Dewi karya Yus R. Ismail Komidi Putar karya Gegge S. Mappangewa Pertarungan karya Benny Arnas Kacamata karya Noor H. Dee Debu-Debu Tuhan
Tampilkan postingan dengan label 2008. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2008. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Desember 2015

Hikayat Wong Cilik di Tengah Sastra Urban (Bagian Kedua)

Esai Helvy Tiana Rosa (Republika, 28 September 2008)

(www.flickr.com)
Andi Birulaut juga dapat menjadi contoh, bagaimana seorang "preman" kemudian bermetamorfosis menjadi pengarang, dan berhasil membawa preman-preman lain di daerah sekitar Penjaringan, Jakarta Utara, untuk peduli dan bergerak membuka Rumah Cahaya (Rumah Baca dan Hasilkan Karya), bagi anak dan remaja dhuafa di sana.

Orang-orang tersebut mengingatkan saya pada apa yang pernah ditulis Ang Tek Khun:

Aku belajar
bahwa belajar seringkali bukan ketersediaan waktu
melainkan pada kesediaan pada ketundukan hati

Aku belajar
bahwa belajar seringkali bukanlah rangkaian aksi
melainkan proses membuka diri dan proses menerima


Bila contoh-contoh di atas adalah gambaran para penggiat Forum Lingkar Pena (FLP), maka saya yakin, banyak orang seperti mereka di komunitas sastra atau kantong-kantong budaya lainnya yang berserak di desa maupun kota di negeri ini, termasuk di Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Komunitas Planet Senen (KoPS) dan lain-lain.

Bagi orang-orang seperti mereka, sastra adalah sesuatu yang membebaskan. Sastra telah memerdekakan mereka dari pandangan sempit yang melihat mereka sebagai pembantu, buruh panggul, penjaga kotak WC, pengangguran, koki, dan sebagainya itu.

Dengan sastra mereka bebas mengekspresikan diri, bahkan berupaya mencerahkan orang lain (baca: pembaca) melalui apa yang mereka tulis. Dengan demikian sastra tak lagi hanya milik kaum "cendekia", tak lagi menara gading para "elitis".

Tentu saja tak adil rasanya bila kita mengukur karya mereka yang baru muncul dengan pencapaian estetik para sastrawan terkemuka Indonesia. Meski demikian, harapan ke arah sana bukan tak mungkin. Proses yang terus menerus menempa mereka akan menjadikan mereka matang dan kelak mencapai marhalah-marhalah tertentu dalam ranah kesusastraan kita.

Kini, wawasan yang semakin meluas, kemampuan menulis dan peningkatan taraf kesejahteraan mereka dari hasil menulis, menjadi poin tersendiri bagi mereka sebagai kaum urban yang (pernah) dianggap wong cilik. Sastra telah membuat mereka menjadi lebih cerdas, lebih halus, dan tentu saja lebih "kaya", bermartabat, dan karenanya lebih dihargai oleh lingkungan mereka.

Mereka menyadari bahwa sastra bisa mencintai dan membawa mereka sebagaimana mereka mencintai dan membawa sastra. Karena itulah orang-orang seperti mereka akhirnya turut peduli, bergerak melakukan semacam kampanye gerakan membaca dan menulis yang menyentuh ragam lapisan masyarakat. Mereka yang telah menghasilkan karya nyata biasanya secara sukarela menjadi "mentor" bagi teman-teman yang belum memiliki karya.

Beda kaum urban seperti mereka dari kaum rural tentu saja terutama dalam hal kesempatan mengakses informasi, kesempatan untuk mendapatkan ragam bacaan berkualitas, banyaknya komunitas/kantong budaya, kemungkinan berdiskusi dengan berbagai kalangan, dan bagaimana memanfaatkan fasilitas yang ada di kota.

Semua itu memungkinkan proses akselerasi dari sosok mereka sebagai wong cilik menjadi penulis/pengarang dan bukan tak mungkin: sastrawan.

Persoalannya sekarang, bagaimana agar mereka yang tinggal di desa bisa mendapatkan kesempatan dan kemerdekaan seperti itu pula tanpa harus pergi ke kota?

Saya kira, salah satu tantangan terbesar bagi pemerintah daerah dan masyarakat di desa adalah perhatian dan kepedulian untuk mendirikan dan terus menerus menghidupkan kantong-kantong budaya atau komunitas sastra yang telah ada.

Ini juga yang cukup efektif dilakukan oleh teman-teman di Komunitas FLP. Kerjasama membuat sanggar-sanggar seni/budaya/sastra dengan sekolah-sekolah yang ada melalui jalur Depdiknas sebenarnya bisa sangat membantu. Selebihnya, keadaan di kota yang penuh magnit memang belum bisa dibandingkan dengan di desa.

Eseis muda Yanuardi Syukur mungkin bisa menjadi contoh menarik. Ia dijuluki teman-temannya sebagai "Anak Seribu Pulau". Ia senang mengembara ke mana-mana, ke kota besar hingga ke desa terpencil. Setiap kali pergi, entah bagaimana ia mampu menyemangati orang untuk mendirikan komunitas sastra yang belum ada di tempat itu, atau membantu menghidupkan kembali kantong budaya di sana yang hidup segan mati tak mau.

Pria berperawakan kurus ini bahkan masuk ke tempat-tempat yang mungkin enggan dijamah orang. Terakhir, sebelum ke Jakarta untuk kuliah pascasarjana, ia masih menyemangati dan memberi pelatihan menulis gratis bagi para penghuni penjara di Tobelo, Maluku Utara, yang ternyata luar biasa antusias.

Akhirnya, tekad dan ketekunan sebagai pribadi adalah faktor utama dalam meraih kesuksesan dalam segala bidang, termasuk sastra, Setidaknya itu yang dipelajari dua gadis kecil yang dulu tinggal lama bersama kedua orang tuanya yang hanya wong cilik -- di sebuah rumah triplek-kardus di tepi rel kereta api Gunung Sahari.

Setiap minggu, meski tak punya uang, mereka rutin berjalan kaki ke Gelanggang Remaja Planet Senen atau Taman Ismail Marzuki untuk menyaksikan berbagai aksi dan diskusi yang bisa mereka simak secara gratis.

Ya, berawal dari sana, saya dan adik saya Asma Nadia hingga sekarang belum juga berhenti menulis. Kini sudah sampai pada buku yang keempat puluh. Semoga Senen masih menjadi magnit. Selalu.

sumber: Republika

Hikayat Wong Cilik di Tengah Sastra Urban (Bagian Pertama)

Esai Helvy Tiana Rosa (Republika, 21 September 2008)

(Vik Muniz (b. 1961), New York City, after George Bellows (Pictures of Magazines 2), 2011)

"Sastra bukan sekadar menyapa. Ia telah memerdekakan saya dengan caranya sendiri...." (Syifa Aulia)

Kalimat yang dilontarkan Syifa Aulia di tengah canda teman-temannya di Kowloon Park bertahun-tahun lalu itu ternyata serius.Lebih kurang 10 tahun lalu ia berangkat ke Hong Kong, salah satu kota paling sibuk di dunia, untuk mengadu nasib yang lebih baik, meski harus menempuh jalan sebagai seorang domestic helper (PRT). Siapa mengira, lima tahun di sana, jalannya sebagai cerpenis justru terbuka. "Sastra telah memerdekakan saya sebagai manusia, bukan sekadar dari seorang pembantu rumah tangga atau buruh migran," ujar Syifa lagi.

Meski harus banting tulang dengan pekerjaan "rendahan", ia berusaha agar setiap waktunya bisa maksimal. Maka sambil memasak, beres-beres atau bahkan di kamar mandi, ia menggenggam pena.Malam, saat waktu tidur, dengan cahaya redup senter kecilnya, ia masih membaca atau menulis. Di kemudian hari, saat ia bisa membeli blackberry second, lalu laptop murahan, ia pun memanfaatkan wifi, mengakses internet, memperkaya referensi tulisannya.

Waktu liburnya seminggu sekali, dipakainya untuk bertemu teman-temannya dalam sebuah komunitas, yang memberi masukan atas apa yang belum, sudah atau akan ia lakukan dengan ide dan naskah tulisan di tangannya.Kini ia telah menulis tiga buku, antara lain Hong Kong, Topan ke-8. Sebelum pulang ke Indonesia, ia masih sempat bercerita, bagaimana beberapa wartawan di Hong Kong, memburu berita tentang ia dan teman-temannya dan berupaya menerjemahkan karya-karya mereka ke dalam bahasa Cantonese.

Hal seperti itu pula yang kurang lebih dialami Swastika Mahartika. Perempuan ini membawa beribu kepahitan kala mendarat di kota yang sama. Bertubi kegetiran yang ia terima di Hong Kong kemudian, bahkan tak mampu membendungnya untuk menjadi seorang pengarang serius. Tak punya kamar alias harus tidur di dapur bahkan pernah tidur bersama anjing tak juga melemahkannya.Saat disket, CD, dan flashdisc, menjadi sesuatu yang dilarang majikannya seorang bobo (nenek) yang selalu memeriksa tasnya saat keluar masuk rumah ia mengalah menitipkan semua itu di rumah temannya, termasuk sebuah piala yang ia dapatkan dari lomba menulis di komunitasnya

Andina Respati, Wina Karnie (penulis kumpulan cerpen Wanita dan Negeri Beton) dan puluhan lainnya juga punya cerita yang dramatis, tentang bagaimana memulai karir mereka sebagai penulis, dalam posisi sebagai kaum urban yang lemah dan tertindas."Kami akan meluncurkan belasan buku lagi tahun 2008 ini, Mbak," kabar dari Respati yang masuk ke ponsel saya. Ia dan teman-temannya terus mengadakan berbagai pelatihan untuk menjaring para penulis baru dari kalangan domestic helper di sana.

Buruh panggul

Kisah tentang teman saya, Sakti Wibowo dan Nasirun, lain lagi.Sakti memulai karirnya sebagai buruh panggul pabrik roti di sebuah kota di Jawa Tengah. Siapa mengira, beberapa tahun kemudian ia telah menulis lebih dari 20 novel dan kumpulan cerpen. Kini ia bekerja sebagaiscript writer lepas dan editor di sebuah penerbitan di Jakarta.Nasirun selalu memperkenalkan dirinya sebagai "Lulusan TK Pertiwi". Berangkat dari desa ke kota, ia bergelut dengan berbagai macam pekerjaan: tukang parkir hingga menjadi penjaga kotak WC. Lalu kemudian ia dimerdekakan oleh sebuah pekerjaan: menulis. Kini banyak orang belajar menulis dari penyair yang juga kartunis itu.

Paris J Ipal bekerja sebagai SPG di sebuah mall di Jakarta, kini telah menulis lebih dari lima buku. Amir, jauh-jauh merantau dari Sulawesi Selatan dengan kesadaran penuh: pergi ke Jakarta dan menjadi penulis! la sempat terlunta-lunta sebelum akhirnya menjadi SPG di Gramedia dan tahun lalu memenangkan sebuah sayembara penulisan cerpen berhadiah jutaan rupiah. Kini ia tengah menyiapkan buku pertamanya.Begitu juga yang dilakukan Arlen Ara Guci; dari pengangguran di kota, menjelma penulis lima buku, bahkan bisa bekerja di penerbitan.

Afifa Afra adalah seorang mahasiswi pekerja sosial, yang dari jalanan kemudian menulis puluhan buku, bahkan membuat sekolah menulis. Noor H Dee adalah koki sebuah kafe di Jakarta yang kemudian menemukan jalan sejatinya sebagai pengarang dan penggiat sebuah penerbitan. Bukunya: Sepasang mata untuk Cinta yang Buta, baru saja terbit dan menegaskan keseriusannya di dunia sastra.

* Helvy Tiana Rosa, Cerpenis, pendiri Forum Lingkar Pena

Sumber: cabiklunik.blogspot.com