Dewi karya Yus R. Ismail Komidi Putar karya Gegge S. Mappangewa Pertarungan karya Benny Arnas Kacamata karya Noor H. Dee Debu-Debu Tuhan
Tampilkan postingan dengan label FLP Depok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FLP Depok. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Januari 2016

Setia Bersamamu

Genre: Novel
Penulis: Qonita Musa
Penerbit: Gramedia
Ukuran: 13.5 x 20 cm
Tebal: 224 halaman
ISBN: 978-602-03-2398-5



Pria bermata hazel itu pernah menjadi dunia dan seisinya bagi Diyuna. Melimpahinya dengan cinta, kemewahan, dan segala yang ia dambakan.

Tidak ada yang tahu Diyuna menyimpan ribuan pertanyaan dan kegelisahan di balik kehidupan bebas yang ia jalani. Tentang takdir dan cinta yang memberikan ketenangan jiwa. Diyuna berlari dan mencari. Dari Jakarta, sampai ke negeri Amman, Yordania. Hingga ia bertemu Hamzah, pria sederhana yang mengulurkan tangan dan mengajak Diyuna menciptakan takdirnya sendiri.

Ketika Diyuna merasa telah menemukan apa yang ia cari, pertemuan kembali dengan pria bermata hazel itu menyadarkan Diyuna akan satu hal: ruang kosong di dalam hatinya yang tak henti merindukan kehadiran pria itu. Dan pertanyaan besar kembali bergema. Haruskah Diyuna memilih setia atau berjuang meraih cinta yang sudah di depan mata?

Minggu, 27 Desember 2015

Laila Majenun

Hamzah Puadi Ilyas (Majalah Ta’dib, Edisi 45/Th.IX/November 2011)

Layla Majnun (http://www.harvardartmuseums.org)

Laila - yang hampir setahun murung, melamun, dan mengurung diri - tiba-tiba berubah serta menjadi perbincangan orang banyak. Menurut cerita dari mulut ke mulut, ia sembuh lantaran meminum air zam-zam yang dibawa pulang oleh pamannya setelah menunaikan ibadah haji. Katanya lagi, entah benar atau tidak, air itu telah diberi bacaan oleh seorang syaikh di Arab Saudi. 

Laila yang dulu tak tampak lagi. Sinar matanya yang semula sayu, kini musnah. Bola matanya memancarkan rona keemasan. Tajam dan tegar. Dengan pakaian warna putih yang selalu melekat di badan, ia menjelma sosok agung serta mampu mengkhilafkan banyak orang.

Perubahan pada diri Laila tidak berhenti sampai disitu. Ia juga meninggalkan pekerjaannya sebagai seniman patung. Karya-karyanya memang telah bertebaran hingga ke manca negara dan dikoleksi jutaan umat. Tak heran, Laila adalah alumni institut kesenian ternama. Satu persatu patung yang telah ia buat dan menempati ruang pamer di rumahnya berubah menjadi abu. Bahkan sebuah patung besar yang telah ditawar jutaan oleh penggemar seni pun tak luput dari kehancuran. Banyak sekali yang menyayangkan tindakan Laila.

Orang tuanya sendiri bingung, apalagi orang-orang yang selama ini memuja karyanya dan menganggap karya Laila sebagai seni tinggi. Sehingga bermunculanlah orang-orang dari seluruh media menanyakan kenapa ia menghancurkan sendiri karyanya. “Alangkah sayangnya. Beberapa karya agung harus musnah. Bukankah mengundurkan diri dari dunia seni tidak harus diikuti dengan menghancurkan karya sediri?” Begitu kata kebanyakan pengamat seni yang dimuat di berbagai media massa.

Laila menjawab, “saya tidak ingin orang-orang menjadi musyrik. Memuja patung adalah perbuatan syirik walaupun kita tidak bersujud dihadapannya. Dengan ini juga saya memerintahkan kepada kolektor di seluruh dunia yang masih menyimpan patung karya saya untuk memusnahkannya. Patung tidak akan memberikan kedamaian dan keselamatan pada umat manusia. Selamanya mereka bisu. Saya tidak ingin seperti itu. Kini saatnya saya akan membuka suara untuk menyampaikan suatu kebenaran.”

Setelah itu Laila menjadi sangat terkenal. Apalagi setelah ia memproklamirkan dirinya sebagai utusan Tuhan. Juru Selamat baru. Seluruh media cetak dan elektronik tak henti-henti memuat berita tentang dirinya. Berbagai respon bermunculan. Ada yang mengakui kebenaran kata-katanya, namun tidak sedikit yang menghujatnya. Di antara orang-orang yang menolak pengakuan itu menganggap Laila sudah gila. Sehingga dirinya kini lebih dikenal dengan sebutan Laila Majenun.

Sebenarnya cerita awalnya sederhana. Laila yang menikmati hidup sebagai seniman kaya raya dan terkenal tiba-tiba merasakan kehampaan. Apa yang dia ciptakan adalah sebuah salinan dari karyaNya. Ia hanya meniru. Kejenuhan serta kelelahan menyeruak. Batinnya bergolak. Tak pernah reda, hingga proses kreatifnya seketika mandek.

Lalu muncul pertanyaan untuk apa sebenarnya hidup ini? Ia mulai mencari jawaban. Akibat pencariannya selama beberapa tahun, lambat laun Laila memandang dunia hanya sebagai tempat mampir saja, dan hidup manusia dirasakan sebagai senda gurau belaka. Ia sama sekali tak tertarik lagi dengan pekerjaannya. Ia ingin mencari sesuatu dibalik yang kasat mata. Suatu kebenaran yang dianggapnya masih tersembunyi. Sebuah ‘Diri’, yang tak hanya menciptakan materi untuk patung-patungnya, tapi Pencipta yang telah menciptakan dirinya.

Dalam pencarian itu ia mengalami berbagai peristiwa yang akhirnya membuat fisiknya lemah. Badannya tidak mampu menopang jiwanya yang haus akan ‘kebenaran yang sesungguhnya’. Pertanyaan dalam dirinya belum terjawab. Perlahan-lahan tubuh itu semakin lemah, sedangkan pikirannya melayang-layang mencari pijakan. Hingga akhirnya air zam-zam itu yang kabarnya mampu menyembuhkannya. Banyak yang menyebutnya mukjizat. Cuma sayangnya ia bersikap sangat aneh, begitu kata kebanyakan orang. Namun tak sedikit yang kagum pada Laila.

Sebagian besar orang yang kagum pada Laila mulai menyebar berita yang bermacam-macam. Ia dikatakan memiliki kesaktian. Beritanya cepat menyebar ketika ia mampu menyembuhkan penyakit. Mereka juga percaya bahwa ia adalah utusan Tuhan atau juru selamat atas kebobrokan moral yang sedang melanda negeri ini dan mengakibatkan munculnya bencana dimana-mana. Pengikutnya sangat yakin bahwa Laila mampu memberikan jalan keluar dari setiap masalah. Ia telah dianggap seperti wali atau orang suci.

Kabar makin cepat menjalar. Secepat angin dan kedipan mata. Maka datanglah orang-orang yang putus asa dalam menghadapi hidup, terutama orang-orang yang merasa hatinya gersang dan mereka yang tidak sembuh-sembuh didera penyakit. Setiap ada kesembuhan akan menjadi berita yang berpindah bak kilat. Makin lama makin banyak orang yang menemui Laila, sehingga ia mengubah ruang pamernya yang sekarang kosong menjadi tempat pengobatan.

Bukan cuma itu, setiap malam Jum’at ia mengundang orang-orang untuk berkumpul dan mendengarkan wejangannya. Mereka harus berpakaian serba putih dan selama 24 jam sebelumnya hanya boleh makan nasi putih serta minum air putih. Laila berkata, “hati kita harus putih dan bersih, maka dari itu semua yang melekat di tubuh kita harus berwarna putih, dan yang masuk ke tubuh kita juga harus makanan yang putih serta murni. Kemurnian adalah sumber dari segala pencerahan.”

Dengan ajarannya, Laila semakin terkenal. Tapi ia makin menunjukkan berbagai keanehan. Salah satu keanehan adalah setahun kemudian perut Laila kelihatan membesar. Para jemaat di perkumpulannya mulai bertanya-tanya: Apakah Laila hamil? Satu dua orang mulai tidak percaya dengan ajaran Laila. Mereka mulai meninggalkannya karena menganggap guru mereka telah hamil di luar nikah, dan itu adalah perbuatan dosa yang tidak boleh dilakukan oleh orang suci yang telah tercerahkan.

Menyadari itu, Laila dengan cepat menceritakan kisah Maryam yang mengandung Nabi Isa. Dengan daya pikat bicaranya yang luar biasa ia berkata, “manusia kini sudah semakin keluar dari jalur kodratnya. Mereka tak lagi menyembah Sang Pencipta, tetapi benda-benda fana. Maka itu Tuhan akan kembali membimbing manusia dengan mendatangkan juru selamat yang akan lahir dari rahim saya. Karena saya memiliki jiwa yang murni dengan hati suci. Tidakkah kalian lihat Nabi Isa yang lahir dari seorang perawan suci? Tuhan, dengan kuasanya, telah menjadikan saya seperti Maryam. Saya jelas sekali mendengar bisikan-Nya setiap malam yang disampaikan oleh malaikat Jibril, Sang Ruhul Kudus.”

Banyak yang kemudian masih tetap mengikuti Laila walau kini jumlahnya berkurang. Bagi mereka yang percaya, Laila benar-benar akan melahirkan seorang juru selamat baru. Anggapan ini datang dari mereka yang telah sangat muak akan perilaku manusia yang telah berubah bagai hewan. Malah kata mereka hewan kini lebih berharga dari manusia. Lihatlah anjing-anjing yang tinggal di rumah mewah. Mereka lebih disayang dari pada gelandangan dan orang-orang miskin. Bau anjing-anjing itu bahkan jauh lebih wangi. Derajat manusia telah jatuh di bawah anjing.

Laila kemudian melahirkan bayi perempuan.

“Mengapa bayi guru perempuan?” Tanya salah seorang pengikut saat mereka berkumpul. Kini jumlahnya tinggal puluhan.

“Seorang juru selamat tidak harus laki-laki. Bahwa yang menjadi pemimpin haruslah laki-laki adalah gagasan yang selalu didengungkan oleh jiwa-jiwa kerdil yang haus akan kekuasaan. Sebenarnya mereka hanya takut tersingkir. Mereka tidak mampu bersaing.”

“Tapi selama ini yang dikirim Tuhan selalu laki-laki. Lihatlah orang-orang suci yang berada di seluruh kitab-kitab?”

Laila diam. Warna keemasan matanya mengarah ke seluruh pengikutnya. Mereka semua tertunduk. Sebentar lagi guru mereka akan mengeluarkan untaian mutiara dari mulutnya.

“Lihatlah diri saya. Bukankah saya juga adalah perempuan, dan saya selama ini telah memurnikan hati kalian. Sehingga kalian tidak hidup dalam kesengsaraan duniawi. Hidup kalian menjadi tenteram bukan. Coba seandainya kalian masih memikirkan harta dunia? Pasti hidup kalian semakin gersang dan mata batin kalian semakin tertutup. Lagi pula, orang-orang suci yang namanya tercantum dalam kitab-kitab itu juga lahir dari rahim perempuan.”

Para pengikutnya mengangguk. Mereka menyadari alangkah indahnya berada di dekat Laila. Mereka tak lagi gelisah dengan segala harta dunia yang selama ini mereka cari dengan susah payah, lalu ditumpuk, diiringi ketakutan akan kehilangan. Sebelumnya mereka merasa bagai budak yang selalu dipaksa untuk memenuhi kebutuhan nafsu perut, bawah dan atas perut.

Laila melanjutkan kata-katanya, “jika kalian meneliti seluruh kitab-kitab suci yang ada di dunia, kalian akan mengetahui bahwa ada simbol-simbol tersembunyi yang mengatakan akan datang seorang juru selamat yang berjenis kelamin sama dengan ibunya.” Orang-orang yang berada di ruangan itu kembali mengangguk. Bahkan ada beberapa yang menitikkan air mata, lalu mengangkat tangan mereka dan bersujud di depan Laila.

Dengan gencar media kembali meliput kegiatan Laila dan pengikutnya. Beberapa orang merasa penasaran. Mereka menyusup ke dalam jemaat itu selama beberapa minggu, kemudian melaporkan kepada atasan mereka semua kegiatan yang dilakukan dengan membawa buku-buku yang sudah ditulis oleh Laila. Buku-buku tulisan Laila memang sudah diedarkan dan sangat laris. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja telah dicetak ulang beberapa kali.

Beberapa minggu kemudian ada pengumuman resmi yang mengatakan bahwa ajaran Laila sesat. Laila yang selama ini mengaku dibimbing oleh Jibril ditolak oleh orang-orang itu. Mereka mengatakan iblislah yang telah membimbing Laila dan membutakan mata serta hatinya. Ia hanya diberi ilusi dan seolah-olah ia adalah juru selamat utusan Tuhan. Kembali kata-kata ‘Laila Majenun’ menjadi sangat terkenal. Dan ia diminta segera bertobat, kembali ke jalan lurus sesuai dengan ajaran murni yang penafsirannya telah disepakati bersama.

Reaksi orang-orang bermacam-macam. Ada yang mendukung dengan alasan hak asasi manusia, ada juga yang menolak. Seorang intelektual bahkan ada yang membelanya dengan mengatakan bahwa banyak pengikut Laila yang berubah menjadi baik. “Bukankah itu tidak melanggar prinsip-prinsip agama manapun?” Kata intelektual itu. Ia lalu melanjutkan kata-katanya, “biarkan mereka menyembah Sang Pencipta dengan cara mereka sendiri, selama itu tidak merugikan siapa pun. Semua manusia yang baik dan menyembah Tuhan pasti akan masuk surga. Terserah bagaimana mereka melakukannya.”

Namun, jumlah orang yang mencelanya jauh lebih banyak. Bahkan akhirnya ada sekelompok orang yang tidak sabaran mendatangi Laila dan pengikutnya saat mereka sedang berkumpul. Orang-orang yang tidak setuju itu membakar rumah Laila sambil meneriakkan ucapan Tuhan Maha Besar, seolah-olah Tuhan merestui tindakan mereka. Untung kedua orang tua Laila telah lebih dahulu mengungsi ke kampung halaman. Mereka juga takut dan bingung dengan perubahan pada diri anaknya dan reaksi orang-orang.

Tapi Laila tidak pernah patah semangat. Ia selalu menghibur pengikutnya dengan menceritakan kisah nabi-nabi dan orang-orang suci yang selalu mendapat halangan dan rintangan saat menyebarkan kebenaran di muka bumi.

“Kita harus maklum.” Kata Laila. “Mereka adalah orang-orang bodoh. Orang-orang yang tak mampu melihat kebenaran karena hati mereka tertutup oleh debu-debu duniawi. Kalau saja mereka mau melihat dengan mata batin? Sayang, mereka hanya mampu melihat wujud kasar.”

Laila berkata sambil menggendong anaknya yang tertidur. Kini kemana-mana ia membawa anak itu yang katanya akan dipersiapkan untuk menjadi juru selamat baru. Selanjutnya ia mengatakan bahwa anak itu akan dibimbing oleh Jibril untuk membawa generasi berikutnya menuju kekekalan yang indah nan abadi.

Melihat kemarahan dari banyak orang dan selalu dikejar-kejar, pelan-pelan Laila mulai ditinggalkan oleh pengikutnya. Bahkan salah seorang bersaksi di televisi bahwa ia seperti tersihir oleh kharisma Laila. Sehingga ia menganggap Laila benar-benar sebagai penyelamat manusia dan utusan Tuhan yang hadir di akhir zaman.

Dari ratusan akhirnya kini pengikut Laila hanya tinggal puluhan.

“Inilah saatnya.” Kata Laila.

“Saatnya untuk apa guru?”

“Saatnya untuk menemui Dia.”

“Sang Pencipta?”

“Ya.” Kata Laila. Suaranya sangat tenang. “Kalianlah orang-orang yang terpilih. Kalian akan bahagia selama-lamanya. Nanti akan datang lagi generasi baru yang akan dipimpin oleh anak saya. Lalu anak saya akan melahirkan seorang anak lagi. Begitu seterusnya. Karena di setiap generasi akan muncul juru selamat dan pembimbing baru. Merekalah yang akan menjaga rambu-rambu, tapi sayangnya kebanyakan manusia tidak mengerti. Padahal tanda-tandanya bertebaran dimana-mana. Seluruh kitab suci mencatatnya.”

Laila lalu meninggalkan anaknya yang tertidur di sebuah pondok kecil beberapa ratus meter dari pondok mereka yang terpencil. Di pondok itu ia dan belasan pengikutnya telah membungkus diri dengan pakaian serba putih. Lelaki dan perempuan telah mencukur seluruh rambut yang tumbuh di tubuh mereka.

“Jangan lupa minum air putih.” Perintah Laila. “Air itu akan membersihkan sisa-sisa kotoran yang masih ada di tubuh kalian.” Mereka mengikuti apa pun perintah Laila.

Laila dan pengikutnya membentuk lingkaran. Tangan mereka saling mengapit. Lalu terdengar suara-suara senada. Tak lama kemudian mereka kelihatan berada di ambang ketidaksadaran. Mereka terus bergerak. Sampai akhirnya lingkaran itu berputar bagai sebuah roda.

Tiba-tiba muncul titik-titik api yang lambat laun melahap pondok itu. Mereka tak peduli. Mereka terus saja berputar sambil melantunkan syair-syair yang menyayat. Syair-syair penjemputan guna menyongsong keabadian yang tenteram di dunia lain. Dunia kekal yang bebas dari hujatan dan belitan nafsu.

Kini mereka telah terkepung api. Suara-suara itu terus melengking, lalu perlahan melemah, sampai akhirnya tidak terdengar sama sekali. Kini yang tinggal hanya batang-batang kayu dan sisa-sisa tubuh berwarna hitam dan beraroma sate.

Tempat yang jauh dari pemukiman itu kini tak lagi menyuarakan apa-apa, tidak juga nyanyian binatang. Beberapa jam lagi matahari akan muncul. Tapi di sebuah pondok kecil ada cahaya keemasan. Seorang anak kecil telah membuka matanya. Ia tidak menangis. Mata itu bersinar keemasan. Mirip sekali dengan mata Laila.

Minggu, 11 Mei 2014

Kacamata

Cerpen Noor H. Dee (Koran Tempo, 11 Mei 2014)


(7-themes.com)


SEPULANG bekerja, lelaki itu menunggu kereta di stasiun yang sepi.

Seorang bocah, mungkin berusia 10 tahun, menghampiri lelaki itu dan menawarkan kacamata kepadanya.

Kacamatanya, Tuan, kata bocah itu. Harganya lima belas ribu.

Mata lelaki itu masih sehat dan baik-baik saja, tetapi ia tetap membeli kacamata itu. Kembaliannya untuk kamu saja, ujar lelaki itu.

Bocah itu pun pergi.

Kereta itu pun datang.

SESAMPAINYA di rumah, lelaki itu menyalakan TV dan merebahkan tubuhnya di sofa. Ia mengganti-ganti saluran TV. Tidak ada acara yang menarik malam itu. Ia mematikan TV-nya dan berjalan ke dapur. Mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas dan langsung menenggaknya. Tiba-tiba ia teringat akan kacamata yang tadi ia beli dari si bocah.

Ia berjalan ke kamarnya, mengambil kacamata itu dari dalam tasnya, mengenakannya, dan keanehan pun terjadi.

Ia melihat sebuah kamar yang bukan kamarnya. Kamar itu rapi, betul-betul rapi.

Aku berada di mana? Lelaki itu bertanya. Kamar siapakah ini?

Lelaki itu melepas kacamatanya dan ia segera kembali berada di dalam kamarnya. Aneh betul, ujarnya.

Lelaki itu menatap kacamatanya. Sebuah kacamata biasa dengan bingkai berwarna hitam. Karena penasaran, ia kembali mengenakan kacamata tersebut dan ia kembali berada di sebuah kamar yang bukan kamarnya.

Kamar siapakah ini? Lelaki itu kembali bertanya. Ia menatap seluruh isi ruangan. Seluruh ruangannya berwarna putih bersih. Tempat tidur, lemari baju, tempat sampah, meja, kursi, gorden jendela. Satu-satunya yang berwarna hitam adalah bingkai cermin yang menempel di tembok kamar. Ia mendekati cermin itu dan menatapnya. Di tubuh cermin itu ia melihat bukan dirinya, melainkan seorang wanita cantik berkacamata sedang tersenyum ke arahnya.

Lelaki itu terkejut. Ia segera melepas kacamata itu dan membuangnya ke lantai. Siapa dia?

Tubuh lelaki itu gemetar. Ia menatap ke bawah, ke arah kacamata itu, dalam waktu yang cukup lama. Ia mundur ke belakang perlahan, selangkah demi selangkah, dan segera naik ke atas tempat tidur. Ia menutup wajahnya dengan selimut. Samar-samar ia mendengar suara wanita memanggil-manggil namanya. Malam itu ia tidak bisa tidur sama sekali.

ESOK harinya ia tidak masuk kerja. Ia pergi ke stasiun itu lagi, mencari bocah penjual kacamata yang kemarin sore ia temui di sana.

Sampai sore, bocah penjual kacamata itu tidak muncul-muncul juga. Ia pun bertanya kepada petugas stasiun.

Penjual kacamata? Petugas itu bertanya heran. Apa kamu tidak membaca peraturan itu?

Lelaki itu menatap sebuah plang bertulisan, DILARANG BERJUALAN DI STASIUN.

Tapi kemarin bocah itu berjualan kacamata di stasiun ini, ujar lelaki itu. Aku masih ingat betul wajahnya.

Terserah kamu, ujar petugas itu. Aku sudah menjelaskan kepadamu bahwa tidak seorang pun dibolehkan berjualan di tempat ini. Petugas itu pun pergi.

KINI lelaki itu berada di dalam kamarnya, duduk di tepi tempat tidur, menatap kacamata yang masih berada di lantai kamar. Samar-samar ia kembali mendengar suara itu, suara wanita yang memanggil-manggil namanya. Suara itu betul-betul mengganggu dirinya.

Lelaki itu kemudian turun dari tempat tidur, mengambil kacamata itu, dan mengenakannya. Ia kembali berada di sebuah kamar yang bukan kamarnya. Sebuah kamar yang rapi, betul-betul rapi, yang seluruh ruangannya berwarna putih bersih.

Lelaki itu berjalan ke arah cermin. Di tubuh cermin itu, ia kembali melihat seorang wanita cantik berkacamata sedang tersenyum ke arahnya.

Siapa kamu? Lelaki itu bertanya.

Wanita itu tersenyum indah sekali.

Kemarilah, ujar wanita itu. Mendekatlah padaku.

Jawab saja siapa kamu, lelaki itu bertanya dengan suara lantang. Siapa kamu? Siapa kamu?

Wanita itu tertawa kecil. Aku akan memberikan namaku jika kamu mendekat ke arahku, ujar wanita itu. Ayolah, kemarilah, mendekatlah padaku.

Lelaki itu melepas kacamatanya dan membantingnya ke lantai. Ia mengambil palu dari dapur dan menghajar kacamata itu dengan beberapa pukulan. Kacamata itu pun hancur berkeping-keping. Tidak ada lagi ruangan yang rapi dan serba putih. Tidak ada lagi suara wanita yang memanggil-manggil namanya.

Lelaki itu tersenyum puas. Ia berdiri dan menatap cermin yang menempel di tembok kamarnya.

Kali ini ia tidak melihat siapa-siapa di cermin itu, termasuk dirinya.(*)
lakonhidup.wordpress.com

Selasa, 25 Juni 2013

Bukan Kisah Cinta Rama dan Sinta

Oleh Denny Prabawa (Majalah Story, edisi Juli 2013)


Namaku Shanti, tapi entah mengapa kisah hidupku serupa Sinta… Dicintai dua lelaki dan hanya mencintai seorang lelaki.

Shanti merebahkan tubuhnya di atas ranjang rumah sakit. Seorang perawat membalut lengannya dengan cuff, memompa udara ke dalam cuff, kemudian memutar valve untuk melepas sedikit demi sedikit udara dalam cuff. Telinganya yang tersumbat stethoscope berusaha menangkap suara aliran darah dalam tubuh Shanti. Perawat itu menuliskan sesuatu dalam buku catatannya. Setelah memastikan segalanya tampak normal  saja, perawat itu meninggalkan Shanti sendiri dalam kamarnya.

Ramacandra tengah menemui dr. Laksmana, Sp.OG, adik tirinya di ruang kerjanya. Shanti tidak mengerti, mengapa kekasihnya itu bersikeras membawanya ke tempat ini?

“Aku baik-baik saja, Rama,” kata Shanti beberapa waktu lalu, saat dalam perjalanan ke tempat ini.

“Biar Laksmana yang memutuskannya,” sahut Rama setelah melempar senyum ke arahnya.

“Mengapa harus Laksmana?” tanya Shanti heran, “Bukankah dia spesialis kandungan?”

“Hanya ingin memastikan,” kata Rama datar saja.

“Apakah aku masih perawan, begitu?” tanya Shanti dengan nada meninggi.

“Bukan sayang,” ujar Rama lembut, “aku hanya tidak rela jika Dasagriva sampai mengotori kesucianmu!”

“Apakah kau tidak percaya kepadaku?”

“Aku percaya kepadamu, Shanti,” ujar Rama, “Tapi aku tidak memercayai psikopat itu!”

“Dia tidak melakukan apa pun  kepadaku.”
“Dia menculikmu!”
“Maksudku….”

“Sudahlah, biar Laksamana yang memutuskannya.”

Shanti teringat pada Dasagriva. Lelaki yang telah menculiknya. Lelaki yang sudah jatuh cinta kepadanya sejak masih di bangku sekolah. Kecantikan Shanti yang serupa Dewi Laksmi bagi Dasagriva membuat kapten tim basket di sekolahnya itu bermain kesetanan dalam suatu pertandingan. Teriakan semangat Shanti bahkan mampu memalingkannya dari kecantikan para pemandu sorak. Di mata Dasagriva, Shanti yang berkacamata tebal dengan rambut yang selalu dikucir kuda serupa titisan Laksmi, istri Wisnu dari mitologi Hindu.

Semenjak hari itu, Shanti menjadi hantu bagi Dasagriva. Sosoknya menari-nari dalam kepala Dasagriva. Tak ada yang lebih diinginkannya selain memenangkan cinta titisan Laksmi itu. Namun, Shanti tak ubahnya merpati yang betapapun tampak jinak selalu terbang jika ia mencoba mendekatinya.

Shanti sangat berbeda. Ia lebih suka mengunjungi perpustakaan daripada menghabiskan waktu di pusat-pusat perbelanjaan. Ia tak pernah risau pada sengat matahari yang mengancam putih kulitnya. Kacamata tebal yang dikenakannya tak pernah mampu menyembunyikan keindahan wajahnya dari mata Dasagriva. 

Sampai pada suatu senja yang biasa-biasa saja. Ketika Shanti tengah asyik mendongeng di sebuah taman bacaan masyarakat dekat kediamannya, Dasagriva datang membawa seikat bunga yang ia petik dari taman hatinya. Kepada Shanti, ia tawarkan cinta.

Shanti yang terkejut mendengar pernyataan Dasagriva, mengajak teman sekolahnya itu keluar. Pikirnya, anak-anak belum pantas menyaksikan adegan macam begitu. Sudah cukup sinetron meracuni pikiran anak-anak itu.

Dasagriva menyerahkan bunga yang dibawanya kepada Shanti. Gadis itu menerimanya dengan senyum ramah.

“Apakah kau menerimaku?”

“Maaf, Dasagrifa,” kata Shanti hati-hati, “aku telah dijodohkan sejak masih dalam kandungan.”

“Oleh siapa?”
“Oleh takdir.”
“Aku akan mengubah takdirmu!”

Shanti tidak menggubris perkataan Dasagriva, ia hanya tersenyum sebelum meninggalkan teman sekolahnya itu. Ia tidak pernah menduga jika lima tahun kemudian, setelah mereka lulus kuliah, saat Ramacandra datang melamarnya, Dasagriva membuktikan perkataannya. Saat ia tengah gelisah menanti kedatangan Ramacandra yang telah digariskan oleh sang takdir menjadi pendamping hidupnya, Dasagriva menyelinap ke dalam kamar pengantin di hotel bintang tujuh itu.

“Aku tidak ingin melukaimu,” kata Dasagriva, “aku hanya ingin kauikut denganku.”

Shanti ingin berteriak. Belum sempat ia melakukannya, Dasagriva telah membekap mulutnya dengan sapu tangan yang telah dituangkan parfum dengan bau menyengat. Shanti jatuh pingsan dalam dekapan Dasagriva. Sesaat dan hanya untuk sesaat ia memandangi kecantikan Shanti dalam balutan kebaya modern. Titisan Laksmi bagi Dasagriva itu tampak kian indah dengan kerudung yang dikenakannya. Setelah itu, ia membopong Shanti dan menyembunyikannya dalam troli layanan binatu hotel, sebelum melarikannya dengan mobil yang diparkir di pintu belakang hotel.

Shanti membuka matanya dan menemukan dirinya sudah berada di dalam kamar sebuah vila dengan pendingin ruangan yang membekukan. Tangannya terikat pada ranjang. Dasagriva mengambil selimut tebal dan membungkus tubuh Shanti dengan selimut itu.

“Apakah kau masih kedinginan?”

“Aku haus.”

Dasagriva segera pergi ke dapur untuk mengambil susu coklat hangat. Ia tahu betul kesukaan wanita yang dicintainya itu. Ia segera menyodorkan gelas susu itu ke mulut Shanti, tapi Shanti enggan membuka mulutnya. 

“Aku akan membuka ikatan tanganmu,” kata Dasagriva, “asal kau berjanji tidak lari?”

Shanti mengangguk. Dasagriva segera membuka ikatan tangan Shanti, lalu memberikan gelak susu coklat hangat kepada Shanti.

“Segera habiskan,” kata Dasagriva, “biar tubuhmu hangat.”

“Mengapa kau melakukan ini?”

“Aku mencintaimu, Shanti.”

“Bukankah sudah kukatakan kalau kita tak mungkin bersama?”

“Aku sudah berjanji akan mengubah takdirmu.”

“Jika kau mencintaiku, mengapa kau menyakitiku?”

“Aku tak bermaksud menyakitimu,” kata Dasagriva dengan nada penuh penyesalan, “maafkan aku?”

Dasagriva memang tak pernah menyakitinya. Selama seminggu ia berada dalam sekapannya, tak pernah sekali pun Dasagriva berlaku kasar kepadanya. Lelaki itu bahkan tak pernah menyentuh dirinya. Ia tahu bagaimana memperlakukan seorang wanita dengan sopan. 

“Aku hanya ingin mencintaimu dan tidak ingin kehilangan dirimu,” kata Dasagriva ketika Shanti menyanyakan, mengapa ia menculik dirinya.

“Kau tidak mencintaiku,” kata Shanti, “kau hanya tak mau kehilangan harga dirimu karena orang yang kaucintai akan dinikahi oleh lelaki lain.”

Dasagriva tak menjawab. Ia hanya menenggelamkan pandangannya ke lantai kayu dalam kamar vila itu. Beberapa saat kemudian ia mengangkat wajahnya, memandangi Shanti yang berusaha membuang tatapannya ke tempat lain.

“Apakah kau mencintai Ramacandra?” tanya Dasagriva hampir seperti berbisik kepada dirinya sendiri.

“Aku mencintainya,” tegas Shanti, “takdir telah menjodohkan kami bahkan sejak kami masih dalam kandungan.”

“Mengapa takdir tidak menjodohkanmu dengan diriku?”

“Aku tak tahu.”

Dasagriva membuka ikatan tangan Shanti. Ia menyerahkan kunci mobilnya kepada Shanti. “Kau boleh pergi sekarang.”

“Mengapa kau melepaskan aku?”

“Karena aku mencintaimu.”

Terlambat. Sebelum Shanti meninggalkan vila itu, Ramacandra sudah lebih dulu datang bersama pasukan dari kepolisian. Dasagriva tak memiliki apa-apa untuk melawan todongan senjata. Ia diam saja saat polisi mengalungkan tangannya dengan borgol. 

Shanti berusaha meminta polisi untuk melepaskan borgol pada tangan Dasagriva. Namun, polisi menolaknya. Sebelum polisi memasukkannya dalam mobil tahanan, Dasagriva sempat memandang ke arahnya. 

Entah mengapa Shanti tiba-tiba ingin berlari menyusulnya, tapi tak ia lakukan. Ia mencintai Ramacandra, tetapi lelaki yang telah menculiknya itu begitu mencintainya. Apakah cinta yang dimiliki Ramacanda lebih besar dari lelaki itu? Dasagriva tak melakukan apa pun kepada dirinya selama masa penyekapan, meskipun sesungguhnya ia bisa melakukan apa pun kepada dirinya. Apakah Ramacandra akan melakukan hal yang sama jika berada dalam posisi Dasagriva?

***

Ramacandra dan Dokter Laksmana masuk bersama perawat yang tadi memeriksanya.

“Maaf membuatmu lama menunggu,” ucap Ramacandra seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Shanti seperti hendak mencium kekasihnya itu.

Shanti memalingkan wajahnya. “Kita belum resmi menikah, Rama.”

Ramacandra hanya tersenyum meski tampak kecewa. Sepanjang usianya belum sekali pun ia bertemu wanita serupa Shanti. 

“Apakah kau sudah siap diperiksa?” tanya Laksmana mencairkan suasana.

“Aku tidak sakit, Laksmana!” tegas Shanti.

Adik tiri Ramacandra itu tersenyum mendengar perkataan calon iparnya itu. Ia menoleh ke arah kakaknya. Ramacandra hanya menganggukan kepala.

“Suster, bawa Nona Shanti ke ruang periksa saya,” perintah Laksmana.

Perawat itu segera mendorong kursi roda mendekati ranjang tempat Shanti berbaring. “Silakan, Nona Shanti,” ujar perawat itu ramah.

Mulanya Shanti enggan naik ke atas kursi roda itu. Namun, ia beranjak juga dari kasurnya ke kursi roda. Sebelum perawat itu membawa Shanti ke ruang periksa, ia sempat melontarkan sebuah pertanyaan kepada calon suaminya.

“Rama, jika aku katakan bahwa Dasagriva telah menodaiku, apakah kau masih mau menikahiku?”

Ramacandra terdiam mendengar pertanyaan Shanti yang tak pernah diduganya. Ia menatap wajah kekasihnya, berusaha menemukan kesungguhan di balik perkataan kekasihnya itu.

“Rama,” tegur Shanti, “mengapa kau tak menjawab  pertanyaanku?”
Laksamana seolah memberi isyarat kepada perawatnya. Perawat itu langsung mengerti. Ia segera membawa Shanti keluar. Shanti masih saja memandangi wajah Ramacandra yang berusaha memalingkan wajahnya.

Ting! Pintu lift terbuka. Perawat mendorong kursi roda ke dalam lift khusus pasien. Setelah di dalam lift, ia menekan tombol angka tiga. Lift segera bergerak ke atas menuju lantai tersebut.

Hanya tinggal satu level lagi, sebelum mereka tiba di lantai tiga. Shanti sudah tahu apa yang harus dilakukannya, begitu pintu lift terbuka nanti. Ia tahu di mana bisa menemui Dasagriva, ia tahu di mana lelaki itu ditahan.

Depok, 29 November 2012

Kamis, 14 Maret 2013

Syair Duka

Oleh Denny Prabawa (Media Indonesia, 14 Maret 2013)

Toraja karya MN Amri (budiharyawan.blogspot.co.id)

Hai…! Di manakah orang sekampung kita?[1]
Ayo, Berdirilah lalu kita menuangkan kesedihan kita!

Seperti sebuah seruan. Orang-orang masuk ke dalam lingkaranpa’badong[2] di tengah lantang. Saling mengait jari kelingking mengalirkan kedukaan yang maha. Tubuh-tubuh berbalut kain hitam itu bergerak, ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang sambil mengayunkan kedua tangan yang terkaitkan. Bergerimit suara merapal syair. Mengenang mendiang yang telah berpulang.  Ma’badong[3].
Satu bulan lalu, Helena Rambulangi tutup usia. Sebagai keturunan Tomanurung, menjadi kewajiban bagi keturunannya untuk merayakan kematian. Bukan masalah bagi keluarganya yang kaya raya. Sawah terhampar berhektar-hektar. Kerbau di kandang puluhan jumlahnya siap dikorbankan. Kematian. Sebuah akhir yang mula. Sebuah mula segala. Ke puya[4], di puya… negeri jiwa tempat para leluhur bersemayam. Ke sana puluhan tedong yang dikorbankan siap mengantarkan.
Aku tidak berada di sana, tapi tahu segalanya. Aku mendengar semuanya. Aku selalu membayangkan berada di sana. Berdiri di antara pa’badong. Menari dan menyanyikan syair kedukaan. Melarut dalam gerak dan suara sambil membayangkan dirimu yang terbujur kaku dalam erong[5]  berpahat kerbau itu. Erong yang kupahat sendiri dengan tanganku.
“Ajari aku syair itu, Indok! Ajari aku!” pintaku, merajuk kepadamu ketika untuk pertama kali kau mengajakku ke perayaan kematian sanak keluarga kita. “Aku ingin ma’badong!”
“Kau masih kecil, Nak,” katamu sambil mengelus kepalaku, “suatu saat nanti, kau akan menyanyikannya untuk Indok.”
“Aku mau Indok, aku mau menyanyi, aku mau menari. Aku mauma’badong.”
Namun, setelah 360 hari selepas kematianmu, tak bisa aku melakukannya. Meski syair dan gerakan itu telah kuhapal luar kepala. Segalanya seperti sia-sia. Entahlah. Apakah harus kusyukuri takdir sebagai keturunan Tomanurung? Atau aku harus meratapinya?

Mari kita menguraikan kesedihan hati
Tidakkah engaku berduka?
Tidakkah kesedihan di hatimu?

Pa’badong terus bernyanyi dan menari. Semakin lama, lingkarannya kian membesar. Tubuh-tubuh berbalut kain hitam itu berjalan ke depan ke belakang sambil mengayunkan kedua tangan yang terkaitkan. Kesedihan mengepung langit di atas Rantepao.
Aku tidak berada di sana dan tak akan pernah berada di sana, tapi aku tahu segalanya. Aku mendengar semuanya. Aku selalu membayangkan berada di sana. Berdiri di antara pa’badong. Menari dan menyanyikan syair kedukaan. Melarut dalam gerak dan suara sambil membayangkan dirimu yang terbujur kaku dalam erong berpahat kerbau itu.
Seperti ketika aku masih berseragam putih biru. Kautuntun aku masuk ke dalam lingkaran pa’badong.
“Tapi aku tak hafal syairnya, Indok,” kataku tampak canggung.
“Dengarkan dan ikuti,” ujarmu sambil tersenyum.
Aku menautkan kelingkingku ke kelingkingmu. Lalu menajamkan telinga. Berusaha menangkap setiap kata yang terlafal dari mulut pa’badong. Seperti dengungan ribuan lebah. Bergerak sambil terus bergerak mengikuti irama. Maju. Mundur. Aku tersirap kata-kata. Tiba-tiba saja, bibirku sudah merapal syair-syair seolah aku telah menghafalnya sejak lama.
Namun, setelah 360 hari selepas kematianmu, aku hanya bisa duduk di depan erong-mu. Berbicara kepadamu, seolah-oleh nyawa masih bersemayam dalam tubuh kakumu. Mereka belum mau menganggapmu mati, sebelum aku merayakan pesta kematian untukmu. Pesta kematian bagi perempuan bergelar puang keturunan Tomanurung.
Padahal, semua kerbau dan babi milik kita sudah habis seluruhnya untuk merayakan pesta kematian Ambe’. Hanya tedong itu, tedong bonga pemberianmu, yang tersisa di dalam kandang kita.
Ah, mengapa begitu lekas kau menyusul Ambe’?

Sehabis ratapan memanggil ibunya;
Putuslah angin pada mulutnya;
Habislah jiwa pada badannya

Bagaikan suara lebah. Mendengung dan terus mendengung seolah memanggil sesiapa untuk masuk ke dalam lingkaran pa’badong di tengahlantang[6]. Lingkaran itu bagaikan semesta kesedihan yang menyedot siapa saja untuk larut dalam kenangan akan mendiang.
Aku tidak berada di sana dan tak akan mungkin berada di sana, tapi aku tahu segalanya. Aku mendengar semuanya. Aku selalu membayangkan berada di sana. Melafalkan kedukaan. Melarut dalam kesedihan yang maha seraya mengenang perjalanan hidupmu. Menapaki jejakmu pada lantai kayu dan anak tangga di tongkonan[7] kita.
“Menangislah, Nak, menangislah,” katamu, “jika itu bisa menghapus kesedihanmu. Nyanyikan saja dukamu.”
“Indok, jangan tinggalkan aku,” mohonku ketika itu.
“Setiap orang pasti mati, Nak,” rintihmu, “di puya, di puya… negeri kita yang abadi.”
“Dengan apa aku mengantarmu ke puya? Tedong yang kita punya hanya tinggal seekor saja.”
“Menyanyilah, Nak,” pesanmu, “tarikan dukamu bersama pa’badong, pada tiap-tiap perayaan kematian. Syair-syair yang kaulafalkan akan mengantarkanku ke puya.”
“Indok….”
“….”
Namun, setelah 360 hari selepas kematianmu, tak juga aku mampu memenuhi permintaanmu. Percuma. Nanyian dan tarian saja tidak akan mengantarkanmu ke surga. Begitu kata mereka. Tak ada puya tanpa tedong bonga bagi seorang puang Tomanurung. Seekor tedong bonga pemberianmu tak akan cukup membawamu ke puya. Masih perlukah aku ma’badong?

Bersama dengan asap bara api
Diikut-ikuti oleh awan
Ke selatan negeri tuhannya jiwa di negeri jiwa

Syair ratapan dilantunkan. Duka mengapung di atap bumi Rantepao. Orang-orang masih berdatangan. Sebagian memenuhi lantang. Sebagian turut bergabung dalam lingkaran bersama pa’badong, melantunkan syair ratapan. Menangisi keniscayaan kematian.
Aku tidak berada di sana dan tak akan mungkin berada di sana, tapi aku tahu segalanya. Aku mendengar semuanya. Aku selalu membayangkan berada di sana. Menyaksikan kerbau-kerbau itu diarak sebelum diikatkan pada menhir-menhir peninggalan masa silam sebelum di bawa ke tengah lapangan, siap untuk dikorbankan.
“Apakah kerbau-kerbau itu akan membawa Ambe’ ke puya, Indok?” tanyaku, saat menyaksikan puluhan kerbau yang kita pelihara dikorbankan untuk merayakan kematian Ambe’.
Kau tidak menjawab ketika itu. Hanya wajahmu menatap ke langit. Lalu jari telunjukmu menuntun pandanganku.
“Kerbau-kerbau itu, Indok!” ujarku, takjub menunjuk ke langit, “Mereka di sana, mereka di sana bersama Ambe’!”
Sebentar lagi. Ya, sebentar lagi… kerbau-kerbau itu akan mengantarkan Helena Rambulangi ke puya.
Namun, 360 hari selepas kematianmu, hanya seekor kerbau belang pemberianmu yang aku miliki. Apakah babi-babi pemberian sanak saudara kita cukup untuk mengantarmu ke puya?  Aku hanya anak muda yang tak punya pekerjaan kecuali memahat tau-tau dan kerajinan lain. Telah kubuatkan tau-tau terindah untukmu. Mereka pasti akan sulit membedakannya dengan dirimu.
Ah, rasanya sia-sia kubuat tau-tau itu. Ia tak akan mampu mengantarmu ke puya. Rasanya tak mungkin aku mendapatkan kerbau-kerbau itu. Apa boleh buat, pekerjaanku memahat hanya cukup untuk membuatku tak kelaparan. Dengan apa aku akan mengantarkanmu ke puya?

Ke selatan ujungnya langit
Ke selatan negeri tuhannya jiwa
Di sana negeri orang yang bersedih

Syair berkat telah dilantunkan. Keselamatan telah dimohonkan. Kerbau-kerbau digiring ke tengah lapangan, siap diadu sebelum dikorbankan. Orang-orang berkumpul melingkari arena menanti kerbau-kerbau itu saling beradu tanduk.
Aku tidak berada di sana dan tak akan mungkin berada di sana, tapi aku tahu segalanya. Aku megenang semuanya. Aku selalu membayangkan berada di sana. Mengenang kerbau belang kita yang jadi pemenang saat perayaan kematian Ambe’. Satu-satunya kerbau yang tersisa dalam kandang milik kita. Aku teringat pesanmu.
“Pelihara dia baik-baik,” wasiat Indok saat sakit tak lagi menemukan obatnya. “Kau lebih membutuhkanya daripada aku.”
“Lalu dengan apa Indok ke puya?” tanyaku memeram kesedihan.
“Dengan syairmu,” kata Indok memaksakan untuk tersenyum, “syair yang selalu kita nyanyikan bersama pada tiap-tiap ma’badong.”
“Tak ada puya tanpa tedong bonga, Indok.”
“Percayalah kepadaku.”
Kini, 360 hari selepas kematianmu, syair-syair itu mendengung-dengung terus di kepalaku. Tanpa kusadari, aku mulai menari sambil melafalkan syair kedukaan di hadapanmu. Sendiri. Ya, hanya seorang diri. Sambil membayangkan dirimu berada dalam erong tempat Helena Rambulangi disemayamkan. Mereka tak akan menyadarinya dan tak pernah akan menyadarinya.
Aku terus menari dan bernyanyi melantunkan kedukaan. Bergerak ke depan dan ke belakang sendirian. Hingga dari jendela kamar yang kubiarkan daunnya terbuka, ternampak dirimu di atas sebuah kerbau belang diiringi ratusan kerbau yang bergerak dan terus bergerak ke langit. Ke puya… dipuya… negeri para leluhur berdiam.


Pulokambing, 13/12/12


[1] Terjemahan syair-syair ini diambil dari makalah Badong Sebuah Tari dan Nyanyian Kedukaan di Tana Toraja yang disusun oleh Harliati, Mahasiswi FIB UI.
[2] Orang yang menari dan menyanyikan syair kedukaan
[3] Melakukan tarian dan menyanyikan syair kedukaan
[4] Surga
[5] Peti mati
[6] Rumah-rumah bambu yang didirikan saat upacara Rambu Solo’
[7] Rumah adat suku Toraja berbentuk seperti perahu, selalu menghadap ke arah utara

Minggu, 14 Oktober 2012

10 cara Melatih Kecerdasan Spasial Bagi Mahasiswa

Esai Trimanto Ngaderi (Sabili, 4 Oktober 2012)
blogsnmptn.blogspot.com

Pernahkah sobat mengalami bingung arah? Pernahkah sobat lupa jalan dan bahkan tersesat terhadap tempat yang pernah sobat datangi? Atau sobat pernah terlambat mengikuti suatu acara di kampus lain hanya gara-gara sobat tidak mengetahui jalan terpendek/jalur alternatif untuk menuju ke sana? Atau sobat tidak tahu arah/posisi kota Jayapura itu di mana? Dan masih banyak lagi.
Jika sobat mengalami salah satu atau beberapa hal di atas, berarti sobat belum memiliki kecerdasan spasial. Lalu, apa sih kecerdasan spasial itu? Spasial terkait erat dengan kata space yang berarti ruang. Spasial bermakna keruangan. Ruang merupakan lingkungan disekitar kita atau lebih tepatnya keadaan geografis sekitar kita, misal gunung, sungai, bukit, jalan, laut, sawah, rumah, rumah sakit, bangunan, dan sebagainya.
Kecerdasan spasial merupakan daya ingat/daya pikir seseorang terhadap keruangan. Misalnya ketika diajukan pertanyaan sederhana : di mana letak Kota Manado? Otak akan segera berpikir dan menjawab bahwa Manado berada di Pulau Sulawesi, berada di pesisir utara pulau tersebut. Pertanyaan berikutnya, di mana Masjidil Aqsha? maka otak akan segera berpikir dan mulut menjawab bahwa masjid itu berada di jantung kota Yerusalem, Palestina, yang sampai saat ini masih terus berkonflik dengan Israel.
Di atas merupakan contoh sederhana. Contoh yang agak rumit, dimana kawasan bahaya banjir dan longsor? Maka bagi yang memiliki kecerdasan spasial akan berpikir bahwa kawasan banjir berada di daerah bantaran sungai dan dataran rendah, sedangkan daerah rawan longsor sering berasosiasi dengan ketinggian/kemiringan suatu tempat.


Pentingnya Kecerdasan Spasial
Memiliki kecerdasan spasial sangat penting bagi siapa saja. Bagi mahasiswa, sobat dapat melihat dunia beserta isinya secara lebih luas dan kompleks. Melatih untuk berpikir secara lebih komprehensif. Sobat tidak sekedar mengetahui letak/lokasi suatu tempat tertentu, tetapi berbagai aspek yang berkaitan dengan tempat tersebut, seperti aspek geografis, demografis, ekonomi, sosial-budaya, potensi wilayah hingga perencaan pembangunan dan lain-lain.
Sobat akan tahu, di mana kampus A berada, mengapa didirikan di sana, apa saja keuntungannya, apa pengaruh terhadap lingkungan sosial dan alam, dampak terhadap perkembangan ekonomi, siapa saja dan dari mana saja orang yang belajar di sana, dan sebagainya.  


10    Cara Melatih Kecerdasan Spasial
a.      Suka melihat peta
Peta menjadi salah satu cerminan makna spasial. Di dalam peta digambarkan keadaan permukaan bumi dengan sebenarnya. Kerincian informasi akan sangat tergantung pada skala. Peta berskala besar maka informasi yang ditampilkan cukup detil, semakin kecil skala peta, maka infomasipun akan general.
b.      Berpikir geografis
Yaitu berpikir tentang suatu tempat atau keadaan berdasarkan letak geografisnya. Misalnya bicara soal kota Palembang, maka yang terbayang adalah kota besar yang dibelah oleh sungai Musi, ada jembatan Ampera, banyak speedboat, ada pasar 16 Ilir, warung empek-empek dan seterusnya.
c.       Berpikir komprehensif
Yaitu berpikir secara menyeluruh dan terintegrasi. Misalnya, mengapa di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara banyak mal-mal dan apartemen besar? Karena di sana banyak perumahan elit, kawasan perkantoran, dekat jalan tol, akses ke pelabuhan dan bandara mudah, dekat dengan pusat kota, prospek ekonomi cerah, keadaan sosial dan lingkungan yang aman, dll.
d.      Aktivitas bersama
Seperti melakukan kemah, kegiatan outbond, arum jeram, bermain bersama, survei lapangan, penelitian dll.
e.       Suka bertanya tentang tempat
Rasa ingin tahu terhadap tempat tertentu, terutama tempat-tempat wisata, tempat bersejarah dan tempat menarik lainnya dapat juga merangsang kecerdasan spasial.
f.       Pengalaman
Faktor pengalaman juga tidak kalah menarik. Seorang sopir ambulans akan mencari jarak terdekat untuk membawa korban ke rumah sakit. Seorang sopir taksi akan mencari jalan berputar-putar agar argo naik (walaupun tidak semua), seorang tukang ojek akan mencari jalan pintas (kasus di Jakarta). Satu kasus sederhana seorang anak kecil senang menggambar peta, maka sebenarnya anak tersebut telah belajar spasial sejak dini.
g.      Travelling
Orang yang suka bepergian atau jalan-jalan, sudah pasti ia akan tahu banyak tempat dan lokasi.
h.      Pembawaan
Ada sebagian dari kita yang memang sudah memiliki kecerdasan spasial sejak lahir. Ia mudah sekali mengingat suatu tempat, menunjuk arah dengan tepat, atau punya feeling yang kuat mengenai lokasi sekalipun ia belum pernah ke sana.
i.        Belajar ilmu kartografi
Belajar ilmu pemetaan/kartografi menjadi alasan utama agar memiliki kecerdasan spasial. Ilmu tersebut secara sistematis dan terstruktur mempelajari pembuatan peta dan kaitannya dengan tema-tema yang akan dipetakan. Misalnya membuat peta jalan, peta geologi/batuan, peta curah hujan, peta rupabumi, atlas, dsb. Seseorang yang terlibat langsung dengan proses pembuatan peta, maka sadar atau tidak sadar, orang tersebut akan tercerahkan dengan peta yang dibuat. Atau bisa juga dengan mengikuti kursus/pelatihan Geographical Information System (GIS).
j.        Melek Teknologi
Dengan teknologi yang semakin canggih seperti sekarang ini, seperti adanya Google Map atau Google Earth di internet, bisa juga sebagai sarana untuk melatih kecerdasan spasial kita.



Nah, begitu pentingnya kecerdasan spasial itu. Oleh karena itu, mulai sekarang mari kita latih kecerdasan spasial kita. Jangan sampai sobat hanya seperti “katak dalam tempurung”. Tahunya hanya tempat kos, kampus dan kampung halaman sendiri saja. Malu kan? J
(Kartasura; 8/29/2012 2:57:38 PM)