Dewi karya Yus R. Ismail Komidi Putar karya Gegge S. Mappangewa Pertarungan karya Benny Arnas Kacamata karya Noor H. Dee Debu-Debu Tuhan
Tampilkan postingan dengan label Zaenal Radar T. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zaenal Radar T. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Agustus 2012

Markum Mengejar Lailatul Qadar

Markum Mengejar Lailatul Qadar

Cerpen Zaenal Radar T. (Republika, 5 Agustus 2012)

lakonhidup.wordpress.com
MARKUM yakin dan percaya, bahwa di dalam bulan Ramadhan ini ada sebuah malam yang lebih baik daripada malam seribu bulan, yakni malam lailatul qadar. Seperti yang pernah ia dengar dari Ustad Sahroni, seorang ustad yang menjadi penceramah di masjidnya.

Markum penasaran, kapan kira-kira malam lailatul qadar itu datang. Untuk itulah ia ingin menanyakan lebih detil lagi pada Ustad Sahroni. Sore hari, sebelum buka puasa, Markum mendatangi masjid untuk bertemu beliau.

“Tad, kira-kira kapan malam lailatul qadar itu datang. Apakah malam ini, atau besok? Tolonglah ustad kasih tahu ke saya. Saya ingin sekali bertemu dengannya….”

Ustad Sahroni tersenyum mendengar pertanyaan Markum, “Kum,nggak ada yang tahu kapan datangnya malam lailatul qadar. Saya sendiri juga nggak tahu….”

Lho, ustad kan pernah bilang, kalo malam lailatul qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Tolonglah ustad, kasih tahu saya. Atau jangan-jangan Pak Ustad merahasiakannya, supaya Ustad sendiri yang tahu dan bertemu dengannya…?”

Ustad Sahroni menghela napas panjang. Lalu geleng-geleng kepala. Itu artinya, Ustad Sahroni benar-benar tidak tahu. Atau mungkin menandakan beliau bingung menghadapi salah satu warganya yang satu ini.

“Pak Ustad nggak usah pelit begitu, dong… Pak Ustad pasti tahu. Kalau memang nggak mau menyebut kapan waktunya, bolehlah ciri-cirinya Pak. Saya kan ingin sekali bertemu pada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Tolonglah Pak Ustad….”

“Haduh, Kum… kamu kok, maksa? Begini saja. Dalam salah satu riwayat, saya pernah membaca. Malam lailatul qadar itu terjadi di malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir….”

Markum mengangguk-angguk mengerti, “Jadi, Tad, kalau nggakmalam ke-21, berarti malam ke-23? Atau malam ke-25, ke-27, atau… ke-29? Wah, banyak betul pilihannya Pak Ustad…?!”

Ustad Sahroni garuk-garuk kepala.

Ya sudah kalau begitu. Biar nanti saya cari sendiri. Terima kasih, Pak Ustad. Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salaam…”

Markum meninggalkan masjid. Ustad Sahroni memandangi kepergian Markum dengan tatapan heran. Namun di dalam hatinya, beliau senang betul melihat kemauan Markum beribadah di bulan Ramadhan ini, apalagi sampai ingin menemukan malam lailatul qadar segala. Sepengetahuan Ustad Sahroni, selama ini Markum bukan cuma jarang ke masjid. Tetapi dia pemuda pengangguran yang malas dan kerap ketahuan mencuri sandal penduduk.

***

Pada Ramadhan malam ke dua puluh satu, Markum sudah bersiap-siap menghadapi malam lailatul qadar. Siangnya sengaja Markum tidur seharian. Supaya malamnya bisa begadang untuk bertemu pada malam yang lebih baik daripada malam seribu bulan. Kalau memang benar, dia berencana akan berdoa kepada Tuhan, supaya diberikan limpahan rezeki dan dikaruniai jodoh.

Markum pernah mendengar kabar burung tentang Haji Duloh, bahwa dulunya ia pernah berdoa di malam lailatul qadar. Waktu itu beliau berdoa minta diberikan keluasan rejeki. Dan semua itu terwujud. Sekarang ini Haji Duloh punya lima buah toko pakaian. Dua kali naik haji. Punya istri tiga. Mobil enam. Rumah empat. Kontrakkan berpuluh pintu. Dan tanah yang sungguh teramat luas. Markum yakin kalau semua itu berkat malam lailatul qadar. Untuk itulah ia ngotot pada ramadhan kali ini bisa bertemu dengan malam yang dimaksud.

Selepas mengikuti salat tarawih berjamaah, Markum ke warung Ucok memesan obat nyamuk oles. Markum tak mau diganggu nyamuk-nyamuk nakal itu. Menurut Pak Anwari, marbot masjid yang tidur di masjid, nyamuk-nyamuk nakal suka mengganggunya. Markum tak mau bertemu malam lailatul qadar bersama-sama dengan nyamuk. Bisa-bisa konsentrasinya terganggu lantaran gangguan nyamuk-nyamuk itu.

Di masjid sudah terdapat beberapa jamaah lainnya yang tengah mengaji atau beberapa orang yang tidur-tiduran melepas lelah. Markum sengaja berdiam di salah satu sudut, agar jamaah lainnya tidak melihat atau merasa pangling padanya. Sebab baru malam ini ia bermalam di masjid.

Sambil menunggu penghujung malam, Markum bersandar di dinding masjid yang terasa sejuk. Obat nyamuk cair sudah ia oleskan ke sekujur tubuh. Terdengar beberapa orang membaca ayat suci Alquran sedemikian merdu. Hal itu membuat Markum terkantuk-kantuk. Dan Markum yang dasarnya doyan tidur pun secara tak sengaja mengorok. Ia baru bangun saat Pak Anwari membangunkan warga sahur dengan pengeras suara. Markum tersentak dan kebingungan. Ia merasa gagal bertemu dengan malam lailatul qadar!

“Kum, kok sedih begitu…??” tanya Pak Anwari, paginya saat berpapasan di sebuah jalan dekat masjid.

“Saya gagal bertemu malam lailatul qadar…,” lirih Markum.

Lha, emangnya semalam itu malam lailatul qadar, Kum?”

“Ya, benar. Kan semalam itu malam ke-21. Malam ganjil!”

“Ah, belum tentu, Kum! Soalnya pas subuh tadi saya lihat langit,nggak keliatan terang….”

Markum kebingungan mendengar kata-kata Pak Anwari.

“Terang gimana, Pak? Subuh kan emang belum terang? Soalnya matahari masih belum kelihatan….”

“Kalau memang benar malam lailatul qadar, akan keliatan cahaya terang setelah fajar. Itu salah satu ciri malam lailatul qadar lainnya, Kum….”

Markum mengangguk-angguk mengerti, “Berarti malam lailatul qadar belum datang…,” batin Markum.
Pada malam ke-23, Markum kembali bermalam di masjid. Tujuannya masih sama, ingin menyambut malam lailatul qadar. Markum tak ingin ketiduran lagi. Markum memesan kopi supaya tidak mengantuk. Sepanjang malam itu Markum berdoa, yakin kalau malam itu malam lebih baik dari seribu bulan.

Tapi paginya, saat melihat ke arah terbitnya matahari, Markum tak menemukan cahaya itu. Boleh jadi, langit sedang mendung. Yang datang justru gerimis. Markum hanya bisa menghela napas berat. Markum yakin, kalau malam itu bukanlah malam lailatul qadar!

Markum tidak putus asa. Di malam ganjil yang lain, yakni malam ke dua puluh tujuh, Markum kembali bermalam di masjid. Seperti malam sebelumnya, yakni pada malam ganjil sepuluh malam terakhir yang lalu, Markum pun berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlelap. Sepanjang malam itu Markum berdoa. Markum tidak sendirian. Di masjid terdapat beberapa orang melakukan hal yang sama. Tapi Markum tidak tahu, apakah mereka juga tengah berharap bertemu dengan malam lailatul qadar seperti dirinya. Markum ingin bertanya, tapi gengsi. Takutnya ia dicap bermalam di masjid hanya karena berharap bertemu dengan malam lailatul qadar, padahal memang begitu adanya.

Di tengah malam, saat tengah khusuk berdoa, tiba-tiba lampu mati. Masjid menjadi gelap. Semilir angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Pepohonan di luar masjid bergoyang-goyang diterpa angin malam. Sesekali terdengar suara halilintar. Inikah malam lailatul qadar itu…?

Markum belum yakin. Lampu masjid gelap ternyata karena memang mati lampu. Belakangan ini sudah biasa lampu PLN byar pet, karena alasan tertentu. Angin bertiup agak kencang dan hujan turun karena cuaca memang sering tak bisa diterka. Halilintar sudah biasa terdengar kalau keadaan hendak hujan. Jadi, apa yang membuatnya berpikir bila malam ini malam lailatul qadar?

Demi menguji kebenaran apakah malam lailatul qadar atau bukan, Markum pun berdoa. Kalau doanya dikabulkan, berarti malam ini malam lailatul qadar. Markum pun berdoa semoga mendapatkan rizki. Kalau jadi kenyataan, berarti malam ini tak salah lagi, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam dimana orang akan mendapat pahala berlipat ganda. Dan semua doa-doa dikabulkan Tuhan.

Semalaman suntuk Markum berdoa. Paginya, setelah makan sahur, Markum melongok ke arah terbitnya matahari. Ia melihat cahaya yang begitu terangnya meski matahari belum kelihatan. Barangkali memang benar bahwa tadi malam adalah malam lailatul qadar?

Kalau begitu, Markum tinggal menunggu doa-doanya dikabulkan. Semalam ia minta dua permintaan, yakni memohon diberikan keluasan rizki dan minta cepat-cepat mendapat jodoh. Markum tinggal menunggu doanya dikabulkan Tuhan. Tapi, berapa lama ia harus menunggu? Apakah sehari, dua hari… tiga hari? Seminggu, dua minggu… atau sebulan? Atau tiga bulan…? Atau jangan-jangan setahun…??

Untuk menghilangkan rasa penasaran, Markum mendatangi kediaman Haji Duloh. Markum ingin menanyakan kebenaran tentang malam lailatul qadar itu. Terutama soal berapa lama ia harus menunggu doanya dikabulkan Tuhan.

“Kum, denger ye…, Gue emang punya lima toko kain. Tapi semua itu dari hasil kerja keras gue selama puluhan tahun! Kalo pun gue udah dua kali naik haji, karena gue mampu bayarnya, yang duitnya dari keuntungan toko-toko gue tadi. Terus kalo pun gue udah tiga kali kawin, karena gue emang ganteng, nggak kayak elo…? Heheh, maaf Kum, bukannya nyindir. Terus, kalo pun gue punya banyak mobil, rumah, semuanya dari hasil kerja keras. Kalo elo mau kayak gueelokudu kerja keras juga. Nggak cuman berharap duduk-duduk di dalem mesjid…?” terang haji Duloh panjang lebar, membuat Markum sesak nafas.

Kalo begitu, percuma dong saya berdoa malem-malem di malamlailatul qadar?” ujar Markum.

Lha, doa tuh kagak ada yang percuma, Kum! Kalo pun kagakdikabulkan di dunia, mungkin nanti di akhirat. Lagian, emang siapa yang tahu malam datangnya lailatul qadar? Nabi aja kagak tahu kapan persisnya.”

Wah, berarti saya ketipu, Pak Haji…??!”

“Hah?! Ketipu pegimane??”

“Soalnya saya udah nguber-nguber malam lailatul qadar itu? Kalonggak ada hasilnya, kan percuma…?”
“Kum, malam lailatul qadar itu kagak perlu dikejar! Kalau Allah berkehendak, dia yang bakalan datengin elo.…”

“Masak sih Pak Haji?”

“Ye, yang penting elo ikhlas….”

Setelah mendapat penjelasan dari Haji Duloh, Markum pulang. Pada malam yang ke-29 dan ke-30, meski tidak bermaksud mengejar malam lailatul qadar, Markum ternyata tetap bermalam di masjid. Markum tidak mau berdoa muluk-muluk. Dia hanya ingin punya uang buat lebaran.

Ustad Sahroni, yang melihat kegigihan Markum, siangnya menghampiri Markum. Kebetulan Ustad Sahroni lagi dapat rezeki lebih. Ustadz Sahroni memberikan amplop buat Markum, karena beliau merasa senang pada Markum yang mau berubah. Selain itu, semalam Ustad Sahroni yang berjalan melintasi masjid mendengar doa Markum yang diucapkan keras-keras itu.

Setelah mendapat amplop dari Ustad Sahroni, Markum merasa bahwa semalam ia benar-benar telah menemukan malam lailatul qadar! (*)

Minggu, 22 Agustus 2004

Seperti David Beckham

Cerpen Zaenal Radar T (Majalah KaWanku, No.08/XXXIV, 16-22 Agustus 2004)

pushtop.blogspot.com

“Mila, Udah malem gini kok belum tidur...?”
“Mila lagi nunggu siaran bola, Mam.”
 “Nggak takut besoknya ngantuk?”
“Mila udah tidur siang, Mam.”
“Ya sudah! Awas, besok pagi jangan telat lagi yah...”
Setelah Mamanya pergi, Mila langsung melompat ke ruang tengah, menyalakan pesawat televisi. Ia menunggu bintang kesayangannya si David Beckham merumput, yang selama ini menjadi pemain kebanggaannya! Yap! Setiap kali melihat David Beckham, Mila selalu merasa ingin bermain bola. Menggiring, menggocek, menembaknya ke gawang!
Minggu ini Mila sudah berhasil membujuk Papanya. Mila dibelikan sepatu bola! Sepatu bola miliknya sangat keren. Merknya Beckham, salah satu type keluaran dari merk alat olahraga terkenal di dunia! Mila sudah mencobanya berkali-kali di halaman rumah. Dengan sepatu bola itu, Mila merasa jadi pemain sepak bola beneran.
Sayangnya, di kompleks tempat tinggalnya, Mila tak pernah bertemu dengan cewek seusianya yang suka sepak bola. Dengan begitu, tak ada jalan lain bagi Mila. Ia memberanikan diri bergabung  dengan anak-anak cowok. Seperti kemarin, Mila memberanikan diri ikut latihan dengan anak-anak tim sepak bola di kompleksnya.
“Aduh, gimana ya..? Kalo gue sih boleh-boleh aja lu gabung sama kita-kita... Tapi...” salah seorang cowok, yang jadi kapten kesebelasan tim cowok di kompleks Mila ragu, ketika Mila mengajukan diri untuk bergabung.
“Kenapa? Apa kalian ragu sama kemampuan gue...?!”
“Bukannya begitu, Mil. Kita ngerasa nggak enak aja...” anak cowok lain menimpali.
“Kayaknya risih, deh!!”
“Oke, oke... gue ngerti! Sekarang gini aja, gimana kalo elu-elu ngasih kesempatan buat gue, sekali aja. Boleh, kan?!”
“Aduh... gimana ya...?!”
“Atau, jangan-jangan kalian takut tersaingi...?!” Mila jadi mangkel.
“Ya udah, Mil. Kalo lu maksa, lu boleh coba. Sebel gue!!”
Akhirnya, dengan amat terpaksa, anak-anak cowok itu menerima Mila untuk ikut ambil bagian dalam tim latihan. Mila tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia pun menyiapkan sepatunya.
“Gila. Mil! Sepatu lu baru?!!” salah satu cowok memuji sapatu milik Mila.
“Iya, dong! Keren, kan!?”
“Wuaaah, keluaran baru tuh! Beckham, coy!!”
“Jangan cuma liat  sepatunya... Tapi ntar elu liat cara gue main...!”
Dengan sombongnya, Mila pun bersiap-siap mengikuti latihan sepak bola bersama anak-anak cowok itu. Mila memilih posisi gelandang kanan. Alasan dia, biar seperti David Beckham!
Anak-anak cowok yang masih tampak risih, memberikan perhatian pada satu-satunya cewek yang berada di tengah-tengah lapangan itu. Satu dua pemain senyam-senyum melihat Mila melakukan pemanasan.
“Ah, paling juga sepuluh menit nyerah!”
“Tauk tuh anak! Kalo bukan cewek satu kompleks, udah gue usir!!”
“Biar aja deh, kita liat aja kemampuannya sampe di mana!”
Meski satu dua anak mengeluh akan kehadiran Mila, latihan tetap berlangsung. Wasit membunyikan pluitnya, bertanda latihan dimulai. Pemain penyerang tengah memberikan bola pada rekannya, lalu rekannya mengumpan ke belakang. Mila berteriak-teriak agar umpan diberikan kepadanya, namun bola tersebut diumpan pada pemain lain!
Selama lebih dari sepuluh menit waktu pertandingan, ketika anak-anak timnya Mila menguasai bola, tak ada yang memberi bola untuk Mila. Hal itu jelas membuat Mila marah. Akhirnya Mila harus merebut bola sendiri bila ingin mendapat bola. Dan tibalah pada satu kesempatan. Mila berhasil mendapat bola. Ia menggiringnya, meniru gaya David Beckham. Setelah itu langsung mengumpan jauh ke depan, pada teman satu timnya. Bola hasil umpan Mila meliuk seperti membentuk pisang ambon. Lalu jatuh tepat di depan kepala rekan satu timnya. Sekali sundul, bola tersebut langsung menembus ke arah gawang! Sayangnya, meski penjaga gawang tak berhasil menangkapnya, bola tersebut membentur mistar gawang!
Rekan Mila yang menyundul bola itu mengacungkan jempol ke arah Mila. Jelas saja Mila senang. Anak-anak lain tampak terheran-heran. Sepertinya mereka mulai mempercayai kemampuan Mila bermain bola.
Pada satu kesempatan, rekan Mila yang menduduki posisi pemain belakang mengumpan bola pada Mila. Mila berhasil mengontrol bola dengan baik. Setelah itu langsung mengumpannya ke depan. Bola itu meliuk, mendarat di kaki penyerang tengah satu timnya. Namun sebelum menendangnya ke gawang, pemain belakang lawan lebih dulu merebut bolanya.
Tetapi rupanya bola tersebut masih bisa dikuasai oleh rekan-rekan satu tim Mila. Bola itu dikuasai oleh gelandang kiri. Gelandang kiri itu mengumpan ke depan, pada pemain tengah. Mila berlari ke tengah, minta bola diumpan ke kakinya. Bola itu pun di umpan ke arah Mila, dan Mila tidak menyia-nyiakan bola itu, langsung menendangnya ke depan. Bola melesat, merobek jala gawang!
Semua pemain, baik teman maupun lawan, terbengong-bengong...
Itulah salah satu pengalaman Mila berlatih sepak bola dengan anak-anak cowok di kompleksnya. Sebelumnya, Mila sudah sering berlatih di rumah. Tapi kalo di rumah, Mila harus berseteru dengan Maminya!
“Kamu itu cewek apa cowok sih, Mil?! Permainan sepak bola itu kan khusus buat cowok...?”
“Yaa, mami! Emangnya cowok aja yang bisa!  Mila juga bisa...”
“Ya ampun, Mil! Sebenernya kamu itu mau jadi apa, sih?! Jangan bikin mami bingung, dong!”
“Mami tenang aja deh. Mila kan kepingin kayak David Beckham!”
“David Bekam!? David Bekam siapa?!”
“Taelaaa, Mami! Masak David Bechkam aja nggak kenal!  Makanya Mam, sekali-sekali nonton Liga Spanyol dong! David Beckham itu salah satu andalan timnya Real Madrid, setelah dibeli dari Mancester United!”
“Aduh, Mami nggak ngerti deh! Pokoknya sekarang gini aja. Mami nggak mau tau. Siapa si David itu. Mau David Bekam, David Coperfield, David apalah namanya...! Pokoknya, kamu harus mesti kudu berenti main sepak bola!!”
“Yaa, Mami. Nggak bisa  gitu dong! Papa aja yang cowok cuek. Kok, jadi mami yang malah kuno!”
“Ada apa sih? Kok, dari tadi ribut terus...?” papa Mila  menengahi perseteruan itu.
“Ini lho, Pap! Anak kesayangan kamu satu-satunya ini! Masak, main sepak bola?! Aneh, kan..?!”
Papa geleng-geleng kepala, “Sudahlah, Mam. Biar aja...”
“Tuh, kan...!? Kamu sih Pap, manjain anak terus...!”
“Hihihi, Mami kok jadi sewot gitu...?!”
Ketika itu Mama Mila langsung masuk kamar. Mila dan Papanya mengangkat bahu, mengikuti kepergiannya.
“Nih, papa beliin oleh-oleh...” Papa mengeluarkan bungkusan untuk Mila. Isinya Kaos bola. Di Belakang kaos ada tulisan: BECKHAM. Dan di bagian lengannya ada logo Kinas, maskot kejuaraan sepak bola piala Eropa Portugal 2004.
“Papa!! Makacih, yaaah...!” Mila mencium kening Papanya. Namun nggak lama kemudian Mamanya keluar lagi sambil membawa tempat sampah.
“Apa itu, Ma...?!”
“Ini pap, pecahan guci...”
“Pecahan guci...?” mata Papa melotot, karena ia kenal benar dengan warna pecahan guci antik itu. Jelas saja, itu adalah guci antik kesayangannya.
“Kok...!? Siapa yang mecahinnn...?!”
“Siapa lagi kalau bukan... tuh, anakmu!!”
“Mila...?!”
“Sorii, pap... Mila nggak sengaja...”
“Kok, bisa!?”
“Mila main bola di dalam rumah! Terus bolanya mengenai guci ini, pecah deh!”
“Mila!!”
“Sori pap, abisnya Mila nggak bisa main bola di luar! Mila nggak dibeliin sepatu bola! Jadi... gini deh...”
“Ya udah, nanti Papa beliin!!”
“Hah!? Bener ya, pap...”
Mila memeluk Papanya, lalu mencium keningnya sekali lagi. Mamanya mencibirkan bibir, bertanda sebel melihat aksi Mila. Setelah itu, keesokan harinya, Papa benar-benar membelikan Mila sepatu bola itu.
“Udah malem gini masih nonton tipi, Mil?  Nanti kamu ngantuk di sekolah...”
“Iya, Pap. Tenang. Tadi Mila udah tidur siang. Lagian sayang kalo ditinggal...”
“Mau nonton apa sih...?!”
“Yaa, papa gimana sih?! Malem ini kan yang main Inggris!”
“Pasti mau liat David Beckham, ya?!”
“Iya, dong!  Papa temenin Mila, yah...”
“Aduh, besok Papa ada presentasi di kantor...”
“Ya, Papa! Emangnya Papa nggak pingin liat David Beckham ya...?”
“Nggak. Papa nggak suka David Bechkam!”
“Uuh, papa! Papa sukanya apa sih...?!”
“Papa lebih suka nonton AFI daripada bola! Hihihi...”
“Week! Norak amat sih, Pap...!”
“Udah, ya... papa tidur duluan...”
Mila tak lagi menanggapi Papanya. Karena televisi di hadapannya akan segera menyiarkan laporan langsung pertandingan sepak bola Euro 2004. Mila langsung konsentrasi menanti-nanti pemain kebanggaannya disorot kamera. Namun sayangnya, karena pembawa acaranya begitu membosankan, Mila jadi ngantuk. Dan Mila pun nggak sadarkan diri di hadapan televisi.
Di dalam tidurnya, Mila bermimpi. Mila bertemu dengan David Beckham di stadion sepakbola Senayan. Kesempatan itu nggak disia-siakan Mila untuk belajar bagaimana bermain bola.  Dengan rendah hati, David Beckham mau mengajarkan Mila bagaimana caranya bermain sepakbola dengan asyik dan menarik.
“Sebenarnya untuk apa kamu belajar main sepak bola...?!” tanya David Beckham pada Mila, ditengah-tengah latihan itu.
“Saya ingin seperti kamu!”
“Ingin seperti saya?!”
“Iya! Kalau saya bisa seperti kamu, nantinya saya akan melatih anak-anak cewek di sekitar rumah saya bermain bola...”
“Lho!? Memangnya di negeri kamu ini nggak ada anak cowok yang suka main sepakbola!?” David Beckham bertanya lagi.
“Ada sih. Tapi begitu, deh. Seringnya ribut melulu... Makanya, lebih baik pemain bola di negeri saya cewek semua! Siapa tahu bisa ikut Piala Dunia...?!”
“Hahaha! Kamu lucu, Mila!”
“Hahaha.” Mila ikut ketawa.
“Mila! Kamu nggak sekolah! Tuh, kan kesiangan...!” tiba-tiba suara David Beckham berubah jadi teriakan mamanya. Mila tersadar. Ia hanya bermimpi. Bermimpi bertemu dengan pemain sepakbola pujaan  hatinya: DAVID BECKHAM!
“David Beckhamnya mana, Mam...?!”
“David Bekam...!? Kok, mami ditanyain David Bekam...!? Emangnya mami nonton tipi..!?”
“Uuh, mami! Mila ketiduran...! Jadi nggak bisa ngeliat David Bechkam, deh!”
“Sudah sana mandi! Nanti kamu telat ke sekolah!”
Dengan malas, Mila melangkah ke kamar mandi. Di depan kamar mandi, ia berpapasan dengan Papanya. “Kok, manyun gitu? Kalah ni yee...!”
“Papa apa-apaan sih?!”
“David Beckham payah!”
“Papa! Kok, bisa bilang begitu!?”
“Tadi papa nonton berita pagi. Tim Inggris kalah sama Perancis!”
Mila menatap wajah papanya lekat-lekat. Papanya menunjukkan jari telunjuk, lalu menggoyang-goyangkannya di depan Mila, sambil bilang: “Kaciaaan deh luu...!”***

*)Pamulang, Juni 2004

Senin, 11 Maret 2002

Jerawatan

Cerpen Zaenal Radar T (Majalah GADIS No. 06/XXX/1-11 Maret 2002)

Kebanyakan teman-temannya pada mengeluh soal jerawat di wajah mereka.  Lalu pergi ke supermarket membeli pembersih muka atau obat-obatan anti jerawat.  Nyatanya, jerawat-jerawat di wajah mereka tetap saja merekah seperti jamur di musim penghujan.  Tapi mereka tak pernah putus asa.  Gagal dengan satu produk, cari produk anti jerawat lainnya.  Seperti iklan obat jerawat di teve-teve rupanya.

Memang sih, setelah diobati, jerawat-jerawat itu pada kabur.  Kalaupun ada, paling hanya satu dua saja.  Namun di lain waktu jerawat itu datang lagi mengajak kawan-kawannya.

“Huh, jerawat!  Sebeeeel...!” teriak Desy.

“Gimana sih, cara ngilanginnya?!” keluh Erni.

“Pake apa ya supaya cepet hilang?” gerutu Tina.

Dan teman-temannya sering dibuat pusing oleh ulah jerawat mereka.  Apalagi pas ada acara.  Atau ketika janjian pengen ketemu temen spesial.  Kan malu kalau muka penuh jerawat.  Huh, jerawat!

Tetapi buat Devi, jerawat adalah sesuatu yang ia damba-dambaklan.  Devi begitu rindunya ingin memiliki jerawat.  Seperti jerawat teman-temannya.  Namun wajah Devi tak juga tumbuh jerawat.  Devi kesal sekali!  Devi pengen jerawat tapi tak pernah jerawatan!

Devi pengeeen banget jerawatan.  Di pipi kiri, kek.  Di pipi kanan, kek. Atau di kedua pipi.  Tapi kapan?  Devi merasa, bila ia tak jerawatan, maka ia berbeda dengan teman-temannya.  Sebab semua teman-temannya berjerawat.  Kenapa ia tidak?

“Wajah elo normal, Dev,” kata Novi.

“Gue kepengen muka  kayak elo,”  komentar Rika.

“Elo kok aneh, Dev.  Tukar aja muka lu sama muka kita-kita,” canda Erin.

Devi nggak peduli komentar teman-temanya.  Pokoknya Devi pengen jerawatan seperti mereka!  Titik!

Sebenarnya Devi ingin sekali-sekali ke supermarket.  Beli obat jerawat.  Malam-malam, sebelum tidur, ia bersihkan jerawat-jerawat di wajahnya.  Paling nggak, ia ingin sekali memencet jerawat-jerawat itu.  Oh, sayangnya, semua itu hanya angan-angan belaka.  Sebab Devi nggak punya jerawat!  Bagaimana sih supaya wajah tumbuh jerawat?  Devi kesal!  Kesal!  Kesal!

“Kenapa sih muka kamu bisa tumbuh jerawat?” tanya Devi pada Tina, suatu hari di koridor sekolah.

“Aduh, apa ya?  Mungkin karena muka gue berminyak kali, ya?”

“Kalo elu, Des?”

“Gue itu, kalo kecapekan, pasti jerawatan!”

“Kalo gue sih, mungkin karena kurang tidur,” komentar Rika.

Erni lain lagi, “Tante gue bilang, makan kacang bisa menyebabkan kita jerawatan, lho!”

Hmm, Devi berhasil dapet informasi tentang jerawat dari teman-temannya.  Kalau ia ingin jerawat, berarti ia harus seperti teman-temannya; berwajah berminyak, kelelahan, kurang tidur, atau banyak makan kacang!  Yess!

Tetapi bagaimana supaya wajahnya berminyak?  Pasti ini yang paling susah.  Kayaknya yang paling gampang, makan kacang saja dulu.  Maka, setiap hari Devi makan kacang.  Dari kacang ijo, kacang tanah, kacang arab, kacang kedelai, kacang polong, sampe kacang panjang!  Dan yang nggak ketinggalan, kacang yang... Ok’s bang... get! (Uh, iklan!)

Papa-Mamanya heran setiap hari Devi makan kacang. Sampe-sampe ia nggak doyan makan yang lain.  Tapi bagi Devi nggak jadi soal.  Demi jerawat.

Oh, seandainya jerawat itu benar-benar datang?  Tapi kapan?

Sudah seminggu lebih Devi mengkonsumsi kacang.  Jerawat itu belum juga datang-datang.  Sebiji pun!  Jangankan jerawat, bintik sekecil atom pun, nggak nampak di wajahnya!  Devi bercermin di kamarnya.  Mana jerawatnya?  Jerawatnya nggak ada! Kulit wajahnya masih tetap seperti semula, masih tetap mulus, bersih, en semakin licin aja! Wuih, sebalnya Devi!

Gimana bisa tumbuh jerawat, kalau kulit nggak berminyak?  Devi membathin.  Bukankah Tina berjerawat karena kulit wajahnya berminyak?  Jadi, gimana caranya supaya kulit berminyak?

Mungkin harus pakai kosmetik tertentu supaya kulit berminyak.  Tapi kayaknya nggak ada, deh.  Yang pernah Devi dengar, kosmetik untuk wajah berminyak.  Atau untuk wajah kulit kering dan normal.  Psstt... Devi penasaran!

“Ada nggak bedak untuk kulit normal supaya bisa berubah jadi berminyak?” Devi bertanya pada ahli kecantikan.  Jawabannya:  Tidak ada!  Siapa sih di dunia ini yang kulit wajahnya ingin berminyak?!

“Makan saja makanan yang banyak mengandung lemak.  Pasti kulit kamu berminyak,” nasihat salah seorang ahli kecantikan.

Devi langsung mempraktikan nasehat ahli kecantikan itu.  Setiap hari Devi selalu makan makanan berlemak.  Lemak hewani atau nabati.  Mulai dari susu, keju, kacang (ih, kacang lagi!), daging, pokoknya yang berlemak!  Namun, nyatanya tetap saja kulit wajahnya normal!

“Gue kalo pake minyak rambut, pasti jerawatan.  Terutama di daerah jidat gue,” cerita Erin. Uh, Devi ingat itu. Minyak rambut.

Dan Devi, setiap ke sekolah pakai minyak rambut.  Tapi setelah sering pakai, mana jerawatnya?  Akhirnya Devi nekat.  Minyak kelapa ia balurkan ke wajahnya.  Hingga wajahnya yang mulus dan bersih pun berminyak.  Licin sekali. Seperti seorang petinju yang dilumuri balsem bila hendak bertanding.  Tapi ya ampuun, tetap nggak jerawatan!

Devi nggak pernah putus asa.  Persis pantun, ‘makan bubur dicampur kapur, maju terus pantang mundur’.  Hehe... Setiap malam Devi tidur larut.  Ia harus kurang tidur supaya pipinya cepat berjerawat.  Olala, ternyata yang datang bukannya jerawat.  Tapi ngantuk!  Iya, lah!

Teman-temannya bingung.  Apalagi Papa-Mamanya.  Devi pasti ada apa-apanya.  Maksudnya, mungkin keinginan Devi berjerawat punya maksud tertentu.  Tapi apa?  Entahlah.  Yang tahu hanya Devi sendiri.  Yang jelas semakin hari devi semakin kelihatan murung.  Ia sungguh-sungguh ingin berjerawat.  Satuu, saja!

Mengapa orang lain bisa jerawatan sementara Devi nggak?  Khabarnya papa-mamanya  juga dulu jerawatan.  Dan sampai sekarang kadang ada satu dua jerawat nongol di pipi mereka.  Tapi Devi?  Masya Allah, mau jerawatan aja kok susahnya minta ampun, sih?

Apakah ada dokter spesialis yang ahli mendatangkan jerawat?  Kalau dokter yang ahli melenyapkan jerawat sih ada.  Tina pernah.  Erni juga pernah berobat pada dokter ahli jerawat.  Dokter spesialis pencipta jerawat?  Mimpi kali, ye!

Rupanya Devi nggak mau tahu.  Devi mesti bisa  jerawatan.  Wuah, Devi benar-benar gila jerawat.  Akhirnya ia punya akal, biar terlihat punya jerawat.  Devi punya kakak yang kuliah di bidang sinematography.  Kak Suci yang jago merubah-rubah wajah bintang.  Dan sekarang ia bekerja di film dan sinetron bagian tata rias artis. Jangankan jerawat, tampang Mak lampir juga dia bisa.  Jadi Devi dibikin kayak Mak lampir?  Nggak, lah!  Devi hanya ingin di pipinya ada jerawat.


* * *


Pagi-pagi sekali kak Suci udah kelar mempermak wajah Devi yang mulus menjadi berjerawat. Begitu artistik!  Jerawat itu seperti jerawat asli, yang dimiliki oleh teman-temannya Devi.  Dari bahan apa jerawat itu dibuat, Devi nggak peduli.  Yang penting jerawat!

Betapa bangganya Devi ke sokolah dengan jerawat yang ada di pipinya.  Kalau tahu begini, Devi nggak perlu susah-susah makan kacang, begadang, atau berlemak-lemak ria.  Apalagi pakai acara melulur muka sama minya kelapa segala!

“Devi, kamu sekarang jerawatan, ya?”

“Ih, kamu genit, Dev!”

“Nah, ketahuan ya.  Pasti ada yang ditaksir?”

“Makanya, jangan ditahan-tahan!”

“Kamu... tetap cantik meski berjerawat!”

“Ke salon, yuk?”

Kak Suci sungguh hebat!  Semua teman-teman di sekolah benar-benar percaya pada jerawat buatannya.  Pantas saja banyak penonton film dan sinetron tertipu dengan macam-macam wajah ciptaannya.

Tetapi siangnya, waktu jam pelajaran terakhir, ketika Devi maju ke kalas baca puisi, guru Bahasa Indonesianya  dibuat tersenyum.

“Muka kamu kenapa, Dev?” tanya Bu guru.

“Jerawat, bu,” jawab Devi malu-malu.

“Tapi, kok, ada yang copot, tuh?” selidik Ibu guru.

Devi meraba wajahnya.  Hup!  Dapet satu!  Jerawat itu!  Benar, jerawat-jerawat Devi pada rontok!  Aduh, Devi malu banget!  Devi minta ijin pada Ibu guru, berlari ke kamar kecil sekolah.  Bercermin.  Jerawatnya mengelupas semua!  Ia basuh mukanya.  Dan wajahnya menjadi mulus seperti semula!  Devi kembali ke kelas dengan wajah aslinya.

“Dev, diobatin apa jerawat lu!”

“Bagi-bagi dong, rahasianya?!”

“Pasti obat jerawat mahal, yah?”

Devi menutup rapat-rapat daun telinganya.  Dia nggak mau pusing  komentar teman-temannya. ‘Awas Kak Suci!’ ancamnya dalam hati.

Pas bubaran sekolah ia langsung pulang.  Mau menghadap kakaknya.  Rencana ke mal ia batalkan. Sebab nggak ada yang bisa dibanggakan, karena apa yang ingin ia pamerin udah lenyap semua!  Ya, jerawat itu!  Jerawat itu rontok semua!

“Sory, Dev.  Make-up itu cuma khusus tahan lima jam.  Kamu mau yang lebih lama lagi, ya?” kak Suci menjelaskan.

Devi diam.  Menarik nafasnya dalam-dalam.  Bagaimana pun Devi nggak harus marah.  Dia nggak bakal marah sama kakak tersayangnya itu.  Lagipula, bukankah hari ini ia telah memperlihatkan dirinya pada sebagian teman-teman di sekolah bahwa ia jerawatan?  Meski palsu!  Dan semua itu berkat Kak Suci.


* * *


Inilah pagi yang membanggakan.  Devi berangkat ke sekolah dengan hati yang sungguh luar biasa riang.  Devi kembali ke sekolah dengan jerawatnya!

Jerawatnya ini lain daripada jerawatnya yang kemarin.  Bukan jerawat buatan Kak Suci.  Tapi jerawat asli.  Asli, lho!?

Betapa bangganya Devi punya jerawat.  Akan ia tunjukkan pada teman-temannya bahwa ia juga bisa jerawatan!  Dan devi nggak bakal sedih lagi bila mendengar bintang idolanya bilang, “Saya senang dengan gadis yang punya jerawat!”  Karena kini Devi benar-benar punya jerawat!

Tetapi jerawatnya cuma satu biji.  Nggak apalah satu.  Yang penting kan jerawat!

“Kamu udah nggak jerawatan lagi ya, Dev?” tegur Tina.

“Siapa bilang?” elak Devi.

“Mann... na?” tanya Erni.

“Adaa... aja!” Devi sok setengah mati.

Teman-teman Devi bingung.  Devi mengaku berjerawat tetapi teman-temannya nggak melihat jerawat itu.  Sebab wajah Devi tetap kelihatan mulus!

“Kalian mau tahu ya, jerawat gue?” tawar Devi.

“Mana?  Mana? Mana?!!” rengek teman-temannya.  Penasaran.

“Niiiihhh...”  Dengan bangga Devi menyingkap lengan seragamnya di depan teman-temannya.  Di lengannya, jerawat kecil sebesar pentul korek api tampak menganga.***