Dewi karya Yus R. Ismail Komidi Putar karya Gegge S. Mappangewa Pertarungan karya Benny Arnas Kacamata karya Noor H. Dee Debu-Debu Tuhan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Desember 2015

Membaca ‘’Wajah’’ Tuhan dan Riwayat ‘’Kepulangan’’ dalam Sajak

Ahmad Ijazi H (Riau Pos, Minggu, 21 Juli 2013)

(http://artnaz.com)
PUISI (sajak) adalah kejujuran perasaan yang diungkapkan oleh seorang penyair melalui kata-kata yang puitis. Setiap yang bersing-gungan langsung (nyata) maupun yang bersifat imajinatif (khayal) dapat dijadikan bahan mentah seorang penulis dalam meracik puisi yang apik. Konfik sosial, kesenjangan ekonomi dalam masyarakat, perasaan hati saat membicarakan persoalan cinta, wujud ketuhanan yang ‘bersemayam’ dalam diri seorang makhluk, riwayat kepulangan, semua terangkum dengan amat pariatif dan imajinatif dalam ‘’Sekeping Ubi Goreng’’ kumpulan sajak pilihan Riau Pos terbitan Yayasan Sagang tahun 2012 ini.

Sajak menjadi menarik manakala dalam bait-baitnya yang puitis tersebut terselip nama Tuhan sebagai zat yang bergerak di dalamnya. Dalam situasi ini, Tuhan seolah-olah terasa begitu dekat dengan sang penulis (seperti tak berjarak). Perasaan itulah yang sejatinya memberikan ruang serta nafas yang begitu luas kepada seorang penulis untuk melukiskan ‘’wajah’’ Tuhannya dalam sajak secara leluasa, namun tetap memiliki batasan-batasan serta kaidah-kaidah yang disyariatkan.

Jika membaca Tuhan, maka yang paling dekat dan senantiasa bersinggungan langsung dengan wujud-Nya adalah perihal ‘’kepulangan’’ (kematian). Simak saja sajak imajinatif berjudul ‘’Molekul Waktu’’ karya Fakhrunnas MA Jabbar berikut ini. Dalam baitnya dituliskan: molekul-molekul itu berbenturan menghambur waktu. Tak tahu di mana proton dan elektron membilang jiwa. Waktu berserakan di telapak kaki. Bergerak kian kemari. Menuju tiang arasy yang tinggi. (halaman 27).

Dalam penggalan sajak di atas digambarkan dengan amat jelas bagaimana hubungan Sang Pencipta dengan makhluk yang diciptakan-Nya saat ‘kembali’ (pulang) kepada dzat-Nya yang Maha Tinggi. Hal itu ditandai dalam kalimat menuju tiang arasy yang tinggi. Kemudian di akhir sajak, Fakhrunnas MA Jabbar menegaskan perihal ‘’kepulangan’’ tersebut dalam kalimat: terbawalah ia ke liang waktu yang dalam. Ada zat maha menunggu. Di situ. ‘Liang waktu’ digambarkan sebagai tempat peristirahatan terakhir, sedangkan ‘zat maha menunggu’ dimaksudkan sebagai wujud Tuhan Sang Pencipta.

Sajak berikutnya berjudul ‘’Jika Aku Tersesat’’ karya Husen Arifin. Dalam sajak tersebut Husen Arifin hendak menyuarakan kepada pembaca tentang kerisauan seorang penulis akan keberadaan hari akhir. Hal itu dapat dicermati dalam bait berikut: rakaat hidupku// hanyalah kesengsaraan// aku yang rapuh// yang membayangkan neraka (halaman 38). Dalam kalimat aku yang rapuh penulis mengakui bahwa ia hanyalah hamba yang sangat kecil, dan rapuh (lemah) yang tak memiliki daya upaya untuk mengingkari ketetapan-Nya (takdir).

Lalu di akhir sajaknya, Husen Arifin mempertegas kerisauannya tersebut dalam bait: selagi kata-kata// tak berbekal// tak beramal// maka tak ada rakaat// yang khidmat// aku menyesali// jika aku tersesat. Kerisauan itu dapat dimaknai sebagai ungkapan rasa takut seorang hamba saat ia ‘dipanggil pulang’ dalam keadaan yang tidak siap lantaran membawa bekal (amal) yang tidak cukup.

Kemudian, dalam sajak yang berjudul ‘’Segumpal Tanah’’ Musa Ismail hendak mengisahkan perihal asal muasal penciptaan mahluk yang diciptakan dari segumpal tanah. Hal tersebut dapat dicermati dalam bait berikut: segumpal tanah di tanganmu// menjadi manusia dan pucuk-pucuk cemara// mejadi hati dan buih-buih lautan// juga daun-daun kering berguguran// di hamparan bumi luas membentang (halaman 85).

Di akhir sajak, Musa Ismail lagi-lagi menuliskan riwayat ‘kepulangan’ yang cukup kental dalam sajaknya. Hal tersebut dapat dicermati dalam bait berikut: menjadi putih, menjadi hitam// lalu kembali dalam kekosongan// diam. Dalam potongan sajak tersebut jelas digambarkan kapasitas Tuhan yang memiliki kekuasaan mutlak menjadikan makhluk ciptaan-Nya mejadi ‘putih’ atau menjadi ‘hitam’ sesuai dengan takdir yang sudah ditetapkan-Nya.

Selanjutnya, dalam sajaknya yang cukup panjang, M Badri mengisahkan tentang perjalanan hidup ‘aku’ lewat sajaknya yang bertajuk ‘’Amsal Perahu’’ Sebuah perahu kembali ke dermaga// setelah mengarungi lautan kata// ombak sajak// badai pusi// berkawan matahari (halaman 99), begitu M Badri menuliskan bait pertama sajaknya.

Dalam sajak tersebut M Badri menempatkan ‘perahu’ sebagai ‘aku’. Perahu yang berjalan menapaki kehidupannya, bermukim di berbagai persinggahan, menyelami berbagai petualangan, sampai akhirnya ia harus kembali ‘pulang’ ke pangkuan Tuhan yang menciptakannya. Hal tersebut dapat dicermati dalam bait berikut: tiba di Bandar paling sepi// ia berorasi// di antara dua perahu. Lalu riwayat ‘kepulangan’ itu dipertegas dalam ungkapan bait berikut: ketika aku tak berdarah lagi// sambutlah aku// dalam tanah kosong-Mu.

Melalui dua sajaknya yang berjudul ‘’Perjumpaan’’ dan ‘’Secangkir Kopi Sore Hari’’ Dewi S Wibowo mengisyaratkan riwayat ‘kepulangan’nya secara singkat dan padat. Namun makna ‘kepulangan’ tersebut dapat dipahami dengan sangat gamblang tertuang dalam dua sajak tersebut. Sajak pertama berbunyi: selalu akan kita kenali nantinya// seseorang bernama perpisaan// segera kita kemasi segala kenangan// sampai tangis tak sanggup lagi mendedah// segeralah. segeralah (halaman 15).

Pada kalimat seorang bernama perpisahan sangat jelas digambarkan situasi yang harus dilewati setiap manusia dalam kehidupannya yakni berpisah. Pada saat berpisah, maka segala kenanganlah yang kemudian melekat erat dalam ingatan. Pada kalimat sampai tangis tak sanggup lagi mendedah mengandung pengertian batas akhir atau batas kesanggupan seseorang untuk berhenti mengenang (melepas kenangan).

Selanjutnya, dalam ‘’Secangkir Kopi Sore Hari’’ Dewi S Wibowo mengemas riwayat ‘kepulangan’nya tersebut melalui bait berikut: ketika kau dengar dentang lonceng// percayalah bahwa waktu akan mengajari kita// untuk bergegas menggulung hari menuju lelap// menuju muasal tempat kita akan berpulang (halaman 16).

Pada kalimat waktu akan mengajari kita terkandung makna perjalanan seseorang yang dilalui dalam ruang waktu (kehidupan) dengan berbagai macam peristiwa yang dijumpainya tersebut sebagai bahan pembelajaran. Pada kalimat menggulung hari menuju lelap terkandung makna batas yang dipersiapkan untuk kembali. Dan kalimat menuju muasal tempat kita akan berpulang sangat tegas menjelaskan arah mana yang mesti dituju saat ‘berpulang’ menuju keabadian, yakni kembali kepada Sang Pencipta.

Sejatinya, sejauh apapun manusia berjalan, mengayuh sampan di luasnya samudera, namun tempat kembali yang paling hakiki hanyalah Tuhan semata. Tuhan memberikan nafas kehidupan ke pada setiap manusia dengan tujuan mulia, yakni agar menjadi khalifah di atas muka bumi. Menyerukan risalah Illahiyah kepada setiap makhluk untuk menuju jalan cahaya, jalan kebenaran Tuhan.

Dalam proses kreatifnya, para penyair dalam kumpulan sajak ‘’Sekeping Ubi Goreng’’ ini turut ambil bagian menyuarakan hakikat ketuhanan tersebut melalui bahasa sajak yang puitis. Menyuarakan kebenaran zat-Nya melalalui diksi-diksi pilihan. Memberikan nasihat melalui bait-bait yang imajinatif, secara halus tanpa menggurui.

Membaca sajak-sajak di atas, kita akan semakin memahami hakikat ‘kepulangan’ itu ternyata amat dekat dengan kita. Sejatinya, tak ada bekal yang amat berharga yang dapat kita bawa saat nyawa telah terlepas dari raga kita, kecuali amal. Hanya amal-lah yang kelak menemani dan mampu memberikan pertolongan kepada kita saat ‘kesendirian’ itu bermukim di akhir perjalanan kehidupan setiap insan.***
Sumber: cabiklunik.blogspot.com

Tindakan, Teks, dan Makna

Esai Wildan Nugraha (Seputar Indonesia, Minggu, 6 Februari 2011)

(http://www.typoeffects.com)
SEBUTLAH,dalam hidup manusia selalu bergerak, bertindak. Bahkan dalam hal ini diam pun adalah sebuah tindakan, tindakan berdiam diri.Namun tidak semua tindakan bersisa atau mengesankan.

Dalam perspektif tertentu,sebuah sikap,tindakan,atau perilaku menjadi bermakna atau bernilai ketika dibicarakan, diartikulasikan, diwacanakan. Dua orang yang bertemu secara sepintas tanpa berkomunikasi, mengobrol, kemudian mereka segera berpisah, tidak sertamerta dapat saling memaknai dengan baik. Di situ tidak ada pengartikulasian dan pewacanaan yang intens, tidak ada upaya peleburan dua khazanah maknawi masingmasing pihak. Lewat penalaran tersebut, lebih jauh kita pun melihat bahwa tindakan dari masa lalu dapat bermakna ketika ia diwacanakan.Artinya, tindakan itu ditekskan,dituliskan, dan dibekukan menjadi teks.

Sebuah tindakan, peristiwa, pengalaman,akan bermakna lebih panjang ketika ditransformasikan ke dalam bentuk teks,didokumentasikan secara tertulis. Ini, misalnya, menjadi sebuah autobiografi, biografi, catatan perjalanan, dan sebagainya. Saat sebuah teks dibaca, ketika itulah terjadi pengartikulasian, pewacanaan, perjumpaan, serta peleburan antara khazanah maknawi teks dan khazanah maknawi pembacanya. Sebuah perjumpaan yang melampaui ruang dan waktu. Sebuah perjumpaan yang, sebutlah,memungkinkan makna baru. Teks, karena itu, salah satunya seperti yang diisyaratkan Paul Ricoeur, yakni memiliki posisi penting dalam paradigma tindakan.Ia menjadi sampel pemberian makna pada tindakan.

Teks sendiri dimungkinkan kemunculannya oleh interaksi, tafsir, dan transformasi makna.Artinya, teks tidak ada dengan tiba-tiba atau tanpa disiplin logika teruji.Pada tingkat personal maupun yang lebih luas, teks pun menjadi penting bagi manusia dalam upayanya memahami realitas diri, lingkungan, kebudayaan, kehidupan, dan seterusnya. Dalam pandangan tersebut, seorang individu yang memiliki dokumentasi tertulis,catatan harian, misalnya, dianggap memiliki kemungkinan lebih baik untuk terusmenerus merumuskan dirinya. Teks, dalam hal ini menjadi representasi ìkeakuanî. Ini dapat dimaknai sebagai sesuatu yang sangat mungkin selalu menjadi, mengalami pelbagai perubahan, dan perkembangan.

Karena itu, tatkala seseorang membaca teks yang diproduksinya pada masa lalu, ia sedang melakukan ziarah terhadap dirinya sendiri.Ziarah itu bisa jadi menghasilkan makna baru, bahkan tak terduga. Ini pada tataran personal. Pada tataran kebudayaan, hal serupa pun berlaku.Kebudayaan Barat memiliki dokumentasi teks tertulis yang kaya. Keberadaan teks-teks yang bersifat dokumentatif, argumentatif,eksploratif,serta diskursif ini memungkinkan terus dikajinya peristiwa, tindakan, pun pelbagai teori yang telah dianggap mapan. Dengan demikian, ranah keilmuan dalam tradisi Barat dewasa ini menjadi ranah yang sangat dinamis.

Hal ini menyedot perhatian: sesuatu yang mungkin pada taraf tertentu memunculkan ìhegemoniî. Kebudayaan Timur tentu tidak kalah kaya akan makna, nilai, falsafah, kebijaksanaan—bah kan, bisa jadi lebih kaya.Namun,dalam falsafah, contohnya, nilai-nilai yang kaya dan mendalam itu,di negeri kita misalnya, bisa jadi masih banyak terkubur dalam berbagai artefak bukan teks seperti tembang- tembang, mitologi, taritarian, dan lainnya. Dalam bidang sains,kita masih merasa gagap merumuskan, misalnya, teknologi yang dipakai para leluhur saat membangun candi-candi megah di Nusantara. Pun, segala macam kearifan dan pengetahuan lokal seolah lebih banyak berhenti menjadi eksotisme.

Hal yang lantas lebih terlihat sebagai pajangan di etalase toko. Demikianlah teks terlihat sangat ampuh sebagai kendaraan manusia dalam memaknai dan memahami realitas.Namun, pandangan ini bukan berarti sesuatu yang final, yang berlaku universal secara mutlak. Rasionalisme atau akal budi, pandangan yang cenderung menempatkan teks sebagai sesuatu yang demikian sentral itu, ternyata tidak pernah secara sempurna menangkap ìkenyataanî.Sebab, bagaimana pun teks adalah sebuah narasi,sebuah konstruksi. Di dalam narasi selalu ada konfigurasi, rekayasa, dan pembatasan. Dengan demikian,realitas akan selalu tereduksi, terluput sebagian, bagaimana pun canggihnya akal-akalan teoretis abstrak tentang konsep-konsep universal.

Menurut Bambang Sugiharto,akal budi tidak pernah memadai di depan ìkenyataan murniî. Namun,prinsip tentang akal budi yang tidak pernah memadai itu sama sekali tidak hendak mengatakan bahwa rasionalitas harus disingkirkan.Persoalannya hanyalah bahwa diperlukan kewaspadaan terhadap pengagungan rasionalitas yang berlebihan. Hal ini terutama pada kecenderungan kuat yang sering tidak disadari untuk menyamakan rasionalitas dengan keilmiahan. Dengan demikian, menimbulkan pendapat bahwa seakan yang rasional adalah yang ilmiah saja.

Dalam kenyataan hidup sehari-hari, terlihat jelas juga bahwa memaksakan sikap ilmiah terus-menerus terhadap segala hal justru lebih merupakan takhayul (takhayul ilmiah) daripada sikap sederhana yang menerima kenyataan berdasarkan keterbatasan basis pengetahuan kita. Akhirnya, kita membaca ketegangan terus-menerus di mana pun.Hal yang sering terpinggirkan oleh teks adalah ambiguitas dunia riil, dunia pengalaman nyata, dunia yang diam-diam selalu lebih kaya. Sebaliknya,yang kerap tersisihkan dari kebanyakan manusia di banyak bidang adalah tindakan menulis, mentransformasi tindakan- tindakan, dan pengalamanpengalaman yang dianggap berharga ke dalam teks.

Dengan demikian, transformasi itu dapat dimaknai, dikaji, dan dikembangkan, baik secara personal maupun oleh publik secara luas, hingga oleh generasi berikutnya.(*)

Wildan Nugroho, Bergiat di Komunitas Titikluang dan Forum Lingkar Pena Bandung

Sumber: cabiklunik.blogspot.com

Hikayat Wong Cilik di Tengah Sastra Urban (Bagian Kedua)

Esai Helvy Tiana Rosa (Republika, 28 September 2008)

(www.flickr.com)
Andi Birulaut juga dapat menjadi contoh, bagaimana seorang "preman" kemudian bermetamorfosis menjadi pengarang, dan berhasil membawa preman-preman lain di daerah sekitar Penjaringan, Jakarta Utara, untuk peduli dan bergerak membuka Rumah Cahaya (Rumah Baca dan Hasilkan Karya), bagi anak dan remaja dhuafa di sana.

Orang-orang tersebut mengingatkan saya pada apa yang pernah ditulis Ang Tek Khun:

Aku belajar
bahwa belajar seringkali bukan ketersediaan waktu
melainkan pada kesediaan pada ketundukan hati

Aku belajar
bahwa belajar seringkali bukanlah rangkaian aksi
melainkan proses membuka diri dan proses menerima


Bila contoh-contoh di atas adalah gambaran para penggiat Forum Lingkar Pena (FLP), maka saya yakin, banyak orang seperti mereka di komunitas sastra atau kantong-kantong budaya lainnya yang berserak di desa maupun kota di negeri ini, termasuk di Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Komunitas Planet Senen (KoPS) dan lain-lain.

Bagi orang-orang seperti mereka, sastra adalah sesuatu yang membebaskan. Sastra telah memerdekakan mereka dari pandangan sempit yang melihat mereka sebagai pembantu, buruh panggul, penjaga kotak WC, pengangguran, koki, dan sebagainya itu.

Dengan sastra mereka bebas mengekspresikan diri, bahkan berupaya mencerahkan orang lain (baca: pembaca) melalui apa yang mereka tulis. Dengan demikian sastra tak lagi hanya milik kaum "cendekia", tak lagi menara gading para "elitis".

Tentu saja tak adil rasanya bila kita mengukur karya mereka yang baru muncul dengan pencapaian estetik para sastrawan terkemuka Indonesia. Meski demikian, harapan ke arah sana bukan tak mungkin. Proses yang terus menerus menempa mereka akan menjadikan mereka matang dan kelak mencapai marhalah-marhalah tertentu dalam ranah kesusastraan kita.

Kini, wawasan yang semakin meluas, kemampuan menulis dan peningkatan taraf kesejahteraan mereka dari hasil menulis, menjadi poin tersendiri bagi mereka sebagai kaum urban yang (pernah) dianggap wong cilik. Sastra telah membuat mereka menjadi lebih cerdas, lebih halus, dan tentu saja lebih "kaya", bermartabat, dan karenanya lebih dihargai oleh lingkungan mereka.

Mereka menyadari bahwa sastra bisa mencintai dan membawa mereka sebagaimana mereka mencintai dan membawa sastra. Karena itulah orang-orang seperti mereka akhirnya turut peduli, bergerak melakukan semacam kampanye gerakan membaca dan menulis yang menyentuh ragam lapisan masyarakat. Mereka yang telah menghasilkan karya nyata biasanya secara sukarela menjadi "mentor" bagi teman-teman yang belum memiliki karya.

Beda kaum urban seperti mereka dari kaum rural tentu saja terutama dalam hal kesempatan mengakses informasi, kesempatan untuk mendapatkan ragam bacaan berkualitas, banyaknya komunitas/kantong budaya, kemungkinan berdiskusi dengan berbagai kalangan, dan bagaimana memanfaatkan fasilitas yang ada di kota.

Semua itu memungkinkan proses akselerasi dari sosok mereka sebagai wong cilik menjadi penulis/pengarang dan bukan tak mungkin: sastrawan.

Persoalannya sekarang, bagaimana agar mereka yang tinggal di desa bisa mendapatkan kesempatan dan kemerdekaan seperti itu pula tanpa harus pergi ke kota?

Saya kira, salah satu tantangan terbesar bagi pemerintah daerah dan masyarakat di desa adalah perhatian dan kepedulian untuk mendirikan dan terus menerus menghidupkan kantong-kantong budaya atau komunitas sastra yang telah ada.

Ini juga yang cukup efektif dilakukan oleh teman-teman di Komunitas FLP. Kerjasama membuat sanggar-sanggar seni/budaya/sastra dengan sekolah-sekolah yang ada melalui jalur Depdiknas sebenarnya bisa sangat membantu. Selebihnya, keadaan di kota yang penuh magnit memang belum bisa dibandingkan dengan di desa.

Eseis muda Yanuardi Syukur mungkin bisa menjadi contoh menarik. Ia dijuluki teman-temannya sebagai "Anak Seribu Pulau". Ia senang mengembara ke mana-mana, ke kota besar hingga ke desa terpencil. Setiap kali pergi, entah bagaimana ia mampu menyemangati orang untuk mendirikan komunitas sastra yang belum ada di tempat itu, atau membantu menghidupkan kembali kantong budaya di sana yang hidup segan mati tak mau.

Pria berperawakan kurus ini bahkan masuk ke tempat-tempat yang mungkin enggan dijamah orang. Terakhir, sebelum ke Jakarta untuk kuliah pascasarjana, ia masih menyemangati dan memberi pelatihan menulis gratis bagi para penghuni penjara di Tobelo, Maluku Utara, yang ternyata luar biasa antusias.

Akhirnya, tekad dan ketekunan sebagai pribadi adalah faktor utama dalam meraih kesuksesan dalam segala bidang, termasuk sastra, Setidaknya itu yang dipelajari dua gadis kecil yang dulu tinggal lama bersama kedua orang tuanya yang hanya wong cilik -- di sebuah rumah triplek-kardus di tepi rel kereta api Gunung Sahari.

Setiap minggu, meski tak punya uang, mereka rutin berjalan kaki ke Gelanggang Remaja Planet Senen atau Taman Ismail Marzuki untuk menyaksikan berbagai aksi dan diskusi yang bisa mereka simak secara gratis.

Ya, berawal dari sana, saya dan adik saya Asma Nadia hingga sekarang belum juga berhenti menulis. Kini sudah sampai pada buku yang keempat puluh. Semoga Senen masih menjadi magnit. Selalu.

sumber: Republika

Hikayat Wong Cilik di Tengah Sastra Urban (Bagian Pertama)

Esai Helvy Tiana Rosa (Republika, 21 September 2008)

(Vik Muniz (b. 1961), New York City, after George Bellows (Pictures of Magazines 2), 2011)

"Sastra bukan sekadar menyapa. Ia telah memerdekakan saya dengan caranya sendiri...." (Syifa Aulia)

Kalimat yang dilontarkan Syifa Aulia di tengah canda teman-temannya di Kowloon Park bertahun-tahun lalu itu ternyata serius.Lebih kurang 10 tahun lalu ia berangkat ke Hong Kong, salah satu kota paling sibuk di dunia, untuk mengadu nasib yang lebih baik, meski harus menempuh jalan sebagai seorang domestic helper (PRT). Siapa mengira, lima tahun di sana, jalannya sebagai cerpenis justru terbuka. "Sastra telah memerdekakan saya sebagai manusia, bukan sekadar dari seorang pembantu rumah tangga atau buruh migran," ujar Syifa lagi.

Meski harus banting tulang dengan pekerjaan "rendahan", ia berusaha agar setiap waktunya bisa maksimal. Maka sambil memasak, beres-beres atau bahkan di kamar mandi, ia menggenggam pena.Malam, saat waktu tidur, dengan cahaya redup senter kecilnya, ia masih membaca atau menulis. Di kemudian hari, saat ia bisa membeli blackberry second, lalu laptop murahan, ia pun memanfaatkan wifi, mengakses internet, memperkaya referensi tulisannya.

Waktu liburnya seminggu sekali, dipakainya untuk bertemu teman-temannya dalam sebuah komunitas, yang memberi masukan atas apa yang belum, sudah atau akan ia lakukan dengan ide dan naskah tulisan di tangannya.Kini ia telah menulis tiga buku, antara lain Hong Kong, Topan ke-8. Sebelum pulang ke Indonesia, ia masih sempat bercerita, bagaimana beberapa wartawan di Hong Kong, memburu berita tentang ia dan teman-temannya dan berupaya menerjemahkan karya-karya mereka ke dalam bahasa Cantonese.

Hal seperti itu pula yang kurang lebih dialami Swastika Mahartika. Perempuan ini membawa beribu kepahitan kala mendarat di kota yang sama. Bertubi kegetiran yang ia terima di Hong Kong kemudian, bahkan tak mampu membendungnya untuk menjadi seorang pengarang serius. Tak punya kamar alias harus tidur di dapur bahkan pernah tidur bersama anjing tak juga melemahkannya.Saat disket, CD, dan flashdisc, menjadi sesuatu yang dilarang majikannya seorang bobo (nenek) yang selalu memeriksa tasnya saat keluar masuk rumah ia mengalah menitipkan semua itu di rumah temannya, termasuk sebuah piala yang ia dapatkan dari lomba menulis di komunitasnya

Andina Respati, Wina Karnie (penulis kumpulan cerpen Wanita dan Negeri Beton) dan puluhan lainnya juga punya cerita yang dramatis, tentang bagaimana memulai karir mereka sebagai penulis, dalam posisi sebagai kaum urban yang lemah dan tertindas."Kami akan meluncurkan belasan buku lagi tahun 2008 ini, Mbak," kabar dari Respati yang masuk ke ponsel saya. Ia dan teman-temannya terus mengadakan berbagai pelatihan untuk menjaring para penulis baru dari kalangan domestic helper di sana.

Buruh panggul

Kisah tentang teman saya, Sakti Wibowo dan Nasirun, lain lagi.Sakti memulai karirnya sebagai buruh panggul pabrik roti di sebuah kota di Jawa Tengah. Siapa mengira, beberapa tahun kemudian ia telah menulis lebih dari 20 novel dan kumpulan cerpen. Kini ia bekerja sebagaiscript writer lepas dan editor di sebuah penerbitan di Jakarta.Nasirun selalu memperkenalkan dirinya sebagai "Lulusan TK Pertiwi". Berangkat dari desa ke kota, ia bergelut dengan berbagai macam pekerjaan: tukang parkir hingga menjadi penjaga kotak WC. Lalu kemudian ia dimerdekakan oleh sebuah pekerjaan: menulis. Kini banyak orang belajar menulis dari penyair yang juga kartunis itu.

Paris J Ipal bekerja sebagai SPG di sebuah mall di Jakarta, kini telah menulis lebih dari lima buku. Amir, jauh-jauh merantau dari Sulawesi Selatan dengan kesadaran penuh: pergi ke Jakarta dan menjadi penulis! la sempat terlunta-lunta sebelum akhirnya menjadi SPG di Gramedia dan tahun lalu memenangkan sebuah sayembara penulisan cerpen berhadiah jutaan rupiah. Kini ia tengah menyiapkan buku pertamanya.Begitu juga yang dilakukan Arlen Ara Guci; dari pengangguran di kota, menjelma penulis lima buku, bahkan bisa bekerja di penerbitan.

Afifa Afra adalah seorang mahasiswi pekerja sosial, yang dari jalanan kemudian menulis puluhan buku, bahkan membuat sekolah menulis. Noor H Dee adalah koki sebuah kafe di Jakarta yang kemudian menemukan jalan sejatinya sebagai pengarang dan penggiat sebuah penerbitan. Bukunya: Sepasang mata untuk Cinta yang Buta, baru saja terbit dan menegaskan keseriusannya di dunia sastra.

* Helvy Tiana Rosa, Cerpenis, pendiri Forum Lingkar Pena

Sumber: cabiklunik.blogspot.com

Senin, 21 Desember 2015

Membaca Bius Estetika Kata dalam Cerpen "Air Akar" Benny Arnas

Esai Nafi'ah Al-Ma'rab (Riau Pos, 12 Januari 2014)

(http://hifructose.com)
Sudah menjadi kebiasaan, setiap penulis ingin unggul dengan karakternya masing-masing. Sebab karakter inilah yang akan membuat sebuah karya bertahan, demikian pula dengan penulisnya akan selalu dikenang dengan suatu keahlian yang akan menjadi pembelajaran bagi penulis-penulis dikemudian hari. Benny Arnas, siapa yang tak kenal dengan penulis kumcer Bulan Celurit Api yang sempat menghebohkan media-media harian di tanah air. Karakter khas yang melekat pada penulis asal Lubuklinggau tersebut tak lain adalah bagaimana kemahiran dirinya memilah kata, membuat yang biasa menjadi tak biasa, membuat yang sederhana menjadi lebih berestetika.

Cerpen "Air Akar" karya Benny Arnas merupakan salah satu cerpen dari sekian banyak cerpen yang ia tulis dengan tetap bertahan dengan perbincangan tema-tema lokal yang tak pernah habis. Cerpen ini menjadi pemenang pertama pada event lomba Kutulis Nusantara tahun 2012 dan saat ini termuat dalam antologi cerpen budaya bersama sepuluh pemenang lainnya. Diterbitkan langsung oleh penerbit kenamaan Gramedia Pustaka Utama menjadikan cerpen "Air Akar" kian membumi di seluruh antero.

Membaca cerpen "Air Akar" tersebut, kita akan menemukan beberapa hal yang bisa menjadi 'oleh-oleh' intelektual untuk pengembangan karya-karya yang akan kita tulis. Pertama, terlihat jelas konsistensi Benny Arnas dalam menggarap tema-tema lokal di wilayah Lubuklinggau yang seolah tak pernah habis. Kisah seorang guru PNS yang mengabdi di daerah pedalaman kawasan tersebut dengan lika-liku masalah sosial budaya yang ia hadapi telah berhasil menghadirkan kesan lokal yang cukup dalam. Karakter lokal yang dihadirkan oleh Benny dalam cerpen tersebut diantaranya adalah setting, konflik yang diangkat dari kondisi sosial budaya setempat dan sebagainya. Karya-karya Benny Arnas bisa dibilang dapat dijadikan sebagai referensi pembelajaran untuk penulis mula yang masih kebingungan bagaimana caranya menghadirkan kesan lokal dalam sebuah cerpen. Dibanyak kesempatan, Benny sering menegaskan bahwa dirinya termasuk pendukung 'kearifan lokal' yang arif.

Karya-karyanya selalu berupaya melakukan pelurusan fakta suatu kearifan lokal yang terkadang dinilai tidak arif.

Kedua adalah soal bius estetika kata yang tak pernah alpa menjadi menu hidangan di setiap karya-karya cerpen Benny Arnas. Lihatlah bagaimana ia mengolah kata yang biasa menjadi tak biasa dalam paragrap berikut, Jarum-jarum bening bagai berebutan menciumi pucuk-pucuk karet, seolah tahu benar betapa pohon-pohon tua itu meranggas karena kemarau yang memamah beberapa purnama. Daun-daun kering yang menyelimuti hamparan tanah di bawah payungan kanopi karet, kini lindap, basah, lembab, lalu mempersilakan cacing, kalajengking, dan pacat menggeliat, mencari makan ke sana-ke mari. Tak lama, raksasa itu lelah juga. Wajah langit kembali merona biru laut. Di salah satu lembah, dekat Sungai Lubukumbuk, bianglala melengkungkan cahaya tujuh warna. Memang, sebagaimana di kampung lain, penduduk Kampung Nulang yang sebagian besar menyadap karet itu juga percaya bahwa beberapa bidadari kerap singgah di kampung mereka, di lembah yang sejuk oleh semak bambu, perdu, dan pohon-pohon besar tak bernama. Namun, mereka tak pernah tahu bahwa Tuhan telah menurunkan seorang bidadari di tengah-tengah mereka.

Sebenarnya soal estetika saja akan menjadi hal yang biasa apabila tidak dibarengi kemampuan membius pembaca dengan alur cerita yang menawan. Belum lagi selesai pembaca terkagum-kagum dengan bius estetika yang dihadirkan, pembaca harus tersentak ketika ending yang dihadirkan erat kaitannya dengan paragraf sederhana yang barangkali tak pernah diperkirakan oleh para pembaca menjadi kunci penyelesaian konflik cerita, Pada hari yang lain (mungkin ayah Nalin mengira Bunga Raya juga akan menyadap karet seperti perempuan Kampung Nulang pada umumnya), ia dikirimi sebotol cuka para, semacam air keras berwarna gelap yang sering digunakan untuk mencetak karet sebelum siap dijual. Bunga Raya tetap menerimanya (ia berencana akan memberikannya kepada penyadap karet sekitar yang membutuhkan). Upaya Benny dalam menyembunyikan ending dalam cerpen Air Akar tersebut bisa dibilang berhasil.

Hal ketiga yang patut untuk dijadikan 'oleh-oleh' intelektual dalam cerpen "Air Akar" tersebut adalah nilai edukasi informatif yang disajikan secara transparan. Paragraf berikut ini bisa sedikit menggambarkannya, Maka, setelah berulang kali bolak-balik ke kota, setelah berulangkali berkonsultasi dengan beberapa dokter, ahli herbal, dan teman-temannya yang peduli, Bunga Raya akhirnya dapat membuat Air Akar. Demikianlah sari umbi-umbian dan akar-akaran itu diberinama. Air Akar diyakini dapat menyembuhkan sejumlah penyakit dan keluhan. Ramuan cokelat pekat itu biasanya dimasukkan ke dalam botol dan dapat digunakan untuk waktu berbulan-bulan. Memang rasanya pahit tak kepalang. Namun, ini bukan tentang rasa yang kerap diributkan orang-orang kota. Ini tentang tampilan yang harus berkarib dengan alam dan kampung yang sederhana. Untuk itu semua, Bunga Raya merelakan sebagian gajinya terpakai. Ya, Bunga Raya sadar benar, tak cukup hanya dengan bismilah untuk mengurusi nyawa orang!

Membaca sebuah cerpen menjadi tak sekedar menikmati estetika. Benny ingin mengesankan kepada pembaca tentang informasi pengetahuan pengobatan alami melalui karyanya. Ini merupakan hal yang patut dihargai, sebab yang lebih istimewa lagi adalah, Benny mengangkat informasi pengobatan tersebut juga masih dalam kerangka tema lokal yang ia garap. 

Hampir tak ditemukan cela dalam cerpen "Air Akar". Meskipun Benny kerap dituding sebagai penulis yang harus terus mengasah kemampuan menghidupkan tokoh, namun "Air Akar" menjadi bukti kepiawaian Benny bersahabat dengan kata.***

* Ketua Forum Lingkar Pena Riau.
Baca juga cerpen Air Akar

Minggu, 09 Februari 2014

Realitas Dua Dunia dalam Cerpen ‘Klikkk’

Oleh Fardelyn Hacky (Serambi Indonesia, 9 Februari 2014)

(scvincent.wordpress.com)

Dunia hari ini adalah dunia yang tak lepas dari segala tingkah polah dan aktifitas klik pada komputermu, telepon pintar, atau apapun gadget canggih yang kau miliki, setelah kau menyambungkannya dengan internet. Klik, lalu blaaaa… sebuah dunia lain akan terbentang luas di hadapanmu. Tak perlu kau beranjak jauh atau menghabiskan puluhan juta untuk bisa sampai ke Amerika. Cukup klik ini klik itu… blaaaaaaa! Kau sampai ke Amerika. Luar biasa.

Kira-kira, begitulah pesan moral yang ingin disampaikan oleh Musmarwan Abdullah dalam cerpennya yang berjudul ‘Klikkk’, dimuat di Harian Serambi Indonesia, Minggu (26/1/2014). Dunia hari ini adalah dunia yang membingungkan. Dunia nyata yang menjadi maya dan dunia maya yang menjadi nyata. Apa kau pernah menghadiri sebuah ‘kopi darat’ dengan orang-orang di dunia maya di dunia nyata? Lihat apa yang mereka lakukan? Tubuh mereka bersentuhan, namun isi kepala mereka dan perbincangan hanya dilakukan melalui sebuah media berbentuk petak. Realita di dunia nyata tergantikan dengan ‘autisme’ dunia maya. Bisa kau bayangkan jika keadaan begini terus terjadi hingga lima ratus kemudian? Generasi saya, Anda dan kita semua, tak hanya menjadi generasi menunduk. Akan tiba masa di mana partikel-partikel yang berada di dunia maya akan menarik lebih kuat dan menyerap sel-sel tubuh manusia untuk bertransformasi dan hidup di dunia yang berbeda. Blaaaaaaa! Selamat datang di dunia baru. Dunia yang hanya bisa dimasuki dengan malakukan sekali klik saja di layar sebuah gadget canggih. Ya, cukup ‘Klikkk’ saja.

***

Di antara puluhan cerpen yang telah tayang di Serambi Indonesia setiap minggunya, saya tertarik dengan cerpen Musmarwan. Cerpen ini bercerita tentang seseorang –yang sampai akhir cerita tak diketahui namanya– yang hidup di masa kini dan terlempar ke masa lima ratus tahun ke depan setelah melalui tidur panjang. Di masa lima ratus tahun ke depan, sang tokoh mendapati kenyataan bahwa dunia ini sudah kosong melompong. Tak ada sesosokpun manusia saat itu. Yang ada hanya hutan belantara dengan bangunan-bangunan yang sudah menua. Kondisi ini tentu saja bertentangan dengan logika perkembangan teknologi yang seharusnya terjadi di lima ratus tahun ke depan, di mana kemungkinan-kemungkinan seperti; hutan yang dibabat habis karena keperluan bahan baku kayu yang kian terdesak, gunung yang menjadi rata karena adanya pengerukan terus-menerus tanah gunung untuk keperluan membangun rumah atau meninggikan jalan atau perluasan lahan karena penduduk bumi yang kian padat; dan kemungkinan nyaris seluruh permukaan bumi akan berdiri gedung-gedung bertingkat dan bukannya bangunan-bangunan tua tak berpenghuni. Tapi tentu saja kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi lima ratus tahun kemudian. Bisa saja kondisinya seperti kemungkinan-kemungkinan yang saya sebut di atas, atau justru sebaliknya, kondisi dunia kembali seperti jaman purba kala.

Musmarwan Abdullah menggambarkan dunia di lima ratus ke depan dengan pilihan kondisi yang kedua. Ini sah-sah saja dalam sebuah fiksi selama tidak menggadaikan logika yang akan bertabrakan dengan unsur-unsur penceritaan yang menyertainya. Dan Musmarwan dengan cerdas menangkap fenomena dua dunia –maya dan nyata– lalu melemparkannya jauh ke depan sana. Kita mungkin pernah membaca buku atau menonton film tentang perjalanan seseorang menembus batas waktu. Apakah kembali ke masa lalu atau melangkah ke masa depan? Namun cerpen ini menjadi berbeda karena Musmarwan mengangkatnya atas dasar realita dan problematika kekinian ke dalam cerpennya, yaitu dunia dengan orang-orang yang riuh di media sosial. Gagasan tertidur selama ratusan tahun dan menemukan fakta kehidupan baru yang berbeda sama sekali dari kehidupan di masa sebelumnya, bukanlah gagasan baru. Agaknya Musmarwan Abdullah benar-benar terilhami oleh kisah tujuh pemuda –Ashabul Kahfi– yang tertidur selama lebih dari tiga ratus tahun, serta memasukkan ide dari kisah tersebut sebagai salah satu cara untuk mempertahanan logika dan keutuhan cerita.

Cerpen ini adalah refleksi atas sebuah pemikiran, renungan, kelebatan pertanyaan, tentang kira-kira bagaimanakah keadaan lima ratus tahun yang akan datang jika dihubungkan dengan kecanggihan teknologi terutama media sosial? Mengingat bahwa sekarang, mungkin nyaris sepersepuluh penduduk dunia memiliki akun di media sosial dan mungkin saja sepersepuluh dari jumlah tersebut adalah mereka yang terlalu menikmati kehidupan sosial ala media sosial di dunia maya dibanding bersosialisasi di dunia nyata. Maka bisa saja di lima ratus tahun yang akan datang, semua penduduk di muka bumi akan memiliki akun di media sosial dan semua kegiatan seperti komunikasi dan sosialisasi hanya akan berlangsung di dunia maya. Saat itu, berbagai jenis media sosial di dunia maya akan lebih ramai dan lebih nyata dibanding dunia nyata itu sendiri. Maka, terciptalah dunia maya yang nyata.

‘Klikkk’ adalah cerpen yang berangkat dari ide yang unik, sedikit liar, dan menyentil manusia-manusia ‘autis’ masa kini. Namun pesan moral tersebut tidak terasa menggurui karena penggunaan sudut pandang orang kedua. Agaknya Musmawan paham betul bahwa jika cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama atau orang ketiga, maka cerpen ini akan gagal total. Sebuah cerita yang berangkat dari sebuah ide yang menarik namun jika tanpa adanya teknik bercerita yang memikat, maka cerpen ini akan menjadi biasa-biasa saja. Dalam sudut pandang kedua, hanya ada narator dan pembaca. Dengan menjadikan ‘kamu’, ‘kau’, ‘engkau’, dan kata-kata sejenisnya sebagai penggunaan kata yang lazim pada sudut pandang orang kedua, narator seolah sedang berbicara dengan ‘kamu’ sebagai pembaca. Karenanya pembaca merasa ikut dilibatkan dalam sebuah cerita. Dengan cara seperti ini, Musmarwan seolah ingin menyampaikan sebuah pesan moral dengan cara meleburkan jarak antara narator dan pembaca.

Namun ada bagian yang terasa janggal dalam cerpen ini, yaitu saat dialog si tokoh meminta password pada arwah Mark Zuckerberg. Penulis sepertinya kehabisan ide untuk mengembangkan cerita di dua paragraf yang memuat bahasa daerah, bahasa yang mungkin saja akan punah tak sampai di lima ratus tahun ke depan, jika tanpa kesadaran penuh dari generasi sekarang untuk melestarikannya. Akan lebih menarik jika dialog-dialog tersebut menggunakan bahasa Indonesia, selain kenyataan bahwa kalimat-kalimat berbahasa Aceh tersebut lebih terkesan ulok alias candaan ala anak-anak kampung di Aceh, namun sama sekali tidak lucu. Tentang kehadiran tokoh arwah si Mark, juga meninggalkan banyak tanda tanya besar. Kenapa arwah Mark di masa lima ratus ke depan bisa berbahasa Aceh? Apakah bahasa Aceh adalah bahasa dunia maya di lima ratus ke depan? Apakah sebelum meninggal si Mark sempat tinggal di Aceh dan mempelajari bahasa di daerah ini? Berbagai tanya tanpa jawaban tersebut mampu menggulingkan logika cerita yang sudah terbangun dengan baik sejak awal.

Pada paragraf ketiga, entah penulis silap atau lupa. Tertulis; Sekarang genap lima ratus tahun sudah berlalu. Dan keesokan paginya, pada hari kelima ratus satu, kau pun terjaga. Di awal disebut lima ratus tahun sudah berlalu, lalu kenapa kemudian menyebut hari kelima ratus satu yang berarti lima ratusan hari dan bukannya lima ratusan tahun?

Di dua paragraf menjelang akhir (ending), Musmarwan mulai bisa berpijak dengan tegak, tak lagi gamang seperti di dua paragraf sebelum dua paragraf menuju akhir. Musmarwan dengan cerdik memilih cara mengeksekusi cerita seperti ini:

“Oh, Tuhan, bagaimana caranya ini? Oh-oh-oh! Ya-ya-ya!” kau ingat. Kau masih punya baterai serap yang sering kaugunakan dulu dalam perjalanan. “Semoga dia masih ada di dalam laci meja ini.” Dan laci meja segera kaubuka. Wah! Kau menemukan baterai itu. Segera kaupasangkan pada laptop. “Semoga ia masih menyimpan arus barang sedikit.” Nah, sekarang power laptop kautekan. Blaaaaaaa! Laptop menyala. Kau mengakses internet. Membuka akun Facebook. Lalu keluar tulisan, “Mau meneruskan? Klik di sini!” Dan kau mengklik di situ. Klikkk!

Kalau saya boleh menyarankan, mungkin kalimat terakhir untuk cerpen ini cukup pada kalimat “Mau meneruskan? Klik di sini!” saja. Kalimat sesudah kalimat tersebut adalah sebuan pemaksaan pikiran penulisnya. Alih-alih ingin melibatkan imajinasi pembaca, penulis secara tersirat justru mengajak pembaca untuk mengikuti apa yang diinginkannya. Seharusnya biarkan saja pembaca mereka-reka sendiri. Apakah sang tokoh akan meng-klik di situ atau tidak?