Dewi karya Yus R. Ismail Komidi Putar karya Gegge S. Mappangewa Pertarungan karya Benny Arnas Kacamata karya Noor H. Dee Debu-Debu Tuhan
Tampilkan postingan dengan label 2015. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2015. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Januari 2016

Tanjung Luka

Genre: Novel
Penulis: Benny Arnas
Ukuran: 13.5 x 20 cm
Tebal: 298 hlm.
ISBN 978-602-03-1894-3

dok. gramedia

Kematian seorang mucikari di kediaman Barkumkum, membuat orang-orang Ulakkungkung, sebuah kampung di utara Lubuklinggau, dengan riang-gembira menabalkan sebuah kutukan yang mengerikan bergeliat dalam kehidupan laki-laki itu.

Tanjungluka, sang anak, mati-matian mencari upaya untuk membebaskan diri dari kutukan, termasuk melepaskan ayahnya dari tuduhan sebagai pembunuh.

Pencarian itu membawanya ke Palembang dan Musi Rawas, sekaligus mempertemukannya dengan pengacara tampan, gadis perawat di RSJ yang menaruh hati padanya, bekas kepala puak yang terlalu gampang percaya pada orang asing, seorang perempuan renta yang hidup dalam trauma tanpa ujung, dan bekas narapidana yang membenci pengidap disorientasi-seksual setengah mati!—mereka semua takluk di tangannya dalam drama yang menegangkan—Hingga… perjalanan berkelok itu menjerembapkan Tanjungluka ke dalam kegeraman dan kehampaan yang brutal dan membunuh orang-orang tak bersalah.

Tanjungluka baru menyadari kalau ia sudah diseret arus kesia-siaan terlampau jauh dan harus bangkit lalu memulai segalanya dari awal, justru ketika kebrutalan itu menghendaki nyawanya.

Setia Bersamamu

Genre: Novel
Penulis: Qonita Musa
Penerbit: Gramedia
Ukuran: 13.5 x 20 cm
Tebal: 224 halaman
ISBN: 978-602-03-2398-5



Pria bermata hazel itu pernah menjadi dunia dan seisinya bagi Diyuna. Melimpahinya dengan cinta, kemewahan, dan segala yang ia dambakan.

Tidak ada yang tahu Diyuna menyimpan ribuan pertanyaan dan kegelisahan di balik kehidupan bebas yang ia jalani. Tentang takdir dan cinta yang memberikan ketenangan jiwa. Diyuna berlari dan mencari. Dari Jakarta, sampai ke negeri Amman, Yordania. Hingga ia bertemu Hamzah, pria sederhana yang mengulurkan tangan dan mengajak Diyuna menciptakan takdirnya sendiri.

Ketika Diyuna merasa telah menemukan apa yang ia cari, pertemuan kembali dengan pria bermata hazel itu menyadarkan Diyuna akan satu hal: ruang kosong di dalam hatinya yang tak henti merindukan kehadiran pria itu. Dan pertanyaan besar kembali bergema. Haruskah Diyuna memilih setia atau berjuang meraih cinta yang sudah di depan mata?

Senin, 28 Desember 2015

Gue Bukan OB Lagi

Genre: Novel
Penulis: Boim Lebon
Penerbit: Indiva Media Kreasi
terbitan: 2015


Cerita ini berkisah tentang perjuangan seorang OB alias office boy yang pengen berubah nasibnya! Wajar sih ada orang pengen beruvah nasibnya. Yang nggak wajar tuk kalo ada yang mau berubah anunya, eh maksudnya berubah wajahnya, masak dari wajag ndeso pengin jadi punya wajah kayak Aliando?

Tapi cerita OB bernama Najib ini luar biasa karena sosok pemuda nanggung yang dikenal seduhan kopinya, mampu mengalami perubahan signifikan. yang awalnya sebagai office boy, lalu mendirikan sebuah band, dan akhirnya menjadi seorang musisi sekaligus production assistant! Beneran, ini benar-benar harus dikasih dua jempol, kalo perlu ditambah lagi ama dua jempol kaki--jadi empat jempol sekaligus haha....

Nah, biar nggak penasaran lagi, buruan baca deh! ijamin ngakak maksimal!

Minggu, 20 Desember 2015

Dewi

Cerpem Yus R. Ismail (Tribun Jabar, 20 Desember 2015)

(www.youtube.com)

     Saya berangkat berdua bersama Dewi ke kota kabupaten. Maksudnya mau mengikuti Pelatihan Kurikulum Bagi Guru Sasaran selama lima hari. Hari pertama, setelah istirahat dan makan, Dewi bilang mau ke toilet. Tapi sampai jam masuk pelatihan berikutnya Dewi tidak datang lagi. Tentu saja saya penasaran. Saya minta ijin ke toilet. Di toilet ternyata tidak ada siapa-siapa. Kemana Dewi?
Karena sampai malam pun Dewi tidak pulang saya mulai cemas. Ibunya bicara khusus kepada saya sebelum kami berangkat.
     “Tolong Dewi diperhatikan dan diperingati ya. Dewi itu kadang-kadang nakal,” kata ibunya Dewi.
     Dengan begitu saja saya sudah merasa bertanggung jawab. Karenanya semalaman saya tidak bisa tidur. Pagi-pagi saya dibangunkan dengan suara-suara ribut di halaman. Kebetulan kamar tempat saya menginap paling depan, dekat dengan halaman depan. Saya melongokan kepala melalui jendela.
     “Lima belas ribu saja dua bungkus ya, Bu. Saya beli empat bungkus deh,” kata seorang peserta pelatihan sambil menimang-nimang bungkusan ranginang.
     Saya terpesona. Saat si ibu penjual oleh-oleh itu menengok kepada saya, beberapa jenak kami saling memandang. Wajah si ibu itu mirip Dewi. Begitu saya sadar saya langsung keluar kamar. Tapi si ibu penjual oleh-oleh itu sudah berlalu. Bakul bawaannya belum diikat selendang ketika dia berlari.      Saya mengejarnya.
     “Bu, Bu, mengapa berlari?” tanya saya sambil memotong langkahnya.
     Si ibu terkejut.
     “Mengapa Ibu berlari? Ibu tahu dimana Dewi?” tanya saya langsung ke tujuan.
     Ibu itu menggeleng. “Tidak. Tidak tahu,” katanya gugup.
     Tapi saya tahu, Ibu itu menyembunyikan sesuatu.
     “Kalau begitu, saya ikut kepada Ibu. Saya harus menemukan Dewi.”
     Ibu penjual ranginang itu tidak bisa menolak. Kami pun lalu berjalan beriringan. Rumahnya di pinggiran kota kabupaten.
     “Kenapa mesti mencari Dewi?” tanya si ibu.
     “Karena saya bertanggung jawab kepada anak-anak...,” kata saya tidak melanjutkan kalimat. Ya, saya baru ingat, Dewi sangat dicintai murid-muridnya. Dewi itu pintar, menerangkan pelajaran gampang dimengerti murid-muridnya. Apa yang mesti saya bilang kepada anak-anak bila saya pulang tanpa Dewi?
     “Bilang saja Dewi pergi bersama pacarnya.”
     Saya terkejut. Saya jadi teringat pacar Dewi. Dewa namanya. Seorang lelaki yang tampan dan bertanggung jawab. Dia sangat mencintai Dewi. Seperti juga Dewi sangat mencintainya. Sebentar lagi mereka merencanakan menikah. Bagaimana jadinya percintaan mereka bila saya pulang tanpa Dewi?
     “Takut ya?” tanya si ibu lagi.
     “Oh, saya bukan takut. Tapi saya bertanggung jawab. Saya harus menemukan Dewi.”
     “Tanggung jawab kepada orang lain? Orang tuanya Dewi, pacarnya, muridnya. Apa bila tidak ada mereka kamu tidak mencari Dewi?”
     Saya termenung. Ya, harus diakui, saya tidak akan tenang bila saya tidak menemukan Dewi. Dewi adalah teman sejak kecil. Kami tidak pernah berantem. Bila Dewi mempunyai makanan, katanya saya adalah yang paling diingatnya. Saya berani bilang, barang apapun milik saya, setengahnya adalah milik Dewi.
     Dewi itu pencinta lingkungan. Halaman rumahnya, depan dan belakang, penuh dengan bebungaan dan bibit tetumbuhan. Dewi akan menanam bibit tetumbuhan itu di tanah kosong mana pun. Saya adalah sahabatnya yang dengan senang hati menemaninya menanam bibit tetumbuhan itu di pinggir jalan, bantaran sungai, atau pinggir hutan yang gersang. Harus diakui, saya bukan hanya mengantar, saya pun mendapatkan kenikmatan yang indah setiap menanam bibit tetumbuhan itu. Tapi terus terang juga, saya tidak akan bisa melakukannya tanpa Dewi.
     Dewi juga pencinta binatang. Mata Dewi akan berkaca-kaca bila melihat kucing liar yang kurus dan tubuhnya penuh luka atau anjing liar yang terduduk lemas kehausan dan kelaparan. Saya bisa membersihkan luka binatang dan mengeringkannya berkat Dewi. Jadi harus diakui, saya tidak bisa melakukannya tanpa Dewi.
     Bagi saya, Dewi adalah sosok yang sangat humanis. Sekali waktu Dewi pernah merelakan honornya demi membahagiakan seorang janda tua yang menangis karena kue serabi dagangannya tumpah. Waktu lain saya melihat airmatanya menetes saat suatu malam melihat tunawisma tidur di emperan toko berselimut karung. Saya selalu kebagian harunya saat Dewi seperti itu.
     Dewi adalah sosok yang bangga dengan hidup yang bersih. Sekali waktu ada orang yang mendatangi Dewi setelah ujian pns. “Dewi itu sebenarnya lulus, hasil ujiannya termasuk ke dalam kuota yang diterima,” kata orang itu. “Tapi kami tidak menjamin bila ada permainan di belakang. Jadi saya beritahukan, melalui jalan belakang, karena saya kasihan kepada Dewi, pertahankan posisinya dengan uang pengaturan. Hanya sekedarnya saja, untuk uang lelah yang mengatur. Dua puluh juta saja cukup, dibayarkan nanti setelah ada pengumuman. Dewi sendiri kan tahu, saat ini tarif jalan belakang untuk jadi pns sampai seratus juta rupiah.” Tapi Dewi tidak pernah menanggapi penawaran seperti itu. Dia lebih memilih mengajar dengan uang honor dua ratus ribu rupiah saja. Sikap itulah yang membuat saya bangga kepadanya.
     “Harus diakui, Dewi adalah segalanya bagi saya,” kata saya kepada ibu pedagang oleh-oleh itu. “Karenanya saya ikut ke sini. Karena saya tidak yakin Ibu tidak tahu apa-apa tentang Dewi. Bicaralah terus terang, Bu, ke mana Dewi pergi?”
     Si ibu pedagang oleh-oleh itu balik terkejut. Beberapa jenak dia memandang saya.
     “Ya, Dewi memang pernah ke sini. Tapi tidak lama. Hanya mampir. Selanjutnya dia pergi lagi.” Si Ibu itu menarik napas panjang, seolah-olah berat mengatakannya. “Dia ingin mencari sesuatu yang selama ini dicarinya.”
     “Apa yang dicarinya?” tanya saya cepat.
     “Sebuah hiasan dinding. Hiasan degan huruf kaligrafi.”
     Saya pun pergi ke kampung pengrajin kaligrafi. Sebuah perjalanan yang tidak mudah. Melalui tepi hutan, menyeberang sungai, menuruni jurang. Pantas saja si ibu penjual oleh-oleh itu menyarankan saya membawa nasi dan ikan sebagai bekal. Tapi saya menolaknya. Pikiran dan perasaan saya terlalu penuh oleh keinginan segera bertemu Dewi.
     Di sebuah kampung saya terpesona dengan seorang wanita yang sedang menjemur kertas-kertas daur ulang. Rambutnya yang sepunggung teruray indah. Tatapan matanya sangat teduh. Senyumnya bersahabat. Itu semua milik Dewi. Dewi yang punya kelebihan seperti itu.
     “Maaf numpang tanya,” kata saya. “Apa tahu dengan yang namanya Dewi?”
     “Dewi yang rambutnya sepunggung dan selalu terurai indah?”
     “Ya, betul sekali.”
     “Dewi yang matanya begitu indah dihiasi dengan bulu-bulu mata yang lentik?”
     “Ya, betul.”
     “Dewi yang selalu tersenyum bersahabat?”
     “Ya.”
     “Kemarin dia memang ke sini. Dia memesan hiasan dinding kaligrafi. Tapi setelah selesai, dia pergi dan lupa membawa hiasan pesanannya.”
Saya memandang hiasan pesanannya. Pigura memanjang itu pinggirnya diukir indah. Warna emas peliturnya memantulkan cahaya gemerlap. Dan huruf kaligrafinya tertulis indah: “Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu”
     Waktu itu juga saya pamitan. Perhiasan dinding bertuliskan huruf kaligrafi itu saya bawa. Saya harus secepatnya mencari Dewi. Dia akan senang bila tahu saya membawa pesanannya yang tertinggal. Tapi perjalanan pulang tidaklah mudah. Melalui jalan setapak di pinggir hutan, menyusuri pinggir sungai, menuruni jurang, jalan kampung berbatu yang seperti tanpa ujung. Saya baru ingat sudah beberapa hari selama mencari Dewi saya tidak makan. Di pinggir sebuah desa saya terjatuh. Beberapa saat saya tidak ingat apa-apa.
     Ketika siuman sudah banyak orang mengelilingi saya. Sayup-sayup saya mendengar seseorang berkata.
     “Ini ada KTP-nya. Asalnya dari luar kota. Namanya Dewi....”
**

Pamulihan 8 Juli 2015

sumber: keluargasemilir