal tepat di seberang pantai terletak kantor gubernur. Wah, wah!
Tak jauh dari pantai terdapat pelabuhan kapal laut. Menjelang jam 4 sore para pengunjung pantai makin merapat ke tepi pantai, seakan menunggu sesuatu. Tak lama terdengar peluit kencang. Tampak sebuah kapal penumpang—kabarnya dari Surabaya atau Makassar—mendekat ke pelabuhan. Semakin dekat dan dekat, makin membesar, hingga akhirnya kapal merapat ke pelabuhan dan berhenti. Wah… “tontonan” yang menarik. Kapal tampak begitu dekat. Saya yang jarang menyaksikan kapal masuk ke pelabuhan yang dekat dengan pantai untuk publik, kelihatan noraknya :D.

Port Numbay atau Jayapura?
Tahun 2009 saat saya ke sana, kota Jayapura genap berusia 1 abad. Saat berjalan-jalan di sekitar kota, saya melihat beberapa baliho besar dengan tulisan “Port Numbay”. Beberapa waktu setelah itu saya mendengar kabar bahwa Jayapura akan berubah nama menjadi “Port Numbay”. Saat saya mengecek ke Mbak Henny, katanya nama tersebut belum resmi. Port Numbay sendiri memang bukan nama yang aneh bagi warga Jayapura. Sebab pada awal keberadaannya, nama kota ini adalah Numbai, yang kemudian berubah menjadi Hollandia pada tahun 1910. Selanjutnya berubah menjadi Kotabaru, dan berubah lagi menjadi Sukarnopura. Pada tahun 1968 kembali berubah menjadi Jayapura, yang berasal berarti kota kemenangan. Wah, apa nggak capek ya berubah-ubah? :D.
Apapun namanya, Jayapura atau Port Numbay, suatu hari nanti saya akan bertekad kembali lagi, untuk menyusuri keindahannya yang “memabukkan” :D. [Dee]