Dewi karya Yus R. Ismail Komidi Putar karya Gegge S. Mappangewa Pertarungan karya Benny Arnas Kacamata karya Noor H. Dee Debu-Debu Tuhan
Tampilkan postingan dengan label FLP Riau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FLP Riau. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Desember 2015

Membaca ‘’Wajah’’ Tuhan dan Riwayat ‘’Kepulangan’’ dalam Sajak

Ahmad Ijazi H (Riau Pos, Minggu, 21 Juli 2013)

(http://artnaz.com)
PUISI (sajak) adalah kejujuran perasaan yang diungkapkan oleh seorang penyair melalui kata-kata yang puitis. Setiap yang bersing-gungan langsung (nyata) maupun yang bersifat imajinatif (khayal) dapat dijadikan bahan mentah seorang penulis dalam meracik puisi yang apik. Konfik sosial, kesenjangan ekonomi dalam masyarakat, perasaan hati saat membicarakan persoalan cinta, wujud ketuhanan yang ‘bersemayam’ dalam diri seorang makhluk, riwayat kepulangan, semua terangkum dengan amat pariatif dan imajinatif dalam ‘’Sekeping Ubi Goreng’’ kumpulan sajak pilihan Riau Pos terbitan Yayasan Sagang tahun 2012 ini.

Sajak menjadi menarik manakala dalam bait-baitnya yang puitis tersebut terselip nama Tuhan sebagai zat yang bergerak di dalamnya. Dalam situasi ini, Tuhan seolah-olah terasa begitu dekat dengan sang penulis (seperti tak berjarak). Perasaan itulah yang sejatinya memberikan ruang serta nafas yang begitu luas kepada seorang penulis untuk melukiskan ‘’wajah’’ Tuhannya dalam sajak secara leluasa, namun tetap memiliki batasan-batasan serta kaidah-kaidah yang disyariatkan.

Jika membaca Tuhan, maka yang paling dekat dan senantiasa bersinggungan langsung dengan wujud-Nya adalah perihal ‘’kepulangan’’ (kematian). Simak saja sajak imajinatif berjudul ‘’Molekul Waktu’’ karya Fakhrunnas MA Jabbar berikut ini. Dalam baitnya dituliskan: molekul-molekul itu berbenturan menghambur waktu. Tak tahu di mana proton dan elektron membilang jiwa. Waktu berserakan di telapak kaki. Bergerak kian kemari. Menuju tiang arasy yang tinggi. (halaman 27).

Dalam penggalan sajak di atas digambarkan dengan amat jelas bagaimana hubungan Sang Pencipta dengan makhluk yang diciptakan-Nya saat ‘kembali’ (pulang) kepada dzat-Nya yang Maha Tinggi. Hal itu ditandai dalam kalimat menuju tiang arasy yang tinggi. Kemudian di akhir sajak, Fakhrunnas MA Jabbar menegaskan perihal ‘’kepulangan’’ tersebut dalam kalimat: terbawalah ia ke liang waktu yang dalam. Ada zat maha menunggu. Di situ. ‘Liang waktu’ digambarkan sebagai tempat peristirahatan terakhir, sedangkan ‘zat maha menunggu’ dimaksudkan sebagai wujud Tuhan Sang Pencipta.

Sajak berikutnya berjudul ‘’Jika Aku Tersesat’’ karya Husen Arifin. Dalam sajak tersebut Husen Arifin hendak menyuarakan kepada pembaca tentang kerisauan seorang penulis akan keberadaan hari akhir. Hal itu dapat dicermati dalam bait berikut: rakaat hidupku// hanyalah kesengsaraan// aku yang rapuh// yang membayangkan neraka (halaman 38). Dalam kalimat aku yang rapuh penulis mengakui bahwa ia hanyalah hamba yang sangat kecil, dan rapuh (lemah) yang tak memiliki daya upaya untuk mengingkari ketetapan-Nya (takdir).

Lalu di akhir sajaknya, Husen Arifin mempertegas kerisauannya tersebut dalam bait: selagi kata-kata// tak berbekal// tak beramal// maka tak ada rakaat// yang khidmat// aku menyesali// jika aku tersesat. Kerisauan itu dapat dimaknai sebagai ungkapan rasa takut seorang hamba saat ia ‘dipanggil pulang’ dalam keadaan yang tidak siap lantaran membawa bekal (amal) yang tidak cukup.

Kemudian, dalam sajak yang berjudul ‘’Segumpal Tanah’’ Musa Ismail hendak mengisahkan perihal asal muasal penciptaan mahluk yang diciptakan dari segumpal tanah. Hal tersebut dapat dicermati dalam bait berikut: segumpal tanah di tanganmu// menjadi manusia dan pucuk-pucuk cemara// mejadi hati dan buih-buih lautan// juga daun-daun kering berguguran// di hamparan bumi luas membentang (halaman 85).

Di akhir sajak, Musa Ismail lagi-lagi menuliskan riwayat ‘kepulangan’ yang cukup kental dalam sajaknya. Hal tersebut dapat dicermati dalam bait berikut: menjadi putih, menjadi hitam// lalu kembali dalam kekosongan// diam. Dalam potongan sajak tersebut jelas digambarkan kapasitas Tuhan yang memiliki kekuasaan mutlak menjadikan makhluk ciptaan-Nya mejadi ‘putih’ atau menjadi ‘hitam’ sesuai dengan takdir yang sudah ditetapkan-Nya.

Selanjutnya, dalam sajaknya yang cukup panjang, M Badri mengisahkan tentang perjalanan hidup ‘aku’ lewat sajaknya yang bertajuk ‘’Amsal Perahu’’ Sebuah perahu kembali ke dermaga// setelah mengarungi lautan kata// ombak sajak// badai pusi// berkawan matahari (halaman 99), begitu M Badri menuliskan bait pertama sajaknya.

Dalam sajak tersebut M Badri menempatkan ‘perahu’ sebagai ‘aku’. Perahu yang berjalan menapaki kehidupannya, bermukim di berbagai persinggahan, menyelami berbagai petualangan, sampai akhirnya ia harus kembali ‘pulang’ ke pangkuan Tuhan yang menciptakannya. Hal tersebut dapat dicermati dalam bait berikut: tiba di Bandar paling sepi// ia berorasi// di antara dua perahu. Lalu riwayat ‘kepulangan’ itu dipertegas dalam ungkapan bait berikut: ketika aku tak berdarah lagi// sambutlah aku// dalam tanah kosong-Mu.

Melalui dua sajaknya yang berjudul ‘’Perjumpaan’’ dan ‘’Secangkir Kopi Sore Hari’’ Dewi S Wibowo mengisyaratkan riwayat ‘kepulangan’nya secara singkat dan padat. Namun makna ‘kepulangan’ tersebut dapat dipahami dengan sangat gamblang tertuang dalam dua sajak tersebut. Sajak pertama berbunyi: selalu akan kita kenali nantinya// seseorang bernama perpisaan// segera kita kemasi segala kenangan// sampai tangis tak sanggup lagi mendedah// segeralah. segeralah (halaman 15).

Pada kalimat seorang bernama perpisahan sangat jelas digambarkan situasi yang harus dilewati setiap manusia dalam kehidupannya yakni berpisah. Pada saat berpisah, maka segala kenanganlah yang kemudian melekat erat dalam ingatan. Pada kalimat sampai tangis tak sanggup lagi mendedah mengandung pengertian batas akhir atau batas kesanggupan seseorang untuk berhenti mengenang (melepas kenangan).

Selanjutnya, dalam ‘’Secangkir Kopi Sore Hari’’ Dewi S Wibowo mengemas riwayat ‘kepulangan’nya tersebut melalui bait berikut: ketika kau dengar dentang lonceng// percayalah bahwa waktu akan mengajari kita// untuk bergegas menggulung hari menuju lelap// menuju muasal tempat kita akan berpulang (halaman 16).

Pada kalimat waktu akan mengajari kita terkandung makna perjalanan seseorang yang dilalui dalam ruang waktu (kehidupan) dengan berbagai macam peristiwa yang dijumpainya tersebut sebagai bahan pembelajaran. Pada kalimat menggulung hari menuju lelap terkandung makna batas yang dipersiapkan untuk kembali. Dan kalimat menuju muasal tempat kita akan berpulang sangat tegas menjelaskan arah mana yang mesti dituju saat ‘berpulang’ menuju keabadian, yakni kembali kepada Sang Pencipta.

Sejatinya, sejauh apapun manusia berjalan, mengayuh sampan di luasnya samudera, namun tempat kembali yang paling hakiki hanyalah Tuhan semata. Tuhan memberikan nafas kehidupan ke pada setiap manusia dengan tujuan mulia, yakni agar menjadi khalifah di atas muka bumi. Menyerukan risalah Illahiyah kepada setiap makhluk untuk menuju jalan cahaya, jalan kebenaran Tuhan.

Dalam proses kreatifnya, para penyair dalam kumpulan sajak ‘’Sekeping Ubi Goreng’’ ini turut ambil bagian menyuarakan hakikat ketuhanan tersebut melalui bahasa sajak yang puitis. Menyuarakan kebenaran zat-Nya melalalui diksi-diksi pilihan. Memberikan nasihat melalui bait-bait yang imajinatif, secara halus tanpa menggurui.

Membaca sajak-sajak di atas, kita akan semakin memahami hakikat ‘kepulangan’ itu ternyata amat dekat dengan kita. Sejatinya, tak ada bekal yang amat berharga yang dapat kita bawa saat nyawa telah terlepas dari raga kita, kecuali amal. Hanya amal-lah yang kelak menemani dan mampu memberikan pertolongan kepada kita saat ‘kesendirian’ itu bermukim di akhir perjalanan kehidupan setiap insan.***
Sumber: cabiklunik.blogspot.com

Senin, 21 Desember 2015

Membaca Bius Estetika Kata dalam Cerpen "Air Akar" Benny Arnas

Esai Nafi'ah Al-Ma'rab (Riau Pos, 12 Januari 2014)

(http://hifructose.com)
Sudah menjadi kebiasaan, setiap penulis ingin unggul dengan karakternya masing-masing. Sebab karakter inilah yang akan membuat sebuah karya bertahan, demikian pula dengan penulisnya akan selalu dikenang dengan suatu keahlian yang akan menjadi pembelajaran bagi penulis-penulis dikemudian hari. Benny Arnas, siapa yang tak kenal dengan penulis kumcer Bulan Celurit Api yang sempat menghebohkan media-media harian di tanah air. Karakter khas yang melekat pada penulis asal Lubuklinggau tersebut tak lain adalah bagaimana kemahiran dirinya memilah kata, membuat yang biasa menjadi tak biasa, membuat yang sederhana menjadi lebih berestetika.

Cerpen "Air Akar" karya Benny Arnas merupakan salah satu cerpen dari sekian banyak cerpen yang ia tulis dengan tetap bertahan dengan perbincangan tema-tema lokal yang tak pernah habis. Cerpen ini menjadi pemenang pertama pada event lomba Kutulis Nusantara tahun 2012 dan saat ini termuat dalam antologi cerpen budaya bersama sepuluh pemenang lainnya. Diterbitkan langsung oleh penerbit kenamaan Gramedia Pustaka Utama menjadikan cerpen "Air Akar" kian membumi di seluruh antero.

Membaca cerpen "Air Akar" tersebut, kita akan menemukan beberapa hal yang bisa menjadi 'oleh-oleh' intelektual untuk pengembangan karya-karya yang akan kita tulis. Pertama, terlihat jelas konsistensi Benny Arnas dalam menggarap tema-tema lokal di wilayah Lubuklinggau yang seolah tak pernah habis. Kisah seorang guru PNS yang mengabdi di daerah pedalaman kawasan tersebut dengan lika-liku masalah sosial budaya yang ia hadapi telah berhasil menghadirkan kesan lokal yang cukup dalam. Karakter lokal yang dihadirkan oleh Benny dalam cerpen tersebut diantaranya adalah setting, konflik yang diangkat dari kondisi sosial budaya setempat dan sebagainya. Karya-karya Benny Arnas bisa dibilang dapat dijadikan sebagai referensi pembelajaran untuk penulis mula yang masih kebingungan bagaimana caranya menghadirkan kesan lokal dalam sebuah cerpen. Dibanyak kesempatan, Benny sering menegaskan bahwa dirinya termasuk pendukung 'kearifan lokal' yang arif.

Karya-karyanya selalu berupaya melakukan pelurusan fakta suatu kearifan lokal yang terkadang dinilai tidak arif.

Kedua adalah soal bius estetika kata yang tak pernah alpa menjadi menu hidangan di setiap karya-karya cerpen Benny Arnas. Lihatlah bagaimana ia mengolah kata yang biasa menjadi tak biasa dalam paragrap berikut, Jarum-jarum bening bagai berebutan menciumi pucuk-pucuk karet, seolah tahu benar betapa pohon-pohon tua itu meranggas karena kemarau yang memamah beberapa purnama. Daun-daun kering yang menyelimuti hamparan tanah di bawah payungan kanopi karet, kini lindap, basah, lembab, lalu mempersilakan cacing, kalajengking, dan pacat menggeliat, mencari makan ke sana-ke mari. Tak lama, raksasa itu lelah juga. Wajah langit kembali merona biru laut. Di salah satu lembah, dekat Sungai Lubukumbuk, bianglala melengkungkan cahaya tujuh warna. Memang, sebagaimana di kampung lain, penduduk Kampung Nulang yang sebagian besar menyadap karet itu juga percaya bahwa beberapa bidadari kerap singgah di kampung mereka, di lembah yang sejuk oleh semak bambu, perdu, dan pohon-pohon besar tak bernama. Namun, mereka tak pernah tahu bahwa Tuhan telah menurunkan seorang bidadari di tengah-tengah mereka.

Sebenarnya soal estetika saja akan menjadi hal yang biasa apabila tidak dibarengi kemampuan membius pembaca dengan alur cerita yang menawan. Belum lagi selesai pembaca terkagum-kagum dengan bius estetika yang dihadirkan, pembaca harus tersentak ketika ending yang dihadirkan erat kaitannya dengan paragraf sederhana yang barangkali tak pernah diperkirakan oleh para pembaca menjadi kunci penyelesaian konflik cerita, Pada hari yang lain (mungkin ayah Nalin mengira Bunga Raya juga akan menyadap karet seperti perempuan Kampung Nulang pada umumnya), ia dikirimi sebotol cuka para, semacam air keras berwarna gelap yang sering digunakan untuk mencetak karet sebelum siap dijual. Bunga Raya tetap menerimanya (ia berencana akan memberikannya kepada penyadap karet sekitar yang membutuhkan). Upaya Benny dalam menyembunyikan ending dalam cerpen Air Akar tersebut bisa dibilang berhasil.

Hal ketiga yang patut untuk dijadikan 'oleh-oleh' intelektual dalam cerpen "Air Akar" tersebut adalah nilai edukasi informatif yang disajikan secara transparan. Paragraf berikut ini bisa sedikit menggambarkannya, Maka, setelah berulang kali bolak-balik ke kota, setelah berulangkali berkonsultasi dengan beberapa dokter, ahli herbal, dan teman-temannya yang peduli, Bunga Raya akhirnya dapat membuat Air Akar. Demikianlah sari umbi-umbian dan akar-akaran itu diberinama. Air Akar diyakini dapat menyembuhkan sejumlah penyakit dan keluhan. Ramuan cokelat pekat itu biasanya dimasukkan ke dalam botol dan dapat digunakan untuk waktu berbulan-bulan. Memang rasanya pahit tak kepalang. Namun, ini bukan tentang rasa yang kerap diributkan orang-orang kota. Ini tentang tampilan yang harus berkarib dengan alam dan kampung yang sederhana. Untuk itu semua, Bunga Raya merelakan sebagian gajinya terpakai. Ya, Bunga Raya sadar benar, tak cukup hanya dengan bismilah untuk mengurusi nyawa orang!

Membaca sebuah cerpen menjadi tak sekedar menikmati estetika. Benny ingin mengesankan kepada pembaca tentang informasi pengetahuan pengobatan alami melalui karyanya. Ini merupakan hal yang patut dihargai, sebab yang lebih istimewa lagi adalah, Benny mengangkat informasi pengobatan tersebut juga masih dalam kerangka tema lokal yang ia garap. 

Hampir tak ditemukan cela dalam cerpen "Air Akar". Meskipun Benny kerap dituding sebagai penulis yang harus terus mengasah kemampuan menghidupkan tokoh, namun "Air Akar" menjadi bukti kepiawaian Benny bersahabat dengan kata.***

* Ketua Forum Lingkar Pena Riau.
Baca juga cerpen Air Akar

Minggu, 13 Desember 2015

Subuh Duka dan Sajak Lainnya

Sugiarti (Riau Pos, 18 Maret 2012)



(www.pinterest.com)


sudahlah, lepaskan (cukup)

jasadku masih saja kelana
ketika nanar wajahku disinggahi senyummu
kau ini apa tak punya nalurikah, saudara
bahkan rindu terbungkus untuk langit kau renggut
di pekat belantara, di antara jejak-jejak seok yang kubangun
kuanggap kau terlalu antagonis, sebab aku protagonis

inilah rindu, membusuk di atas kertas-kertas peluh
kau tak ajari aku jurus mencuri senja
jadilah riwayatku terkatung-katung di katup matamu
kau tak ingatkah tragedi membungkam pagi
rautmu disapu gerimis yang sulit ditafsir

aku telah mempersila hujan menjemput senjaku
kau kan terlalu liar,
aku tak sanggup mengenang-ngenang kebisuan
kau tinggal aku tanpa sesuap kata
mungkin perutku dahaga,

tapi tak pernah kau jamu semburat rasa
hal ihwal yang pernah kau ucap
beterbangan di sudut-sudut resah
melekat di kaca jendela rumah tuaku
barangkali cuma khilaf, bukan?
tapi memang begitu bicara lawasmu
puisi saja sanggup kau bodoh-bodohi
aku tak kan, ‘tak apalah’
kita bertarung sepolos mata malam

aku telah mencarimu berlapis-lapis waktu, saudara
menunggumu ibarat luka menganga
tanpa betadine atau obat merah
nyeri kian tersulam,

mungkin aku terdodoi dongeng
mana (aku) menyukai air mata
mana (aku) menanti duka
mana (aku) merindu derita
sudahlah, lepaskan (cukup)

(Pekanbaru, Maret 2010)


***

sepenggal lirih yang kucipta pada detikdetik perjumpaan kita

sepenggal lirih yang kucipta pada detikdetik perjumpaan kita, melesap dilebur temaram gelap pekat melekatkan rindurindu tersisa berpuluh tahun lalu pada siangsiang kering. aku hadir membasuh jemariku, merundukkan bahu memujimu dipersaksi peluhpeluh kubangun tetes-tetes mengadu luka memerih. kalbuku, telah kuserahkan saja pada denting waktu yang berjalan, kau memanggilku pada masa dimana aku lupa arahmu, berjalan penuh tatihtatih jemu menelusuri relrel jalanan yang kurasa kian memanas. tuhan, ajari aku membungkukkan tubuhku padamu, menghembuskan debudebu liar sisa tidurku semalam.

*ilahi, ini aku datang padamu dengan wajahku kemarin, kalau kau tak keberatan, tataplah aku sewaktu saja*

keakuan telah melukai harihari dimana aku disinggahkan pada tanah moyang tandus tanpa embun doa padamu.
aku melangkah pincang, menujumu dengan balurbalur rindu meranum.
terlambat, mungkin terlambat kuadukan sisa cinta ini.
tuhan, semalam aku tak tidur berjaga menungggu meluruhkan keangkuhan hatiku, menunggumu di puncak waktu penggal paruh subuh beku.

Pekanbaru, September 2011

***

Subuh Duka

: Yoyoh Yusroh

Bagimu
            : kematian itu teramat kecil
                        dedaun syurga menyambut berarak
             jannah tak henti memanggil
                        kau datang bergegas, pada subuh yang luka

Bagiku
           : kafan itu menjadi duka yang memerah
                       semilir pagi kian memerih,
                       takdirmu di serambi Cirebon
hari ini adalah hamparan air mata
kau titipkan pada lelap kami
                       sedang kami tak siap
                       melepasmu dengan tergagap

Sabtu, 21 April 2012

Memetik Buah Sejarah 21 April

Memetik Buah Sejarah 21 April

Esai Sugiarti, S.si (Riau Pos, 21 April 2012)

id.wikipedia.org
Setiap tanggal 21 April para perempuan Indonesia seolah tak pernah alpa dalam memperingati sebuah hari yang dianggap sebagai simbol kebangkitan kau perempuan Indonesia, itulah yang dikenal dengan hari Kartini. Hari Kartini sendiri resmi dilekatkan sebagai bagian dari sejarah bangsa Indonesia setelah Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
 Meskipun demikian, terdapat beberapa perbedaan pandangan para kalangan sejarawan itu sendiri dalam memandang sosok Kartini. Ada yang menganggap bahwa penokohan Kartini hanya merupakan akal-akalan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia-Belanda pada masa itu. Sebab Abendon dipastikan memiliki kepentingan politik etis dalam upaya mencegah keinginan Kartini yang ingin belajar melanjutkan studinya ke Belanda.
Banyak pula yang menganggap bahwa penobatan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional adalah hal yan tak logis. Sebab Kartini mengembangkan pemikirannya hanya pada ruang lingkup Jepara dan Rembang saja, ia juga tak pernah memikul senjata melawan penjajah seperti apa yang dilakukan oleh para pahlwan wanita lainnya. Oleh sebab itu terlalu diskriminatif jika Kartini dianggap sebagai pahlawan nasional hingga ditetapkan hari untuk memperingatinya. Kenapa tak ada peringatan hari Cut Nyak Dien atau Cut Nyak Mutia? Padahal mereka memiliki perjuangan yang lebih konkrit ketimbang apa yang dilakukan oleh Kartini. Inilah beberapa hal yang menjadi kontroversi terkait peringatan hari Kartini.
Lantas apa sikap kita menyikap berbagai bentuk pro kontra tentang penokohan seorang Kartini? Hal yang paling konkrit dan efektif dalam memandang hal ini tentu saja dengan menyerap manfaat-manfaat besar dari sebuah ‘ketetapan’ sejarah yang dimiliki penguasa. Memperdebatkannya akan membuang energi, meluruskan fakta akan menjadi perkara panjang yang tak kunjung usai. Oleh sebab itu lebih penting bagi kita menjadikan momen Kartini sebagai sebuah langkah memulai ruang kehidupan perempuan muda Indonesia menuju ke arah yang lebih baik. Terkait hal tersebut, berikut ini beberapa buah manfaat yang dapat kita petik dari peringatan hari Kartini yang dirayakan setiap tahunnya;
Pertama, tuntutan kiprah kaum perempuan di dunia pendidikan. Indonesia hari ini secara fisik adalah bangsa yang merdeka, terbebas dari penjajahan fisik.Oleh sebab itu tak ada alasan bagi kaum perempuan untuk diam dan bersantai-santai memicingkan mata terhadap kondisi pendidikan bangsa ini. Seperti apa yang direkam sejarah, sikap Kartini yang begitu ngotot meminta kepada suaminya untuk mendirikan sebuah sekolah Kartini khusus kaum perempuan pada masa itu. Dan akhirnya berdirilah beberapa sekolah perempuan yang didirikan oleh Yayasan Kartini diantaranya di daerah Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya.
Kaum perempuan muda Indonesia saat ini pun memiliki tuntutan peran yang sama. Perempuan menjadi salah satu konstituen penting dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan tanah air. Lihatlah jumlah kaum perempuan Indonesia yang begitu besar. Apabila kaum perempuan itu sendiri tidak kreatif memikirkan kualitas pendidikannya, maka bisa dimaklumi kondisi pendidikan Indonesia selamanya tak akan berubah ke arah yang lebih baik.
Kedua, mengasah tradisi intelektualitas kaum perempuan perihal baca tulis. ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ merupakan sebuah buku berisi kumpulan surat-surat Kartini sebagai hasil korespondennya dengan beberapa rekan sahabatnya di Eropa. Dalam surat-suratnya Kartini menuliskan pemikiran dan ide-idenya menyangkut kebebasan kaum perempuan di masanya. Tak hanya menulis, munculnya kritik-kritik Kartini terhadap kondisi kaum perempuan pada masa itu disebabkan tradisi baca Kartini yang cukup baik. Pada usia 20 tahun, sosok kartini telah menyelesaikan pembacaan buku-buku diantaranya terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden, karya Augusta de Witt, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata).
Tradisi intelektualitas inilah yang perlu dipanuti oleh para perempuan muda Indonesia. Membaca dan menulis merupakan sebuah langkah awal seorang individu menuju ruang kehidupan yang lebih bermartabat di mata orang lain. Intelektualitas diri kita akan berbanding lurus dengan sikap penghargaan orang-orang di sekitar kita. Terlebih lagi bagi kaum perempuan, intelektualitas yang dimilikinya menjadi salah satu sumber perbaikan harkat dan martabat disamping akhlak dan prilaku.
Ketiga, membangun sikap kritis dan solutif. Sikap kritis dan solutif merupakan sebuah pasangan prilaku yang harus seiring. Rusaknya bangsa kita karena para pengkritik lebih besar dari para pemberi solusi. Oleh sebab itu kedua hal tersebut harus berjalan secara seiringan. Berani berkomentar harus berani memberikan alternatif solusi jalan keluar. Kartini mengkritik kondisi kaum perempuan pada masanya, ia pun lantas memberikan solusi dengan mendirikan sekolah khusus untuk kaum perempuan. Budaya kritik memang sangat penting diimbangi dengan usaha-usaha solutif. Sebab berbicara dan berkomentar terlalu mudah dibanding dengan sikap aksi di lapangan dalam menyelesaikan persoalan.
Inilah tiga hal penting yang dapat kita petik dari momen peringatan hari Kartini. Tak hanya kaum perempuan yang harus mengambil hikmah dari perayaan hari Kartini, namun semua kalangan bangsa Indonesia. Sebab sejarah diciptakan untuk seluruh rakyat Indonesia, bukan sebagian kalangan saja. Membangun tradisi intelektual, berperan dalam dunia pendidikan dan terus membangun budaya kritik-solutif akan menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan bermartabat. 

Minggu, 08 April 2012

Novus Ordo Seclorum: Sebuah Fiksi Ilmiah Konspiratif

Novus Ordo Seclorum: Sebuah Fiksi Ilmiah Konspiratif

Esai Sugiarti, S.si (Riau Pos, 8 April 2012 & Padang Express, 15 April 2012)

alkhansashop.wordpress.com
“Di Hongkong uji coba Chip Mondex dilakukan pada 120.000 pekerja pada tahun 2007. Di bandara internasional Belgia terdapat fasilitas lounge yang dikhususkan bagi para eksekutif yang memiliki chip ini di tangan kanannya, sementara di Spanyol sebuah klub malam Baha Beach Club tidak lagi menerima uang cash dan mewajibkan seluruh anggota club menyuntikkan chip mondex di lengan kanan mereka agar mekanisme pembayaran dapat dilakukan dengan mudah.”
Rangkaian kalimat di atas sebagai kutipan dari Novel Novus Ordo Seclorum (Tatanan Dunia Baru) mengaurakan muatan ilmiah yang cukup padat. Fiksi ilmiah sebagai suatu bentuk fiksi spekulatif yang terutama membahas tentang pengaruh sains dan teknologi yang diimajinasikan terhadap masyarakat dan para individual, memberikan warna dan pesona tersendiri bagi kalangan pembaca sastra.
Rekam jejak yang ditorehkan oleh genre sastra yang satu ini tampaknya cukup memberikan konstribusi nyata bagi perkembangan teknologi ilmu pengetahuan di kehidupan alam nyata manusia. Kita ingat kembali Jules Verne dengan novelnya From the Earth to the Moon tahun 1865 dan dilanjutkan Around the Moon tahun 1870. Novel ini memuat tentang rincian yang penting mengenai pergi ke bulan, kondisi tanpa bobot, ukuran dasar kapsul angkasa, jumlah kru-nya (3 orang), dan bahkan konsep kembali ke bumi dari samudra bulan. Dan kejadian tidak disengaja yang menyenangkan adalah ada nya kemiripan semisal lokasi pendaratan di novel fiksinya Around The Moon yang hanya beberapa mil dari lokasi Apollo 8 mendarat. (menariknya lokasi peluncuran fiksinya hanya beberapa mil dari Cape Canaveral). Sama sekali tidak mengejutkan jika Jules Verne banyak menulis prediksi lain seperti termasuk perjalanan-perjalanan oleh balon, helikopter-helikopter, tank, dan mesin-mesin elektrik.
Demikian pula kelahiran teknologi internet di ranah kehidupan manusia,
Pengarang William Gibson memperkenalkan istilah "cyberspace" di tahun 1981 dalam cerita pendek "Burning Chrome" dan memulai ketertarikan media terhadap komputer dan internet melalui karyanya tahun 1984 novel berjudul "Neuromancer"
Bahkan sebelum Gibson, John Brunner tahun 1975 melalui novelnya "The Shockwave Rider" meramalkan jaringan informasi antar benua, Hacker yang menyusup ke jaringan diidentifikasi sebagai pencuri. Dan terutama terminologi Virus dan worm berasal dari buku Brunner. Brunner membayangkan menggunakan virus dan worm sebagai bagian perangkat perang, sesuatu yang agak ditakutkan militer belakangan ini. Harus dicatat juga tahun 1975 belum ada internet seperti sekarang, internet masih berupa proyek ARPANET, sebuah sistem komputer yang diciptakan departemen pertahanan Amerika Serikat.
Demikian pula yang dilakukan seorang Zaynur Ridwan dalam novel Novus Ordo Seclorum, sebuah fiksi ilmiah yang meramalkan konspirasi Yahudi terhadap penduduk bumi melalui aneka teknologi rancangan mereka. Novel ini berkisah tentang penyelidikan kasus kematian tiga orang secara bersamaan, yakni seorang peneliti WHO di Meksiko, seorang pengusaha di Inggris dan seorang senator di Amerika. Kematian tiga orang tersebut meninggalkan jejak yang sama, meninggalkan simbol bahasa purba yang disebut Codex Magica. Dengan pengetahuan recode anagram yang dimilikinya seorang pemuda Indonesia bernama Bumi dan sahabatnya Marie berupaya membongkar kasus ini. Tak sekedar pembunuhan biasa, kasus ini ternyata menyimpan konspirasi besar sejumlah elit tokoh politik yang tergabung dalam persekutuan pemuja berhala Bohemian Grove, jejering illuminati, freemason dan Club of Roma. Upaya pengungkapan kasus kematian tiga orang besar tadi membawa Zaynur Ridwan sang penulis bermain-main cantik di alur dan konflik novel ini. Penokohan yang sempurna pun digambarkan Zaynur melalui sosok Bumi yang terkesan amat cerdas dan berpengetahuan. Zaynur tampak begitu jelas mengeksplorasi proyeksi perkembangan teknologi Microchip, serta fakta permainan konspirasi industri farmasi dunia yang dilakukan pihak Yahudi. Fakta ilmiah ini banyak terungkap dalam dialog-dialog tokoh yang dimunculkan. Berikut salah satu contohnya, “Kita semua tahu bahwa tamiflu dianggap sebagai salah satu obat yang dapat menyembuhkan seseorang dari infeksi flu burung. Sekarang mari kita lihat datanya, 1). Efek tamiflu yang dilaporkan pada tanggal 22 Maret 2004 hingga 22 April 2005 menyatakan bahwa terdapat 1.184 kasus reaksi merugikan dan tamiflu dianggap tidak memiliki konstribusi signifikan terhadap penyembuhan infeksi virus, terdapat 75 kasus pediatric yang dinyatakan memiliki efek samping seperti reaksi fatal, empat orang mati mendadak dan tiga lainnya mengalami kelumpuhan cardio-respiratory, 32 kasus neuropsychiatric dan 12 kasus kulit sensitif. Ini dicatat oleh Departement of Health and Human Services, Public Health Service, Food and Drug Administration (FDA), Center for Drug Evaluation and Reasearch Memorandum pada 25 Agustus 2005. Pertanyaannya, jika vaksin dan obat dianggap gagal memberikan efek penyembuhan, lalu mengapa terus diberikan?”
Betapapun kekuatan seorang penulis mengungkap aneka fakta ilmiah di dalam karyanya, novel ini tetaplah mendapat kritikan dari banyak kalangan. Namun demikian sebagai bentuk pertanggung jawabannya, Zaynur Ridwan memberikan jawaban tegas terhadap kritik yang ditujukan pada karyanya, “Saya memiliki data yang jelas, silahkan anda melihatnya.” Terlepas dari reaksi kontroversial novel tersebut dari pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan eksplorasi ilmiah tersebut, novel terbitan Pustaka Alkatsar ini tetaplah memiliki banyak sajian keistimewaan, diantaranya;
Pertama, ruang eksplorasi yang cukup luas kecerdasan penulis. Inilah hal tegas yang diungkapkan seorang Adam Robert penulis novel Da Vinci Code, “Saya memang lebih tertantang untuk menggali banyak hal jika membaca fiksi ilmiah. Itu kesempatan saya untuk memunculkan banyak karakter. Saya bisa jadi jenius, saya bisa jadi terbelakang sekalipun. Saya bebas.” Kecerdasan seorang Zaynur dalam novel ini terungkap dengan penyajian data informasi yang luar biasa, lalu hal tersebut ia balut secara cantik dengan permainan bahasa fiksi yang membawa pembaca seolah-olah tengah menyaksikan film Box Office dunia. Percaya atau tidak, Zaynur mampu membawa imajinasi pembaca ke arah ruang ‘cerdas’. Pembaca tak hanya di arahkan kepada hiburan batin sebuah karya fiksi, lebih dari itu Zaynur mengajak para pembacanya untuk terus kritis dan proaktif dengan ‘isu’ ilmiah yang ia kemas begitu apik dalam rangkaian bahasa fiksi. Genre sastra yang satu ini memberikan kesempatan cukup luas bagi penulis untuk menghembuskan aneka karakter dalam karyanya.
Kedua, inilah ruang pengandaian edukatif. Membaca novel ini membuat saya seolah-olah diajak berlatih memaksimalkan otak kiri dan otak kanan. Bagaimanapun Zaynur mampu membawa imajinasi saya ke sebuah ruang yang cukup edukatif dan mencerahkan. Beberapa kali saya membolak-balik sampul buku ini memastikan bahwa karya yang saya baca ini berstatus sebagai novel. Zaynur menyajikan secara proporsional antara kebutuhan data ilmiah dan kebutuhan fiksi. Meski di bagian akhir novel ini, kejenuhan ilmiah cukup saya rasakan.
Namun begitu, genre sastra ilmiah adalah kolaborasi yang cukup bagus untuk pemaksimalan dua potensi kecerdasan seseorang, seperti ungkapan Adam Robert berikut, “Saya memang punya latar belakang seni dan humanistik, bahkan gelar PhD saya dapat dari sastra Inggris, saya juga mengajar sastra. Jadi saya menceburkan diri ke dunia penulisan dengan latar belakang sastra dan sisi estetik itu. Selain itu, saya melihat hal-hal yang berkaitan dengan sains akan menarik jika diekplorasi dari sisi metafora. Selebihnya, sebuah karya fantasi ilmiah akan berubah menjadi keras karena penulisnya adalah orang-orang yang berhadapan langsung dengan dunia sains. Mereka berpikir hanya dengan sisi sains, lalu membuatnya menjadi fiksi. Itu juga tidak buruk, tapi segi artistiknya tidak begitu tertangani dengan baik. Di sanalah saya masuk.” Inilah sebuah keniscayaan yang bisa dilakukan para sastrawan tanah air dewasa ini. Sebuah terobosan yang memberikan imbas positif bagi dunia yang berbeda, sastra dan sain.